Mak, bagaimana rupa Tuhan?

Nurus Sarifah
Karya Nurus Sarifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 September 2016
Mak, bagaimana rupa Tuhan?

Hari ke-4 setelah lebaran Qurban

Assalamualaikum mak. Salam takdzim dari putri nakalmu yang selalu mencintaimu tanpa baras.

Selamat hari raya qurban!!. Aku yakin disana emak pasti mengomel seperti repetan mercon karena aku telat mengucapkannya, "anak kurang ajar, tidak tau malu, tidak tau diuntung" dan repetan panjang yang akan membuat telingaku memarah karena pastinya tidak hentinya emak jewer. Meskipun aku tau dibalik kata-kata kasar yang sering emak ucapkan itu hanya seperti bon cape yang hanya pedas dilidah, dan tidak benar-benar diucapkan dari hati. Aku juga tau kalau sebenarnya emak hanya cemburu pada orang-orang sok penting yang selalu menunda kepulanganku. Maafkan aku mak, yang jarang meluangkan waktu untuk mengunjungimu.

Mak, hari ini hujan mengguyur Jember dengan derasnya. Hujan kedua setelah kemarau panjang memanggang kota kecil ini. Desa kita yang masih seperti dulu, pemadaman listrik yang saking seringnya seperti berganti celana, signal HP baru ada jika disandarkan pada jendela, baru-baru ini anakmu baru saja berdebat hebat dengan para perangkat desa (jangan memaksaku bercerita mak, aku tidak mau emak tabok karena mengeluarkan isi seluruh kebun binatang). Sepertinya kadar kesongongan anakmu makin menjadi-jadi.

Disini hari Jumat mak, hari ke-4 setelah hari raya qurban. Orang didesa kita makin makmur mungkin, stok daging makin banyak saja, sate, gule, rawon, memenuhi panci dan kuali dapur. Disungai ikut ramai, orang mengantri ingin buang hajad seperti antri sembako, mereka terserang diare massal. Aku cuma terkekeh geli, mungkin kualat karena makan berlebihan seperti tak pernah daging atau karena daging yang seharusnya diberikan pada duafa mereka telan sendiri. Entahlah.

Dan kalau emak bertanya tentang putrimu? Tenang saja, anakmu juga makan banyak. Jangan khawatir, empat tusuk sate sudah cukup memenuhi perutku. Aku sudah kenyang makan air mata. Dua kali aku menangis karena suamimu, ah tidak! Maksudku bapak. Malam takbiran dia tidak pulang, aku sendiri disini. Pura-pura tidur saat teman-temanku berarak mengelilingi kota, kemudian menangis tengah malam saat orang lelap karena lelah dalam kebahagiaan. Tahun ini mungkin bapak terlalu banyak makan daging, darah tingginya kambuh dan aku juga terkena semprotannya. Tidak ada wajah teduh penuh kesabaran yang dulu selalu membela setiap ulah nakalku, petuah bijak yang selalu menjadi pengantar tidurku, "kamu boleh berulah, tidak akan marah. Tapi ketika kamu meninggalkan satu waktu shalat, saat itulah kamu akan melihat bapak murka" semua itu hanya menjadi dongeng menjelang tidur yang selalu kuputar sendiri dalam ingatan. 

Iya mak! Sekarang Bapak banyak marahnya ! kadang masalah diluar dia lampiaskan padaku . Semakin menjadi-jadi jarang pulang, awalnya hanya 3 hari, kemudian 5 hari, bertambah jadi 10 hari, saking lelahnya aku tak pernah menghitung lagi! Tak pernah menunggu kepulangannya lagi, terlalu lelah berharap untuk sekedar melihat wajah lelahnya. Hal yang bisa kulakuakan hanya mencoba memaklumi, mungkin dunia luar jauh lebih hangat ketimbang rumah petaknya.

Mak, kalau kau ingin tau apa aku baik-baik saja? Maka putrimu ini akan menjawab. 'Tidak mak, putrimu tidak baik-baik saja'.

Jadi tolong bicara pada Tuhan agar membiarkanmu pergi sebentar saja dari sisiNya. Bilang pada Tuhan kalau aku lebih membutuhkanmu dari pada Dia. Sebentar saja, aku hanya ingin tidur dipangkuanmu setelah lelah bercerita tentang ulahku hari ini. Aku tak akan marah jika emak menjewerku, aku tidak akan melawan saat emak memarahiku dengan repetan panjang yang akan membuat gendang telingaku nyaris pecah, kalau perlu aku janji aku tidak akan berulah lagi. Tapi kumohon bilang pada Tuhan agar membiarkanmu kembali.

Tapi, jika Tuhan tetap tak mengijinkan. Sampaikan pada Tuhan. 'Ya Tuhanku, aku adalah putri dari perempuan hebat yang kini ada disisimu, aku bukan perempuan baik seperti ibuku. Aku sering lalai terhadap perintahmu, shalatku seperti atap petak rumahku yang sering bocor, kerudungku seperti layangan yang sering ditarik ulur, jadi jangan tanyakan sebatas mana akhlakku yang aku sendiri akan memberi nilai nol besar. Tapi bukan berarti kedua orang tuaku buruk mendidikku, mereka begitu hebat, orang tua terbaik, hanya saja mereka yang kurang beruntung karena memiliki putri sepertiku. Ya Tuhan maaf karena aku terlalu banyak berbicara, sebenarnya aku hanya meminta pada-Mu masukkan wanita hebat yang ada disisimu kedalam surgamu, surga yang agung bersama para manusia-manusia pilihan. Jika Engkau tidak bisa, maka kumohon kembalikan ibu padaku, aku akan berusaha membuat surga sederhana dirumah petak kami. Saat aku sudah bisa menjadi pembentang surga untuk mereka. Maka ambil kami bersama, agar tidak ada lagi sakit karena kehilangan dan ditinggalkan. Tuhanku yang maha baik, jangan siksa kedua orang tuaku atas sikapku. Sungguh aku mencintai mereka karenamu ya Allah'.--

 

Jember, 16 september

Tertanda, 

Mahluk-Mu yang selalu mencintaih-Mu*)

  • view 306