Jeruji Hati

Khatulistiwa Muda
Karya Khatulistiwa Muda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Oktober 2016
Jeruji Hati

 

HUJAN deras mengguyur Tangerang dan sekitarnya pagi itu, ketika aku bersama tim Art Therapy serta orang-orang dari Lembaga Bantuan Hukum Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul, tengah menuju perjalanan ke Lapas Anak Wanita Kelas II B Tangerang. 

 

Tanganku mulai kaku merasakan dinginnya suhu pendingin udara di dalam bus, ditambah guyuran hujan di luar sana yang sesekali bersambut petir. Aku tak banyak bicara kala itu. Lebih banyak menghabiskan waktu mengamati orang-orang yang kulihat sepanjang perjalanan--sembari berpikir: mampukah aku dan tim Art Therapy melaksanakan misi sosial kami berkunjung sekaligus menjadi penyelia warga binaan perempuan di Lapas. Belum lagi, sesekali muncul bayangan tentang orang-orang seperti apa yang akan aku temui dan ajak bermain serta bicara nanti. 

 

Kedatanganku dan tim Art Therapy kali ini  permintaan dari mahasiswa Fakultas Hukum yang hendak mengadakan seminar tentang hak-hak yang dimiliki warga binaan Lapas. Belum lagi selesai dengan pertanyaan-pertanyaan di kepalaku, Bus yang kami tunggangi telah memasuki pelataran Lapas khusus wanita tersebut. Lokasinya tak jauh dari rumahku, sekitar sepuluh menit perjalanan menggunakan motor, maka halaman Lapas nan luas itu sudah terlihat di depan mata. Satu-persatu kami turun dari bus menuju pintu masuk utama menuju Lapas. 

 

Pintu hijau tinggi dan kokoh itu mengesankan bahwa tak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Belum lagi, petugas yang berjaga di setiap pintu masuk, menandakan betapa ketatnya pengawasan terhadap siapa pun yang keluar-masuk area lapas.

 

Pemeriksaan terhadap barang bawaan dilakukan ketat oleh petugas lapas. Tak ada satu alat komunikasi pun yang diperbolehkan dibawa masuk. Semua alat komunikasi kami dimasukan ke dalam satu tas dan hanya boleh dipakai diluar area yang dijaga ketat ini. Ragu bercampur rasa penasaran mengiringi langkah kakiku menuju area dalam lapas. 

 

Warna kuning mendominasi kompleks bangunan yang berbentuk tak jauh seperti bangunan sekolah SMA negeri yang lazim ada di Tangerang. Ya, konon Lapas ini sudah ada sejak zaman penjajahan dulu. Tembok tebal tinggi sekitar lima meter, mengelilingi bangunan berbentuk huruf U tersebut. Tak banyak kegiatan di sini. Rerumputan di lapangan juga dibiarkan tinggi merimbun mengeliligi tiang bendera merah-putih yang berkibar di atasnya. Bayanganku mengenai lingkungan Lapas, gugur seketika.

 

Hujan lebat masih mengguyur ketika aku dan rombongan sampai di dalam aula. Beberapa warga binaan telah hadir dan duduk di kursi yang tersusun  menghadap meja panjang dan kursi yang akan jadi tempat narasumber bicara nanti.

 

Lagi-lagi aku tak banyak bicara dan bertanya. Waktu seminar kumanfatkan untuk meneliti warga binaan yang akan jadi kawan sekelompokku dan teman-teman Art Therapy dalam sesi Ice Breaker. Sekitar delapan puluh perempuan mengenakan seragam yang sama, hadir di ruangan tersebut. 

 

Secara fisik, mereka beragam. Dari pandanganku, terlihat remaja perempuan berambut panjang dan kulit kuning langsat sedang menyisir rambutnya yang setengah basah. Disampingnya, perempuan berbadan gempal dan rambut cepak, terlihat memerhatikan sekitar. Tak jauh dari situ, duduklah seorang wanita yang kira-kira seumur ibuku, tengah memerhatikan narasumber yang berbicara. 

 

Pengalaman pertamaku bertemu warga binaan kali ini tak menumbuhkan  rasa takut. Terlebih, karena mereka semua berlaku baik dan tertib selama seminar berlangsung. Tibalah waktu kami, Art Therapy untuk mengambil alih acara. Dipandu oleh dosenku, Bu Safitri yang setia menemani kami tampil di sejumlah tempat. Begitu pun dengan Om Endro yang kala itu membawa anak dan istrinya ke dalam area Lapas untuk mengikuti acara ini. Sesi dibuka dengan perkenalan, disambung bermain a la Art Therapy Bukan Main yang mengutamakan gerak tubuh dan ekspersi dalam teater. 

 

Permainan pertama sampai terakhir berhasil menerbitkan senyum dan tawa di bibir mereka. Permainan berkelompok yang mengandalkan kekompakan membuat mereka membaur dengan anggota Art Therapy yang masuk di tiap kelompok sebagai perantara. Tugas besar kami adalah saat sesi penceritaan, sebagai perantara kami harus mampu membuka gerbang bagi mereka menuju keterbukaan dan kepercayaan antar pribadi dalam kelompok. 

 

Mereka diminta menceritakan pengalaman menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam hidupnya kepada kami di dalam kelompok masingmasing. Aku memilih mengembangkan senyum ramah tiap kali bicara kepada teman-teman baruku itu. Sembari duduk melingkar, satu persatu dari mereka mulai membuka pembicaraan mengenai pengalamannya. 

 

Apa yang mereka ceritakan padaku beragam. Kebanyakan dari mereka merindukan keluarga. Karena kesempatan yang dimiliki tuk bertemu pun tak banyak, maka mereka harus berbesar hati menerima kenyataan hidup setiap hari dengan warga binaan lain tanpa sapaan hangat dari keluarga, tiap paginya. Namun, perkara apa yang mereka buat hingga bisa masuk ke dalam jeruji besi, tak mereka ceritakan. 

 

Lagipula,  aku tak mau terlalu tahu mengenai itu. Bagiku, duduk bersama mereka dan memasang telinga serta pikiran guna menyimak cerita mereka, sudah cukup. Airmata mengalir menuju pipi seorang ibu di kelompokku yang tengah bercerita tentang kerinduan terhadap anak dan suaminya yang sudah beberapa tahun tak pernah lagi mengunjungi ibu berambut pendek tersebut. 

 

Tak sampai di pikiran dan hatiku bagaimana jadinya ibu itu dan banyak warga binaan di sini menghabiskan hari-harinya jauh dari keluarga dan sanak saudara. Hidup dibalik jeruji besi yang memisahkan mereka dengan dunia luar, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota, warga binaan Kelas II B itu menjerit dalam sunyi. 

 

Aku bisa melihatnya di mata mereka. Di mata yang padanya aku melihat harapan akan hidup bebas. Aku juga bisa melihat bahagia yang terkubur dan baru saja bangkit ketika tawa mereka pecah di sela-sela permainan.

 

Menghabiskan waktu di balik jeruji besi tentu bukan harapan mereka. Kalau boleh memilih, mungkin bukan hidup seperti ini yang mereka dambakan. Ingatanku tentang mereka membawaku teringat pula pada Bung Karno yang juga harus menghabiskan sisa waktunya dibalik pintu besi Penjara Banceuy dan Sukamiskin. 

 

Bung Karno dan warga binaan Lapas II B Wanita Anak Tangerang, mungkin berbagi nasib yang sama. Gerak mereka dibatasi. Namun aku ingat, kala itu Bung Karno tak begitu saja meredupkan bara semangat dan cahaya hidupnya di dalam penjara. Beliau masih sanggup mengamati perkembangan negerinya dan bekerja dalam segala keterbatasan. 

 

Begitu pula yang terjadi pada teman-teman baruku di sini. Bara semangat dan cahaya harapan mereka lantas tak begitu saja lenyap di lahap tembok-tembok tebal pembatas dunia luar dan penjara. Ah, bahkan kawasan itu tak layak disebut penjara. Mengingat betapa nyaman dan tertibnya suasanya di sana.

 

Aku seperti melihat cermin besar yang muncul dari rekahan senyum mereka. Cermin yang membuatku menatap kembali dalam diri seraya bertanya, "Kalau mereka saja sebagai warga binaan yang harus menghabiskan waktu hidupnya dibalik jeruji besi, mampu memancarkan cahaya kebahagiaan, sudahkah aku yang datang hendak membantu memiliki cahaya yang sama dengan mereka?" 

 

Sejak perjalanan menuju Lapas, aku malah sibuk dengan pikiranku sendiri daripada sibuk memupuk semangat dan doa demi kelancaran acara. Aku malah sibuk memerhatikan mereka daripada mempersiapkan diri sebagai jembatan penyambung antara perasaan dan cara mereka meluapkan perasaannya dengan bermain teater.

 

Sampai di titik ini, aku sadar. Ternyata aku yang sering kali memenjarakan pikiran dan hati sendiri. Membiarkan mereka terkerangkeng dalam jeruji yang kubangun dan kujaga sendiri. Tak membiarkan mereka bebas bergerak dalam ruang tak berbatas. 

 

Mungkin itu yang kerap membuat pikiran dan hatiku tersumbat. Karena jeruji yang kubuat sendiri. Lantas, aku tak jua lebih baik dari mereka yang tubuhnya terpenjara. Sedangkan aku, bebas bergerak namun terkurung dalam konflik batin yang tak segera kuselesaikan. Bertemu dengan mereka sungguh menjadi bahan renungan bagiku. Benarkah aku sudah hidup bebas? Janganjangan aku ternyata hidup dibalik jeruji hati? [dov]

Dilihat 312