Cerpen Katarina Hulen : Lou Bao

Cerpen Katarina Hulen : Lou Bao

Katarina hulen
Karya Katarina hulen Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Desember 2017
Cerpen Katarina Hulen : Lou Bao

 

Musim kemarau panjang terjadi di desa Lewotolok tepatnya di ujung pulau Lembata.   Biasanya dari pagi hingga siang hari terdengar suara-suara para warga yang tiada riuh redahnya.     Pagi hari musim kemarau, sepi yang terasa menyimpan ketidakpastian membuat para warga begitu resah. Tanah begitu kering, pepohonan tinggal rerantingan dan burung-burungpun berterbangan mencari pohon yang rindang untuk berteduh.  Mata pencaharian utama para warga di desa Lewotolok dengan bercocok tanam. Namun seperti tersambar kilat-kilat api dari lingakaran matahari, menjilat, menghanguskan semua mimpi, angan, dan harapan. Kini alam yang dulunya hijau seakan-akan dibakar terik matahari. Melihat keadaan memprihatinkan ini, tuan tanah suku Ladopurab Langoluo nenek Ola Kobu merasa terbebani memikirkan nasib warga.

Di tengah keremangan malam nenek Ola Kobu, duduk termenung sendiri memikirkan bagaimana cara mengembalikan keceriaan dan alam yang hijau lagi. Tak lama kemudian, terdengar suara dari dalam rumah

“Ola…Ola mari kita makan makanannya sudah saya siapkan,” kata istrinya.

“Iya saya segera kesana,” kata suaminya.

“Ola mengapa wajahmu begitu resah?” tanya istrinya

“Aku memikirkan nasib warga,” kata suaminya.

 Ola dan isterinya pun mulai makan sambil berbincang-bincang. Setelah makan, nenek Ola kembali duduk menyendiri sambil berpikir dan seketika itu terlintas di benaknya, “Alangkah baiknya melakukan ritual [1]Lou Bao dengan memberikan sesajian untuk para leluhur nenek moyang.” Nenek Ola pun merasa agak lega dan ingin menyampaikan niatnya kepada tua-tua adat dari tiap suku.

Pagi hari, nenek Ola Kobu selaku tuan tanah Lewotolok, mulai mengumpulkan tua-tua adat dari tiap suku untuk melakukan pertemuan menyampaikan niatnya, guna mendapatkan kesepakatan bersama. Nenek Ola Kobu menyampaikan niatnya dan para tua-tua adat suku langsung menyetujui. Setelah mendapat sebuah kesepakatan maka tua-tua adat suku pergi menyampaikan berita kepada para warga dari yang tua hingga muda yakni laki-laki untuk melakukan ritual Lou Bao yang dimulai dari [2]lango beruin kiwan lewo. Ritual ini dilakukan di tempat-tempat yang dipercaya warga tempat sakral. Para warga mulai melakukan ritual Lou Bao ini, ritual Lou Bao dilakukan apabila terjadi musim kemarau yang panjang. Para wargapun merasa lega karena dengan Lou Bao ini dapat mengembalikan alam yang hijau dan mereka dapat bekerja kebun lagi.

Namun sekarang nenek Ola Kobu sudah meninggal. Para warga dari turun-temurun yakin dan percaya bahwa yang dapat melakukan ritual Lou Bao ini tidak sembarangan orang, hanya dapat dilakukan oleh keturunan suku Ladopurab Langoluo dari nenek Ola Kobu.

Setelah sekian lama kematian nenek Ola Kobu, musim yang tak diinginkan kembali menusuk, menyayat hati masyarakat di desa Lewotolok. Masyarakat begitu resah memikirkan hasil perkebunan. Anak nenek Ola bernama bapak Tomas Tulit. Sekarang ia yang dipercaya untuk melanjutkan ritual Lou Bao ini. Bapak Tomas Tulit pun mulai resah dengan keadaan [3]lewo tana Lewotolok.

Suatu pagi kebetulan sekali bapak Tomas berpapasan dengan bapak Raya di perjalanan. Bapak Raya langsung menyapa bapak Tomas, sambil mengajaknya berbincang-bincang.

[4]Ama Tomas bagaimana pendapat anda melihat keadaan tanah kelahiran kita ini?” tanya bapak Raya.

“Iya ama Raya saya juga sedang memikirkannya,” kata bapak Tomas.

“Lebih baik kita mulai melakukan ritual Lou Bao,” kata bapak Raya.

“Iya ama usulanmu sangat bagus dan saya juga berpikir untuk mengumpulkan para tua adat suku”.

“Iya ama, lebih cepat dilakukan lebih baik ama,” kata bapak Raya.

Setelah perbincangan usai ama Tomas dan ama Raya berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Bapak Tomas pun mulai mengumpulkan para tua-tua adat suku untuk melakukan pertemuan guna mendapatkan suatu kesepakatan bersama. Setelah mendapat kesepakatan para tua adat suku menyampaikan berita dari tuan tanah Lewotolok kepada para warga dari yang tua hingga muda yakni laki-laki untuk melakukan ritual Lou Bao.

Ketika sang fajar mulai menyingsing di ufuk timur, semua warga dari yang tua hingga muda yakni laki-laki mulai melakukan perjalanan mendaki gunung menuju ke “kiwan lewo” kampung lama untuk melakukan Lou Bao. Lou bao ini dipimpin oleh bapak Tomas Tulit Ladopurab. Dengan semangat para warga terus berjalan hingga sampai di Kiwan Lewo. Sebelum memulai ritual Lou Bao, para warga bergegas menyiapkan perlengkapan-perlengkapan berupa, [5]keru baki, [6]tapo karat, [7]braha dan [8]wayak wokoten. Setelah disiapkan semua perlengkapan dikumpulkan dan diletakkan di Namang Kiwan Lewo kampung lama. Setelah meletakkan keru baki, tapo karat, braha dan wayak wokoten para warga beranjak turun gunung kembali ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya, ketika matahari pagi mulai menyingsing di ufuk timur, tanpa mengenal lelah semua warga kembali melakukan pendakian ke Kiwan Lewo kampung lama. Setelah sampai mereka semua segera mengambil perlengkapan-perlengkapan masing-masing di Namang ladopurap. Mereka mulai menyusurui hutan belantara melakukan seremonial lou bao. Dalam melakukan ritual Lou Bao ini, ada tempat-tempat tertentu yang sakral dahulu kala nenek moyang (leluhur) biasa tinggal menetap. Maka ritual Lou Bao dilakukan dengan iringan syair tangisan.

Tempat pertama ritual Lou Bao di Napar Wutun. Ditempat ini di iringi dengan syair tangisan. Syair ini dipimpin oleh bapak Tomas Tulit ladopurab. Perlengkapan yang dipakai bapak Tomas berupa, [9]sita warna mitemen untuk menutup kepalanya sebagai pengganti [10]kowa mitemen. Dibahu Tomas menggunakan sebuah [11]sope kutulen. Sedangkan para warga masyarakat yang lain meggunakan daun pisang atau dedaunan pohon yang lain untuk menutup kepala mereka sebagai pengganti payung. Bapak Tomas mulai memimpin syair tangisan dengan menyerukan

“o ina…….o ama,” semua wargapun mulai melantunkan syair tangisan

            Teti timu pan dosi-teti timu pan dosi

            Lali warat wue geler-lali warat wue geler

            Ama Belang Baga Ola aman

            Ina wato wolong gire

            Mang uran tun tutu mang wai bang lowai

            Tun mabe toreng leim

            Bang mabe tiwang limam

            Pao nuba pulo kae

            Boe baran lema kae

            Nubun pulo tani mayang baran lema

            Utan toeng nubun pulo tegenetang

            Baran lema tegeneluk

            Lewo kamen bong-bong

            Tana kamen mabo-mabo

            Lewo boke nepun tobo

            Tana boke naran pae

            Ole ina, ole ama

Syair ini diulang-ulang sampai tujuh kali.

Syair ini bertujuan untuk memohon pada para leluhur nenek moyang agar diberikan hujan yang melimpah supaya hasil kebun yang dipanen nanti hasilnya bisa memuaskan. Setelah selesai ritual Lou Bao di Napar Wutun, semua orang kembali ke rumah adat kiwan lewo. Mereka kembali meletakkan perlengkapan Lou Bao berupa, keru baki, tapo karat, braha, dan wokot wayaken di Namang Ladopurab. Mereka semua beranjak turun gunung kembali ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya seperti hari sebelumnya, ketika sang fajar mulai terbit di ufuk timur para warga mulai melakukan pendakian ke Kiwan Lewo. Seperti biasanya mereka kembali mengambil perlengkapan Lou Bao masing-masing di Namang Ladopurab. Para warga melanjutkan Lou Bao dengan mendaki ke puncak [12]ile Lewotolok. Setelah sampai [13]ata winai dari suku Langoday yang harus membawa sebuah [14]liwang. Di dalam nyiru diisi dengan perlengkapan-perlengkapan ritual seremoni Lou Bao berupa, keru baki, tapo karat, braha, dan wayak wokoten. Dia juga yang memotong seekor anak ayam dan daging dari ayam tersebut dibagi menjadi tujuh bagian untuk diisi ke dalam wayak yang sudah disediakan ada tujuh buah untuk diberikan kepada para leluhur nenek moyang sebagai sesajian.

Di tempat ini juga diiringi syair tangisan dengan memakai perlengkapan yang sama seperti sebelumnya. Bapak Tomas mulai menyerukan “ole ina, ole ama dan semua warga mulai melantunkan syair tangisan itu kembali.

Selesai melakukan ritual ini, semua orang kembali ke lango beruin kiwan lewo rumah adat kampung lama. Dan dari suku Ladopurab Langoaran mulai melakukan rogo kowot goleng lewo. Selesai melakukan ritual ini mereka kembali menyimpan keru baki, tapo karat, braha, wokot wayaken di Namang ladopurab dan mereka turun gunung kembali ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya seperti hari-hari sebelumnya para warga tanpa mengenal lelah, mereka melakukan pendakian ke Kiwan Lewo kampung lama. Ketika sampai mereka langsung mengambil perlengkapan-perlengkapan Lou Bao dan mulai melakukan ritual seremoni Lou Bao. Mereka juga melakukan ritual seremoni di pekuburan para leluhur nenek moyang. Seremoni di pekuburan ini harus dilakukan oleh keluarga sendiri. Dengan cara mencampurkan keru baki, dan braha, kedalam tapo karat air kelapa dan disiramkan di atas kubur. Sedangkan bagi mereka yang lain melanjutkan perjalanan melakukan Lou Bao dari Kiwan Lewo menuju Wulun Ebaken dilanjutkan ke Ata Buto.

Sementara dari pihak pemerintahan selaku bapak kepala desa memberikan perintah kepada ketua dusun dari keempat dusun, Abalodan, Atutukan, Bukit Tinggi dan Tadunuba.

“Kalian dari keempat dusun ini harus mengutus beberapa orang perempuan untuk menyiapkan makanan bagi mereka yang melakukan ritual lou bao,” kata bapak kepala desa.

“Bapak kepala desa, apakah makanannya diantar ke Kiwan Lewo atau bagimana?” tanya salah seorang bapak dusun.

“Begini bagi yang bertugas membawa makanan mereka menunggu di Ata Buto saja untuk diberikan kepada para warga yang melakukan ritual Lou Bao,” kata bapak kepala desa.

“Iya ama kalau begitu kami setuju,” kata ketua dusun dari keempat dusun.

Para utusan dari tiap dusun menyiapkan, ketupat, siri pinang, rokok dan tak lupa minuman khas lamaholot tuak, untuk menjamu para warga.

Lou bao ini, dilanjutkan dengan [15]peket ehang mengikat seekor anak ayam di atas pohon dibiarkan tergantung sampai kedua kakinya lurus pertanda sudah mati dan diiringi dengan syair tangisan. Seperti pada ritual sebelumnya, bapak Tomas mulai menyerukan “ole ina, ole ama dan semua warga mulai melantunkan syair tangisan kembali.

Setelah selesai melakukan ritual seremoni Lou Bao di Ata Buto, mereka melanjutkan perjalanan Lou Bao di Namang Belek. Tempat ini berada tepat di pertengahan kampung desa Lewotolok. Ritual Lou Bao dilakukan di bawah pohon besar. Mereka mulai melakukan ritual Lou Bao dengan peket ehang mengikat seekor anak ayam di atas pohon dibiarkan tergantung hingga mati sendiri dan mulai diiringi dengan syair tangisan yang dipimpin oleh bapak Tomas Tulit Ladopurab seperti yang dilantunkan sebelumnya.

            Selesai ritual Lou Bao di tempat ini, bagi perempuan yang sudah diutus dari tiap-tiap dusun tak jemu-jemu kembali menyiapkan makanan untuk para warga masyarakat yang mengikut ritual Lou Bao ini. Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan lagi melewati jalan raya dalam perkampungan. Didekat jalan raya ada salah satu sumur [16]wai sabu, sumur adat dari turun-temurun nenek moyang. Mereka mulai melakukan ritual seremoni Lou Bao dengan menutup sumur menggunakan daun kelapa.

            Tanpa mengenal lelah, terik panasnya sang raja siang para warga tetap semangat melakukan ritual ini. Ritual seremoni Lou Bao dilanjutkan ke Moting Belek di kampung sebelah tepatnya di desa Waowala. Sampai disana semua perlengkapan Lou Bao disimpan di Moting Belek dan mereka semua pulang ke rumah masing-masing.

“Raya bagaimana perjalanan sampai saat ini apakah ada kendala?” tanya istri bapak Raya, sambil menyodorkan secangkir kopi. 

“Tidak ada Masi, kami jalan melakukan ritual ini selalu diberkati [17]lewotana lera wulan suku ekan,”  kata suaminya sambil meneguk kopi buatan isterinya.

“Iya suamiku kami di rumahpun selalu berdoa, agar ritual Lou Bao ini diberkati lewotana suku ekan lera wulan.

            Keesokan harinya, seperti biasanya ketika sang fajar mulai menyingsing di ufuk timur para warga mulai melanjutkan perjalanan menuju ke Moting Belek untuk melakukan ritual Lou Bao. Mereka datang dengan ata winai lain dari suku Blaonmaking.  

Mereka mulai melakukan ritual Lou Bao dengan peket ehang mengikat seekor anak ayam di atas pohon dibiarkan tergantung hingga mati sendiri dan mereka kembali melantunkan syair tangisan yang dipimpin oleh bapak Tomas Tulit ladopurab.

            Kemudian sala satu warga mulai membagi-bagikan sesajian menjadi empat bagian. Dengan ini para warga juga dibagi dalam empat kelompok. Kelompok pertama berjalan menuju ke tempat Muno Wutuken, kelompok kedua ke Kalabahi, kelompok ketiga ke Duliwoho dan yang terakhir ke Roko Onen. Setelah melakukan pembagian ini, bapak Tomas selaku tuan tana mulai angkat bicara,

[18]Ama-ama, kaka ari weke kae, kita dibagi menjadi empat kelompok ini bukan berarti kita terpisahkan kita tetap satu dan kita memiliki satu tujuan dengan ritual ini tana kita akan basah oleh air hujan dan akan menghijaukan tanah kita, tanah Lewotolok. Maka setelah melakukan ritual Lou Bao di tempat-tempat yang sudah dibagikan, kita semua bertemu di tempat Lou Bao terakhir di Wokot Tobi Nowingen,” kata bapak Tomas.

“Iya ama kalau begitu mari kita semua harus beranjak dari tempat ini sekarang juga,” kata para warga.

Kelompok Kalabahi mulai melanjutkan perjalanan dan melakukan ritual seremoni Lou Bao di Duli Puhuren dengan peket ehang mengikat seekor anak ayam di atas pohon dibiarkan tergantung hingga mati sendiri dan mulai diiringi dengan tangisan yang dipimpin oleh bapak Tomas Tulit ladopurab.  

Ole ina , ole ama,” kata Tomas. Syairpun kembali didendangkan oleh semua warga.

Setelah selesai melakukan ritual seremoni Lou Bao di tempat ini, kelompok dari Kalabahi dan kelompok Muno Wutuken bertemu disalah satu tempat di Parek Walang. Setelah bertemu mereka bersama-sama melanjutkan perjalanan ke Kemerek Onen dan menuju ke Puk Wutun. Mereka istirahat sejenak untuk makan bekal yang sudah disiapkan dari rumah masing-masing. Setelah selesai makan, mereka semua bergegas menyiapkan perlengkapan-perlengkapan dan melanjutkan perjalanan Lou Bao samapi di Wakat Teren dalam hutan bakau pinggir pantai.

            Ritual seremoni Lou Bao dilanjutkan ke Wokal Guru Mada. Pada zaman dahulu ada nenek moyang (leluhur) yang tinggal di tempat ini. Namun, saat nenek moyang meninggal tidak ada lagi manusia yang tinggal menetap di tempat ini. Di tempat ini, ada tiga bagian, Elut Gopak, Namang, dan Lewo. Mereka mulai melakukan ritual Lou Bao dalam seremoninya ada peket ehang mengikat seekor anak ayam di atas pohon dan dibiarkan tergantung sampai kedua kakinya lurus pertanda sudah mati. Mulai diiringi dengan syair tangisan. Bapak Tomas mulai memimpin syair tangisan dengan menyeruhkan ole ina, ole ama dan semua warga kembali melantunkan syair tangisan.  

Setelah selesai  seremoni di tempat ini, mereka melanjutkan perjalanan ke Rehek Belahaken. Di Rehek Belahaken ini, ada sebuah kubur leluhur nenek moyang yang sangat panjang. Mereka mulai melakukan ritual seremoni dengan menutup kubur daun kelapa.

            Selesai Lou Bao di tempat ini, mereka melanjutkan perjalanan ke Wokot Tobi Nowingen. Dan disinilah tempat memberikan bertemunya keempat kelompok dan disini juga berakhirnya ritual seremoni Lou Bao. Pihak pemerintahan perintah kepada ketua dusun tadunuba untuk mengutus beberapa orang perempuan pergi menunggu di Moting Kalabahi untuk menyiapkan makanan menunggu para warga yang melakukan ritual seremoni Lou Bao ini.

 Lewo puken tana alapen, sang tuan tana suku Ladopurab Langoluo mulai angkat bicara,

Ama-ama, kaka ari wekekae, mari kita bersama-sama menuju ke Moting Kalabahi.”

“Ama Tomas untuk apa kita kembali lagi ke sana?” tanya salah seorang warga.

“Begini ama bapak kepala desa memberikan tugas kepada dusun tadunuba untuk menyiapkan makanan ala kadarnya saja jadi kita semua harus kesana bersama-sama,” kata bapak Tomas.

“Iya ama kalau begitu mari kita segera kesana bersama-sama,” kata salah seorang warga.   

Setelah selesai makan semua warga bergegas kembali ke rumah masing-masing.

            Bagi ata winai orang dari suku Langoday Muday Putuk yang bertugas membawa liwang berisi sesajian yang digunakan untuk ritual seremoni dari awal Lou Bao ini, keesokan harinya ketika matahari pagi mulai terbit di ufuk timur sendiri yang harus membawa dan menyimpannya di [19]kiwan lewo koker ilhen.

 Setelah menyimpan liwang ini, maka tana murun semua warga masyarakat di desa Lewotolok tidak boleh bekerja kebun selama empat hari. Masyarakat dapat bekerja kebun kembali setelah melewati hari yang sudah ditetapkan. Malam begitu dingin, rintik gerimis mulai menyapa tanah Lewotolok. Kilat-kilat yang menantang  ganas di pusara langit. Semua warga tersenyum bahagia, akhirnya desa kita kembali merasakan kesejukan dengan turun hujan. Inilah warisan budaya adat lamaholot di desa Lewotolok, kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata selalu dijaga kesakralannya. Dan budaya ritual Lou Bao yang diyakini dan dipercaya dari turun-temurun nenek moyang sampai saat ini.

[1] Lou Bao: Ritual meminta air hujan

[2] Lango beruin kiwan lewo: rumah adat kampung lama

[3] Lewo tana: kampung halaman

[4] Ama: sebutan untuk laki-laki

[5] Keru baki: sala satu jenis rumput yang biasa digunakan dalam ritual lou bao

[6] Tapo karat: kelapa muda yang belum ada isinya

[7] Braha: gumpalan-gumpalan kecil yang dibentuk dari kapas

[8] Wayak wokoten: tempat siri pinang untuk para leluhur

[9] Sita warna mitemen: sepotong kain berwarnah hitam

[10] Kowa mitemen: awan mendung

[11] Sope kutulen: tas kecil yang dianyam dari daun lontar

[12] Ile: gunung

[13] Ata winai: orang

[14] Liwang: alat rumah tangga, berbentuk bundar, dibuat dari daun lontar yang dianyam

[15] Peket ehang: mengikat

[16] Wai : air sumur

[17] Lewotana suku ekan lera wulan: sang maha pencipta dan leluhur

[18] Ama-ama, kaka ari wekekae: bapak-bapak, kakak-adik semua

[19] Kiwan lewo koker ilhen: rumah adat kampung lama

  • view 225