RAPUHNYA BENTENG HATI

Khamidah Fajri
Karya Khamidah Fajri Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 03 Mei 2016
RAPUHNYA BENTENG HATI

Dalam gelap malam aku termenung sendirian, dibawah sinar rembulan yang tertutup awan, bintang-bintang tak begitu jelas tuk dipandang. Sesekali angin malam berembus kencang, merasuk ke jendela kamar yang sengaja kubuka lebar. Sepoi angin membasuh wajahku dengan kedinginan, aku masih mencari jawaban atas pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul tak berasal, “Bagaimana caranya menjadi wanita mahal? Apa aku ini termasuk wanita murahan, karena kedekatanku dengan seorang ikhwan yang menurut penilaian sesaatku teramat mengagumkan?” Kutopang dagu sembari menatap sang rembulan yang menyapaku dengan senyuman, berharap aku dapat menemukan jawaban atas kedua pertanyaan itu.

            Setelah beberapa hari dirundung kegelisahan karena mencoba untuk melepaskan dengan hati lapang, entah mengapa ia kembali datang, menyapaku dengan senyuman yang tak nampak dalam pandangan. Itulah yang kurasakan seolah batin kami memiliki ikatan. Terkadang hati ini begitu rapuh hingga tak sanggup melawan, kembali bermaksiat tanpa sadar Allah sedang memperhatikan. Memang sulit rasanya jika harus meredam perasaan menggebu, dan ingin menghubunginya setiap waktu. Rasanya, seperti menikam hati dengan ketajaman pisau belati.

***

            Kala itu kira-kira empat tahun yang lalu, saat dimana aku berada dipuncak kelabilan, masih dalam tahap pendewasaan dan belum dapat sepenuhnya berpikiran matang. Aku berkenalan dengan seorang Ikhwan, namun entah mengapa ada sesuatu yang sangat mengganjal, hatiku gelisah tak karuan, apakah seperti ini rasanya memendam perasaan kepada seseorang? Tanyaku dalam hati, mencoba mencari jawaban pasti.

            Kusambar handphone yang tergeletak diatas meja, televisi ruang tamu masih menyala. Tanpa pikir panjang akhirnya kuputuskan untuk mengutarakan perasaan yang mengganggu jalan pikiran. Kutulis untaian pesan di layar telepon genggam dan segera kukirimkan kepada orang yang bersangkutan. Beberapa detik kemudian, masuklah pesan balasan, tubuhku terhuyung pada sandaran sofa usai menerima pesan singkat darinya. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, dan untuk pertama kalinya juga hatiku terluka.

Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Dinginnya malam menusuk hingga ke tulang, namun kupaksakan diri untuk bersuci sebelum menunaikan ibadah sholat malam yang telah lama kutinggalkan. Pikiranku telah buntu, tiada lagi tempat mengadu selain hanya Allah Yang Maha Tahu atas segala sesuatu, termasuk luka dihatiku kala itu. Penyesalan menyelimuti seluruh jiwa, rasa malu menyelubungi hampir seluruh raga. Namun disisi berbeda aku juga bersyukur mengalami peristiwa itu, walaupun harus menanggung malu, setidaknya aku tersadar dan tidak terperosok lebih dalam ke jurang kemaksiatan yang disebut PACARAN.

Dan semenjak itulah aku belajar untuk tidak menumbuhkan cinta dengan mudah, apalagi kepada orang yang salah. Cukup menjaga hati agar tidak ternodai, karena pada saatnya nanti akan datang seorang lelaki yang memang berhak memiliki cinta suci ini. Membatasi interaksi dengan laki-laki adalah keputusanku semenjak kejadian itu.

***

Hari masih pagi, koridor gedung utama kampus masih lekang dari keramaian mahasiswa. Aku berjalan bersama sahabatku, Nisa. Ia adalah seseorang yang telah kuanggap sebagai kerabat, dua tahun sudah kami dekat, lebih tepatnya semenjak aku menginjakkan kaki di perantauan ini.

Kertas-kertas laporan sementara praktikum hari ini telah rapi dalam genggaman, sepanjang perjalanan Nisa berbicara tentang pengalamannya berselancar di dunia maya. Panjang kali lebar ia berbicara, entah itu tentang berita-berita yang kebetulan lewat di beranda facebooknya, atau pun soal teman-teman dunia mayanya.

“Da, kamu add facebook Irfan ya. Dia mau kenalan sama kamu katanya”, pinta Nisa tak berjeda dan membuat langkah kakiku berhenti tiba-tiba. “Haduh, siapa itu? Pasti kerjaan kamu kan. Gak usah deh bawa-bawa namaku pas chattingan?”, tukasku sembari manyun. Nisa hanya tertawa menanggapinya, sorot mata terpancar tajam dibalik kacamata minusnya dan berkata, “Iya aku cerita ke dia kalo kamu itu sahabatku. Oh iya, kan aku kirim ke Irfan foto kita berdua, masa katanya kamu tomboy ”, ucapnya meledek dan Nisa pun berlari setelah menyelesaikan kalimatnya diiringi dengan gelak tawa yang jarang sekali ditampakkannya. Aku hanya dapat berdecak kesal menanggapi keusilan sahabatku itu. Dua tahun hidup bersama membuatku tahu sifat-sifat Nisa, hampir seluruhnya. Ialah sahabat setia yang selalu ada dalam keadaan suka maupun duka, walau kadang Nisa bisa diam tanpa kata secara tiba-tiba. Hmm,,,begitulah kiranya gambaran hubungan persahabatan, tidak bisa jika harus semulus jalan aspal. Hehehe

Suasana kelas masih sepi, beberapa teman tengah asyik bercengkerama ataupun fokus dengan laptop yang mereka bawa. Aku berjalan ke arah Nisa yang sedang asyik mengotak-atik laptopnya. Kucubit pipinya membalas kejahilan barusan, tak ada respon berlebihan hanya rengekan manja yang disusul dengan lambaian tangan mengisyaratkan agar aku segera mendekatinya.

“Ini nih aku kasih tau yang namanya Irfan”, ucapnya bangga. Aku hanya mengucapkan respon sederhana, “Oh”, tanpa adanya komentar dengan beranda facebook seseorang bernama Irfan, yang entah siapa gerangan. Kulirik jam tangan, pukul delapan, dan benar apa yang aku pikirkan, dosen kami datang.

***

Matahari terbenam diufuk barat, menyisakan cahaya kemerahan mega yang menyemburat, dan sebentar lagi hari akan berubah menjadi gelap. Gedung asrama telah nampak di pelupuk mata, ingin rasanya untuk segera sampai disana, padatnya jadwal perkuliahan membuat tubuhku teramat kelelahan. Namun bagaimanapun juga itu adalah kewajibanku sebagai seorang mahasiswa, tak adil rasanya bila jerih payah orangtua harus dibayar dengan kemalasan bahkan urung dalam belajar. Sungguh tak setimpal.

Save file..”, tukasku girang setelah menekan tombol enter di keyboard laptop. Lelah begitu terasa, namun entah mengapa mataku tetap terjaga, atau mungkin karena gelas kosong disudut meja yang terisi kopi sebelumnya. Satu per satu tugas kuliah terselesaikan, jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, namun mataku tak kunjung terpejam. Dalam diam aku termenung sendirian, berpikir untuk melakukan suatu hal agar waktuku tidak sia-sia terbuang. Aha...akhirnya ide cemerlang berpijar setelah teringat cerita bersambung yang belum sempat kuteruskan. Menulis bagi sebagian orang mungkin sesuatu yang amat membosankan, namun tidak bagiku yang justru memanfaatkannya untuk mengisi kekosongan waktu.

Mar'ah Najihah, itulah akun facebook yang kubuat satu tahun lalu. Tak banyak teman, dalam artian tak sampai berjumlah ribuan, hanya ratusan dan itupun hanya sebagian yang benar-benar kukenal. Pada saat liburan, Bapak pernah berpesan, “Kita ini tidak dapat menghindari perkembangan teknologi, tapi juga tidak boleh menjadi korban dari teknologi. pergunakan dan manfaatkan saja teknologi secara bijak, agar hanya manfaat yang kita dapat”. Dari sinilah aku menemukan gagasan untuk terus belajar dan menekuni sebuah bakat terpendam, khususnya dalam bidang kepenulisan. Pada sebuah perkumpulan, Rektor Universitasku pernah menekankan, “Jika kamu ingin mengenal dunia, maka membacalah. Jika kamu ingin dikenal dunia, maka menulislah”.

Tak lama menunggu, beranda facebook yang dominan dengan warna biru terbuka, notifikasi tampak menunjukkan beberapa angka. Satu permintaan pertemanan, Irfan Asadallah send you a friend request. Mataku menelisik tajam, sepertinya nama itu sudah tak asing lagi ditelingaku. Dan benar, dialah Irfan yang selalu Nisa ceritakan. Aku tak langsung merespon permintaan pertemanan yang dikirimkan Irfan, dan segera fokus kepada tulisan seperti niat awal. Tiba-tiba saja tab message Nisa terbuka, “Da, Irfan bilang udah nge-add kamu. Konfirm gih cepetan”, tulis Nisa. Dengan raut wajah datar yang penuh kekesalan aku menulis jawaban, “Nanti aja Nis, satu jam lagi”, dan aku menekan tombol enter penuh kemenangan, lupa bahwa temanku itu tak akan kehabisan akal, ia akan terus memaksa sampai aku berkata “iya”.

***

Semilir angin di pagi hari begitu segar jika dihirup dalam-dalam, setetes embun menari diatas dedaunan, menggelantung sebelum akhirnya jatuh dan terserap tanah. Pepohonan rindang menjulang, burung-burung berkicauan menyambut pagi dengan riang. Sang mentari mulai memancarkan cahaya, seketika tetesan embun berkilauan bak permata yang mahal harganya.

Perlahan matahari semakin meninggi, cahayanya menelusup ke celah kaca jendela, silaunya berhasil membuat mataku terbuka. “Astaghfirullah, ketiduran lagi”, pekikku seketika masih bermukena lengkap dan Al-Qur’an terbuka diatas meja. Jam dinding terus berdetik, suaranya mengingatkanku akan waktu, dan betapa terkejutnya diriku melihat jarum pendek telah bertengger di angka tujuh. Segera aku bersiap untuk mengikuti kuliah pagi sesuai jadwalku hari ini.

Bangku di kelas hampir seluruhnya terisi oleh para mahasiswi yang sudah hadir sejak pagi. Kuedarkan pandangan, dan masih dengan nafas tersenggal aku berjalan mendekati bangku yang terletak di ujung kanan depan. Seperti biasa, kulihat Nisa tengah sibuk dengan laptopnya, bahkan tak sadar sedari tadi aku berdiri disampingnya. Deretan tab message di facebooknya terbuka, pantas saja dia tak bergeming sedikitpun, ternyata sedang sibuk membalas rentetan pesan yang lebih menyerupai antrean tiket kereta menjelang libur lebaran. Aku hanya menggeleng perlahan dan duduk disampingnnya tanpa sapaan.

Sembari menunggu kedatangan dosen, kuputuskan untuk membuka laptop sekedar mengusir kepenatan. Mataku terfokus menelisik layar, satu pesan dari Irfan Asadallah, “Assalamu’alaikum. Salam kenal aja ya, kamu temannya Nisa kan”. Aku ragu untuk mengirim pesan jawaban, bayangan masa lalu berkelebat dalam angan, dan aku tak ingin terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya, mengulang suatu masa dimana hatiku benar-benar terluka. Namun bujukan setan begitu halus dari yang kupikirkan, kubalas pesan Irfan sebagai bentuk keramahan. Ternyata tanpa sadar aku telah menuruni kembali “jurang” yang telah lama kuhindari. Mungkin bagi kebanyakan orang, mengenal lawan jenis bukanlah suatu kesalahan, bahkan telah menjadi hal yang wajar dan itu pertanda bahwa diri kita normal. Namun tidak dalam agama Islam, interaksi dengan lawan jenis tetaplah ada batasan dan haram jika berlebihan terutama jika diantara keduanya tidak ada ikatan. Hal itu dikarenakan zina banyak macamnya, termasuk mata, hati, dan telinga.

***     

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, waktu begitu cepat berjalan, dan aku semakin akrab dengan Irfan. Tidak ada yang spesial, hanya sebatas kekaguman akan bakat, bentuk perhatian, serta sifat bersahabat yang selalu ia berikan. Prestasi gemilang khususnya dalam dunia persilatan berhasil diraihnya bahkan sampai ke tingkat Nasional. Mungkin jika aku harus menggambarkan tentang Irfan, akan menghabiskan banyak waktu, pada intinya dia adalah sosok lelaki yang amat mengagumkan, tak heran jika mayoritas perempuan yang sudah dekat dengannya akan jatuh cinta seketika.

Namun seiring berjalannya waktu juga, ada yang berbeda dengan Nisa. Entah mengapa tiba-tiba ia menjadi diam seribu bahasa, bahkan sampai tak menegur sapa walaupun aku duduk tepat disampingnya. Dalam diam aku berpikir teramat dalam, jika dapat kutebak hal apa yang sedang Nisa pikirkan, pastilah hatiku takkan ternaungi kekhawatiran dan pikiranku tidak akan kalut dengan bejibun pertanyaan, “Mungkinkah aku telah melakukan sebuah kesalahan?”.

Secangkir kopi tergeletak diatas meja, kepulan asap menandakan bahwa kopi itu baru saja disajikan, kehangatan menjalar setelah masuk ke dalam kerongkongan, mengusir kedinginan malam yang menusuk hingga tulang. Jendela kaca sengaja kubuka, laptop didepanku masih menyala, rangkaian kata yang tertera diatas layar monitor tak kunjung tiba di penghujung cerita. Kerikan jangkrik meramaikan susasana, hanya gulita yang nampak oleh mata, purnama pun tak menyapa, sama seperti Nisa. Inspirasiku buyar seketika jika teringat akan Nisa, pesan singkatku tak kunjung dibalasnya. Pikiranku benar-benar dipenuhi oleh satu kata, “Mengapa? Mengapa? Dan Mengapa?”. Tiba-tiba Irfan mengirim pesan, “Aku tahu kenapa Nisa diam”. Bak menemukan batu permata tergeletak ditengah jalan, mataku sontak berbinar, “Kenapa Fan?” tulisku dengan nada penasaran. Dan ternyata dugaanku beberapa hari yang lalu benar, itu semua karena keakrabanku dengan Irfan. Nafasku tertahan, perlahan kuhembuskan dan menariknya kembali dalam-dalam sembari menyeruput secangkir kopi berusaha untuk menenangkan diri. 

***

Belakangan ini kegundahan dalam hati semakin menaungi, apalagi setelah tahu kalau sahabat karibku mendiamkanku karena rasa cemburu. Seakan ada yang janggal semenjak aku dekat dengan Irfan, kalimat “Mengapa kamu begitu menikmati kemaksiatan” selalu terngiang, kalimat yang hadir dari lubuk hati yang paling dalam. Setelah kejadian empat tahun silam, aku berhasil memperkokoh benteng hati, menghindari interaksi berlebihan dengan laki-laki dan berusaha untuk terus memperbaiki diri. Di sepertiga malam aku mengadu, menangis sendu karena rindu, rindu akan Rabbku. Entah berapa lama aku sudah menjauh dari-Nya, bahkan tega tuk menduakan-Nya. Astaghfirullahal’adzim...

Ada orang mengatakan bahwa masa lalu yang menyakitkan tak patut untuk dikenang, namun jika sekedar menjadikannya sebagai tamparan agar dapat lebih baik dimasa depan, aku rasa tidak ada salahnya. Aku malu, dulu setelah jatuh cinta untuk kali pertama sekaligus merasakan sakit hati tiada tara serta hampir putus asa karena cinta, barulah aku kembali mengingat-Nya, menangis sejadi-jadinya. Tapi apa, kini aku kembali mengulanginya, mengingkari janji yang kubuat sendiri. “Allah masih sayang, makanya mengingatkan”, ucap salah satu temanku meyakinkan. Mungkin benar, akan lebih baik jika aku meninggalkan Irfan, aku harus tega sebelum rasa nyaman berubah menjadi perasaan yang malah akan menjerumuskanku dalam kemaksiatan. Akupun mulai menjauh perlahan.

***

Dalam gelap malam aku termenung sendirian dibawah sinar rembulan yang kembali menyapaku dengan senyuman. Sesekali angin malam berhembus kencang, menyapu wajahku dengan kedinginan, jendela kamar memang sengaja kubuka lebar. Kali ini aku membalas senyuman sang rembulan, akhirnya telah kutemukan jawaban atas dua pertanyaan yang tempo hari sempat kupikirkan, jawaban atas murah mahalnya seorang perempuan.

Analoginya begini, ada satu jenis barang dijual dalam sebuah toko. Satu barang sengaja dijadikan sampel oleh si penjual, dan barang lainnya dipajang di etalase. Salah seorang pembeli memasuki toko, setelah berbincang lama dan sepakat dengan harga, pembeli itu bertanya, "saya mau yang masih segelan". Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena barang yang masih tersimpan belum pernah dijamah oleh tangan-tangan pembeli lainnya. Bahkan jika barang dietalase telah habis terjual, si pembeli pasti akan berpikir kembali jika harus mengambil barang yang dijadikan sampel dagang.

Pada intinya, murah atau mahal sebuah barang, tidak selalu ditentukan dari kualitas. Karena barang yang kualitasnya sama, bisa jadi nilai jualnya berbeda seperti analogi diatas.

Kini, aku seperti terlahir kembali, ketenangan menjalar di setiap nadi, berusaha untuk terus memperbaiki diri, menjaga hati dan menggapai ridha ilahi. Mungkin sekilas Irfan memang pribadi yang mengagumkan, bahkan Nisa sempat bilang, “Irfan itu sosok lelaki idaman”. Tapi apa guna rasa kagum di dada jika hanya menjerumuskanku kedalam jurang nista? Bukankah akan lebih baik jika kutinggalkan dia karena Dia? Aku telah yakin sepenuhnya bahwa Allah telah menyiapkan sosok lelaki idaman yang nantinya pantas untuk menjadi Imam, membimbingku selalu kejalan yang benar. Bismillah,,,

Hijrah memang tak mudah, bagi yang berniat hanya setengah-setengah. Jika diri mau berhijrah secara kaffah, aku yakin Allah akan mempermudah.

-TAMAT-

 

  • view 261