AYA!! Boleh aku rindu??

Nurus Sarifah
Karya Nurus Sarifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Juni 2016
AYA!! Boleh aku rindu??

IKA--

Semburat keemasan mewarnai langit timur. Gradiasi yang begitu apik lukisan sang maha kuasa tetap menjalankan tugasnya, menyambut manusia dengan hari baru, harapan baru, tidak peduli seburuk apapun hari kemarin, fajar tetap manawarkan sejuta keajaiban.  Dingin pagi februari menyambutku, suara bising kereta beradu dengan desiran angin, hamparan persawahan yang mulai menguning berlalu cepat dari pelupuk mata. Secepat kisahku dengan Aya!!. Aya, pria itu masih ingatkah dia padaku.

Kepalaku menempel pada jendela kereta, kunikmati pemandangan diluar kereta, padang rumput yang hijau, petak petak sawah, anak anak lembu yang berlarian dengan bebasnya. Aku iri pada mereka. Kutarik nafas kuat kuat, ipodku memutar lagu Bintang hidupku milik ipang.

Aku selalu bernyanyi lagu yang kau ciptakan, kau nyanyikan

Dan Aku selalu ikuti semua cerita tentangmu hari harimu

Kau jadi inspirasiku, semangat hidup ...

Lagu ini membuat hatiku makin nyeri saja, bahkan otakku juga ikut tak waras menampilkan scren wajah jenaka Aya yang hanya diperlihatkan hanya didepanku, wajah seriusnya saat mengerjakan sesuatu. Kurengkuh tubuhku, bahuku bergetar, air mata yang selalu aku tahan mulai merembes membasahi pipiku, kemudian jatuh mengenai jilbabku. Aku menangis kecil berusaha tidak menimbulkan perhatian orang. Ternyata waktu sama sekali tidak mampu mengobati luka hatiku, hatiku tidak berbohong, rindu ini menancap terlalu dalam, hingga hanya sakit dan perih yang membekas.

Masa lalu yang dua tahun ini selalu aku tepis dari fikiranku mendadak hadir, seperti rentetan trailer film, mata hujannya yang selalu menghadirkan kedamaian, senyumnya yang pelit sekali untuk ditunjukkan, tangan besarnya yang begitu pas menggenggam tanganku, tampang datarnya yang ingin aku cakar cakar saking minimnya ekspresinya. Tangisku semakin menjadi isakan mulai lolos dari mulutku. Kubiarkan saja bahkan sepasang suami istri disebrang kursiku sesekali menoleh melihat keadaanku. Kubiarkan saja, untuk sekarang, kali ini saja aku ingin berdamai dengan hatiku, sekali saja aku ingin mengenangnya banyak banyak diotakku.

Aku teringat 3 tahun yang lalu pertama kali aku mengenalnya, saat itu sedang ada acara bakti sosial di pondok tempatku mengajar, sore itu aku bersama murid muridku sedang membagikan sembako pada masyarakat sekitar. karena hari mulai petang akhirnya kusuruh mereka untuk kembali kepondok terlebih dahulu. Tersisa tiga kresek sembako yang belum dibagikan. Dengan susah payah kutenteng sembako sembako itu, tapi baru tiga langkah saja tanganku rasanya sudah mau lepas dari engselnya. Namun, tiba tiba dari arah belakangku laki laki itu muncul tanpa banyak bicara mengambil alih tiga kresek sembako dari tanganku. Aku kaget tentu saja, sekaligus terpesona. Padahal dia hanya memakai baju koko warna putih, sarung motif kotak kotak warna merah, peci hitam, dengan sajadah yang disampirkan dibahunya, tapi rasanya dia berkali lipat begitu tampan. 'Jangan bengong, ini mau dianter kemana' itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Aya, aku tersipu malu karena ketahuan menatapnya, dengan gugup kutunjuk rumah diujung gang dan tanpa banyak bicara Aya melangkah membawa sembako sembako itu tanpa kesusahan, sedang aku mengekor dua langkah dibelakang Aya. Setelah selesai mengantar sembako sembako itu kami beriringan menuju pondok, aku ke asrama dan dia kemasjid. Tidak ada pembicaraan yang tercipta hanya derap langkah kami yang terdengar memecah sunyi, hingga saat hampir sampai dikelokan pondok Aya menghentikan langkahnya, aku yang bingung juga ikut berhenti. Aku ingin bertanya mengapa berhenti, tapi Aya keburu mengeluarkan suara 'aku suka kamu, tapi aku belum punya uang untuk melamarmu jadi untuk sementara maukah kamu jadi pacarku?' Aku melongo bingung sekaligus ingin mengumpatnya yang berani beraninya menyatakan perasaan dipertemuan pertama. tapi reaksiku malah lain, kakiku sudah gemeteran tak karuan, perutku seperti mengalami erupsi, seperti ada ribuan kupu kupu yang berterbangan membuat perutku makin melilit saja. Jantungku melompat lompat tak tau diri, saking kerasnya detaknya aku takut Aya bisa mendengarnya. Aku merunduk memperhatikan sandal jepitku yang entah mengapa menjadi begitu menarik. 'Oke karena kamu diam aku anggap itu iya! Sampai jumpa sabtu sore didepan stasiun' belum juga slesai kekagetanku dengan ucapannya Aya sudah melenggang pergi meninggalkanku dengan seribu tanda tanya. 'Bang Aya mau ke masjidkan' seorang anak kecil berseru nyaring dari belakangku, membuatku dan Aya sama sama menoleh pada asal suara. Aya tersenyum lembut bocah laki laki berlari menuju Aya, Aya menggandeng bocah itu dengan akrab seperti kakak dan adik, eh bapak dan anak sepertinya juga cocok. Bocah itu menoleh padaku 'mbak jangan bengong disitu ntar kerasukan lo' ucap bocah itu tanpa dosa dengan seringai jahilnya disusul tawa Aya yang pecah membuatku semakin dongkol saja.

Aku tersenyum sendiri mengingatnya, hidupku yang monoton dengan warna hitam, putih dan abu abu bermetamorfosis menjadi banyak warna sejak bertemu Aya, ada merah, ungu, kuning, biru, hingga aku sendiri tidak bisa menyebutnya jenis warna apalagi. Untuk pertama kalinya aku berpacaran dengan laki laki yang baru kutemui sekali, yang bahkan namanya kuketahui dari bocah berumur 8 tahun. Gila memang, tapi aku selalu menikmati setiap momen bersama Aya, awalnya kupikir Aya hanya iseng saat menyatakan perasaannya tapi aku salah sabtu sore itu dia benar benar menungguku didepan stasiun. Tanpa banyak bicara dia membuntutiku hingga memasuki gerbong kereta, kemudian dengan tampang datarnya duduk disebelahku. Aku yang bingung hendak berbicara atau sekedar bertanya apa yang Aya lakukan hanya bisa diam. Kemudian saat sampai di stasiun tujuanku Aya akan ikut turun, menungguku hingga aku menemukan angkutan menuju rumah, saat menemukan angkutan Aya akan menuju kemudi si sopir, menyerahkan sejumlah uang dan kemudian berpesan agar mengantarkan penumpangnya yang paling cantik sampai dengan selamat. Tentu saja aku tersipu malu, tapi Aya akan terkekeh saat aku hendak protes dengan tindakannya.

Mataku menyapu bukit diluar jendela kereta, kurapatkan jaket hitamku kurengkuh tubuhku, berharap ini bisa membuat luka dihatiku juga ikut menghangat. 1 tahun aku habiskan bersama Aya didalam kereta ini, setiap sabtu sore jadwal apel perdana yang tidak boleh terlewatkan, senja semerah saga akan ikut menghiasi 2 jam paling menyenangkan dalam hidupku. Dikereta itu juga untuk pertama kalinya kami membuat perjanjian, bukan perjanjian setia sehidup semati macam muda mudi dimabuk cinta kebanyakan, dia memintaku berjanji agar agar aku tak melepaskan kerudungku apapun kondisinya, dan aku mengiyakan. Tentu saja aku tersanjung, dari sekian banyak permintaan dia meminta itu. Aku baru sadar bahwa Aya sangat ingin menjagaku, rasanya aku kelewat senang bahkan aku bingung amalan apa yang aku lakukan hingga tuhan begitu berbaik hati menyisipkan laki laki sebaik Aya dihidupku. Meski pada akhirnya aku yang menghancurkan semuanya.

Aku masih ingat sekali, malam itu malam kamis, jadwal jagaku untuk mengecek keamanan asrama. Jam berdentang, menunjukkan pukul 12 malam, semua orang sudah tertidur tapi entah mengapa mataku masih saja terjaga. Tiba tiba telpon asrama berbunyi, aku dengan ogah ogahan mengangkat telpon itu.

"Assalamualaikum dengan pondok pesantren al fitria ada yang bisa saya bantu" 

"Walaikumsalam!!" Seorang laki laki bersuara berat menjawab salamku, aku seperti mengenal jenis suara ini.

"Iya ada yang bisa saya bantu pak"balasku sesopan mungkin 

"Ka.. ika !! Kita putus !!"jawab orang itu disebrang sana membuat kerja jantungku seakan tercekatat

"Maaf ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku lagi berusaha memastikan pendengaranku

"Kita putus ka" ototku mulai melemas, suara berat itu aku yakin hanya milik satu orang itu

"Maaf ada yang bisa saya bantu?" Suaraku mulai bergetar aku yakin aku hanya salah dengar

"Aku udah gak cinta sama kamu!!" Nafasku semakin tersenggal

"Maaf ada yang bisa saya bantu?" Aku masih berusaha memastikan

"Aku udah gak cinta sama kamu, mulai sekarang kita putus ka" langit seakan runtuh menimpaku, bahkan aku lupa bagaimana caraku untuk bernafas, air mata merembes membasahi pipi. Aku yakin ini hanya halusimasi

"Maaf. Ini dengan siapa?" Tanyaku masih berusaha memastikan

Laki laki bersuara berat itu terdengar menghela nafas, "Raya alifiandra"

Kemudian telpon terputus, dan aku masih tercekat tidak mempercayai apa yang Aya katakan. Kakiku masih bergetar, sendiku seakan melumer. Beberapa saat kemudian dengan sisa tenaga yang tersisa dan entah pengaruh setan dari mana segera kuambil celana tidurku, dan dengan cekatan kupanjat pagar asrama. Satu satunya akses agar aku bisa menemui Aya. Kubuka jilbabku agar tak kentara bahwa aku seorang santri, kubuang asal melampiaskan kekesalanku pada Aya.

Aku tidak tau kemana tujuanku yang jelas aku hanya ingin pulang, entah insting dari mana ini pasti berkaitan dengan orang rumah, sepertinya kakakku satu satunya tau hubunganku dengan Aya. Pikiranku gelap, yang aku pikirkan hanya Aya dan apa yang menyebabkannya mengakhiri hubungan ini.

15 menit aku berjalan tak tentu arah, gerbang stasiun sudah ditutup, padahal aku harus pulang dan memastikan semuanya. Bodohnya aku baru ingat tidak ada jadwal kereta tengah malam. Aku terduduk, menangis putus asa. Deru motor tiba tiba berhenti didepanku, membuat aku semakin mengkerut takut jika itu adalah orang jahat. Belum selesai kekhwatiranku, orang itu melepas helm full facenya kasar hingga wajahnya terlihat jelas dibawah remang lampu jalan. Partikel o2 seakan menipis karena tatapan garang manusia yang kini berdiri didepanku. Aya, dia murka.

"Ika, apa yang kamu lakuin disini?" Tanya Aya garang, aku hanya merunduk takut. Belum juga aku menjawab Aya menendang pagar stasiaun membuat tubuhku semakin mengkerut takut.

"Apa yang kamu lakuin, mana jilbab kamu?" Tanya Aya dengan penuh penekanan. Aku tau dia sedang menahan amarah, aku hanya merunduk tak berani menatapnya

"Jawab aku kenapa diem aja? Kamu tuli atau sudah pikun. Lupa sama janji kamu? Mana jilbab kamu ika?" Teriak Aya semakin marah. Air mataku semakin melumer, ini pertama kalinya Aya membentakku seperti ini

Aku menghela nafas panjang kutatap mata Aya yang memerah. Dia juga mengangis, hatiku semakin remuk. "Kenapa kamu minta putus?"

"Kenapa Ay?" Tanyaku sekali lagi, Aya diam saja mengalihkan pandangannya dari mataku membuatku juga tersulut emosi

"Kamu tuli ya? Kenapa kamu minta putus Raya?" Teriakku dengan memukul dada Aya "kenapa Ya, kenapa?" Ujarku dengan masih meraung raung memukul Aya sebisaku

"Ayo pulang Ka !"ujar Aya dingin menarik tanganku

"Nggak sebelum kamu jawab aku gak akan pulang" kekehku

"Pulang"

"Nggak"

"Jangan jadi perempuan murahan cuma gara gara aku!" Ucap Aya penuh penekanan. Harga diriku sebagai perempuan tergotes, aku mengusap sisa air mataku. Kutatap mata hujan Aya. Mata yang sejuta pesona yang membuatku rela jatuh sedalam dalamnya

"Aku gak peduli Ay! Aku butuh penjelasan" getasku, Aya menarik nafas frustasi, dia menatapku dalam, butir air mata yang selalu disembunyikannya merembes membasahi pipinya membuatku tercekat.

  • view 128