KANVAS SANG PENCIPTA

Khamidah Fajri
Karya Khamidah Fajri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Februari 2016
KANVAS SANG PENCIPTA

Embun pagi menyejukkan suasana, membasahi padang rumput yang berselimut kabut. Perlahan semburat mega merubah suasana, kegelapan mulai pudar dan padang rumput hijau remang-remang mulai kelihatan. Kubentangkan tangan seraya menghirup dalam-dalam udara pagi yang menyejukkan.

Lima tahun sudah, namun tiada yang berubah. Suasananya tetap sama seperti sedia kala, dimana air mata meleleh mengiringi kepergianku untuk meraih cita-cita. Berat sekali rasanya harus berpisah dengan keluarga, namun apa daya aku adalah tulang punggung keluarga, tak patut rasanya bila hanya menghidupi mereka ala kadarnya. Untuk itu, ku wujudkan angan yang selama ini aku pendam.

***

"Dek,,,," tak kuasa ku lanjutkan kata-kata setelah mendengar isak tangisnya. Wajahnya yang teduh seketika berubah setelah air mata jatuh berlinang membasahi pipi merahnya. Aku hanya bisa larut dalam diam. "Pergilah mas, Insyaallah aku ikhlas" suara lembutnya mencairkan suasana. "Hanya satu pesanku dan jangan sampai engkau lupakan itu. Jagalah hubungan baikmu dengan Allah SWT, niscaya Ia akan memudahkan jalan atas segala yang engkau cita-citakan. Aku akan selalu berdo'a untukmu, kekasihku" lanjutnya dengan berlinang air mata.

Betapa beruntungnya aku memilikinya. Ia rela meninggalkan kemewahan demi mengikuti suaminya yang hidup terlampau sederhana. Aku memang tidak dapat menjamin suatu kebahagian untuknya, tetapi Allah lah yang menjamin kebahagiaan bagi hambaNya. Aku selalu berdo'a agar kami dapat hidup bersama tidak hanya di dunia, tetapi hingga ke surgaNya. Akan ku bangun bahtera rumah tangga di atas ridho-Nya, karena hanya itulah kunci bahagia.

***

Rasa rindu membuncah di kalbu, wajahnya selalu terbayang, suara lembutnya selalu terngiang. Butuh perjuangan untuk menahan kerinduan dalam jangka waktu panjang. ?Apa kabar cinta? Aku pulang,,? lirihku saat melihat sebuah pedesaan di penghujung jalan. Aku tersenyum sambil membayangkan wajah manisnya menyiratkan senyuman penuh makna menyambut kedatangan kekasih yang dicintainya karena Allah semata.

Hamparan padi membentang menghiasi persawahan yang aku lewati. Warnanya kekuningan, memancar bak emas yang bersinar. Musim panen akan segera datang. ?Assalamu?alaikum! Mas Irwan ya?? tegur petani yang sedang sibuk dengan aktivitas hariannya. ?Wa?alaikum salam warahmatullah,,iya pak, saya Irwan. Pak Kasim ya?? tanyaku sambil mengerutkan dahi berusaha mengingat kembali. ?Alhamdulillah wan, akhirnya kamu pulang juga? katanya sambil menepuk-nepuk pundakku. Raut wajahnya yang tak lagi muda menyiratkan rasa iba, entah mengapa. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya ketika aku bertanya ?ada apa??. Hanya isyarat yang beliau berikan agar aku segera pulang.

Suasana pagi sudah tidak dapat lagi kunikmati. Nafasku tersenggal-senggal tak beraturan, sesekali aku berhenti untuk mengatur nafas, kemudian kembali berlari hampir tanpa henti. Peluh mengalir membanjiri dahi, namun dzikir selalu terucap dalam hati. Aku optimis bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi, tidak ada.

Aku berhenti, tidak kuat lagi rasanya untuk berlari. Kuletakkan tas besar disisi jembatan yang menghubungkan antara dua pedesaan. Tatapanku nanar, sejenak kuistirahatkan tubuh ini yang sejak tadi tak henti-hentinya berlari. Pikiranku melayang mengingat peristiwa-peristiwa tak terlupakan beberapa tahun silam.

***

?Ustad Irwan!? tegur salah seorang santri yang membuatku menghentikan langkah kaki. ?Ada apa Aziz?? sahutku menimpali panggilannya yang setengah berteriak. ?Assalamu?alaikum ustad, maaf sebelumnya, antum diminta datang ke rumah Kyai Latif setelah sholat ashar?. ?Wa?alaikumussalam warahmatullah, iya insyaaAllah saya nanti datang, terimakasih ya ziz? timpalku mengiyakan.

Ku tadahkan tangan untuk berdo'a, di hadapanNya aku begitu hina, tak pantas rasanya untuk meminta, namun Allah Maha Bijaksana, Ia mengabulkan seluruh do'a yang dipanjatkan hamba-hambaNya, walaupun acap kali mereka melupakan kewajiban untuk beribadah kepadaNya. Tak terasa butiran hangat menetes, mengalir di pipi.

***

Enam tahun sudah aku mengenyam pendidikan di pesantren, susah senang telah aku rasakan, hingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Enggan rasanya untuk meninggalkan pondok ini karena hati sudah terpatri dan sulit untuk menariknya kembali. ?Ada apa gerangan Kyai Latif memanggil? Tak biasanya? gumamku dalam hati. Kupercepat langkah agar segera sampai di kediaman bapak Kyai yang sudah aku anggap seperti Ayah sendiri, begitu pula sebaliknya.

Aku berhenti sejenak di depan rumah yang jauh dari kata mewah namun selalu dialiri berkah. ?Bismillah,,,? ucapku lirih seraya memasuki halaman rumah Pak Kyai. Sepoi angin menyapu dedaunan yang berguguran di halaman. Perlahan namun pasti, ku ucapkan salam sambil menunggu tuan rumah membukakan pintu. "Wa'alaikumussalam, eh nak Irwan, mari masuk nak" ucap perempuan berjilbab panjang mempersilahkan.

Suasana ruang tamu kala itu sangat kaku, wajah Pak Kyai berbeda dari biasanya, raut wajahnya nampak muram, mungkin karena banyak hal yang beliau pikirkan. "Begini wan.." kata beliau memulai percakapan. "Saya minta tolong sama kamu, besok datanglah ke rumah Pak Burhan untuk membimbing keluarganya mendalami ajaran Islam yang benar, kamu adalah orang pilihan wan, jadi Bapak harap kamu jangan sampai mengecewakan. "Deg! Mulutku bungkam setelah mendengar nama Pak Burhan disebutkan. Hatiku sempat ragu, mampukah diriku mengemban amanah yang telah Pak Kyai percayakan?

***

Dinginnya malam menusuk hingga ke tulang, ku langkahkan kaki menuju kamar mandi dengan badan sempoyongan dan mata masih setengah terpejam. Berat memang bila sholat malam belum menjadi sebuah rutinitas harian layaknya makanan. Sangat disayangkan apabila tidur menjadi penghalang mendapatkan ganjaran besar yang telah Allah janjikan.

Jam dinding menunjukkan angka tiga, keheningan selalu aku rasakan di sepertiga malam, sangat tenang. Ku terlarut dalam do'a, hatiku gelisah tak menentu, amanah yang Pak Kyai berikan tadi siang selalu terngiang dan kata ?mampukah..? selalu memenuhi pikiran. Tak terasa adzan subuh berkumandang, saling bersahutan, membangunkan orang-orang pilihan.

***

Pagi ini begitu indah, burung-burung berterbangan dengan riang. Ku kayuh pedal sepeda perlahan untuk menikmati udara pagi yang baik bagi kesehatan. Jalan raya masih sepi kendaraan, hanya delman lah satu-satunya kendaraan yang telah berjajar. Sebuah delman melaju tepat di depanku. Tidak banyak penumpang, hanya dua orang perempuan yang duduk di kursi belakang. Untuk pertama kalinya mataku berani memandang seorang perempuan, senyumnya begitu menawan, wajahnya begitu rupawan tertutup jilbab panjang berwarna terang. Aku segera tersadar dan lekas membaca istighfar. Hatiku berkecamuk, bercampur menjadi satu antara kebahagiaan dan penyesalan. Ku percepat laju sepedaku melewati delman itu.

Baju koko biru dan celana hitam panjang aku kenakan, setidaknya dari segi penampilan sudah mendapat nilai tambahan dari seorang Pak Burhan, orang terpandang di Kecamatan. Pesan Pak Kyai selalu terngiang, aku bukanlah seorang pecundang, untuk itu aku tidak boleh gagal dan mengecewakan. Aku dilahirkan untuk menjadi seorang pejuang, pejuang sejati tidak akan gentar dengan ribuan permasalahan yang akan dihadapi. Berani mati demi menegakkan panji Islam. ?Bismillah? ucapku optimis sambil mengayuh sepeda menuju rumah Pak Burhan.

Peluh mengalir membasahi dahi, sesekali aku berhenti untuk sekedar mengusapnya dengan sapu tangan. Perjalanan panjang aku lakukan demi menyebarkan syiar Islam, dua jam sudah aku mengayuh sepeda, lelah pun mulai kurasa. "Bismillah,,sebentar lagi sampai" lirihku sambil mempercepat laju sepeda. Tak berselang lama, ku hentikan sepeda tepat di depan pagar rumah yang termasuk mewah. Rasa takut sempat tersirat dalam pikiran, namun sesaat dapat hilang ditepis keyakinan dari lubuk hati yang paling dalam.

***

"Maaf sebelumnya Pak, saya Irwan dari Pesantren Al-Barokah. Maksud kedatangan saya kemari demi menjalankan amanah dari Pak Kyai untuk membimbing keluarga Bapak mendalami seluruh ajaran Islam yang benar" ucapku memulai percakapan dengan Pak Burhan. "Ooh, kamu ternyata murid kebanggaan Kyai Latif?" sahut Pak Burhan dengan senyum yang mengembang. Aku tercengang, "murid kebanggaan?" bisikku dalam hati tak mengerti. Sore itu menjadi saksi penyesalanku menuduh orang sembarangan tanpa bukti. Ternyata Pak Burhan tidak seperti yang orang lain katakan, beliau begitu ramah dalam menyambut tamu siapapun itu, tidak pandang bulu. Tidak banyak yang kami bincangkan, karena maksud kedatanganku bukan untuk itu. Pak Burhan lekas membawaku ke ruang tengah dimana pengajian akan dilangsungkan.

Istri dan dua putri Pak Burhan tengah duduk rapi di atas kursi menungguku sedari tadi. Betapa tekejutnya aku saat melihat kembali wajah rupawan pagi tadi. Ternyata perempuan itu putri Pak Burhan, entah suatu kebetulan atau memang sudah ditakdirkan, aku merasa sangat bahagia karena dapat bertemu kembali dengannya.

Pandangan pertama masih dapat dimaafkan karena unsur ketidak sengajaan. Aku bimbang, sukar dan berpikir amat dalam, ?bagaimana aku dapat menjaga pandangan? Ya Allah,,berikan aku jalan agar pandanganku ini tidak terus menjadi sesuatu yang Engkau haramkan. Amin? bisikku dalam hati seraya meneguk secangkir teh yang telah Bu Burhan sediakan.

?Mas Irwan.? Secangkir kopi diteguknya sebelum melanjutkan kata-kata yang belum Pak Burhan selesaikan. ?Jadi, sudah berapa lama mondok di Al-Barokah?? lanjut beliau penuh introgasi. Dengan raut wajah datar dan nada bicara sopan aku menjawab ?Alhamdulillah Pak, saya sudah enam tahun mondok, dan sekarang sedang menjalani masa pengabdian mengajar di Al-Barokah sebagai guru?. ?Oo..begitu? sahut bapak dua orang anak ini sambil menganggukkan kepala pelan tanda mengerti. Diambilnya kembali secangkir secangkir kopi yang masih mengepul dihadapannya. ?Apa mas Irwan ada rencana untuk menikah?? celetuk Pak Burhan tanpa basa-basi. Spontan aku tersedak minuman yang baru saja masuk ke tenggorokan mendengar pertanyaan yang mungkin orang lain anggap normal. Aku berusaha tenang seakan tidak ada yang terjadi. Hanya senyuman yang dapat aku berikan sebelum menjawab pertanyaan itu, ? belum bertemu jodoh Pak ? sahutku sekenanya. Beliau hanya tertawa melihatku salah tingkah menjawab pertanyaannya.

Tak terasa obrolan kami berlangsung cukup lama. Jarum jam menunjukkan angka delapan, waktunya untuk berpamitan pulang. ?Ran, tolong antar mas Irwan ke depan sebentar nduk? pinta Pak Burhan setengah berteriak agar putri sulungnya keluar kamar. Aku sangat gugup, jantungku semakin kencang berdegup. ?Saya pulang dulu Pak, semoga ilmu yang kita pelajari hari ini bermanfaat? ucapku seraya menjabat tangan beliau lalu beranjak keluar rumah diikuti Rani.

Aku dan Rani tidak jalan berdampingan, tetapi ia mengikuti lankahku dari belakang. Sesampainya di depan gerbang aku menoleh ke belakang untuk sekedar mengucapkan perpisahan, ?sampai sini saja mba?, terimakasih sudah mengantar saya? ucapku dengan sedikit menyunggingkan senyuman. ?Sama-sama mas, terimakasih banyak atas bimbingannya. Hati-hati di jalan? jawabnya sambil menundukkan pandangan.

?Astaghfirullah, ini ketiga kalinya aku memandang wajahnya. Ya Allah, maafkan hamba..? penyesalan penuh harapan berbisik dalam hati, mengalir hangat dalam nadi. Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit malam, kukayuh pedal sepeda meninggalkan Rani yang masih berdiri menungguku pergi.

"Ya Rabb, tak sepantasnya hamba berlebihan dalam meminta sedangkan ibadah yang hamba jalankan belum setimpal dengan segala hal yang telah Engkau berikan. Tak sepatutnya hamba tergesa-gesa dalam menentukan pilihan karena bisa jadi dibalik ketergesa-gesaan terdapat sesuatu yang pada akhirnya akan menjerumuskan. Ya Allah, hanya kepadaMu lah segala sesuatu yang telah tercatat di lauh mahfud hamba serahkan." Kedua telapak tangan ku telungkupkan ke wajah seraya mengaminkan do'a yang ku panjatkan. Sepertiga malam ini begitu berarti, menjadi saksi kemesraanku bersama Illahi Rabbi, karena aku takut cinta dalam hati akan terbagi hanya karena sesuatu yang belum pasti.

***

Kemeja merah kecoklatan aku kenakan, kusambut pagi dengan senyuman agar setiap hari dapat terlewati dengan penuh keceriaan. Hal paling menyenangkan bagiku adalah ketika dapat berbagi ilmu, untuk itu cita-citaku sejak dulu ingin sekali menjadi guru.

"Baiklah anak-anak, sekarang kumpulkan tugas yang Ustadz berikan minggu lalu, bagi yang belum mengerjakan silahkan keluar dan berdiri di tengah lapangan" aku berjalan perlahan menuju bangku paling depan, "tolong ambilkan tugas teman-teman kamu" pintaku kepada salah seorang santri dengan nada datar. Kedisiplinan selalu aku terapkan agar anak didikku tidak malas belajar. Tugas dalam setiap pertemuan selalu aku berikan, dan bagi mereka yang tidak mengerjakan, maka harus siap menerima hukuman. Bukannya kejam, namun diberikannya hukuman bertujuan agar kedisiplinan yang telah ditetapkan tidak dilanggar.

Suasana kelas tenang, para santri mendengarkan penjelasanku tentang sebuah Hadits dengan seksama, beberapa dari mereka menulis apa yang sedang aku katakan. "Baik, 10 menit tersisa. Ada yang ingin ditanyakan?" tanyaku sambil mengambil buku absen yang tergeletak di meja. Belum sempat membacanya, salah seorang guru masuk ke kelasku dan membisikkan sesuatu. "Disuruh cepat ustadz Irwan" katanya sambil berlalu.

"Maaf anak-anak, Ustadz ada keperluan mendadak. Jangan ada yang keluar kelas sebelum bel istirahat berbunyi. Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh" ku percepat langkah keluar kelas diiringi jawaban salam anak-anak serempak.

Langkah kakiku beradu kecepatan, saling bersalipan. Kabar apa gerangan yang ingin Pak Kyai sampaikan kembali. "Mari Ustadz, sudah ditunggu" kata utusan yang tadi memanggilku mempersilahkan. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman yang dipenuhi rasa keingin tahuan. Segera aku melepas alas kaki dan mengikuti langkah Mizan masuk ke dalam. Perasaanku berdebam, ?apa aku melakukan suatu kesalahan sehingga dipanggil dadakan seperti ini?? Tanyaku pada diri sendiri di dalam hati.

Sepertinya aku memang melakukan suatu kesalahan, pikirku setelah melihat Pak Burhan di ruang tamu bersama Pak Kyai. Tangan Pak Kyai melambai, mengisyaratkan kepadaku untuk duduk. Aku duduk disisi Pak Kyai, kepalaku menunduk, mataku tak berani menatap para tamu, disini seakan aku adalah narapidana yang tengah pasrah untuk menerima hukuman setimpal dengan kesalahan yang aku lakukan, meskipun aku belum tahu, jenis kesalahan apakah itu.

?Irwan!? Pak Kyai menatapku dengan santai. ?Tegang sekali wajahmu nak? ledek beliau dengan senyum menyeringai, menghiasi wajah teduh penuh keindahan cahaya iman. Aku menoleh, masih dengan ekspresi wajah datar yang kupasang sejak pertama kali datang. Aku hanya tersenyum simpul, mulut ini kaku untuk menyatakan rasa ingin tahuku yang masih terpendam.

?Wan..? Pak Kyai menepuk bahuku. ?Kalau saya menyuruh kamu mengerjakan suatu hal yang mungkin kamu belum siap untuk menjalankan, belum punya modal, belum ada persiapan matang, apa kamu akan tetap melaksanakan hal yang saya perintahkan?? mimik wajah Pak Kyai berubah. Aku kembali menundukkan pandangan, mencoba mencerna kata-kata yang beliau sampaikan. Keyakinan menjalar dari lubuk hati terdalam, menggerakkan bibir yang bungkam, aku menghela nafas panjang dan mulai memberikan jawaban, ?Pak Kyai,,? kataku sambil memandang wajah Kyai Latif dalam-dalam. ?InsyaAllah saya siap melaksanakan perintah itu, karena saya tahu Bapak tidak akan menjerumuskan saya ke dalam jurang kenistaan atas perintah yang antum berikan.? Jawabku dengan penuh keyakinan.

Pak Burhan tersenyum lebar, begitu pula dengan dua orang disebelahnya. Sekarang giliran pak Burhan untuk angkat bicara, ?Irwan, maukah kamu menjagakan anak saya, Rani? Tentunya dalam sebuah ikatan tali pernikahan?. Aku menelan ludah mendengar tawaran yang sangat mengejutkan. Ku cubit lenganku untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi, ?Aw, sakit? lirihku dalam hati tanpa ekspresi. Aku tidak dapat menafikan bahwa inilah yang sangat aku inginkan, namun aku harus tetap melibatkan Allah dalam setiap urusan termasuk mengambil keputusan menerima tawaran Pak Burhan. Untungnya beliau tidak keberatan setelah aku meminta sedikit waktu untuk memikirkannya matang-matang agar tidak timbul sebuah penyesalan kelak di kemudian hari.

Aku bersimpuh kembali di sepertiga malam, dua, empat, enam, delapan rakaat tahajud telah aku selesaikan. Dinginnya malam begitu menusuk tulang, badanku menggigil kedinginan, namun itu semua tidak menjadi penghalang bagiku untuk segera menyudahi munajat cinta ini.

***

Embun pagi menggelantung di pucuk dedaunan yang meliuk-liuk tertiup hembusan angin menenangkan, jatuh perlahan, menetes di atas rerumputan. Kedinginan malam masih tersisa, menemani langkahku menuju pemakaman umum tak jauh dari desa. Ku lipat tangan di depan dada, berusaha mempertahankan kehangatan badan. Jaket putih tebal aku kenakan.

Ku tatap lekat-lekat dua makam yang berdampingan, seribu kenangan telah terpendam. Air mataku jatuh berlinang, aku terisak sambil memegang batu nisan. Penyesalanku saat ini sudah tiada arti, hanya do'alah satu-satunya cara menebus segala kesalahanku kepada kedua orangtua. Aku berdo'a agar Allah menerima arwah mereka berdua disisiNya.

"Bapak, Ibu, Irwan sudah dewasa" aku terisak, terbata-bata dalam mengungkapkan kata "Irwan akan menikah Pak, Bu, Irwan hanya meminta restu" dadaku kembang kempis, tak kuasa menahan tangis. Sholat istikhoroh sudah tiga hari ini kujalani, dan hatiku semakin mantap untuk melamar Rani.

Rambutku berkelibat tertiup angin yang berhembus cukup kencang, kutinggalkan makam dengan hati lapang.

Sorban putih melingkar di leher Pak Kyai, menjadi ciri khas tersendiri dan mudah untuk dikenali. "Sudah siap wan?" tanya beliau kepadaku yang sejak tadi terpaku menunggu. Segera aku tersadar dari lamunanku mendengar pertanyataan itu, "insyaAllah Pak saya siap" jawabku mantap, mata kami saling bertatap. "Alhamdulillah, kalo begitu mari disegerakan saja kebaikan yang telah kita niatkan." Beliau menepuk pundakku.

Hari ini akan menjadi salah satu hari bersejarah yang tak dapat ku lupakan. Hari dimana aku akan melamar langsung gadis yang baru saja aku kenal dalam kurun waktu tidak lebih dari satu minggu.

Maharani Putri, gadis berparas menawan dengan balutan hijab longgar yang telah meluluh latahkan hati seorang Irwan. Usianya 25 dan aku 22, namun wajahnya terlihat begitu muda. Untungnya aku tidak memanggilnya "dek" saat pertama kalinya kami bicara. Aku sama sekali tidak keberatan dengan perbedaan usia, toh selisihnya juga tidak sebanyak Baginda Nabi dan istri pertamanya, Khadijah. Jantungku berdebar semakin kencang ketika kendaraan yang kami tumpangi berhenti tepat di depan pagar rumah Pak Burhan.

Sambutan Pak Burhan begitu hangat aku rasakan, pakaian beliau rapi disertai peci hitam menutupi rambutnya yang mulai berubah keperakan. Senyumnya lebar, begitu pula perempuan berjilbab coklat disisinya yang tak lain adalah Bu Burhan. Rasa-rasanya begitu singkat proses ta'aruf yang aku jalani, tetapi jika hati sudah dapat diajak kompromi, untuk apa berlama-lama menanti sesuatu yang sudah pasti? Suatu kebaikan harus disegerakan, tukasku dalam hati. Percakapan berlangsung lama, inti dari kedatangan kami bersilaturahmi kesini belum juga disampaikan oleh Pak Kyai. Aku hanya menyimak percakapan, seketika wajahku menegang setelah paras rupawan tiba membawakan hidangan. Allahu akbar,, wajahnya memancarkan cahaya iman. Aku begitu terpesona melihat keanggunannya, sampai lupa kalau aku belum halal untuk memandangnya. Aku segera mengalihkan pandangan kepada Pak Burhan.

Wajahnya tertunduk malu, tangannya sibuk memindahkan hidangan dari atas nampan. Sesaat kemudian meja di depanku dipenuhi hidangan berupa gorengan dan kue yang bermacam-macam. "Pak Kyai, Mas Irwan, silahkan dicicipi jajanan buatan Rani" senyum beliau mengembang. "Dari pagi dia sibuk sendiri di dapur,mau latihan masak katanya" ungkapan Pak Burhan sukses membuat wajah Rani yang duduk disebelah ibunya berwarna kemerahan, aku tersenyum lebar, seakan gelak tawa akan keluar apabila aku tidak dapat mengendalikan.

Akhirnya perbincangan kami sore ini sampai ke inti, tanggal pernikahan ditentukan satu bulan dari sekarang, terlalu cepat memang, tetapi bukankah suatu kebaikan harus disegerakan?

Islam memang melarang keras hubungan pacaran, namun solusi yang diberikan jauh lebih indah dari yang dibayangkan, yaitu dengan jalan ta?aruf. Suasana taman kala itu sangat kaku. Untuk pertama kalinya aku duduk bersebelahan dengannya, dia yang akan aku sebut namanya kala tanganku menjabat tangan Ayahnya untuk mengatakan "Saya terima nikahnya....", dia yang nantinya akan menjadi ibu dari anak-anakku, ya, Rani. Walaupun kami duduk bersebelahan, namun jarak masih terbentang. Tidak terlalu jauh dari tempat duduk kami, Anggita duduk sendiri dengan sedikit mengawasi. Jantungku semakin berdegup tak menentu, aku masih kikuk untuk memulai sebuah percakapan, ia pun hanya terdiam. Hanya keheningan yang beradu pada saat itu.

"Mas Irwan." Suara lembutnya mencairkan suasana, "boleh aku bertanya sesuatu?" "Iya, silahkan" sahutku seraya menyerongkan posisi badan. Ia masih menunduk dan terdiam, diserongkannya perlahan posisi duduknya sehingga kami berdua bertatap muka. "Apa yang menjadi jaminan antum untuk membahagiakan aku nantinya?" nada bicaranya datar, pertanyaan yang ia lontarkan bak sebuah tamparan, itulah yang aku rasakan. Mata beningnya menatap tajam, Rani masih menunggu jawaban dariku, pandangan kami saling bertemu. "Sejujurnya, aku tidak bisa memberikan jaminan apa-apa" aku terdiam sejenak, ia kembali meluruskan posisi duduknya seperti sedia kala, raut wajahnya seperti kecewa. "Tapi Allah bisa, Allah yang bisa memberikan jaminan kebahagiaan bagi hambaNya atas kehendakNya" lanjutku menyambung kata-kata. Wajah yang semula terlihat kecewa, kini mengembang sebuah senyuman penuh makna di bibir tipisnya.

"Bolehkah sekarang aku yang bertanya?" pintaku. Ia menganggukkan kepalanya pelan tanda mengiyakan. "Sebesar apa cinta yang akan kamu berikan kepadaku?" Tanpa ragu Rani menjawab "Jujur mas, belum ada cinta yang dapat aku berikan untukmu saat ini, cintaku belum dapat kubagi karena antum masih belum hahal untuk ku cintai." Ia diam sejenak sebelum melanjutkan jawabannya kembali, "Meskipun nantinya antum sudah halal untuk ku cinta, tapi tetap saja cintaku kepada Sang Pencipta akan lebih besar dibandingkan kecintaanku pada seorang hamba" tukasnya mengakhiri kata-kata.

Ku tatap wajah cantiknya, jawabannya sangat mengena, dan inilah yang bisa ku sebut obat pelipur lara. Memang Allah telah memisahkanku dari kedua orang tua, namun kini Ia mengganti mereka berdua dengan seorang wanita yang begitu mempesona. Subhanallah, Fabiayyi alaai robbikuma tukadzibaan.

Adzan maghrib berkumandang, langit biru berubah menjadi kemerahan, tanda bahwa malam akan segera datang. Prosesi lamaran berjalan dengan lancar, harapanku kala itu hanya satu, diberikan kemudahan atas segala sesuatu yang telah aku niatkan, tentunya dalam hal kebaikan.

***

Perasaan bahagia membuncah di dada, segala keperluan pernikahan telah disiapkan dengan matang. H-7 pernikahan, aku semakin luruh dalam angan-angan yang membahagiakan.

Sore ini aku pergi bersama Gita dan Rani, berjalan menikmati indahnya pemandangan taman kota di sore hari. Sesaat kemudian hal memalukan terjadi, perut yang sedari pagi belum kuuisi berbunyi. Anggita yang berjalan didepanku membalikkan badan, "Mas Irwan lapar? Makan yuk kak Ran, Gita lapar" rengeknya kepada Rani yang juga ikut berhenti. Kami bertiga saling berpandangan sebelum akhirnya Rani mengiyakan permintaan adiknya tersayang.

Masakan padang menjadi tujuan utama. Aku, Rani dan Gita duduk satu meja. Sambil menunggu pesanan tiba, kami bertiga asyik bercanda. Saat itu Anggita yang masih duduk di bangku SMA menceritakan perihal pengalaman uniknya dan berhasil mencairkan suasana dengan membuat kami berdua tertawa. Kepribadian Rani dan Gita memang sedikit berbeda. Sang kakak cenderung menghemat kata yang keluar dari mulutnya, sedangkan Gita justru sebaliknya, banyak bicara.

Aku berandai-andai di tengah candaan riang mereka berdua. Bagaimana rasanya memiliki saudara, mengingat diriku yang hidup sebatang kara. Terkadang kesepian yang amat dalam aku rasakan, dan itulah penyebab utamaku terlalu larut dalam kesedihan. Ku pandang wajah mereka secara bergantian, senyum bahagia begitu jelas kurasa. Tidak ada lagi kata sepi yang merasup ke dalam sanubari, karena aku akan memilikinya sebentar lagi, akan kami bangun sebuah bahtera rumah tangga yang bahagia di bawah naungan Ridho-Nya.

***

Sore ini begitu tenang, ku ambil buku bertuliskan "KUNCI BAHAGIA" yang tergeletak di atas meja. Burung-burung berkicauan, berbondong-bondong untuk kembali ke sarang. Pak Kyai memberiku cuti panjang menjelang hari H pernikahan. Agak bosan memang, tetapi waktu dalam kehidupan begitu mahal, sehingga merugilah orang-orang yang membiarkan waktunya berlalu begitu saja dan terbuang sia-sia. Untuk itu aku harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, salah satunya adalah mengenal dunia dengan cara membaca. Dengan membaca, aku tahu tentang Amerika dan negara-negara lain di seluruh penjuru dunia tanpa harus datang langsung ke tempatnya. "Bila kamu ingin mengenal dunia, maka membacalah! Bila kamu ingin dikenal dunia, maka menulislah! Bila kamu ingin memimpin dunia, maka berilmulah!" kata-kata ini selalu menjadi motivasi yang tertanam dalam diri, dan inilah kata-kata Pak Kyai. Subhanallah.

Cahaya sore mulai terlihat remang-remang sebelum akhirnya berubah menjadi gelap gulita. Mataku terfokus menatap bayangan seseorang yang mendekat perlahan. "Assalamu'alaikum Ustadz Irwan" ucap seorang laki-laki yang ternyata santri dengan nafas terengah-engah, mungkin karena ia datang kemari berlari. "Wa'alaikumussalam, ada apa nak?" aku segera datang menghampirinya. "Dipanggil Pak Kyai Ustadz, katanya penting sekali". Aku mengernyitkan dahi tak mengerti, dengan segera kuambil sepeda dan langsung mempercepat lajunya dengan tergesa-gesa.

Aku sudah tak berdaya, tubuhku gemetar setelah mendengar sebuah kabar. Lidah ini kelu, tatapanku kosong, "mimpikah ini?" gumamku dalam hati. Kejadian sore tadi membuat bulu kudukku berdiri, tabrak lari telah membuat Rani sudah tak bernyawa lagi. Ya, Rani telah pergi, pergi dan tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini. Pelupuk mataku basah oleh air mata, Pak Kyai mengusap-usap pundakku dan tidak berhenti menasehati, "Istighfar wan, sebut Asma Allah. Percayakan semuanya kepada Allah, yakinlah bahwa Ia telah mengatur segala alur skenario kehidupan setiap manusia di dunia. Yang sabar nak.." Isak tangisku semakin menjadi-jadi, nafasku tersenggal-senggal tak beraturan, aku tidak percaya bahwa kejadian seperti ini terulang kembali dalam hidupku untuk kedua kali. "Ya Allah, apa salah hambaMu ini? Tak pantaskah hamba untuk mencintai?" ucapku sambil terisak-isak sehingga tidak seorangpun mengetahui pertanyaan tak pantasku ini termasuk Pak Kyai. Hatiku terasa sakit sekali, aku sangat berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi.

***

Langkahku gontai, halaman rumah Pak Burhan terlihat sangat ramai dipenuhi puluhan orang yang berlalu lalang. Aku berjalan perlahan melewati gerbang dan masuk ke halaman, kakiku gemetar memasuki pintu rumah Pak Burhan. Suara tangisan dan bacaan surat Yasin berpadu, menggema di telingaku. Aku terduduk di samping jenazah Rani, perempuan yang sebenarnya akan ku sebut sebagai istri tidak lama lagi. Ku buka perlahan kain yang menutupi wajah Rani, kulitnya sudah pucat, hanya pelipisnya yang sedikit kemerahan akibat luka memar sebuah benturan. Pak Kyai setia menemani, beliau merangkulku, begitu juga Pak Burhan setelah melihatku datang. Suara tangisan dan Yasinan sudah tidak terdengar, tatapanku tiba-tiba nanar, aku melihat sekelilingku berbinar-binar bak lampu pijar yang dinyalakan secara bergantian, dan seketika aku pun jatuh pingsan.

Tiga hari berlalu, aku masih larut dalam kesedihan yang teramat dalam, luka di dada tak kunjung reda. Seketika aku teringat pada sebuah hadits yang menerangkan tentang hukum meratapi orang mati. Hadits itu berbunyi:

Dari Abu Hurairoh radhiallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda, ?Dua hal yang ada pada manusia dan keduanya menyebabkan mereka kafir: mengingkari keturunan dan meratapi kematian? (HR. Muslim). "Astaghfirullahal'adzim, astaghfirullahal'adzim" ku ulang-ulang bacaan istighfar agar aku tidak terjerumus dalam kesedihan terus-terusan. Aku harus ikhlas atas kepergiannya, karena kematian merupakan sebuah awal kehidupan abadi bagi orang yang meninggal dan ujian bagi orang-orang yang ditinggalkan. Tidak ada gunanya juga aku terus meratap, lebih baik ku panjatkan banyak do'a agar ia disana bahagia dan di lapangkan kuburnya.

***

Takdir berkata lain, pernikahanku tetap dilangsungkan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Jas hitam menutupi kemeja putih yang ku kenakan. Aku melangkah keluar kamar menghampiri Pak Kyai yang menungguku sedari tadi. Aku tersenyum penuh rasa syukur, Pak Kyai berdiri dan membalas senyumanku dengan penuh haru. Pagi ini akad nikah akan segera dilangsungkan di masjid Pondok Pesantren Al-Barokah. Kini aku hanya bisa tawakal kepada Allah, aku menyesal karena sempat menyalahkan keadaan, tak ingin ku ulangi lagi perbuatanku tempo hari yang pada akhirnya malah menjadi bumerang bagi diri sendiri. "Terimakasih Ya Allah,,," ucapku dalam hati.

Telapak tanganku semakin erat menjabat sembari menyimak lafad akad. "Saya terima nikahnya Anggita Putri binti Burhanuddin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai." Penghulu yang duduk berhadapan denganku mengedarkan pandangan kepada orang-orang yang menyaksikan. "Bagaimana? Sah?" sebuah pertanyaan dilontarkan, dan diikuti ucapan "Sah" yang terdengar saling bersahutan. Ku lepas telapak tangan yang sedari tadi berjabatan dengan Pak Burhan, do'a pun dipanjatkan, ku telungkupkan kedua tangan ke wajah untuk mengaminkan. Perasaanku bercampur menjadi satu, berpadu antara bahagia dan haru. Pandanganku mengarah kepada wanita berkebaya yang kini ku sebut sebagai istri, wajahnya basah oleh air mata, ia menangis tanpa suara. Entah perasaan seperti apa yang dirasakannya, jika bukan karena wasiat Almarhumah kakaknya, mungkin akad nikah ini tak akan pernah terlaksana. Aku salut dengan keteguhan hatinya, sampai-sampai ia rela mengorbankan perasaannya dan menikah dengan laki-laki yang sudah jelas bukan pilihannya sendiri bahkan tidak terprediksi.

***

Matanya masih sembab, namun senyuman diwajahnya tetap tersirat. Diraihnya tangan kananku dan menyalaminya penuh khidmat, ku usap kepalanya yang dibalut kerudung berwarna biru muda. Anggita belum mau bercerita tentang detik-detik menjelang kepergian kakaknya, air matanya akan luruh seketika mendengar nama kakak tercintanya, untuk itu aku tidak boleh terlalu memaksa karena mungkin ia masih trauma.

Jarum jam menunjuk angka 3, kami berdua larut dalam do'a. Seperti biasa, udara malam menusuk hingga ke tulang, namun keheningan sudah tidak begitu aku rasakan karena kini aku tak sendiri lagi. Pernikahan kami memang diawali dengan masalah yang datang bertubi-tubi, namun ini tidak menjadi suatu penghalang bagi kami untuk terus merajut mimpi dan memperkokoh pondasi rumah tangga kedepannya. Langkah awal yang harus kami tempuh adalah dengan banyak bersabar dan bertawakal agar Allah senantiasa memberikan jalan sekaligus kemudahan dalam melalui segala cobaan. Aku percaya bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.

Pagi ini ku mulai kembali aktivitas sehari-hari yang sudah lama terhenti. Gita sibuk berkutat dengan peralatan dapurnya, menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Seperti biasa, ku kenakan kemeja dan celana panjang yang telah distandarkan oleh Pesantren tempatku mengaplikasikan ilmu.

Tak berselang lama, sarapan sudah tersusun rapi di atas meja. Kami duduk berhadapan. "Mas Irwan,," panggilnya sembari mengisikan piringku dengan nasi. "Iya dek, ada apa?" sahutku menatap wajahnya, sembab di matanya sudah tak tersisa. Sifat periangnya perlahan mulai kembali, senyuman di wajahnya membuatku lega. "Terimakasih.. atas kesabaran antum dalam membimbing Gita." Matanya berkaca-kaca, tangisnya pecah seketika sebelum sempat melanjutkan kata-katanya.

***

"Kak Ran, bagaimana rasanya menjelang hari pernikahan?" Gita memulai percakapan di tengah perjalanan mencari kendaraan untuk pulang karena hari sudah menjelang malam. Rani tersenyum, dielusnya kepala Gita, "Kakak bahagia dek. Mendapatkan Mas Irwan adalah suatu kebahagiaan, untuk itu kakak tidak ingin mengecewakannya apabila saat itu tiba." Gita mengernyitkan dahi tak mengerti, "Maksud kak Ran mengecewakan bagaimana?" ditatapnya wajah teduh Rani mengharap jawaban pasti. Rani masih belum memberikan jawaban, pandangannya lurus menatap jalan. "Dek, Mas Irwan itu laki-laki sholeh. Kakak banyak belajar darinya, belajar tentang memaknai kehidupan serta agama tentunya. Untuk itu kakak berharap kamu juga belajar seperti kakak kepada Mas Irwan, dan jangan sampai kamu mengecewakan." Gita hanya mengangguk pelan, ia tak sadar bahwa itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkan kakaknya.

Ku raih tubuhnya yang gemetar, berusaha untuk menenangkan. Ku hapus perlahan air mata di pipinya, aku lega Gita sudah dapat mencurahkan segala perasaan yang membebani pikirannya.

***

Dua bulan sudah kami hidup bersama, berbagai rintangan telah kami lewati berdua. Gita sama sekali tidak mengeluhkan kehidupan barunya yang terlampau sederhana, ia begitu khidmat dan bersemangat dalam belajar ilmu agama.

Aku menghela nafas panjang, kali pertama aku membuka kotak simpanan berisi uang yang ku kumpulkan tiap awal bulan. Aku mulai sadar, sadar bahwa aku butuh uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pendapatanku tiap bulannya tidak seberapa dan kini aku hidup berdua. Siang itu aku terlalu larut dalam pikiran, sampai-sampai tak sadar Gita sedari tadi memperhatikan. ?Mas Irwan mikirin apa?? Aku segera tersadar dan mencari asal suara. ?Tidak dek? jawabku lesu. Kini Gita duduk disampingku, memegang lembut pipiku, ?Katakan mas, jangan antum pendam sendiri.? Ku tatap matanya penuh ketulusan, lidahku kelu, tak satupun kata yang keluar dari mulutku.

***

Keheningan malam mulai kurasa, aku duduk berdua dengan Gita. Ku curahkan segala kegundahan dalam dada kepadanya.

"Dek,,,," tak kuasa ku lanjutkan kata-kata setelah mendengar isak tangisnya. Wajahnya yang teduh seketika berubah setelah air matanya jatuh berlinang membasahi pipi merahnya. Aku hanya bisa larut dalam diam.

"Pergilah mas, InsyaaAllah aku ikhlas" suara lembutnya mencairkan suasana. "Hanya satu pesanku dan jangan sampai engkau lupakan itu. Jagalah hubungan baikmu dengan Allah SWT, niscaya Ia akan memudahkan jalan atas segala yang engkau cita-citakan. Aku akan selalu berdo'a untukmu, kekasihku" lanjutnya dengan berlinang air mata. Aku terperanjat mendengar kata-katanya, lagi-lagi aku terkagum-kagum dibuatnya.

***

Adzan subuh berkumandang, beberapa pejuang mulai terlihat memasuki pelataran masjid. Ku bulatkan tekad, ku mantapkan niat, ku tunaikan sholat dua rokaat. Ketenangan mengalir hangat, menjalar ke seluruh nadi, menentramkan hati.

Belajar memaknai sebuah Hadits Nabi yang berbunyi, Dari ?Aisyah radhiyallahu ?anha dari Nabi shallallahu ?alaihi wa sallam bersabda : ?Dua raka?at Shalat Fajr lebih baik dari pada dunia dan seisinya.? [HR. Muslim] Hadits ini telah menjadi motivasi pembangun optimisme diri.

Mentari pagi masih belum menampakkan diri, hari ini aku akan pergi bekerja ke luar negeri, Malaysia menjadi tujuan utama karena banyak teman yang tinggal disana baik untuk bekerja maupun untuk melanjutkan jenjang pendidikan mereka. Alhamdulillah mertuaku tidak keberatan atas keputusan yang telah kami sepakati, untuk sementara waktu Gita ditemani oleh ibu. Hari itu adalah terakhir kalinya aku melihat wajahnya, tak tega rasanya meninggalkan Gita yang sedang hamil muda, namun apa daya karena ini juga untuk masa depan kami bersama nantinya, ku serahkan segalanya kepada Sang Pencipta, sebagai seorang Hamba aku hanya dapat berusaha mewujudkan apa yang telah aku cita-citakan.

***

Bertahun-tahun kami hidup berjauhan, bertahan dengan hanya berkomunikasi lewat lembaran kertas yang berisi curahan hati masing-masing dari kami. Rasa rinduku sudah tak tertahankan lagi, kuputuskan untuk pulang ke Indonesia walaupun sebenarnya masih ada ikatan kontrak kerja.

Dan disinilah sekarang aku berada, di desa tempatku pertama kali melihat dunia, desa yang menyimpan banyak kenangan dengan orang-orang yang ku sayang. Nafas ini telah normal kembali, ku lanjutkan kembali perjalanan untuk menemui istri dan anakku tersayang. "Nak, Ayah pulang".

Sinar matahari mulai menyengat hingga lapisan kulit ari, kakiku terus melangkah menelusuri jalanan yang membelah desa menjadi dua bagian. Orang-orang mulai berlalu lalang, sibuk menekuni kegiatan individual. Sukar rasanya untuk menyapa, beribu kata tak dapat terucap, berbagai pertanyaan tak dapat terjawab. ?Hanya ada satu hal yang sedang aku pikirkan, keluarga kecilku. Sepanjang perjalanan pikiranku melayang, berusaha mereka-reka air muka Pak Kasim.

Aku tersadar setelah mendengar suara benturan. "Aduh.." lirih anak perempuan yang terjatuh dari sepeda mininya. Dengan segera aku menghampiri dan menolongnya. Lututnya terluka, namun tak keluar setetes pun air mata. "Sakit?" tanyaku sambil mengusap lututnya yang terluka, ia hanya nyengir menahan sakit. "Adek dari mana? Kok sendirian?" aku kembali bertanya. "Habis beli obat om, buat ibu" jawabnya polos. Aku terdiam, terharu menatap wajah mungil di pangkuanku, umurnya sekitar empat tahunan namun rasa sayang dan pengabdiannya kepada orang tua tidak seperti anak-anak pada umumnya. "Om, Ata pamit pulang dulu ya, ibu sudah menunggu" tegurnya membuyarkan lamuanan. "Oh, biar om antar ya dek?" tak tega aku membiarkannya pulang sendirian, langkahnya sedikit pincang dikarenakan luka pada kedua lututnya, ia hanya mengangguk pelan.

"Itu rumah Ata om", tunjuk jari mungilnya kearah sebuah rumah. Aku berhenti, berdiri mematung. Mulutku bungkam, tak mampu mengucap perkataan. Tanganku gemetar melihat sebuah pemandangan yang mencampur adukkan perasaanku. Tas besar dan sepeda mini ku geletakkan begitu saja, tubuh kecil Ata naik turun diatas punggungku seirama dengan derap langkah yang kecepatannya semakin lama semakin bertambah.

"Assalamu'alaikum", aku segera menerobos masuk tanpa menunggu seseorang membukakan pintu terlebih dahulu. Ku lihat seorang wanita tergolek lemah di atas dipan, ku turunkan Ata dari gendongan. Matanya masih terpejam, sesekali wajahnya mengernyit menahan rasa sakit. "Ibu, bangun.." pinta Ata sembari menggoncangkan lembut tubuh wanita yang ia sebut sebagai ibunya. Perlahan matanya terbuka, ia tersenyum melihatku yang berdiri di samping tempat tidurnya. "Mas Irwan! Aku pasti sedang bermimpi" lirihnya sambil memejamkan matanya kembali.

Ku peluk erat-erat tubuh mereka, aku tak dapat lagi menahan air mata. Kami bertiga diam seribu bahasa, terlarut dalam tangisan yang berlangsung lama, menumpahkan segala kerinduan yang telah terpendam teramat dalam.

?

-TAMAT-

  • view 397