KENANGAN BERSAMA HUJAN

Khamidah Fajri
Karya Khamidah Fajri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Februari 2016
KENANGAN BERSAMA HUJAN

Halilintar menggelegar saling bersahutan, angin kencang menusuk hingga ke tulang, hujan yang sedari tadi mengguyur tanpa henti, membuatku semakin erat memeluk diri sendiri, pakaianku kuyup karena berlari tanpa payung yang menaungi. ?Dingin sekaliiii,,? ucapku pelan dengan bibir gemetar. Mengalami hal semacam ini, aku akan kembali mengingat peristiwa tak terlupakan beberapa tahun silam, peristiwa diamana aku tak dapat menahan perihnya kehilangan.

"Kau tahu, mimpi itu takkan pernah menjadi kenyataan apabila kamu tidak dapat merealisasikan. Kau bilang akan mewujudkan mimpi itu, sedangkan kau sendiri tak pernah mau bangun dari tidurmu, tak pernah mau mengusir kemalasan yang tertanam dihatimu." Suara itu selalu terngiang di telingaku, dan jujur, aku sangat rindu...

***

Bel sekolah nyaring berbunyi, menandakan usainya jam pelajaran yang menjenuhkan. Teman-teman sekelasku sibuk membereskan barang-barang mereka dan bersiap untuk pulang, percakapan-percakapan begitu akrab terdengar membuat riuhnya suasana kelas di kala petang. Aku masih santai di tempat dudukku, ?Ndah, aku duluan ya?, ucap Kayla yang paham dengan kebiasaan ?unikku? berpamitan. Aku hanya menganggukkan kepala tanpa keluarnya sebuah kata, seulas senyuman bagiku telah mewakilinya.

Kelas sudah sepi, tinggalah aku seorang diri. Aku mulai menyalin tulisan yang tertera di papan, mataku memang sudah tidak normal, jadi aku harus rela pulang paling akhir sendirian.

***

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menyiratkan pancaran cahaya orange kekuningan, perlahan hilang ditelan gelap pertanda siang mulai berganti malam. Pemandangan indah seperti ini selalu menemaniku menyusuri jalanan yang mulai lenggang, sendiri berteman sepi mencari kendaraan pulang. Bosan rasanya bila hari-hariku terus berlalu seperti itu, tidak ada secuil pun hal istimewa yang kurasa. Pikiranku melayang, membayangkan hari ini ada seseorang yang berjalan menemaniku, bercengkrama dalam kenyataan, bukan sekedar dalam angan. ?Ah,,aku bosan?, pekikku lirih sembari menendang kerikil di depanku.

Angin tiba-tiba berhembus kencang, sepertinya akan turun hujan. Dan benar, selang beberapa langkah, hujan deras menguyur tanah hingga basah, aku segera berlari mencari tempat berteduh. Seragam putih abu-abu panjang yang kukenakan basah, aku mulai resah, memikirkan bagaimana cara untuk segera pulang ke rumah. ?Baru pulang dek??, tanya perempuan berjilbab lebar membuyarkan lamunan, ?E, iya, kak?, jawabku sekenanya. Ia terlihat begitu ramah dengan keteduhan senyuman yang merekah. Tangannya tampak memeluk beberapa map berisikan kertas, sepertinya ia mahasisiwa. Beberapa kali mataku sedikit meliriknya, dan kakak tanpa nama itu begitu membuatku terkesima. Sambil menunggu hujan reda, ia membaca Al-Qur?an kecil di tangan kanannya, bibir dan mata tampak bergerak seirama, menyusuri rangkaian ayat-ayat cinta dari Sang Pencipta.? Adzan maghrib berkumandang, samar-samar terdengar karena beradu dengan gemuruh hujan yang terus berjatuhan. ?Nanti pulangnya gimana??, kakak itu kembali bertanya. ?Naik angkutan umum kak, seperti biasa, tapi kali ini nunggu hujan reda?, aku berusaha menyembunyikan kekhawatiran. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, raut wajahnya seperti tak tega bila harus meninggalkan aku seorang diri di jalanan yang teramat sepi, ?Gimana kalau sekarang kita sholat dulu dek, nanti kakak antar kamu sampai ke rumah. Jam segini kayaknya angkot udah gak ada?, ucapnya berusaha meyakinkan. Aku yang sempat ragu tidak dapat menolak tawaran yang ia berikan. Berdua berboncengan diatas motor matic hitam, mencari masjid terdekat untuk bersembahyang.

***

?Indah,,, kak Rahma nunggu kamu tuh?, suara Ibu megingatkanku. Rahma Yulia, itulah nama panjangnya, tetapi aku memanggilnya kak Rahma. Saat mengantarku pulang hari itu, akhirnya aku tahu namanya dan tidak lagi memanggilnya kakak tanpa nama. Kami berdua semakin dekat, lebih dari kedekatan seorang sahabat, namun lebih tepatnya aku menganggapnya sebagai kakak. Kak Rahma begitu dewasa, dia selalu mendengarkan semua keluh kesah yang kurasa. Dengan seksama ia mendengarnya, dan di akhir cerita pasti akan ada nasehat penggugah jiwa yang diberikannya. Ah, aku begitu sayang padanya. J

Satu tahun berlalu, aku masuk ke kampus yang sama dengan kak Rahma tetapi jurusan kami berbeda, kak Rahma di bagian sastra dan aku matematika. Karya-karya kak Rahma begitu mempesona, terkadang cerita-cerita yang dibuatnya mampu mengalirkan air mata. Beberapa kali namanya tertulis di majalah kampus dan beberapa cerpennya menyabet juara dalam perlombaan-perlombaan yang diadakan Fakultas Sastra Budaya.

Ketenaran tak membuatnya lupa bahwa kakinya masih memijak daratan, tak melambungkan walaupun beberapa kali diminta untuk mengisi seminar kepenulisan. Ia tetap apa adanya, rendah hati begitu kuat tertambat sebagai pondasi hidupnya.

***

?Indah,,tunggu!!?, kak Rahma berteriak lantang melihatku pergi begitu saja saat dia mencoba menjelaskan kejadian yang menorehkan luka di dada. Aku menyesal telah bertindak kekanak-kanakan kala itu, aku berpikir seandainya waktu dapat diulang, maka tak sedikitpun tubuh kugeserkan. Aku akan mendengarkannya dengan seksama, seperti yang sering dilakukan kak Rahma. Buruk sangka telah merubah segalanya.

Hujan turun begitu derasnya, aku berlari menerobos hujan tanpa naungan. Sorot lampu kendaraan yang berlalu lalang menghiasi jalan. Pikiranku terus dibayangi sosok Fadli dan kak Rahma sedang asyik bercengkrama. Brakk!!! Suara benturan begitu keras terdengar, mengalahkan derasnya suara hujan. Aku menoleh kebelakang, samar-samar mataku memandang seorang perempuan berjilbab lebar terkapar di tengah jalan, beberapa orang tampak mengerumuni, seketika jantungku terasa berhenti. ?Kakkkk?, pekikku sembari berlari menghampiri. Darah segar mengalir tersiram air hujan, kerudung putihnya berubah menjadi merah berlumuran darah. Aku segera memangku kepala kak Rahma dan menangis sejadi-jadinya. Nafas kak Rahma tak beraturan, namun bibirnya tak henti-hentinya digerakkan. Perlahan matanya terbuka, bibirnya menyiratkan senyuman saat melihatku tengah tersenggal-senggal dengan air mata bercucuran. Wajahnya tak sedikitpun menunjukkan kesakitan, tatapannya mulai nanar, tangan kanannya berusaha menyentuh wajahku. ?Maaa..aaff..dek?, itulah kata terakhir kak Rahma yang membuatku semakin meronta, karena tidak seharusnya ia mengucapkannya.

***

Malam semakin larut, aku masih termenung memikirkan kesalahan fatal yang telah kulakukan, dan kini aku merasa sangat kehilangan. Terlebih mendengar pengakuan jujur Fadli tentang kebersamaan mereka di hari terakhir kak Rahma, ?Aku dan Rahma diundang sebagai partner untuk mengisi seminar?. Penyesalan dalam diri tak dapat kututupi, tiga hari aku termenung sendiri berteman sepi selepas kak Rahma pergi. Tiada lagi yang mendengar cerita-ceritaku, tertawa melepas rindu ketika beberapa hari ia pergi keluar kota untuk mengisi acara. Memberiku solusi soal kegalauan remaja masa kini dengan dalil-dalil Al-Qur?an yang menenangkan.

Memang, adanya pertemuan pasti akan diikuti dengan perpisahan, karena kehidupan di dunia hanyalah sementara, tidak satu pun manusia akan hidup untuk selamanya. Dan sebelum hari itu tiba, tidak ada salahnya kita menyayangi mereka sebanyak yang kita bisa. Sebelum terjadi penyesalan karena berpisah dengan kesalahan yang belum sempat terbayar dan ucapan maaf yang tidak sempat tersampaikan.

Ketika hujan aku menemukannya, dan ketika hujan pula aku harus rela melepas kepergiannya. Terimakasih kak Rahma Yulia, kamulah sahabat terbaik yang pernah kupunya.

-TAMAT-

  • view 217