KUTEMUKAN CINTA DIBALIK KEACUHANNYA

Khamidah Fajri
Karya Khamidah Fajri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Februari 2016
KUTEMUKAN CINTA DIBALIK KEACUHANNYA

Hari ini, aku kembali berteman sepi, menatap jendela kaca seorang diri, memandangi pepohonan menjulang yang kokoh tertanam di halaman belakang. Pikiranku melayang, menerawang sebuah kejadian beberapa tahun silam. Dedaunan melambai tersibak angin yang berhembus kencang, mendung menutupi pancaran sinar matahari yang menghangatkan. Benar-benar akhir pekan yang membosankan. Segera tubuhku tergerak untuk mengambil jemuran sebelum Ibu pulang.

***

Tas berwarna pink melingkar di bahu kanan, lengkap dengan seragam putih merah? kedodoran. Angkutan umum yang kutunggu tak jua datang, tiada teman karena hari masih sangat pagi. Mandiri adalah pelajaran berharga yang kudapat semenjak masuk TK, tidak sekalipun aku dimanja orangtua seperti anak-anak pada umumnya, dan bagiku itu hal biasa.

Aku membuka kembali buku tulis bersampul cokelat, kudapati torehan tinta merah berbentuk bulat. Aku takut untuk kembali mengingat kejadian semalam, kejadian dimana Bapak naik pitam mendapati anaknya tidak bersungguh-sungguh dalam belajar. Tatapanku semakin dalam, sedalam harapan yang orang tuaku impikan, dalam keheningan pagi aku berjanji, bahwa mulai saat ini, aku takkan mengecewakan mereka lagi.

Tidak banyak prestasi yang kudapatkan saat Sekolah Dasar, hanya satu yang paling membanggakan dan tak terlupakan, yaitu saat aku menduduki peringkat kedua dengan total nilai sama dengan ?sang juara?. Saat itu aku merasa sangat bahagia, walaupun keadilan tidak sepenuhnya ditegakkan, setidaknya janjiku dapat terbayar.

***

Liburan akhir tahun berakhir, masa-masa kelas dua kulalui dengan penuh suka duka yang mewarnai. Orang tua tetap sibuk dengan pekerjaan mereka yang semakin hari semakin menguras tenaga, Bapak jadi sering pergi keluar kota demi memperlancar usahanya. Kepulangan Bapak selalu kunanti bersama adik bayi dan Ibu yang selalu disisi. Kasih sayang yang Bapak berikan sangat berbeda dari sedia kala, memanjakan kami berdua menjadi kesenangannya.

?Bapaak,,,? aku kecil berteriak kegirangan menyambut kedatangan Bapak. Ifa, adik bayiku yang tidak mengerti apa-apa masih asyik dengan mainan di tangannya. Senyum kerinduan mengembang di wajah Bapak yang nampak sedikit kelelahan, namun tetap berusaha menemani kami berdua memakan isi bingkisan yang sejak tadi berada dalam genggaman. ?Babpaa..?, mulut mungil Ifa mengucap satu kata, dan seketika itupun kami tertawa bersama, gemas dengan kepolosannya.

***

Pelajaran matematika, rumus-rumus tak lekang dari kepala, setiap siswa begitu antusias mengerjakan soal-soal yang tertera di papan. Keseriusanku buyar seketika mendengar namaku dipanggil untuk keluar,?sekalian tasnya dibawa nak?. Aku berjalan dengan beribu pertanyaan bergelayut dalam pikiran. Tanpa sepatah kata, aku dibawa pulang oleh seseorang yang memang tidak asing lagi dalam pandangan. Aku tetap diam, diam dan diam sembari mereka-reka peristiwa apa yang terjadi sebenarnya.

Air mataku meleleh, suara tangisan dan erangan begitu riuh terdengar, saling bersahutan hingga membuat kegaduhan dalam salah satu ruangan, ruangan yang menjadi saksi bisu kehancuran hati kecilku. ?Bapak kecelakaan?, bagaikan karang terhantam ombak besar di lautan, kokoh, namun tenggelam perlahan, aku masih mematung dan berharap ini semua hanyalah mimpi belaka, yang akan berakhir saat aku membuka mata. Namun harapan benar-benar tidak sesuai kenyataan, adanya pertemuan pastilah akan diiringi dengan perpisahan, selalu, entah kapanpun itu.

***

Jam dinding menunjukkan pukul dua malam, aku terbangun oleh suara bisikan, ?Ida, Bapak sudah pulang?. Iya, Bapak memang pulang, namun kepulangannya kali ini sangat berbeda dari biasanya, kepulangan yang tidak pernah aku harapkan. Tiada lagi kecupan lembut seperti biasa saat aku menyambutnya dengan gembira, tiada lagi oleh-oleh ditangannya untuk memanjakan kami berdua sebagai anak-anak yang sangat dicintainya. Hanya sisa air mata yang kupunya untuk melepas kepergiannya, kepergian untuk selama-lamanya.

Mataku yang sembab fokus menatap liang lahat, keranda yang membawa jenazah Bapak perlahan dibuka. Terlihat diseberang sana, pamanku ambruk seketika melihat jenazah kakaknya yang terbungkus kafan diangkat keluar keranda, seakan masih tak percaya. Ibuku tak kalah histeris melihat suami tercinta begitu cepat pergi mendahuluinya, meninggalkan anak-anak yang masih belia bahkan si bungsu yang belum mengerti apa-apa.

***

Kubiarkan televisi itu menyala, diluar sana matahari mulai menyengat kepala, namun tidak ada tanda-tanda Ibu akan segera tiba. Aku kembali menatap layar televisi dan mengganti channelnya sesuka hati. ?Sepi sekali?, pekikku dalam hati.

?Ibu capek, jangan ganggu?, dan setelah itu aku sama sekali tidak berani walau sekedar menderapkan kaki. Semenjak kepergian Bapak, pelajaran kemandirian semakin berat kurasakan, karena tidak adanya pantauan dan arahan saat aku melakukan kesalahan, sehingga pada akhirnya aku lebih memilih untuk diam. Masa depan yang dulu sempat aku gambarkan, ?kini hanya dapat menjadi angan, aku tak tahu bagaimana cara untuk merealisasikan. Ibuku kurang perhatian karena harus bekerja ekstra untuk mencukupi kebutuhan kami bertiga. Menjadi single parent memanglah berat untuk usia Ibu yang masih terbilang muda, karena saat itu usianya baru menginjak 25 tahun.

***

Bias mentari menyinari pagi, kehangatannya begitu terasa, menguapkan titik-titik embun yang menggelantung diatas dedaunan. Kicauan burung menambah kemeriahan suasana pagi yang menentramkan hati. Tidak ada yang berbeda, masih tetap sama seperti sebelum-sebelumnya, hanya saja kini aku telah tumbuh menjadi seorang remaja, masa dimana unsur-unsur kelabilan mulai melanda. Ketertarikan terhadap lawan jenis adalah hal biasa, tetapi yang membedakan adalah bagaimana cara untuk menyikapinya. Saat aku jatuh cinta untuk kali pertama, aku hanya dapat menyimpannya dalam rasa tanpa adanya ungkapan kepada yang bersangkutan. Ia adalah ?sang juara?, sainganku ketika duduk di kelas 2 SD, entah apa yang membuatku tertarik kepadanya, hingga saat ini pun aku masih bertanya-tanya.

?Bu, bagaimana sih rasanya jatuh cinta?? aku berangan melontarkan kalimat itu saat Ibu pulang kerja. Namun kutepis segera angan-angan tidak masuk akal itu karena rasanya Ibu tidak akan memberikan jawaban, yang ada aku malah akan dimarahi habis-habisan karena dianggap membangkang. Dan pada akhirnya aku harus kembali menyimpannya dalam hati, memendam keingintahuan tanpa adanya arahan yang pasti. Kucoba menuliskannya dalam diary, mungkin dengan ini aku lebih leluasa untuk mencurahkan isi hati.

?Apa ini???, aku terperanjat melihat diaryku ada di tangan Ibu. Aku yang saat itu, kira-kira 3 tahun yang lalu, masih lengkap dengan seragam putih biru tertunduk lesu. Menjawab sama dengan membangkang, jadi aku lebih memilih untuk diam dan mendengarkan kemarahan Ibu yang sudah tidak dapat beliau tahan. Bukan solusi yang beliau berikan, namun harga mati sebuah pernyataan tanpa disertai alasan, ?Jangan pacaran!?.

***

Halilintar menggelegar saling bersahutan, rinai hujan membasahi tanah, menimbulkan kekhasan bau basah. Tanganku bergetar, air mata tak dapat lagi kutahan, menetes membasahi buku tebal sedikit kumal yang tak sengaja aku temukan. Lembar demi lembar kubaca dengan seksama, setiap kata yang tertera diatasnya membuat hatiku semakin sedih dan terluka.

Hujan turun dengan derasnya, angin kencang menyelundup ke sela-sela jendela yang sedikit terbuka. Jam dinding menunjukkan pukul 2 siang, namun Ibu tak kunjung pulang. ?Ibuu.. maafkan aku, maafkan aku..?, rintihku berkali-kali sambil memandangi tulisan yang mulai berwarna kekuningan karena hampir pudar.

***

?Sudah siap??, Ibu bertanya sembari mencampurkan rontokan bunga mawar dan irisan daun pandan ke dalam keranjang kecil. ?Sudah bu?, timpalku dari balik pintu kamar yang terbuka lebar. Ziarah makam sudah menjadi rutinitas kami di awal lebaran, lebih tepatnya saat sang mentari belum mengembangkan senyuman dan hawa dingin masih begitu menusuk tulang.

Dalam kegelapan, nampak beberapa orang berjalan ke arah yang sama, kilau senter semakin memperjelas berapa jumlah mereka. Aku mengikuti langkah Ibu, melipat kedua lengan berusaha menghangatkan badan, dan tak lama berselang, kami pun sampai ke tempat tujuan.

Batu nisan bertuliskan nama seseorang yang kami sayang terpajang, walaupun kupaksa agar menunjukkan rona wajah bahagia karena dapat mengunjungi pusara Ayahanda, namun tetap saja kepiluan yang kurasakan, terutama saat mengingat kembali tulisan Ibu saat itu. Ibu memimpin do?a, aku mengaminkan dengan linangan air mata. Selesai berdo?a, kami berdua menaburkan bunga, beberapa kali tangan Ibu mengelus kepala batu nisan, ekspresinya datar, namun aku dapat menangkap rona wajah penuh kerinduan. Tiba-tiba saja tangan Ibu melambai kepadaku, aku pun mendekat mengikuti isyarat. Tak kusangka kini matanya sembab, Ibu berbalik dan memelukku erat, tangisnya tidak bersuara, namun linangan air mata begitu jelas kurasa.

Aku pun tak dapat berkata apa-apa. ?Ida,, maafin Ibu, kalau selama ini tidak begitu memperhatikan kamu. Bukan maksud Ibu seperti itu, perlu kamu tahu kesedihan Ibu masih sama seperti dulu saat Bapak pergi meninggalkan kita semua. Ibu mana yang tega menyerahkan anaknya begitu saja kepada orang lain tanpa kesedihan yang tergambar diwajahnya. Bukan begitu nak, bukan begitu...?, Ibu sejenak menghentikan kata-katanya dan isak tangis pun mulai terdengar jelas di telinga.?Ibu akan selalu mencintai kalian berdua sampai ajal yang memisahkan kita.? Aku hanya mematung dipelukannya, mendengarkan segala keluh kesah yang beliau rasa.

Bias cahaya mentari begitu hangat kurasa, aku menggandeng lengan Ibu seakan ingin dimanja. Kini aku lega karena tak hanya mengetahui isi hatinya dari goresan tinta, namun juga ungkapan jujur yang keluar langsung melalui kata-kata.

***

Hari ini tepat 5 tahun suamiku pergi,, berat memang bila harus menjadi tulang punggung keluarga, menjadi Ibu sekaligus Ayah dalam satu waktu. Cobaan yang Allah berikan begitu berat aku rasakan, hampir-hampir aku terpuruk dalam keputus asaan. Namun begitu melihat kedua putriku, aku kembali tegar, aku harus lebih giat bekerja untuk mempersiapkan masa depan cerah mereka. Lika-liku kehidupan telah banyak aku kenyam, mulai dari yang membahagiakan sampai yang menyakitkan. Sudah tak terhitung berapa kali aku mengalami rugi karena barang dagangan yang tak kunjung dibeli, hingga suatu hari aku harus pulang membawa kekecewaan tanpa sepeserpun uang yang aku dapatkan. Hatiku terkoyak begitu membaca buku tebal yang berisikan curhatan putriku tersayang. Aku sakit ketika dia menuliskan kata JATUH CINTA pada beberapa lembar berikutnya, aku tidak ingin belajarnya terganggu dengan urusan-urusan yang sama sekali tidak perlu. Cukup aku saja yang merasakan penyesalan dengan memikul kebodohan, putus sekolah karena memperjuangkan satu kata yang disebut CINTA. Bukan tanpa alasan aku melarangnya pacaran, namun aku hanya tidak ingin kesalahanku kembali terulang. Hidup dengan kebodohan sangatlah tidak menyenangkan, aku malu jika ditanya putriku seputar pelajarannya di sekolah, jujur aku sangat malu karena sama sekali tidak tahu. ?Nak,, maafkan Ibu yang kadang ataupun sering terlihat tidak peduli, sesungguhnya sedang banyak sekali hal yang Ibu pikirkan. Saat kamu menanyakan Ibu tentang pelajaran, bukan berarti diam Ibu adalah bentuk ketidak pedulian, Ibu hanya malu karena sudah pasti tidak dapat menjawab pertanyaanmu. Saat Ibu tak sengaja membaca diary yang kamu tinggalkan diatas meja, jujur nak,, Ibu khawatir, khawatir kesalahan Ibu akan terulang kembali, Ibu tahu rasanya nak,, sangat tidak enak hidup tanpa naungan ilmu. Jadi Ibu hanya mau kamu belajarlah yang rajin dulu, percayalah nak, suatu hari tanpa kamu ketahui ?dia? akan datang sendiri menghadap Ibu untuk ?meminta? kamu, jangan takut kehabisan, karena jodoh masing-masing telah ditetapkan. (Parakan, 28 juni 2012).

Terkadang memang sulit untuk memahami sesuatu yang sama sekali tidak dapat dimengerti, namun percayalah bahwa mereka melakukan hal demikian pasti ada alasan. Jadi, tetaplah berpikir rasional dan bersabar, karena buah dari kesabaran itu kelak akan kita ketam dan kemanisan pun akan kita rasakan.

-TAMAT-

?

?

  • view 138