Selain Toleransi Beragama, Mungkin Kita Juga Butuh Toleransi Berasmara

Kresnoadi DH
Karya Kresnoadi DH Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Februari 2016
Selain Toleransi Beragama, Mungkin Kita Juga Butuh Toleransi Berasmara

Hal lain yang memicu perdebatan setiap tahun selain gaya rambut Syahrini adalah perdebatan soal hari valentine. Saya sendiri justru tidak mengerti mengapa perdebatan ini selalu dilakukan berulang kali setiap tahun. Buat saya pribadi, semua orang berhak merayakan hari valentine. Semua orang juga berhak tidak merayakan valentine. Menurut saya pribadi, valentine tidak ada bedanya dengan lomba tujuh belasan.

Terlepas dari sejarahnya, dengan adanya hari valentine, semua orang berlomba-lomba menjadi baik. Menjadi berani mengungkapkan perasaannya. Yang saya maksudkan ?merayakan? di sini adalah euforia berbagi kasih sayang. Sama seperti euforia lomba tujuh belasan. Kita seneng-seneng main balap karung, bukannya manggil satu orang Belanda, diiket di tiang bendera, lalu ditusuk pake bambu runcing bareng-bareng.

Hari valentine seringkali dikaitkan dengan toleransi beragama. Tapi terus terang, saya justru lebih tertarik kepada orang-orang yang berubah sifatnya menjelang valentine tiba. Ada satu teman saya yang kelewat alim, yang menganggap bahwa semua hal yang tidak berasal dari Arab adalah perbuatan dosa. Setiap tahunnya, dia selalu mengirimkan gambar bahwa hari valentine adalah perbuatan dosa. Alasannya: karena di Arab nggak ngerayain valentine.

Saya sendiri tidak terlalu paham dengan urusan agama. Yang saya bayangkan hanyalah perilaku orang ini sehari-hari. Apakah dia pas SD dulu selalu berteriak setiap senin, ?DI ARAB GAK ADA UPACARA BENDERA! DOSA?!? Apakah dia ngacak-ngacak bazar kompleks perumahan setiap tujuh belas agustus karena di Arab tidak ada tujuh belasan?

Hal ini jelas aneh buat saya. Lagipula, kalau di Arab ada tujuh belasan, lombanya pasti jadi nggak seru. Kalau kita ada lomba memasukkan belut ke dalam botol, mungkin di Arab nanti jadinya lomba masukin belut ke dalam kotak amal.

Bagi teman saya yang memang jomblo, ajang ini dijadikan alasan untuk menolak mentah-mentah keberadaan valentine. Beberapa hari menjelang valentine, teman saya ini rajin sekali berkoar di media sosial dengan mengatakan, ?TIDAK USAH NGERAYAIN VALENTINE!!? Begitu saya tanya alasannya, ternyata emang karena gak ada yang mau diajak valentine-an sama dia. Gedubrak.

Lain lagi dengan teman saya yang baru jadian sebelum hari valentine. Karena ?masih hangat?, teman saya ini menganggap kalau valentine bisa dilakukan kapan saja. Kata teman saya ini, kasih sayang tidak perlu ditunjukkan pada 14 Februari. Kasih sayang dapat diberikan kapan pun. Buat saya, ini sungguh aneh. Ini sama saja dengan menyebut hari ibu bukan tanggal 22 Desember karena setiap hari kita selalu sayang sama ibu kita.

Di kalender mana pun, hari valentine itu tanggal 14 Februari. Tetapi tidak dengan teman saya ini. Karena baru jadian dan lagi mesra-mesranya, dia menganggap kalau kasih sayang harus ditunjukkan setiap hari. Meskipun buat saya, ini sangat tidak mungkin. Kalau memang teman saya ini melakukan ?ritual? valentine setiap hari. Memberikan coklat, misalnya. Saya yakin, tiga bulan pacaran, gigi pacarnya langsung item semua. Enam bulan berikutnya, si cewek akan bilang, ?Temenin aku ke dokter yuk, Sayang.? Lalu dijawab, ?Oke, Sayang. Emangnya mau ngapain?? Lalu dijawab lagi, ?AKU DIABETES KAMPRET?!! DIABETES KAMU KASIH COKLAT MULU TIAP HARI?!!?

Kalaupun teman saya mengganti coklat dengan barang lain. Bunga, misalnya. Tetap aja sangat tidak enak melakukan valentine setiap hari. Saya membayangkan teman saya ini setiap malam membawakan bunga mawar. Bisa dipastikan, setahun pacaran halaman rumah pacarnya bakalan jadi kebun. Atau malah jadi mirip kuburan. Mungkin orang-orang seperti ini, di malam bulan purnama akan mendatangi rumah si pacar. Lalu, sesaat setelah pacarnya buka pintu, dia ngeluarin dupa dari balik jaketnya. Dibakar dan ditancap di halaman rumahnya. Pacarnya disembah. Biar totalitas dalam bermesraan.

Yah, selain toleransi beragama, mungkin kita juga butuh toleransi berasmara.

?

?

sumber gambar http://kristaandmichele.com

  • view 266