AKU,,TIDAK MERASA MALU

Khamidah Fajri
Karya Khamidah Fajri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Februari 2016
AKU,,TIDAK MERASA MALU

Aula kampus dipenuhi mahasiswa-mahasiswa bertoga, hari ini adalah ganjaran atas kerja keras mereka menuntaskan jenjang sarjana, ya, wisuda. Kurang lebih empat tahun lamanya mereka berkutat dengan tugas-tugas dan eksperimental yang begitu menguras ?tenaga maupun pikiran, dan di hari inilah semua itu seolah terbayar.

Para Rektorat dan petinggi Universitas duduk berbanjar di barisan terdepan. Kebahagiaan terpancar di setiap wajah, hampir semuanya melupakan perasaan gundah dan gelisah. Setengah jam berlalu, namun acara tak kunjung dibuka. Seorang pemuda terlihat berbeda dari yang lainnya, wajahnya terlihat tak tenang, mungkin ada hal lain yang ia pikirkan. Ridwan, begitulah pemuda itu dipanggil oleh teman-temannya di kampus. Wajahnya tidak begitu tampan, namun perangainya mampu membuat setiap orang yang baru mengenalnya merasa segan. Karena selain pintar, ia juga sangat sopan dalam setiap tindakan serta perkataan. Tak jarang ia membuat heran teman-temannya karena dikerumuni banyak wanita, namun tak satupun dari mereka memikat hatinya, karena ia tetap teguh dengan prinsipnya ?NO PACARAN, UNTIL HALAL?. Selain itu, Ridwan juga dikenal sebagai orang yang berkomitmen tinggi terhadap keinginan, terutama keinginan dari orang tuanya.

Arloji berwarna silver melingkar di pergelangan tangan kiri Ridwan, matanya yang tajam tidak lekang untuk terus memandangi jam tangan miliknya, ia terus menggerakkan kakinya tanda kecemasan mulai melanda.?Kenapa Wan?? tanya Sodik yang tengah duduk disebelahnya memastikan.?Aaa,,, Bapakku belum datang?, jawabnya sambil menengok ke belakang.?Masih di jalan mungkin, gak lo telpon??, ujar Sodik dengan bahasa khas Jakartanya. Ridwan hanya mengisyaratkan dengan gelengan, karena ia tahu kalau hal itu tidak memungkinkan.

***

?Berapa Pak??, tanya seorang remaja yang baru turun dari becak.?Ndak usah neng?, jawab si tukang becak sembari menyiratkan senyuman diwajahnya yang mulai banyak kerutan pertanda usia tak lagi muda. ?Loh, kok gitu Pak? Saya gak enak, kan jauh perjalanannya Pak?, tanya remaja itu kembali dengan nada tak mengerti. ?Mungkin kalau saya orang kaya neng, saya akan bersedekah dengan harta,,tidak apa-apa neng, saya ikhlas?, jawaban lelaki paruh baya itu sedikit menggantung, namun cukup menggetarkan nurani remaja putri yang berbusana rapi di depan kampus ternama di kota Jakarta. Pamflet-pamflet ucapan selamat atas wisuda angkatan ke-78 tersemat di gerbang kampus, menjadi pemandangan utama yang menyambut mata, Pak Karta pergi mengayuh becaknya, meninggalkan seulas senyuman di depan gerbang.

***

Sambutan dari rektor Universitas sedang berlangsung, seluruh wisudawan dan wisudawati mendengarkannya dengan seksama. ?Saya bangga dengan satu mahasiswa saya?, ucap beliau disela-sela sambutan.?Selain pandai, dia juga sangat santun terutama kepada orang yang lebih tua. Dan saya lebih bangga lagi karena dia adalah lulusan terbaik Universitas tercinta kita tahun ini dengan IPK tertinggi. Ridwan Khoirul Umam, silahkan maju kedepan?. Aula riuh dengan gemuruh tepuk tangan yang saling bersahutan. Ridwan terkejut mendengar namanya sendiri disebutkan, wajahnya tampak pucat, ucapan selamat ia dapat dari teman-teman yang kebetulan duduk berdekatan dengannya. Ia tak pernah menyangka akan diperlakukan teramat istimewa, pegorbanannya yang ia jalani selama ini membuahkan hasil, ?Bapak, aku berhasil? gumamnya dalam hati sembari berjalan mendekati panggung menuju podium.

?Terimakasih untuk semuanya, Bapak Rektor, para Dosen, dan teman-teman saya tentunya, terimakasih banyak. Saya tidak tahu harus bicara apa, saya sangat bersyukur perjuangan seseorang selama ini tidaklah sia-sia. Seseorang yang tak lain adalah Bapak saya sendiri. Terimakasih karena beliau telah banyak berkorban untuk menyekolahkan saya hingga ?jenjang sarjana. Jujur, saya bukan anak orang kaya, Bapak saya hanya bekerja sebagai tukang becak yang setiap harinya bekerja bahkan ketika akhir pekan tiba, beliau tetap bekerja?, Ridwan menyeka matanya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. ?Tak bosan-bosannya beliau berpesan, pesan yang membuat mata saya sedikitpun tak dapat terpejam ketika ada tugas yang belum terselesaikan. Beliau selalu mengatakan ?Nak...Bapak ini orang bodoh, Bapak tahu dan merasakan pahitnya menjalani hidup dengan kebodohan, untuk itu Bapak tidak ingin kamu juga ikut merasakan apa yang selama ini Bapak rasakan, jangan sampai! Bapak mau kamu lebih dan lebih baik dari Bapak. Kuliah saja yang benar, fokus belajar, jangan pikirkan hal lain, karena Bapak pasti akan berusaha untuk mencari biaya, tidak usah khawatir karena Allah Maha Kaya?. Tak terasa air mata telah membanjiri pipinya, seisi auditorium trenyuh mendengar sambutan yang sama sekali tidak ada persiapan. Tepuk tangan mengiringi langkahnya menuruni tangga untuk kembali ke tempat duduknya.

Matanya yang sembab menangkap bayangan seseorang yang sedari tadi ia bicarakan, tengah berdiri tepat di depan pintu aula menyaksikan putra semata wayangnya berbicara dengan senyuman bangga. Kemeja putih terbaik dikenakan Pak Karta, matanya sayu menatap Ridwan yang tengah berlari dengan linangan air mata membasahi pipinya. Ridwan terduduk memeluk kaki Bapaknya, bibirnya yang bergetar berusaha mengucap kata-kata, ?Terimakasih,,,,Bapak.? Pak Karta tidak membalas ucapan yang keluar dari mulut putranya, hanya tepukan di bahu Ridwan menandakan bahwa beliau merasa bangga, ya, sangat bangga kepada putranya. Pemandangan itu membuat seisi aula dibanjiri air mata, pemandangan penuh haru dari putra yang tidak sedikitpun merasa malu hanya karena pekerjaan orang tua yang berbeda dari teman-temannya.

-TAMAT-

  • view 115