Tumpung Samarang, suling kerinduan.

Kawal Literasi Berau
Karya Kawal Literasi Berau Kategori Budaya
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Tumpung Samarang, suling kerinduan.

*Syamsuddin Juhran
(Kawal Literasi Berau)

Folklor sebagai bagian dari kebudayaan yang diwariskan melalui tradisi, lisan dan isyarat. Folklor meliputi cerita rakyat sebagai cerita legenda yang memiliki isyarat makna filosofis sebagai pandangan kehidupan.

Kabupaten Berau dikenal sebagai Bumi Batiwakal yang memiliki berbagai macam cerita rakyat yang melegenda, misal cerita “Lamin Talungsur” atau “Kisah Baddit Dipattung”. Namun dalam tulisan ini saya mendeskripsikan dan mengamati salah satu dari cerita rakyat kab.Berau dengan judul aslinya “Gua Sarang Burung Pallas Baruni” yang terangkum dalam Buku Cerita Rakyat Paser dan Berau yang di terbitkan oleh Kantor Bahasa Kaltim.

Mencermati deskrip tersebut saya melakukan intepretasi dengan pendekatan syair sufistik Jalaluddin Rumi untuk menyingkap makna isyarat dari kandungan isi cerita, sejalan dengan definisi folklor penuh isyarat.

Gua Sarang Burung Pallas Baruni
Alkisah di ceritrakan di dataran tinggi sungai Birang, Gunung Tabur. Sepasang suami isteri hidup bahagia dan saling menyayangi. Di tengah-tengah berjalannya bahtera rumah tangga, Sang suami menerima kenyataan pahit karena berpisah dari Istrinya.

Perpisahan terjadi bukan karena sebuah pertengkaran suami-istri, melainkan karena pantangan yang berbuah bala (musibah). Sang suami tidak pernah mengetahui sebelumnya jika perempuan yang dinikahinya adalah titisan dari gua sarang burug pallas baruni. Adapun pantangan dari gua tersebut tidak boleh mengambil sarang burung di dalam gua.

Setiap pulang dari berburu dan memancing, istrinya tidak di jumpainya di rumah. Sang Istri pergi ke gua pallas baruni. Kecurigaan sang suami menguat dan mencari tahunya, pergi ia ke belantara hutan dan didapatinya diseberang sungai kecil sebuah gunung yang dari kejahuan terlihat burung walet.

Setibanya di gua pallas, ia mengambil sarang burung tanpa mengetahui pantangan dan bala. Ia pun segera pulang dan memperlihatkan bawaannya, istrinya pun sudah merasa curiga. Setelah istrinya melihat bawaan (sarang burung) suaminya. Istrinya melayang meninggalkannya mengarah ke gua dan gua tersebut tertutup rapat.

Selang beberapa hari terpisah, ia tampak lusuh karena menunggu dan berharap goa terbuka dan menemui istrinya. Dalam penantianya iya bermimpi bertemu dengan istrinya dan memberi isyarat, jika ingin bertemu pergilah Merantaulah ke arah utara tanah Kayan ada carilah tumpung samarang (seruling bambu), apa bila malam purnama tiba tiuplah tumpung itu dan kita akan bertemu untuk melepaskan kerinduan.

Keesokan harinya merantaulah ia ke tanah Kayan, didapatinya apa yang di isyaratkan dalam mimpinya, hanya saja tak mudah untuk memiliki tumpung tersebut karena di miliki oleh seorang kake petapa. Sang petapa akan menyerahkan tumpung dengan syarat laki-laki harus bersih dari segala nafsu dan mememiliki mental yang kuat.

Agar ia memperoleh tumpug samarang, ia belajar kepada sang petapa dengan gigih. Harapan untuk bertemu sang isteri pun semakin bergelora di dalam jiwa. Setelah berhasil melewati seluruh syarat ia pun di beri ijazah oleh sang petapa dan berhak memperoleh tumpung samarang.

Tumpung samarang pun telah ia peroleh, setiap bulan purnama tiba ia mendatangi bukit Baruni untuk meniup tumpung samarang dengan  menadakan lagu yang syahdu dan muncullah sebentuk wajah di bulan wajah sang isteri.

Syair Jalaludin Rumi ‘Lagu Seruling’
Dengar lagu seruling bambu menyampaikan kisah pilu perpisahan;
Tuturnya, "Sejak aku berpisah dengan asal-usulku pokok bambu yang rimbun, ratapku membuat lelaki dan wanita mengaduh.
Kuingin sebuah dada koyak sebab terpisah jauh dari orang yang dicintai, dengan demikian dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta.
Setiap orang yang hidup jauh dari kampung halamannya akan merindukan saat-saat tatkala dia masih berkumpul dengan sanak keluarganya..

 Nada-nada senduku senantiasa kunyanyikan dalam setiap majlis pertemuan, aku duduk bersama mereka yang riang dan sedih.Rahasia laguku tidak jauh dari asal-usul ratapku, namun apakah ada telinga yang mendengar dan mata melihat?

 Tubuh tak terdinding dari roh, pun roh tak terdinding dari tubuh, namun tak seorang diperbolehkan melihat roh.Bunyi suling yang riuh ialah kobaran api, bukan desir angin yang berhembus: mereka yang tak mempunyai api akan sia-sia hidupnya.

Inilah api Cinta yang tersembunyi dalam suling bambu, inilah bara semangat Cinta yang dikandung anggur.

 Suling ialah sahabat mereka yang terpisah dari sahabat karibnya: lagunya menyayat kalbu.

Siapa pernah melihat racun dan obat penawarnya sekaligus seperti suling? Siapa pernah menyaksikan orang berkabung dan pencinta menuturkan rindu dendamnya seperti suling?

Suling menyanyikan kisah jalan tergenang darah dan menyingkap lagi rindu dendam Majenun.

Hanya untuk mereka yang tidak mengerti pemahaman dan kepahaman disampaikan: lidah tak mempunyai pelanggan selain telinga.
Dalam pilu hari-hari hayat kami berlalu tak kenal waktu: hari-hari kami berjalan bersama kepiluan membara. Kalau hari-hari kami mesti pergi, biarlah ia pergi! Kami tidak peduli. Kekallah Kau, sebab tiada sekudus Kau. Mereka yang tidak puas pada air-Nya bukanlah ikan: mereka yang tidak punya roti untuk makanan sehari-hari akan merasa betapa lamanya detik-detik waktu berjalan.

Tidak ada barang mentah yang mengerti makna kemasakan; karena itu kini akan kuringkas kata-kataku! Selamat tinggal! Anakku, patahkan belenggu yang mengikatmu dan bebaskan dirimu! Berapa lama kau akan terikat pada perak dan emas? Apabila air laut kautuang ke dalam kendi, berapa teguk yang dapat ditampung? Paling-paling hanya cukup untuk minuman sehari..

 kendi itu, mata yang tak pernah kenyang itu, tak akan pernah penuh: ingatlah, kerang tidak akan berisi mutiara sebelum dirinya penuh. Dia yang meminjamkan jubahnya dengan rasa cinta akan bersih dari ketamakan dan kekurangan.

 Selamat datang, o Cinta yang memberi keberuntungan indah -- Kaulah tabib segala sakit kami, pemulih keangkuhan dan kesombongan, Filosof dan Dokter kami!

 Dengan Cinta tubuh tanah liat ini dapat terbang ke angkasa raya, mikraj: gunung menari dan tangkas geraknya--

Cinta menurunkan ilham kepada gunung Sinai, o Pencinta, karena itu gunung Sinai mabuk dan "Musa jatuh pingsan" Apabila aku mengikuti bibir yang sehaluan denganku, aku akan seperti suling, menazamkan semua yang dapat kunazamkan. Tetapi dia yang dipisahkan darinya akan membisu, walaupun tahu ratusan syair dan gurindam.

Apabila mawar pergi dan taman lenyap, kisah burung bulbul tak akan terdengar lagi olehmu.Kekasih ialah segala-galanya, dan pencinta ialah tabirnya;

Kekasih ialah hidup dan pencinta itu benda mati. Kalau Cinta tak mempedulikannya, jadilah dia burung tanpa sayap.

Bagaimana kesadaran ada di depan dan samping, jika Cahaya Kekasihku tidak ada di depan dan sampingku? Cinta ingin Dunia ini dijelmakan: jika cermin tak memantulkan bayangan, apa sebabnya?

Tahukah kau mengapa cermin jiwa tak memantulkan satu pun bayangan? Kerana karatnya tidak dibersihkan. O Sahabat, dengar kisah ini: hanya dalam Kebenaran sumsum keperiadaan roh kami terkandung. (Matsnawi-i Ma`nawi adalah karya agung sufi masyhur Jalaluddin Rumi 1207-1273)

Intepretsi
Seruling adalah lambang roh dan jiwa manusia yang terpisah dari asal-usul ketuhanannya, seperti seruling yang terpisah dari induknya batang bambu di hutan. Lagu merdu yang lahir daripadanya timbul dikarena kerinduannya yang mendalam untuk bersatu dengan asal-usul kerohaniannya.

Dalam cerita Gua sarang burung pallas baruni, mensyaratkan arti kerinduan lelaki yang ditinggal sang kekasih. Karena nafsunya ia melanggar pantangan, maka untuk bertemu ia harus merantau, dan belajar untuk membersihkan diri (tazkiah an-nafs) agar dapat kembali bertemu sang Kekasih.

 Maka suling bambu sebagai resprentatif syifa (obat) dengan nada-nada yang menjadi sahabat setiap kerinduan akan kekasih memuncak.

 Wallahu’alam.

 

  • view 231