LABUHAN CINTA PANGERAN SURGA

Khamidah Fajri
Karya Khamidah Fajri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Oktober 2016
LABUHAN CINTA PANGERAN SURGA

(Februari 2015)

       “Apa kau ingin bukti?” tanya lelaki berjaket hitam tebal itu meminta kepastian.   Anna masih terdiam, tak langsung memberikan jawaban. Menara TV Sapporo yang berhiaskan cahaya lampu menjadi pusat tumpu pandangan. Wajah putihnya pucat menahan perpaduan antara angin malam dan musim dingin kota Sapporo, Hokkaido. Sepanjang jalan menuju taman Odori, kemerlip lampu menghiasi ranting pohon yang gugur tak berdaun.

            Lelaki berumur 22 tahun itu mengehentikan langkah, sorot matanya nampak tajam dari balik bingkai kacamata. Kini Anna berada beberapa langkah di depannya, pria keturunan Jepang- Indonesia itu untuk beberapa saat memejamkan mata. Gadis bermata bulat, hidung mancung, dan bentuk wajah oval khas penduduk Jepang itu membalikkan badan seraya menatap pria yang berjarak beberapa depa darinya. Tak ada kata, hanya desiran angin malam seakan menyampaikan gulana, putih salju menjadi saksi bisu.

***

(Flash Back)

            Mendung menggelantung, di luar jendela kaca besar itu, butiran putih mulai turun dari langit Hokkaido setelah beberapa bulan sebelumnya mengalami musim gugur. Di luar sana, beberapa anak kecil berjaket tebal serta hat wool yang menutup kepala menyambut datangnya musim salju. Seorang gadis berusia 25-an kembali menatap kosong ke arah taman, nampak memperhatikan setiap gerik anak-anak kecil yang sedang asyik berlarian di tengah rintik salju. Mata bulat berlensa coklat menerawang ke arah langit, buku besar di hadapannya terbuka, menggamblangkan sub judul yang mungkin sedang bergelayut memenuhi isi pikirannya.

        “Siapa sebenarnya yang menciptakan alam semesta? Tidak mungkin jika semua ini terjadi secara tiba-tiba,” gumamnya setelah beberapa saat mendalami kata per kata sub judul dari buku panduan kuliahnya.

         Filsafat dan Ilmu Budaya adalah jurusan yang dipilih Nakagawa Anna, mahasiswi pascasarjana di Universitas Hokkaido karena rasa ingin tahunya terhadap anutan manusia. Lahir di tengah keluarga tak beragama membuat Anna tabu dengan hal-hal yang berbau kepercayaan. Hujan salju mulai lebat, jam dinding terus berdetik, waktu menunjukkan pukul 8 pagi.

            Tok..tok..tok

Terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar, Anna tak beranjak, geser sedikit dari tempat duduknya pun tidak. Mata indahnya tetap asyik menatap suasana taman yang mulai tampak putih terbalut salju.

***

       Senyuman mengembang dari balik jas hitam yang dikenakan. Winter coat tebal berwarna coklat tua yang sedari tadi membungkus setengah tubuhnya telah tersampir di sandaran kursi. Ruangan itu nampak sepi, tempat khusus para pembicara untuk mempersiapkan diri sebelum tampil di hadapan para pendengar dalam forum khusus seperti seminar dan bedah buku. Lelaki berkulit sawo matang itu sedikit gugup, beberapa kali ia mondar-mandir di depan kaca sembari membolak balikan secarik kertas di tangannya. Namun untuk beberapa saat ia kembali terdiam, menatap kaca setinggi tubuhnya sembari menghela nafas panjang, bayangan perempuan itu kembali muncul, tersenyum tulus seolah mengirimkan semangat dari negeri seberang.

            “Bismillah,” lirihnya sebelum meninggalkan ruangan.  

   Pamflet-pamflet terpampang di depan balai pertemuan Universitas Hokkaido. Di sana tertulis pengumuman diselenggarakannya acara bedah buku karangan Fujisaki Hamada. Hamada, begitulah panggilan akrab mahasiswa jurusan Sastra tahun kedua asal Indonesia. Di usia yang masih muda bahkan terbilang belia itu, karya pertamanya telah mengundang banyak perhatian dikarenakan alur cerita menarik yang memaparkan konsep ketuhanan dalam Islam, hal tabu bagi sebagian besar penduduk Jepang kala itu.

           Balai pertemuan kampus nampak ramai oleh peserta bedah buku, Hamada melirik jam tangannya, pukul 8 tepat, segera ia menyibak tirai merah yang menyekat panggung aula. Moderator berjas biru tua menyambut gembira, disusul dengan gemuruh tepuk tangan dari para peserta.

***

             “Apa kamu masih marah dengan Papamu nak?” suara itu mengalun lembut di telinga Anna.

          Diam, gadis itu masih diam menatap ke luar jendela kaca, sepatah katapun tak keluar dari mulut mungilnya. Perempuan setengah baya dengan pakaian kerja mendekati putri tercintanya, mengelus pelan pundak yang masih terbalut piama. 

          “Sudahlah, lebih baik kamu siap-siap berangkat ke kampus. Bukankah jadwalmu padat hari ini?” ucap Mamanya sembari melangkah pergi.

         Rasa kesal masih menyelimuti hati yang rapuh, hati yang tak memiliki pendirian teguh, terdobrak oleh makian angkuh. Gadis itu mulai beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan suasana taman di balik kaca jendela. Beberapa orang berjaket tebal nampak berlalu lalang, menerobos lebatnya salju demi memenuhi aktivitas yang tidak dapat ditinggalkan, sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa dan pekerja kantoran.

          Anna berjalan menyusuri jalan yang mulai tertutup salju, sesekali tangannya membenarkan posisi ear muffs. Rambut hitam lurus tergerai lebat dengan poni yang menyambangi dahi, overcoat coklat membalut tubuh semampainya. Anna mempercepat langkah, hawa dingin seakan menembus pakaian yang ia kenakan. Stasiun kereta cepat bawah tanah menjadi tujuan utama, Anna harus mengejar kedatangan kereta jika ingin sampai di kampus tepat waktu. Hari ini adalah hari menegangkan kedua baginya setelah sidang skripsi, yaitu ujian Tesis Pascasarjana.     

***

           Wajah tampan blasteran Indonesia – Jepang memancarkan keceriaan. Tutur kata Fujisaki Hamada benar-benar lembut dan sopan. Pembawaan yang ramah khas penduduk Indonesia begitu kental ia praktekan dalam pengulasan buku pertamanya yang berjudul, “Labuhan Cinta Pangeran Surga”. Novel tersebut mengisahkan tentang pertemuan tak terduga antara dua anak manusia yang berbeda etnis serta agama. Perpaduan kisah cinta serta penjabaran tentang Islam di dalamnya, hampir saja menggoyahkan hati Hamada. Ia sempat takut bila karyanya tidak dapat diterima karena unsur keagamaan yang menonjol. Jepang memang terkenal dengan tingkat toleransi beragama yang tinggi, namun pada akhirnya ia mampu menapik kecemasan pada dirinya sendiri. Sebuah janji telah menjadi tameng rasa takut yang sempat menghantui, janji yang hingga kini pun belum ia yakini telah terlunasi.

        Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa satu setengah jam yang diberikan hampir tiba pada titik penghabisan, hanya beberapa menit tersisa untuk sesi pertanyaan. Penataan  tempat duduk di Balai pertemuan berbanjar setengah lingkaran. Tak lama berselang, peserta yang duduk di barisan depan mengangkat tangan.

            “Apa motivasi terbesar dalam hidup anda?” tanya lelaki itu kepada pembicara.

            “Baiklah terimakasih, saya akan langsung menjawab pertanyaan saudara. Motivasi terbesar saya adalah ingin hidup kekal di dunia..” Hamada menjeda, setiap wajah terlihat bingung dibuatnya.

         “Ingin tahu caranya? Simple saja, yaitu dengan menjadi seorang PENULIS” kata pemuda itu sembari menekankan kata terakhir pada kalimatnya.

            “Berkaryalah sebanyak-banyaknya, ciptakan karya yang bermanfaat bila dibaca, sehingga nama si penulis akan tetap ada, dan tetap hidup melalui tulisannya walaupun sejatinya ia tak lagi bernyawa. Guru saya di Indonesia pernah berpesan, ‘Jika kamu ingin mengenal dunia.. maka MEMBACALAH! Jika kamu ingin dikenal dunia.. maka MENULISLAH!’” perkataan Hamada diikuti gemuruh tepuk tangan yang saling bersahutan, menggema hingga keluar aula, terbawa angin mengudara.

***

        Bias hitam awan mendung membayang di langit Jepang, menjatuhkan butiran putih nan menawan, namun dinginnya teramat menusuk tulang. Es serut itu membuat licin jalanan. Gundah hati bukan karena ujian Tesisnya, namun karena ada kekuatan luar biasa bergejolak kuat di hati Anna. Ia terus menerobos butiran es yang turun dari gumpalan awan mendung. Wajahnya pucat menahan kedinginan, hembusan nafas menguap, membentuk seperti gumpalan asap.

             “A’udzubillahi minas syaithaanir rajim..”

           Anna sontak menghentikan langkah, sayup suara dalam bahasa yang tak dimengertinya tiba-tiba bertandang dalam sistem pendengaran. Tak lantang, namun berhasil mencuri perhatian seserpih hati yang tengah gusar. Anna mengedarkan pandangan, mencari  sumber suara. Matanya bertumpu pada bangunan kecil di seberang jalan, bangunan yang sekilas nampak seperti pertokoan.

          “Tapi.. sebentar,” gumamnya pelan sembari memincingkan kelopak mata untuk memperjelas pandangan. Nampak beberapa orang dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuh mereka mulai dari bagian kepala hingga ke bagian kaki masuk ke dalam, Anna semakin penasaran. Ia pun memutuskan untuk segera menyeberang jalan, melupakan ujian yang seharusnya ia kejar untuk mendapatkan gelar Magister, impian sang Papa sekaligus hal yang menjadi pemicu ditabuhnya genderang pertikaian dengan dirinya semalam.

***

        Hamada kembali ke ruangan khusus dengan lega. Ryuzuki, temannya membuntut di belakang, menepuk bangga pundak sahabat karibnya. Beda agama tak menjadi masalah persahabatan yang telah berlangsung semenjak semester awal perkuliahan di Fakultas Sastra Universitas Hokkaido, Jepang. Dari papan pengumuman penerimaan mahasiswa baru, terjalinlah sebuah persahabatan. Ryu yang saat itu terlampau senang, tak sengaja merangkul Hamada yang masih belum menemukan namanya dalam bahasa Jepang. Awkward, sejenak mereka berdua terdiam sebelum akhirnya Ryu membungkukan badan, meminta maaf karena sembarangan merangkul orang. Sungguh jalinan persahabatan yang teramat kebetulan.

            “Selamat Hamada san, akhirnya mimpimu jadi kenyataan,” kata Ryuzuki bangga.

         “Tidak Ryu kun, masih belum seberapa,” timpalnya sembari menyuguhkan senyuman khas yang selama ini telah banyak memikat hati perempuan.

            “Ah kau ini, selalu saja merendah. Membuatku iri saja,” ucap Ryu sembari meninju pelan lengan Hamada.

          Tiga tahun bersama, membuat Ryu tahu segala sifat sahabatnya. Tak jarang ia menemani Hamada ke salah satu masjid di dekat kampus mereka, dengan setia ia menunggu meskipun hanya di depan bangunan peribadatan umat Islam itu. Terkadang, ia juga penasaran dengan Islam, Hamada pun dengan sabar menjelaskan. Ryu sempat tertarik untuk masuk Islam, namun hidayah hanya datang dari Tuhan Semesta Alam, Hamada juga tidak pernah memaksa karena itulah yang diajarkan, masuk Islam bukanlah sebuah paksaan.

***

        Anna telah sampai di seberang jalan, kini tubuhnya tepat berada di pelataran bangunan yang tadi sempat mencuri fokus pandangan. Suara itu semakin jelas terdengar, mengalun merdu, mendayu syahdu melebihi alunan musik klasik dalam bahasa yang tak ia tahu.

            Fa biayyi aalaai rabbikumaa tukadzibaan...

            Hati Anna berdebar kencang, terisak ia mendengar lantunan syahdu dari dalam masjid yang diberi nama “Hikari Mosque”. Bangunannya bercat putih, tanpa kubah, tulisan dalam bahasa Jepang yang disandingkan dengan ejaan bahasa Indonesia menandakan bahwa bangunan tersebut adalah masjid, masjid yang didirikan oleh kumpulan imigran Indonesia di Jepang. Entah kekuatan apa yang membuat Anna ingin sekali masuk ke dalamnya. Perlahan ia melepas boots dan menaiki tiga anak tangga menuju pintu geser dari kayu.

          Halakah mingguan sedang berlangsung, beberapa akhwat berjilbab lebar berkumpul membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka dengan khidmat melantunkan tilawah, suaranya begitu indah, menenangkan hati yang sedari tadi gundah serta gelisah. Anna termangu di depan pintu, salah seorang akhwat menghampirinya seraya tersenyum menyambut kedatangan Anna.

       “Kyō wa. Watashi wa anata ga tasukete tasukeru koto ga dekimasu ka? (Selamat siang. Ada yang bisa dibantu?)” ucap Fatimah, seorang imigran Indonesia menyapa.

         Anna membalas senyum tulus perempuan berjilbab merah muda dengan overcoat coklat tua yang membalut tubuhnya, kain bermotif bunga-bunga terjuntai hingga menyentuh lantai.

           “Sore wa watashi ga kōkishin tsukuranode, watashi wa, chōdo ima, hijō ni utsukushī merodiasuna koe no kabu ni kyōmi o sosora remashita. Watashi wa anata ni sanka suru koto ga dekimasu ka? (Saya tertarik dengan alunan suara merdu barusan, sangat indah, sehingga membuat saya penasaran. Dapatkah saya bergabung dengan kalian?)” timpal Anna dengan mimik wajah penuh harap.

***

          Jepang, negara yang kaya akan kebudayaan. Mayoritas penduduk Jepang percaya dengan ajaran nenek moyang, Shinto dan Budha mendominasi unsur kepercayaan. Namun disamping itu, toleransi beragama yang kuat membuat masyarakat negeri sakura tetap tentram meskipun bertetangga dengan etnis beda agama sekalipun. Hal ini dikarenakan salah satu pilar utama nilai-nilai budaya Jepang adalah wa (harmoni), selain kao (reputasi), dan omoiyari (loyalitas). Konsep wa mengandung makna menjaga hubungan baik, dan menghindari ego individu.

           Islam berkembang di Jepang sekitar tahun 1877 ketika perang dunia kedua melalui hubungan diplomatik antara Jepang dan Turki. Pada masa itu, tersebarlah kisah tentang Nabi Muhammad SAW dan agama Islam yang telah diterjemahkan dalam bahasa Jepang. Inilah yang membantu Islam mendapatkan tempat tersendiri di kalangan penduduk negeri sakura meski hanya sebagai sejarah kebudayaan dunia. Salah satu pemicu pesatnya perkembangan Islam di Jepang adalah kelemahan hati masyarakatnya terhadap unsur-unsur kepercayaan. Kebanyakan penduduk Jepang modern tidak lagi mementingkan unsur agama dan lebih memilih untuk memikirkan kehidupan dunia. Meskipun kebanyakan penduduk Jepang hanya hidup untuk dunia, namun sejatinya, kekosongan masih tetap ada dalam hati mereka. Islampun hadir membawa cahaya sebagai pelita dalam ruang hati yang semula gelap gulita.

         Ponsel Hamada bergetar, satu pesan diterima, tulisan “Ustadz Amran” tertera di layar telepon gengnggam. Ia segera beranjak setelah memakai coat yang tersampir pada sandaran kursi, Hamada lupa jika hari ini ia ada janji. Ryuzuki terperanjat melihat sahabatnya meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa, “Hamada san! Matte kudasai! (Tunggu!)”

***

Plakkk...

             Sebuah telapak tangan besar mendarat di wajah Anna, limbung tubuhnya menerima tamparan dari seorang laki-laki yang ia panggil “Papa”. Anna tersungkur di depan sang Papa yang tengah murka dengan wajah merah padam, kini tak hanya makian yang ia dapatkan namun juga dalam bentuk kekerasan.

            “Terlalu sempitkah jalan pikiranmu Anna??!!” bentak tuan Nakagawa garang.

        Pipi kanan Anna memerah, darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Diam, Anna hanya diam, tak menyangkal seperti malam sebelumnya, hanya isak tangis dan bulir air mata membasahi selendang ungu yang menutup seluruh helai rambutnya. Siang tadi, Anna mengambil keputusan terbesar dengan bersyahadat di depan para jama’ah masjid tempat ia bertandang, melabuhkan keyakinan pada Islam tanpa ragu dan unsur paksaan. Sebenarnya baik Papa maupun Mamanya tak pernah mempermasalahkan perihal keyakinan, namun yang membuat Papanya murka adalah kenyataan bahwa Anna meninggalkan ujian Tesis Magisternya demi menjalankan sebuah ritual masuk Islam. Biaya perkuliahan di Jepang terlampau mahal, sekali tidak mengikuti ujian, maka dapat dinyatakan telah gagal dan harus mengulang.

             Rasa kecewa terlanjur menyelimuti hati kedua orangtua Anna, mereka merasa usaha banting tulang yang mereka lakukan sia-sia, tak berguna. Puncak dari kemarahan tuan Nakagawa adalah pengusiran anak semata wayangnya malam itu juga, tak peduli amukan badai salju di luar sana.

***

       “Ibu selalu bilang, ‘Berjanjilah nak, kamu akan mewujudkan cita-cita Ayahmu. Cita-cita yang kini hanya menjadi angan semata, karena sampai kapanpun tak akan pernah menjadi nyata, kecuali jika seseorang  mewujudkannya. Sebarkanlah agama Islam di Jepang Ham, tanah kelahirannya..’.” Hamada mulai bercerita. Ayahnya adalah seorang mu’alaf Jepang, Islam telah menerangi nurani yang semula kelam tanpa sedikitpun cahaya iman. Tak disangka, perdebatan tentang penciptaan alam dengan mitra kerja yang tak lain adalah Ibu Hamada menjadi perantara keislamannya. Cita-cita terbesar tuan Fujisaki adalah mendakwahkan Islam di Jepang, namun belum sempat mimpi itu terealisasi, sebuah kecelakaan menyisakan tangisan sang istri yang tengah mengandung si buah hati.

            Ruangan dengan lantai kayu itu sejenak lenggang, tungku perapian di pojok ruangan berkobar, menjaga kehangatan suhu di rumah kecil Ustadz Amran. Beberapa bingkai foto tergantung menghiasi dinding ruang tamu. Hamada duduk beralaskan bantal khusus, tak ada kursi, secangkir teh hangat tersaji. Perbincangan yang seharusnya siang tadi terlaksana sempat tertunda karena Ustadz Amran diminta untuk menuntun syahadat seorang perempuan Jepang yang ingin memeluk Islam.

            “Tapi Ustadz, saya tidak tahu apakah saya telah menepati janji itu, sedangkan pendalaman saya mengenai Islam pun masih sangat kurang. Selama saya tinggal disini, hanya tulisan yang dapat saya gunakan sebagai perantara dalam mendakwahkan Islam.” Sambung Hamada kemudian.

          Lelaki berjanggut hitam itu menghela nafas panjang, “Nak Ham, dakwah itu tidak hanya melalui lisan, namun juga bisa dengan tulisan. Masalah kamu itu masih kurang dalam mendalami agamamu sendiri, bukankah Rasululllah SAW telah bersabda : ‘Sampaikanlah dariku (ilmu) walau hanya satu ayat’? Sampaikanlah nak, Bapak tahu kamu mampu.” Pernyataan Ustadz Amran membuat Hamada mengangguk pelan, kegelisahan dalam hatinya perlahan menghilang, bak menemukan setitik cahaya dalam gulita. Ia lega, bahwa tulisan yang kini telah bibaca oleh sekian banyak orang juga dapat menjadi perantara dakwah Islam. Tak terasa perbincangan selesai hampir larut malam. Hamada pun segera pamit untuk pulang.  

***

            Angin bergemuruh riuh, butiran salju turun dengan derasnya, langit malam menyuguhkan gulita. Suhu udara mencapai -5O C, pakaian yang Anna kenakan tak mampu  menangkal kedinginan yang hampir membekukan seluruh persendian. Malam semakin larut, gadis bermata bulat dengan kulit yang semula berwarna putih kekuningan berubah menjadi putih pucat bak mayat. Seketika tubuhnya ambruk di atas hamparan salju, langit tak berbintang menjadi titik tumpu pandangan sebelum akhirnya kelopak mata Anna terpejam, segalanya menjadi gelap kemudian.

            Sebuah sedan hitam melaju dengan kecepatan standar menembus derasnya hujan es di kota Sapporo, musim dingin di kota ini memang terkenal sangat extreme karena kisaran titik bekunya dapat mencapai -5O C. Selajur kemudian mobil itu berhenti, bunyi derit ban bergesek dengan licinnya jalanan. Dua orang pemuda keluar tergesa setelah mendapati tubuh kaku yang hampir tertimbun butiran salju. Salah satu dari mereka memegang tangan gadis malang itu, mencoba memastikan pembuluh nadinya berdenyut pertanda bahwa ia masih hidup.

               “Bagaimana??” tanya salah satunya cemas.

               “Dia masih hidup. Cepat kita tolong!” ucap temannya memberi tahu.

          Dengan segera mereka mengangkat tubuh beku yang hampir kehilangan nyawa itu ke dalam mobil. Mobil pun kembali melaju, namun kali ini dengan kecepatan hampir maksimal. Cahaya dari lampu rem menghilang setelah mobil Ryuzuki melewati tikungan.

***

         Hari masih sangat pagi, gulita pun masih menyelimuti jiwa-jiwa yang tergolek tak sadarkan diri, mengitari setiap sudut dunia mimpi.

           “Allahu akbar!”

          Sayup suara itu membuat Anna membuka kelopak mata. Jarum infus tertancap di pergelangan tangan kanannya. Ia melihat seorang pemuda tengah berdiri menjalankan sebuah ritus keagamaan beberapa meter dari bed tempat Anna terbaring. Gadis itu mencoba menegakkan punggungnya, namun pening di kepala membuat ia tak dapat menyeimbangkan posisi tubuh yang kini terbalut piama rumah sakit.

            “Assalamu’alaikum warahmatullah.. Assalamu’alaikum warahmatullah..”

            Pemuda itu menengadahkan kedua telapak tangan seraya memejamkan mata, memanjatkan do’a-do’a kepada Sang Kuasa, Allah SWT. Hati kecil Anna kembali bergetar, air mata berderai membasahi kedua pipinya.

         “Apakah itu sebuah peribadatan dalam agama Islam?” dengan suara pelan gadis itu menanyakan. Hamada yang telah selesai menunaikan sholat subuhnya pun menoleh ke asal suara. Matanya seketika berbinar mendapati gadis yang ditolongnya semalam telah sadar. Hamada tersenyum meng-iyakan.

      “Saya ingin menjalankan keyakinan yang telah saya ikuti secara keseluruhan. Dapatkah anda menuntun saya untuk melakukan ibadah itu?”

             “Dengan senang hati,” senyuman mengembang di bibir Hamada.

            Pemuda tampan itu menuntun Anna untuk menjalankan ibadah sholat subuh dengan posisi berbaring di atas tempat tidur. Perlahan tangan lemas itu diangkatnya dan disejajarkan dengan telinga, Hamada terus menuntun gerakan sholat Anna tanpa sedikitpun saling bersentuhan antara keduanya. Nurani gadis itu benar-benar menemukan sebuah ketengangan yang tiada tara, ketenangan yang baru kali pertama ia rasakan, menguraikan seluruh pintalan benang kesedihan.

***

         Dua minggu berlalu semenjak kejadian malam itu. Ustadz Amran dan istrinya yang tak memiliki keturunan memutuskan untuk mengangkat Nakagawa Anna sebagai putri mereka. Meski harus letih bekerja dan berusaha, ia memutuskan untuk mengulang kembali program Magister yang sempat dilewatkannya. Maklum saja karena sejak kecil ia selalu dimanja oleh Mama-Papanya.

       “Tak apa, aku pasti bisa tanpa mereka,” gumamnya sebelum melangkah meninggalkan rumah sederhana milik orangtua angkatnya. Ia senang berada di rumah itu, rumah yang seluruh kasih sayang tercurah, baik dari Ayah dan Ibu angkatnya dan juga.. seorang pemuda berdarah Jepang-Indonesia bernama Fujisaki Hamada selalu ada untuk menjaganya, demikianlah kiranya petuah dari sang Ayah “Jaga Anna nak Ham”.

         Kebetulan mereka berdua berada di kampus yang sama, ya, Universitas Hokkaido. Mungkin bedanya, Nakagawa Anna adalah mahasiswi pascasarjana, sedangkan Fujisaki Hamada adalah mahasiswa yang belum menyelesaikan jenjang sarjana.

***

(Februari 2015)

            “Bukti apa?” Anna kembali bertanya.

            “Bukti bahwa selain Ustadz Amran dan Ustadzah Rahma, masih ada seseorang yang akan menyayangimu dengan penuh cinta serta ketulusan.” Ucap lelaki itu mantap.

            “Oh ya?? Apa kau sedang membicarakan diri sendiri??” ucap Anna meledek laki-laki yang secara usia lebih muda dibanding dirinya, namun sifat dan perkataan Hamada jauh lebih dewasa dari Anna.

            Hamada tertawa menaggapi kelakuan gadis berkerudung biru muda di depannya, “Kau ini, selalu saja merusak suasana”.

       “Maukah kau menjadi bidadari surgaku, Nakagawa Anna? Membangun sebuah mahligai bersama, mahligai yang akan membawa kita hingga ke surga-Nya..” pertanyaan lelaki itu membuat Anna seketika tersipu.

            Desir angin seakan menyampaikan sebuah jawaban, hamparan langit malam menjadi saksi terucapnya sebuah niatan suci, niatan yang nantinya akan diucapkan sebagai ikrar di depan wali sang gadis pujaan.

-TAMAT-

  • view 203