Anakanak Waktu

Khatulistiwa Muda
Karya Khatulistiwa Muda Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 09 Oktober 2016
Anakanak Waktu

Anakanak Waktu

 

 

2008 SILAM, aku dipertemukan tuhan dengan dua orang pelajar salahsatu sekolah negeri unggulan Tangerang. Mereka "memaksaku" mengajar apa saja. Sedari disiplin ilmu teater dan kesenian, hingga ranting keilmuan lain. Secara mengejutkan, mereka pun bersaingan jadi siswa peringkat teratas dari ratusan murid di sekolahnya. Mereka seolah saling membayangi satu sama lain.

 

Tiga tahun berselang, menuju kelulusan. Mereka terjerat kebingungan menentukan arah-tujuan. Lagi, mereka meminta bimbingan. Satu malam panjang terlewati hingga akhirnya mereka sepakat bernaung di bawah payung yang baru saja kukembangkan--untuk mereka dan para pemuda lain seusianya. Payung itu bernama Khatulistiwamuda. Terkembang di atas landasan pendidikan, seni-budaya, dan spiritualitas.

 

Setelah melegal-formalkan Khatulistiwamuda, kami pun bergerak cepat. Rangkaian program disusun. Digodok hingga matang. Sampai satu ketika, kami terpisah ruang-waktu. Tyas Ari Wahyu (kiri), melanjutkan studinya ke departemen Fisika di Universitas Gajah Mada. Sedang Kahfi Dirga Cahya (tengah), memilih departemen Kriminologi, Universitas Indonesia, sebagai pelabuhannya. Saat itu, aku senang pernah turut andil mengantar mereka memanjati puncakpuncak ilmu pengetahuan.

 

Sabtu lalu, 8 Oktober 2016, kami bertemu lagi di kediamanku. Suasananya mirip dengan saat pendirian Khatulistiwamuda. Kami duduk bertiga. Ditemani bergelas kopi dan kepulan asap. Beda tegasnya, Kahfi datang dengan peran barunya sebagai jurnalis Kompas.com. Tyas sudah jadi periset di laboratorium uji kelayakan milik H&M, merk pakaian ternama dari Swedia.

Menginspirasi Hidup Sendiri

Berkaca pada jalan yang sudah kami telusuri bersama sebagai pendiri Khatulistiwamuda, aku teringat sebuah pesan sederhana yang pernah kusampaikan ke mereka. "Memetik inspirasi itu tak melulu harus dari tokoh kaliber dunia. Kita bahkan bisa mengispirasi diri sendiri berbekal pengalaman hidup keseharian." 

 

Kesabaran yang kupupuk demi melihat mereka tumbuh berkembang, setidaknya kini sudah berbuah manis. Khatulistiwamuda yang kami dirikan, mengantar kami pada pertemuan demi pertemuan mengagumkan dengan para pecinta kehidupan. Satu di antaranya, Fahd Pahdepie, pengelola Inspirasi.co dan salah satu generasi brilyan milik bangsa Indonesia.

 

Sudah sejak awal bertemu hingga kemarin kami duduk bersama lagi, kutegaskan pada mereka, bahwa hidup tiap manusia adalah rajutan halus kehidupan yang berjalin kelindan. Ada begitu banyak rahasia yang disimpan tuhan di dalamnya. Sebagai manusia, tugas kita adalah menyibak tabir rahasia itu--yang terus menerus diperam waktu, untuk kita anakanaknya.

 

Sebelum segala sesuatu meruang-mengada dan dinamai, waktu lah yang lebih dulu tercipta. Ia ditawari amanah oleh tuhan tuk merawat semesta raya, namun dengan rendah hati ia menolak. Halus sekali. Bahkan sangat halus. Saking halusnya, ia melindap dalam reka cipta-Nya bersama keabadian. Waktu terus menjadi. Sejak mula azali hingga tak hingga nanti. Sedari Adam pertama hingga yang ke-40 ribu bani berikutnya. 

 

Sepanjang karir waktu setelah itu, ia terus setia menemani segala sesuatu yang kemudian bernama. Ia mengejawantah di dalam ketukan, tempo, rambatan, interval, jarak, ruang, momen, dan zaman. Horizontal pun vertikal. Ia mengada sejak azali--mula yang tak tercandra, tak tertandai. Tak satu pun kita bisa memastikan permulaan hadirnya, juga di mana ujung perhentiannya. Ia tetap setia menyelubungi dirinya dalam misteri. 

 

Kita, manusia, satusatunya ciptaan tuhan yang bisa menandai kehadiran waktu, terus berjuang mengalahkan gelombang lengkungnya--seperti yang diyakini Einstein seabad lalu. Upaya penaklukan itulah yang kemudian menuntun kita menamai waktu silam sebagai sebagai lalu, waktu di sini sebagai kini, waktu kemudian sebagai masa datang. Waktu yang lalu, berubah kenangan. Kini jadi sekarang. Waktu nanti kita sebut harapan. 

 

Padahal semua kondisi tersebut tetap hanya tinggal nama. Waktu tetap setia pada tugasnya. Ia terus merambat pelan, melindas, pasti, niscaya, terasa. Tak peduli apa, siapa, bagaimana, semua sama di hadapannya. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu, dasawarsa, abad, alaf, adalah perkara yang sama. Semua kita bagian dari perjalanan panjang waktu yang tak bisa mundur barang sekejap.  

 

Para sufi qalandar (highlander, dalam terma masyarakat Barat), sadar betul bagaimana cara menghadapi waktu. Mafhum cara mewaktu. Fasih dalam meruang. Mereka terlibat intim proses Allah Mencipta dalam karsa-Nya (kerso ning Gusti). Tekun menelusuri jalurnya. Khawatir dan takut jika keluar dari interval-Nya. 

 

Perilaku itulah yang lantas menjadi qadha, qadar (takdir), dan nasib. Para sufi qalandar, adalah bagian dari segelintir manusia yang menyadari peran dan fungsinya sebagai anakanak zaman. Anak manusia yang tak hidup di masa lalu dan yang akan datang. Mereka hidup di sini, sekarang, pasti. Begitulah cara mereka menghindari kehancuran, lantas masuk dalam keabadian. []

 

 

Bogor-Depok, 23 Jumadil Akhir 1437 H-7 Muharam 1438 H

  • view 348