KATARINA HULEN : DRAMA LOU BAO

KATARINA HULEN : DRAMA LOU BAO

Katarina hulen
Karya Katarina hulen Kategori Lainnya
dipublikasikan 16 Januari 2018
KATARINA HULEN : DRAMA LOU BAO

                                                                                 
(Musim kemarau panjang terjadi di desa Lewotolok, tepatnya di ujung pulau Lembata. Keadaan masyarakat setempat begitu sunyi memikirkan nasib mereka, alam yang dulunya hijau, sejuk dipandang mata sekarang menjadi gersang. Dengan ini, nenek Ola Kobu Ladopurab Langoluo selaku tuan tanah merasa terbebani melihat keadaan masyarakat terkadang membuatnya termenung sendiri memikirkan cara menghijaukan tanah Lewotolok. Tuan tanah nenek Ola mulai duduk termenung di sudut rumah)

Dadim                       : Ola...Ola mari kita makan, makanannya sudah saya siapkan. (Sambil duduk  menunggu sang suami di meja makan)

Ola                               : Iya saya segera ke sana. (Sambil melangkah masuk ke dalam rumah dengan    wajah yang resah)

Dadim                         : Suamiku, mengapa wajahmu begitu resah, apakah ada hal yang sedang kamu pikirkan?

Ola                               : Aku tidak apa-apa, tidak ada yang aku pikirkan. (Sambil meneguk air putih)

Dadim                         : Ola kamu jangan menipuku. Dari raut wajahmu terlihat jelas sekali, ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku.

Ola                              : (Sambil menghela napas) Begini istriku, saya sebenarnya sedang memikirkan keadaan alam dan nasib para warga.

Dadim                         : Saya juga ingin memperbincangkan hal ini denganmu. Jadi sekarang tolong pikirkan dengan baik dan segera bertindak demi nasib kita semua.

Ola                              : Iya istriku. Saya juga sedang berpikir alangkah baiknya untuk melakukan ritual Lou Bao.

Dadim                       : Ritual Lou Bao? Untuk apa ritual ini?

Ola                              : Begini istriku, ritual ini dilakukan untuk memberikan sesajian bagi para leluhur nenek moyang kita dan melakukan ritual di tempat-tempat yang sakral.

Dadim                         : Saya sangat setuju dengan pendapatmu suamiku. Sekarang bagaimana rencana selanjutnya?

Ola                              : Ini sudah malam. Jadi, biar besok pagi saja saya mengumpulkan tua-tua adat dari tiap suku dan menyampaikan niat saya ini.

(Sang fajar mulai menyingsing, nenek Ola Kobu mulai mengumpulkan tua-tua adat dari tiap suku untuk berkumpul melakukan pertemuan guna mendapatkan kesepakatan bersama)

Ola                              : Begini ama mio wekekae, melihat keadaan di kampung kita yang memprihatinkan ini maka kita harus segera bertindak. Alangkah baiknya kita segera melakukan ritual Lou Bao.

Tua Adat                  : Ritual Lou Bao? Bagaimana caranya ama?

Ola                              : Pertama-tama kita harus mengumpulkan semua warga dari yang muda hingga tua yakni laki-laki. Selanjutnya kita menyiapkan semua perlengkapan-perlengkapan Lou Bao berupa keru baki, tapo karat, braha dan wayak wokoten. Setelah ini, kita mulai melakukan ritual Lou Bao dari lango beruin kiwan lewo, pekuburan para leluhur, dan tempat-tempat sakral sampai pada tempat penutupan di Wokot Tobi Nowingen.

Tua adat          : Iya ama, kami setuju. Kita harus melakukan ritual Lou Bao.

(Alam kembali hijau, para warga merasa leg berkat ritual Lou Bao. Setelah sekian lama para warga menikmati hijaunya tanah lembata khususnya Lewotolok, kini hati mereka dilanda kepiluan, duka yang membenam tak terukur dalamnya. Nenek Ola selaku tuan tanah meninggal dunia. Dengan ini, para warga dari turun-temurun yakin dan percaya bahwa yang dapat melakukan ritual Lou Bao ini tidak sembarangan orang, hanya keturunan suku Ladopurab Langoluo dari nenek Ola Kobu. Setelah sekian lama kematian nenek Ola, musim yang tak diinginkan kembali menusuk, menyayat hati para warga. Mereka begitu resah memikirkan hasil perkebunan. Anak nenek Ola bernama bapak Tomas Tulit, sekarang ia yang dipercaya untuk melanjutkan ritual Lou Bao ini. Suatu pagi kebetulan sekali bapak Tomas berpapasan dengan bapak Raya saling menyapa dan berbincang-bincang)

Raya                            : Ama Tomas, bagaimana pendapatmu melihat keadaan tanah kelahiran kita ini?

Tomas                        : Iya ama Raya, saya juga sedang memikirkannya.

Raya                            : Lebih baik kita mulai melakukan ritual Lou Bao saja atau bagaimana menurutmu?

Tomas                         : Iya ama. usulanmu sangat bagus, saya sepakat dan berpikir untuk mengumpulkan   para tua adat.

Raya                            : Baiklah ama, lebih cepat dilakukan lebih baik.

(Keduanya sambil berpamitan pulang. Bapak Tomas mulai mengumpulkan tua adat untuk melakukan pertemuan guna mendapatkan suatu kesepakatan bersama. Setelah mendapat kesepakatan para tua adat menyampaikan berita dari tuan tanah tersebut untuk melakukan ritual Lou Bao. Kepada warga yakni laki-laki dari muda hingga tua)

Tomas                      : Ketika sang fajar mulai menyingsing di ufuk Timur kita semua mulai beranjak mendaki gunung menuju Kiwan Lewo kampung lama untuk melakukan Lou Bao.

Para Warga          : Iya ama, kami siap.

Tomas                      : Akhirnya kita sudah sampai. Sekarang ayo kita bergegas menyiapkan perlengkapan-perlengkapan kita. Berupa keru baki, tapo karat, braha, dan wayak wokoten.

Pati                              : Ama Tomas, setelah menyiapkan perlengkapan Lou Bao ini, apakah kita langsung melanjutkan perjalanan?

Tomas                         : Tidak ama. Kita semua harus meletakkan perlengkapn-perlengkapan Lou Bao di Namang Ladopurab kiwan lewo kampung lama. Dan kita semua beranjak turun gunung kembali ke rumah masing-masing dan ritualnya dilanjutkan besok pagi.

Para Warga            : Baiklah ama.

(Ayam mulai berkokok pertanda hari mulai pagi para warga tak kenal lelah kembali melakukan pendakian ke kiwan lewo. Setelah sampai mereka semua segera mengambil perlengkapan masing-masing di Namang Ladopurab. Mereka mulai menyusuri hutan belantara melakukan ritual Lou Bao. Dalam melakukan ritual ini, ada tempat-tempat tertentu yang sakral dahulu kala, leluhur nenek moyang biasa tinggal menetap tapi sekarang tidak ada kehidupan lagi. Maka dari itu ritualnya diiringi dengan syair tangisan)

Pati                               : Ama Tomas, bukankah ini Napar Wutun?

Tomas                          : Iya ama. Kita sudah sampai di Napar Wutun dan disinilah tempat kita akan melakukan ritual yang akan diiringi dengan tangisan. (sambil memakai sepotong kain kecil berwarnah hitam sebagai penutup kepala, pengganti awan mendung dan di bahunya menggunakan tas kecil yang dianyam dari daun lontar)

Para Warga           : Kami siap ama. (sambil menutup kepala mereka dengan daun pisang ataupun dedaunan pohon lain sebagai pengganti payung dan mulai menyerukan syair tangisan)

Tomas                       : o ina…….o ama

Para Warga           : Teti timu pan dosi-teti timu pan dosi

                                     Lali warat wue geler-lali warat wue geler

                                     Ama Belang Baga Ola aman

                                    Ina wato wolong gire

                                Mang uran tun tutu mang wai bang lowai

                                 Tun mabe toreng leim

                                Bang mabe tiwang limam

                               Pao nuba pulo kae

                             Boe baran lema kae

                            Nubun pulo tani mayang baran lema

                           Utan toeng nubun pulo tegenetang

                          Baran lema tegeneluk

                        Lewo kamen bong-bong

                      Tana kamen mabo-mabo

                       Lewo boke nepun tobo

                     Tana boke naran pae

                     Ole ina, ole ama

(Syair ini diulang-ulang sampai tujuh kali. Selesai ritual di Napar Wutun, para warga kembali ke rumah adat Kiwan Lewo. Mereka kembali meletakkan perlengkapan Lou Bao di Namang Ladopurab dan semua warga beranjak turun gunung kembali ke rumahmasing-masing. Pagi hari para warga mulai kembali mendaki gunung menuju ke kampung lama dan masing-masing mereka mengambil perlengkapan ritual di Namang Ladopurab)

Tomas                          : Mari ama mio wekekae, kita sama-sama ke puncak Ile Lewotolok untuk melanjutkan Lou Bao. Dan ata winai utusan dari suku Langoday Muday Putuk harus membawa sebuah liwang yang berisi perlengkapan Lou Bao dan seekor anak ayam.

Suban                          : Semuanya sudah saya persiapkan ama. (sambil menunjukan perlengkapan yang sudah disiapkan)

Tomas                       : Baiklah kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan.

(Setelah sampai di sana mereka mulai melakukan ritualnya dan orang utusan dari suku Langoday Muday Putuk mulai memotong seekor anak ayam dan dagingnya dibagi menjadi tuju bagian untuk diisi ke dalam wayak tempat siri pinang yang sudah disiapkan ada tuju buah. Ini berupa sesajian yang diberikan kepada para leluhur nenek moyang dan di tempat ini juga diiringi dengan syair tangisan. Setelah selesaimereka kembali ke Kiwan Lewo rumah adat kampung lama )

Loli                              : Ayo ama-ama, kita dari suku Ladopurab Langoaran kita harus melakukan rogo kowot goleng lewo.

(Sambil menyiapkan perlengkapan untuk membuat pagar keliling rumah adat di kampung lama. Setelah melakukan ritual di puncak gunung dan membuat pagar keliling rumah adat. Seperti sebelumnya mereka kembali meletakkan perlengkapan Lou Bao di Namang Ladopurab dan bergegas pulang ke rumah masing-masing)

 

Kepala Desa      : Kepada para ketua dusun dari keempat dusun Abalodan, Atutukan, Bukit Tinggi, dan Tadunuba harus mengutus beberapa perempuan untuk menyiapkan makanan bagi mereka yang melakukan ritual Lou Bao.

Ketua Dusun     : Apakah makanannya diantar ke rumah adat kampung lama atau bagaimana Iama?

Kepala Desa      : Begini ama, bagi yang bertugas membawa makanan mereka menunggu di Ata Buto. Karena selesai ritual di Ata Buto para warga dijamu dengan makanan alakadar yang sudah disiapkan.

Ketua Dusun   : Baiklah ama, kalau begitu kami setuju.

(Lou Bao di Ata Buto dengan peket ehang mengikat seekor anak ayam di atas pohon dan dibiarkan tergantung hingga mati sendiri dan mulai diiringi syair tangisan. Selesai melakukan ritual para warga mulai menyantap makanan yang dihidangkan. Selesai makan para warga terus melanjutkan ritual di tempat-tempat yang sudah ditentukan dari turun-temurun dan pada tempat yang dipercaya bahwa dulunya ada kehidupan maka harus dilakukan dengan peket ehang dan syair tangisan. Dari Ata Buto dilanjutkan ke Namang Belek juga diiringi dengan syair tangisan, dilanjutkan ke Wai Sabu sumur adat dari turun-temurun nenek moyang, terus dilanjutkan ke Moting Belek di kampung sebelah tepatnya di desa Waowala. Sampai di sana semua perlengkapan Lou Bao disimpan di Moting Belek dan mereka semua pulang ke rumah masing-masing)

Masi                            : Suamiku, bagaimana perjalanan sampai saat ini, apakah ada kendala? (sambil menyodorkan secangkir kopi kepada suaminya)

Raya                            : Tidak ada kendala istriku, kami jalan dengan restu lewotana, lera wulan, suku ekan. Jadi semuanya berjalan lancar (sambil meneguk kopi buatan istrinya)

Masi                            : Syukur puji Tuhan. Kami di rumahpun selalu berdoa agar ritual Lou Bao ini diberkati lewotana, suku ekan, dan lera wulan.

(Sang fajar mulai terbit di ufuk timur, seperti hari-hari sebelumnya para warga tetap semangat melanjutkan perjalanan ke Moting Belek. Mereka datang dengan ata winai orang yang diutus dari suku Blaonmaking dan mereka mulai melakukan ritual dengan peket ehang, diikuti dengan syair tangisan dan Pati mulai membagi-bagikan sesajian menjadi empat bagian. Dengan ini, para wargapun dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama menuju ke tempat Muno Wutuken, kelompok kedua ke Kalabahi, kelompok ketiga ke Duliwoho dan yang terakhir ke Roko Onen)

Tomas                          : Ama-ama, kaka ari wekekae, kita dibagi menjadi empat kelompok bukan berarti kita terpisah kita tetap satu dan kita memiliki satu tujuan, dengan turunnya hujan yang menghijaukan tanah kita. Jadi setelah selesai ritual di tempat-tempat yang sudah ditentukan kita semua bertemu di Wokot Tobi Nowingen.

Para Warga          : Iya ama.

(sambil beranjak menuju ke tempat yang sudah dibagikan. Setelah selesai melakukan ritual di tempat-tempat yang sudah dibagikan mereka melanjutkan perjalanan ke Wokot Tobi Nowingen. Dan di tempat inilah berakhirnya ritual Lou Bao)

Kepala Desa      : (Pergi ke rumah ketua dusun Tadunuba) Ama harus mengutus beberapa perempuan untuk menyiapkan makanan dan segera mengantarnya ke Moting Kalabahi untuk menunggu para warga Lou Bao. Karena, selesai melakukan ritual walaupun hanya makanan alakadarnya saja tetapi kita harus menjamu mereka.

Ketua Dusun     : Iya ama, memang harus begitu kita semua warga Lewotolok harus bekerja sama. Kami siap melaksanakan tugas ini.

(Di tempat berakhirnya ritual Lou Bao, sang tuan tanah ama Tomas mulai angkat bicara)

Tomas               : Ama-ama, kaka ari wekekae, mari kita bersama-sama ke Moting Kalabahi.

Pati                     : Untuk apa kita kembali ke sana lagi ama?

Tomas                : Begini ama, kepala desa memberikan tugas kepada dusun Tadunuba untuk menyiapkan makanan alakadarnya untuk kita. Jadi kita semua harus bergegas ke sana.

Pati                       : Iya ama, kalau begitu mari kita semua segera ke sana.

(Mereka mulai menikmati makanan yang sudah disiapkan, sambil berbincang-bincang)

Tomas             : Ama Suban, ritualnya sudah selesai tetapi ingat tugas terakhir besok pagi harus dilaksanakan.    

Pati                  : Ama Suban, untuk apa kamu kembali ke rumah adat kampung lama lagi?

Suban            : Saya harus menyimpan liwang yang berisi sesajian ritual di rumah adat. Karena yang dapat melakukan hanya kami dari suku Langoday Muday Putuk. Maka dari itu sayalah yang harus menyelesaikan tugas ini. Sebab dari ritual awal saya yang bertugas memengan liwang sesajian.

Tomas               : Seperti itu ama. Dan para warga sekelian ingatlah besok setelah liwang sesajian disimpan di rumah adat, kita semua tidak boleh bekerja kebun selama empat hari. Kita dapat bekerja lagi setelah melewati hari yang ditentukan.

Para Warga      : Iya ama, akan kami laksanakan.

(Para warga mulai berpamitan pulang, udara dingin mulai menusuk kulit, angin berhembus sepoi-sepoi. Tanah Lewotolok siap menyambut datangnya hujan yang menghijaukan alam. Sorak-sorai para warga menyambut turunnya hujan dengan sangat bahagia)

 

 

 

 

 

 

 

  • view 61