Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 14 Juli 2017   10:42 WIB
GLOBALISASI, ANTARA MORAL DAN KAPITAL

GLOBALISASI : ANTARA MORAL DAN KAPITAL
 
   Beberapa hari yang lalu saya ( dan beberapa saudara )bertemu dengan seorang pria paruh baya, kira-kira usianya telah menginjak angka empat puluh lebih, terlihat dari kerut wajah dan uban yang telah memenuhi sebagian kepalanya. Gayanya begitu perlente untuk ukuran sebuah desa yang kecil. Pria ini berpenampilan layaknya anak usia belasan tahun, dengan celana joger dipadu kaos polo, ia turun dari motor barunya, motor matic keluaran terbaru. Sembari menghisap rokok tangan kanannya mengeluarkan sebuah smartphone dengan logo buah apel. Wah, itulah kesan pertama bagi siapa saja yang melihatnya. Bagaimana tidak, ia dikenal sebagai salah satu orang kaya di desa, enam juta kiranya selalu terselip di kantong setiap bulannya.
 
   Sambil ngobrol ria, didepannya duduk seorang ibu tua, sebut saja mak tini. Mak tini pernah menjadi mbakyu jauh pria tersebut. Tepatnya sebelas tahun yang lalu pria itu menceraikan istri yang telah memberikannya satu anak perempuan, dan mak tini inilah kakak sepupu istrinya tersebut. Namanya orang tua,  pembicaraan yang awalnya tak jauh dari masalah pekerjaan kini mulai bergeser mengenai masalah rumah tangga. Sebagai anak muda yang belum menikah, saya hanya menyimak apa yang mereka bicarakan. Tiba-tiba pria tersebut, yang saya panggil pak lek menepuk paha saya, " Mumpung masih muda, belajarlah setinggi-tingginya. Jangan tergoda cewek dulu, jangan banyak main hp ". Aku berkilah dengan mengatakan hp sekarang ini diperlukan oleh hampir setiap orang, entah untuk menghubungi rekan, mengerjakan tugas sekolah dan sebagainnya. 
 
 Ditengah argumen yang menurutku indah, si pak lek tadi menyela " Gara-gara hp le, pak lek cerai ". Mulai ia mengisahkan bagaimana ia bisa bertindak serong dari istrinya hingga akhirnya cerai dan kini memiliki istri perempuan daerah pasuruan jawa timur. Mak tini yangendengarnya pun tampak menunjukkan raut tak suka, namun bukan pak lek namanya kalo jika berhenti sebelum ia menyelesaikan ceritanya. Justru sekarang ia malah sesumbar sedang menolong perempuan yang kesusahan, niat hendak meredam perasaan mak tini namun malah sebaliknya. Mak tini ngomel panjang lebar hingga akhirnya si pak lek ini angkat suara, " Bukan begitu mbakyu, umurnya memang sepantaran dengan anak pertamaku, ia lulusan terbaik di fakultasnya mbakyu, pokok'e wong pinter. Tapi namanya seneng yo piye meneh. Sebenarnya ia sudah bersuami dan memiliki kostan di dekat ( ia menyebutkan nama salah satu perguruan tinggi di Semarang ), tapi ya tetep aja saya goda ".


   Meskipun kisah diatas hanya sebuah ilustrasi namun hal itu nyata dan benar adanya. Di era global ini banyak permasalahan muncul dari dampak perkembangan teknologi itu sendiri. Mulai dari krisis ekonomi, keamanan, dan pangan semuanya mengerucut pada satu hal, moral. Dari kisah diatas setidaknya kita dapat mengambil gambaran bagaimana teknologi mampu merusak moral dan jika dibiarkan berlanjut ini akan berakibat fatal pada generasi selanjutnya. 
Ironi ketika teknologi yang seharusnya dapat memudahkan dan menyelesaikan pekerjaan manusia namun fakta mengatakan sebaliknya. Piranti yang seharusnya memudahkan interaksi antarindividu, justru merusak tatanan keluarga. Hingga kini tak jarang orang yang mengejar bahkan sebagian yang telah memiliki kapital ( kekayaan ) mengesampingkan nilai-nilai moral. Seorang laki-laki dapat mengumbar hawa nafsu karena merasa ia telah memiliki kapital, seorang perempuan dengan serta merta merusak pernikahannya dan berpaling kepada orang ketiga yang dirasa lebih memiliki kapital, media yang semula mempertanggungjawabkan konter beritanya kepada masyarakat kini rela menjungkir balikkan fakta demi kepuasan pemilik kapital.


   Inikah demokrasi dan globalisasi yang kita inginkan. Inikah peradaban yang akan kita wariskan untuk generasi mendatang. Kesadaran akan hal seperti ini sangat dibutuhkan oleh semua orang demi tercapainya peradaban yang bermartabat, jika kita mampu merenungi dan menyadari marilah kita pahamkan lingkungan sekitar kita bahwa moral tetap harus berdiri diatas era globalisasi, kapitalisme dan hedonisme.
 
 
 

Karya : Khalilurrohman Muhammad