Cacing

Kresnoadi DH
Karya Kresnoadi DH Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Cacing

Kalau kau tanya siapa aku, aku adalah pengarang cerpen berjudul Cacing. Kalau kau tanya siapa dia, dia hanyalah seorang baik yang suka menulis dengan baik.

Aku mengenalnya lewat kata-kata, dua tahun silam. Membaca satu dua hurufnya akan membuatmu mabuk. Membaca sebuah kalimat darinya adalah kiamat. Kau mungkin akan meledakkan kepalamu ketika melihat sederetan paragraf hasil tangannya. Kurasa pulpen bukan teman yang baik untuknya.

Sekarang ia berada di dalam kertas, bercengkerama dengan tulisan-tulisannya. Aku tak mengerti mengapa ia memilih cara itu tapi sesekali aku iri kepadanya. Mungkin dalam cerita ini aku sebaiknya diam dan menunjukkan saja kepadamu apa yang terjadi dan mengapa aku iri padanya.

?

Lintang sedang duduk. Baunya seperti pepohonan. Mirip aroma Caddy buatan Willian Faulkner. Ia menggaruk kepalanya. Mencoret buku catatan kecil. Menggaruk lagi. Aroma pohon angsana di belakangnya menempel di tengkuknya.

?Hmm,? katanya.

Ia merogoh saku dan mengambil ponsel dan menelepon seseorang. Menggaruk lagi.

?Halo,? katanya.

Lalu terdengar suara wanita di teleponnya. Panjang dan keras. Telinganya terasa panas. Ia menggaruk telinganya.

?Hmm,? katanya.

Ia memasukkan ponsel ke dalam saku dan mencoret kertas dan aku ingin datang menghampirinya, tapi aku sudah bilang bahwa aku hanya akan diam dan menunjukkan apa yang terjadi padamu. Aku diam. Lalu ada seorang Bapak datang menghampirinya. Dia jalan sambll menyeret cangkul.

?Maaf, aku hanya menulis.?

?Tak apa, Nak. Menulislah. Aku hanya mencangkul.?

Lintang kemudian mengucapkan terima kasih lalu ia menggaruk kepalanya. Seekor burung terbang dan hinggap di pohon angsana belakang. Si burung bersiul. Si Bapak bersiul sambil mencangkul. Cacing-cacing keluar dari tanah tapi tidak bersiul. Kaki si Bapak dipenuhi tanah yang liat.

Lintang mengambil ponsel, menaruhnya di telinga.

?Maaf, aku tidak tahu kapan selesainya.?

?Kau tidak tahu?? kata suara di seberang, datar. Cacing-cacing menggeliat ke kaki si Bapak.

?Hmm,? katanya.

?Kau tinggal tulis tentang aku dan sebarkan,? kata suara itu, datar. Telinga Lintang gatal. ?Atau kau hancurkan dia dengan tulisanmu. Lalu sebarkan.?

?Hmm.?

Lintang kemudian mematikan telepon. Ia menulis. Buruk sekali tulisannya. Bukan hanya tulisan tangannya yang dapat membuatmu mabuk, kini juga pilihan katanya. Kurasa ia akan menulis tentangnya dan menyebarkan keburukannya. Huruf-huruf buatannya hancur. Ia menggambar cacing di buku catatannya. Cacing itu semakin banyak dan panjang dan ia menaburkan garam pada cacing-cacing itu. Cacing-cacing di buku catatannya menggeliat dan mengerut. Si Bapak kini aromanya seperti pinus. Burung di belakang girang, bersiul lebih kencang.

Si Bapak mencangkul lagi. Cacing keluar lebih banyak dan burung di belakang turun dan memakan cacing di kaki si Bapak. Lintang menulis lagi. Cacing keluar lebih banyak dan bersatu dan cacing-cacing tersebut menjelma jadi ular. Burung bersiul di kaki si Bapak. Ular melilit Lintang dan menariknya ke dalam buku catatan.

?Hmm,? katanya.

?

?

ps: Tulisan ini diketik setelah membaca The Sound and The Fury karya William Faulkner

pss: gambar diambil dari?www.shutterstock.com

  • view 149