Rahasia Serigala

Ken Aline
Karya Ken Aline Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Mei 2016
Rahasia Serigala

 

Tubuhnya yang ringkih terguncang-guncang dalam pick-up yang dikendarai ibu dengan kasar. Ia tak berani mengingatkan meski beberapa kali moncong mobil nyaris menyeruduk kendaraan lain. Cukup sudah yang ia perbuat hari ini. Ia tak ingin melihat api Ibu berkobar makin besar.

Ia tak mengingat sejak kapan ia kehilangan kendali atas duburnya. Mirip balita yang sering ngompol di celana hanya saja di bagian belakang. Ketika cemas dan ketakutan datang semua jadi tak terkendali. Seperti tadi saat teman-teman sekelas tiba-tiba menyorakinya. Ia sedang duduk berdua dengan Rivo di sudut kelas. Rivo mengajarinya matematika.  Wajah temannya itu berubah merah padam mendengar kata ‘pacaran’ diejekkan berulang-ulang oleh teman-teman sekelas mereka.

Ia seketika dilanda kepanikan. Telapak tangannya mendadak dingin dan lembab. Lalu terjadilah. Bau busuk menyebar cepat. Teman-temannya menyumpah, kerumunan mereka seketika bubar. Ia mencekal lengan Rivo yang turut membalikkan punggung untuk menahannya pergi. Tanpa disangka tubuhnya malah terjengkang. Rivo mendorongnya hingga terjatuh ke belakang bersama kursinya.

“Kamu bau sekali.” Rivo mendesis. Matanya nyalang menahan jijik sekaligus marah.

Ia seketika menciut. Meringkuk dan mulai terisak.

Dengan berak yang menempel di celana.

---

 

Jalanan macet seperti biasa. Klakson-klakson menjerit sombong bergantian menulikan telinga. Wajah-wajah merah dan tegang menahan panas bersembunyi di balik pelindung kepala. Ia menunduk. Ibu mencengkeram stir dengan wajah mengeras dan bibir mengerucut terkatup rapat.

Beberapa saat lalu langkah ibu tegas dan lebar. Sebuah lirikan tajam dikirim ibu kepadanya sedetik sebelum membuka pintu Ruang Kepala Sekolah. Setengah jam kemudian, ibu keluar dengan wajah tegang. Ia  berdiri menunggu ibu di depan pintu. Ransel telah siap di punggung. Tangannya menjinjing tas platik hitam berisi celana seragamnya yang kotor dan berbau. Ibu menatapnya tanpa berkata sepatah pun. Tas plastik hitam itu direnggut dan dibuang ibu dengan kasar ke dalam tempat sampah besar berwarna oranye di sebelah tempatnya berdiri. Ibu berjalan cepat dan ia sempoyongan setengah berlari mengejar perempuan itu.

Siang yang terik. Panas membakar tubuh-tubuh penat yang melintas jalanan. Di dalam mobil, ia menunduk pias dan lemas. Api ibu telah membakarnya lebih dulu.

--

Tangisnya meledak begitu mobil sampai. Ia tahu seharusnya ia tak lagi merasa takut. Ini bukan yang pertama kali. Bahkan terlalu sering terjadi. Tapi nyatanya ketakutan itu masih mencekiknya. Ia mencengkram pegangan pintu mobil untuk bertahan. Tangisannya menjelma jeritan penolakan saat ibu dengan kasar menepis tangan dan membopong tubuhnya keluar. Pelukan ibu seharusnya hangat. Dulu pernah hangat. Tak membuatnya meronta-ronta mencoba melepaskan diri seperti saat ini. Pelukan ibu semakin kencang menahan. Kencang sekali. Menghimpit napas dan membuat tubuhnya ngilu.

Ibu melemparkan tubuh kurusnya ke sofa. Sofa tua di ruang tamu yang ia benci. Tak lama ibu mulai mengeluarkan sumpah serapah. Suaranya lantang terdengar hingga ke penjuru rumah kontrakan mereka. Biasanya ia menutup telinganya. Hal tolol yang justru akan membuat amarah ibu semakin menjadi. Namun kali ini teriakan ibu tak lebih sebuah suara yang jauh. Sebuah lapis kedap suara menutup kedua telinganya. Pikirannya justru melayang pada tatapan Rivo yang penuh rasa jijik sebelum temannya itu membalikkan punggung. Rasa jijik yang ia kenali pada matanya sendiri.

---

Bahunya berguncang, tangisannya meledak lagi melihat ibu datang dengan rotan di tangan. Ujungnya tak lagi bulat. Sengaja dipecah agar meninggalkan nyeri yang pedas di kulit. Perih yang diharapkan ibu mendatangkan jera.

Amarah ibu masih bergelung-gelung keluar dari mulutnya. Persis seperti bulatan-bulatan asap yang meliuk setiap kali ibu menghisap rokok. Bedanya, asap-asap rokok serupa kabut tipis yang menutupi wajah ibu yang cantik. Saat ibu masih serupa putri dalam dongeng yang dulu selalu  dibacakan untuknya sebelum tidur.

Tangan Ibu mulai mengayun. Jeritannya melengking setiap kali ujung pecah rotan itu mendera kulit pantatnya yang kini telanjang tak bercelana. Satu dera, satu lengkingan dan satu bilur merah. Siang ini jeritannya lebih nyaring dan gigil dari biasanya. Untuk Ibu yang dulu. Untuk Rivo yang pergi.

---

Ia membuka mata pelan-pelan. Gelap melingkupi sekitarnya. Disipitkannya mata agar terbiasa. Bau apak yang kental segera terasa di penciumannya. Ia seketika mengenali tempatnya bergelung di lantai. Suara-suara di luar. Suara berat yang ia kenali. Ia menutup telinga dengan kedua tangan.

“Maeda! Kau sekap lagi anakmu di gudang?”

“Habis akal aku, Bang. Ini yang kesekian kalinya aku dipanggil ke sekolah. Terpaksa kupinjam pick up Si Muin untuk menjemputnya dengan cepat siang tadi. Bocah sebesar itu masa tak bisa menahan beraknya sendiri. Ia sudah delapan tahun, Bang! Malu aku dibuatnya.”

“Bersabarlah, Mae.”

“Kau pikir aku tidak bersabar selama ini? Entah apa yang terjadi pada anak itu. Dulu ia baik-baik saja seperti sebayanya yang lain. Dan kau tahu, Bang? Kali ini ulahnya bertambah. Ia terlampau dekat dengan kawan lelaki sekelasnya yang lagaknya halus seperti perempuan. Rivo namanya. Ah! Pusing kepalaku, Bang!”

“Sudahlah Mae, kau terlampau banyak berpikir. Berangkat sajalah bekerja. Malam ini kau piket, kan? Biar kuurus anakmu itu.”

Pintu gudang terbuka.

Cahaya lampu dari luar memberkas masuk mengiring sebuah bayangan hitam besar. Ia beringsut mundur. Tubuhnya mendadak bergetar. Menggigil ketakutan saat  sepasang lengan besar itu membopongnya keluar.

Di ruang tamu, ibu duduk menalikan sepatunya yang runcing. Seragam karyawan tempat bilyard di ujung jalan dekat pasar itu telah ia kenakan. Lengkap dengan rias tebal. Wajah ibu yang dulu semakin tak bisa ia kenali. Entah bersembunyi di mana.

“Kamu baik-baik di rumah. Paman Ramon akan menjagamu. Jangan sekali-sekali membantah perkataannya. Ingat itu!” Ibu berdiri mencangklong tas merah yang kulit tiruannya mengelupas di sudut. Meninggalkan jejak pulau dengan warna yang pudar.

“Sudah, berangkatlah.” Lelaki bertubuh besar itu mendekati Ibu. Tangannya meremas bokong Ibunya. Ibu mengikik genit. Lalu bibir mereka bersentuhan dan lidah-lidah berpilin saling memagut.

Ia memalingkan wajah.

--

Ibu telah berangkat bekerja. Malam larut dan sunyi. Sesekali suara motor terdengar melintas di depan rumah. Tiang listrik tiba-tiba berdentang nyaring, satu kali. Penanda satu jam dari tengah malam. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata nyalang. Seprei batik kumal yang membungkus kasur tipis mengerut oleh cengkraman tangannya. Sebentar lagi. Ia mulai berhitung dalam hati dengan mata terpejam.

Satu … dua …

Dadanya berdetak keras saat pintu kamarnya terbuka pada hitungan ke sembilan. Lelaki itu masuk dan duduk di pinggir pembaringan. Tangan besar dan kasar membelai rambutnya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat sembari menahan nafas. Dengan satu gerakan lelaki itu mengangkat tubuh kurusnya. Ia meringkuk dalam gendongan. Telapak tangannya dingin  saling berkelut mencari hangat yang menenangkan.

Di ruang tamu, lelaki itu meletakkan tubuhnya dengan hati-hati di atas sofa. Tempat terkutuk yang ia benci. Telapak tangan lelaki itu kini bergerak lembut menyusuri kaki kurusnya.

“Paman, lihat luka-lukamu ya, Nak?” bisik lelaki itu di telinganya. Suaranya yang berat meninggalkan desir yang aneh di punggungnya.

Jangan sekali-sekali membantah perkataan Paman Ramon!

Suara tajam dan tegas milik ibu terngiang di telinga.

Kau anak baik, harus selalu menurut perkataan Ibu. Jangan seperti Ayah. Turutilah Ibu. Pesan terakhir Ayah sebelum pergi meninggalkan rumah bersama perempuan berperut buncit. Meninggalkan Ibu yang menjerit-jerit dengan ucapan-ucapan kotor. Meninggalkan dirinya.

Ia anak baik. Ia menuruti pesan ibu. Membiarkan lelaki besar bertelapak tangan kasar itu melepaskan celananya. Mengelus kaki kurusnya.  Menciumi pantatnya.

“Biar Paman sembuhkan luka-lukamu,” Bibir lelaki itu kini terasa di kulitnya yang luka oleh dera rotan ibu siang tadi. Ujung-ujung kumis kasar itu meninggalkan perih. Ia memejamkan mata. Terbayang kembali tatapan Rivo. Pasti seperti ini perasaan Rivo padanya siang tadi. Mual yang sama yang ia rasakan pada sofa tua ini. Pada malam-malam seperti ini. Matanya berkaca. Hatinya tercabik-cabik.

--

 

“Dongeng Gadis Berkerudung Merah itu favoritku.”

“Anak laki-laki seharusnya suka Superman.”

“Cuma laki-laki bodoh yang memakai celana dalamnya di luar. Coba kupakai celana dalamku di luar, mungkin aku akan bisa terbang seperti Superman.”

“Astaga, pantatmu kenapa?”

“Aku berak di celana, Ibu memukuli pantatku dengan rotan.”

“Kamu sudah besar kenapa kamu masih berak di celana.”

“Aku tak tahu. Serigala itu yang melakukannya.”

“Tak ada serigala di kota.”

“Kuberi tahu kau sebuah rahasia, berjanjilah untuk menyimpannya. Serigala itu kekasih Ibuku.”

--

Malam semakin larut. Bulan menggantung pucat. Napas serigala semakin menderu-deru di balik punggungnya. Ia tahu, tak ada pemburu yang akan menyelamatkannya. Tak akan pernah ada.

 

 

 

 

 


  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    Kasar, tp berat mbak...keren...
    Suka sm genre cepren kyk gni...
    Ditunggu tulisan selanjutnya ya...
    Salam kenal

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Sebenarnya keren, tapi cukup 'jorok' (maaf)

    Bisa bercerita tentang yg lain dan tak 'jorok'.
    Sepintas kubaca, kamu memang 'penyihir' yang mampu menyihir mataku dgn cerpen ini agar menyelesaikannya. Dengan rasa penasaran sesudahnya.

    *_*

    • Lihat 2 Respon