Menangisi Waktu

Khatulistiwa Muda
Karya Khatulistiwa Muda Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 12 Oktober 2016
Menangisi Waktu

Menangisi Waktu

 

 

Sering kita mendengar bahwa airmata identik dengan perempuan, sedih, lemah, dan rapuh. Padahal tidak hanya perempuan, siapa pun pasti pernah mencurahkan airmatanya. Saat senang, sedih, terharu, takut, bingung, marah, atau pun kesal. Airmata adalah salah satu elemen ciptaan tuhan yang sangat indah. Setidaknya menurutku. Bagiku, airmata mampu menenangkan kegelisahan dan luapan emosi. Di sanalah, ribuan kata yang tidak mampu diucapkan, tersampaikan. 

Seperti halnya pagi ini, Selasa, 11 Oktober 2016. Kicauan burung masih mengiringi kesejukan pagi di sekitar rumah kami. Cuaca mendung nan damai kian mempermanis keindahan pagi itu. Badanku masih menempel dengan sempurna di atas kasur setelah bangun untuk sekadar mengerjakan tugas kuliah. Baru saja mendaratkan punggung di atas kasur, aku pun membuka ponsel dan membaca pesan singkat dari salah seorang yang kuhormati. Pesan ini berupa tautan tulisan yang baru saja dipublikasikan. Tulisan pertama dari Khatulistiwamuda yang dimuat di Inspirasi.co berjudul “Anakanak Waktu.” 

Entah kenapa ketika membaca tulisan itu rasa hatiku malah terharu. Ada sesuatu yang menyesakkan dada. Bukan sedih, tetapi keharuan. Di tulisan tersebut, aku pernah tergabung sebagai pelaku sejarah di masa awal personil Khatulistiwamuda masih sedikit dan seumur jagung. Belum lagi pelakon di dalam tulisan itu semuanya aku kenal. Kahfi dan Tyas yang merupakan seniorku di sekolah dan rekan berteater di masa sekolah dulu, dan tentunya Bang Ren, pelatih teater kami kala itu.

Ketika aku pertama kali bergabung, Khatulistiwamuda masih berusia satu tahun. Tentunya jika disamakan dengan seorang anak masih dalam tahap belajar berjalan. Personilnya tidak banyak, tetapi mereka semua punya semangat yang hebat. Kami beberapa kali melakukan kegiatan di ranah pendidikan, sosial, budaya, maupun keagamaan, dan tentunya ditambah dengan semangat dan jiwa anak muda, sesuai namanya, Khatulistiwamuda. Saat bergabung, aku baru saja lulus SMA, dan setahun kemudian merantau di negeri orang tuk melanjutkan studi. Semenjak itu, intensitasku turut andil dalam setiap acara dan perkumpulan di Khatulistiwamuda mulai berkurang.

Intensitas bertemu dengan Khatulistiwamuda yang semakin berkurang tidak lantas membuatku melupakan tempat menimba ilmu kehidupanku begitu saja. Khatulistiwamuda masih tetap melekat dalam pikiranku dimana pun. Di sana aku banyak belajar tentang kehidupan. Beberapa kali malah menangisi kebodohan. Sering kali merenungi setiap kegelisahan di dalam diri.

“Kalau kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.” Kalimat itu adalah penyemangat ketika aku merasa lelah dan jenuh ketika belajar. Kalimat itu pula yang membuatku menggebu-gebu mencari ilmu dan menikmati proses pembelajaran dalam hidup.

Lagi, ingatanku kembali pada memori saat masih awal bergabung dengan Khatulistiwamuda dulu, hingga mulai membuat lini Khatulistiwamuda dalam ranah media. Aku masih ingat betul saat awal belajar menjadi seorang jurnalis muda non-pengalaman. Bagaimana membuat sebuah berita, mengejar narasumber, dan banyak lagi. 

Aku pun masih ingat betapa bahagianya bisa melihat senyuman anakanak panti asuhan al-Ihsan ketika kami berhasil membawa mereka ke Taman Safari tuk berlibur. Kelihatannya sangat sederhana. Mungkin sebagian dari kita terbiasa pergi ke sana bersama keluarga atau teman. Tetapi mereka, yang notabene tidak lagi mempunyai orangtua bahkan keluarga, merasa bahagia bisa diperhatikan oleh orang lain. Senyuman tulus anakanak panti itu semakin menambah rasa syukurku diberi penghidupan yang teramat baik oleh sang pencipta tuk memiliki keluarga yang utuh dan tidak pernah kekurangan kasih sayang.

Juga kegiatan kurban kemanusiaan yang pernah kami laksanakan di kampung Cikadu, Sukabumi. Kehidupan yang jauh dari pantauan pemerintah, pendidikan serta kondisi jalan yang memprihatinkan, membuat kami berkunjung ke sana tuk berbagi kebahagiaan. Bahkan untuk kurban pun, mereka jarang sekali mendapat daging sapi. Maka momen Idul Adha dirasa tepat tuk memenuhi keinginan warga mendapatkan kurban sapi. Dari banyaknya donator yang membantu, kami berhasil memenuhi keinginan warga tuk merasakan daging sapi ketika Idul Adha tiba. Jalanan yang terjal dan berbatu serta rawan kecelakaan, berhasil kami lalui pergi-pulang. Masih banyak lagi momenmomen kebahagiaan yang membuatku menangis haru ketika bergabung di Khatulistiwamuda.

Aku sempat berbagi ingatan dengan Bang Ren via pesan singkat. Tentang betapa aku sangat terharu mengingat apa yang pernah dilakukan Khatulistiwamuda dulu, tentang kesalahan dan kecewa yang pernah terjadi, tentang kesadaran diri atas apa yang pernah dilakukan. Aku mensyukuri itu. Setidaknya, aku menyadari sesuatu yang pernah terjadi pada diriku.

Berkaca pada setiap kejadian yang pernah menimpaku, bulir airmata mudah tumpah begitu saja. Aku selalu ingin menjadi bagian dalam sejarah proses menuju tangga kesuksesan dari temanteman. Bahkan aku ingin bergabung di dalamnya sebagai bagian dari mereka. Kita pernah jatuh, pernah pula menangis. Pernah kecewa atau pun marah dan ingin berhenti. Tetapi hal tersebut adalah pilihan apakah akan kita turuti atau kembali tersadar, bangkit dan melanjutkan perjalanan. 

Khatulitiwamuda adalah salah satu rekam sejarah yang pernah kulalui dan masih bertahan hingga kini. Airmata yang tercurah sepatutnya kita syukuri, setidaknya kita masih diberikan kepekaan dan kasih sayang dari sang pencipta. Begitulah tuhan memberikan kenikmatan luarbiasa dari setiap tetesan airmata yang mengalir-tumpah. Dari setiap kekesalan, kekecewaan, kebahagiaan, maupun kesedihan yang meruah-menetes, hidup membentuknya jadi sebuah aliran ketenangan dalam kehidupan. []

 

Tangerang, 10 Muharam 1438 H

  • view 361