Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 24 Januari 2018   12:21 WIB
NASKAH DRAMA KARTINI PRATIN : KISAH BATU SI MENDANG

KISAH BATU SI MENDANG DI SULAMU
(Pada suatu sore, suasana pesisir di perkampungan Desa Sulamu yang ramah dan tenang serta di hiasi oleh cahaya keemasan dari matahari yang condong mendekati bukit Barate dan mewarnai lautan yang bergerak surut. Sebuah keluarga kecil pergi memanen rumput laut yang mereka ikat dari beberapa bulan lalu. dengan hatri yang berbinar karena hasil rumput laut mereka mengisyaratkan bahwa mereka siap untuk di panen. Dengan nada yang penuh kasih sayang sang suami meminta kepada istrinya untuk memanen rumput laut bersama).
Mbo Summang : Ma, sepertinya benih yang kita ikat pada bulan lalu menampakkan hasil yang baik. Sehingga aku mohon kita menyelam bersama untuk panen karena lahan sebesar ini aku tak bias panen sendirian.
Raminung : ( Tersenyum dan hati riang ), Iya.
(Dengan tangan kasih yang penuh iba, Ibu Raminung mengusap manja rambut Mendang dan mengatakan agar ia tidak rewel kala ditinggal Ibu dan Ayah untuk memanen).
Raminung : Nak..Ma ingin menyelam bersama Uwwa untuk panen rumput laut, jadi jangan nangis kalau sendirian diatas perahu.
Mendang : ( Hanya mengangguk ).
(Waktu terus bergulir, cahaya matahari pun sudah hampir redup karena dihadang oleh bukit Barate yang menjulang dibagian barat perkampungan Sulamu, kedua orang tua Mendang tak kunjung naik keatas perahu. Dengan nada yang lirih dan menembus redupnya cahaya, Mendang memangil kedua orangtuanya untuk segera naik karena hari sudah mulai malam).
Mendang : Ma…Uwwa…hari sudah malam, ayo kita pulang, Mendang takut sendirian.
(Berulangkali mendang berseru kepada kedua orangtuanya, namun seruannya tak dihiraukan oleh kedua orang tuanya. Mendang menangis sekuat-kuatnya karena rasa takut yang menghampirinya. Kegembiraan yang menjiwai kedua orang tuanya atas hasil panen, mereka tak menghiraukan tangisan Mendang. Setelah sampai di rumah, suara tangisan Mendang semakin lantang. Ibu Raminung merasa iba dan bersalah kepada Mendang sehingga dengan nada yang lembut ia meminta maaf dan mencoba untuk mengajak anaknya agar diam).
Raminung : Nak..Ma minta maaf, tadi Ma tinggalkan kau sendirian. Nanti besok Mendang minta apa pasti Ma akan berikan.

(Mendang menangis semakin lantang, kedua orang tuanya semakin panik dan takut. Dengan suara gemetar atas rasa takut yang melintasi di pikiran, Mbo Summang meminta kepada istrinya untuk memanggil dukun kampung yang rumahnya tak jauh dari rumah mereka).
Mbo Summang : Ma…coba panggil Mbo Cippo untuk mengobati si Mendang, mungkin saja dia bisa mendiami si Mendang.
(Dengan langkah yang cepat, Ibu Raminung pun pergi memanggil Mbo Cippo (dukun kampung) untuk mendiami si Mendang karena Mbo Cippo merupakan satu-satunya dukun kampung yang dipercayai oleh warga sekampung bahwa ia bisa menyembuhkan anak kecil yang sakit atau menangis akibat gangguan mahluk halus. Dengan melewati berbagai lorong gubuk kecil yang berjejer, Ibu Raminung pun sampai di rumah Mbo Cippo. Ibu Raminung memanggilnya dan meminta agar dia bisa datang kerumahnya untuk mengobati Mendang).
Raminung : O..o Cippo aku ingin meminta tolong kepadamu.
Mbo Cippo : Ada apa Ibu Raminung sehingga kau datang malam begini untuk meminta pertolongan.
Raminung : ( Nada gemetar ), Aku mohon datang ke rumah untuk mengobati Mendang yang tangisnya tak kunjung reda dari tadi.
(Permintaan Ibu Raminung pun di setujui oleh Mbo Cippo. Tanpa berpikir panjang dia pun mengikuti Ibu Raminung pergi ke rumah Mbo Summang untuk mengobati Mendang yang sedang menangis. Setelah sesampainya di rumah, Mbo Cippo terkejut ketika melihat keadaan si Mendang yang menangis seperti itu. Mbo Cippo menanyakan kepada kedua orang tua si Mendang tentang aktifitas seharian mereka).
Mbo Cippo : Apa yang kalian lakukan tadi sore?
Mbo Summang : “Tadi sore aku bersama istri menyelam rumput laut dan meninggalkan Mendang sendirian di atas perahu.
Mbo Cippo : ( Nada marah ), Mengapa kalian meninggalkannya sendirian? sementara kalian sudah tahu kalau menjelang malam para jin dan setan akan berkeliaran.”
(Kedua orang tua Mendang diam dan tak dapat berkata apa-apa. Melihat tangis si Mendang yang semakin menjadi itu, Mbo Cippo pun langsung mengobati Mendang dengan mantra-mantra untuk mengusir jin yang dalam penglihatan gaibnya Mendang diikuti oleh setan yang menghuni batu pemali tempat mereka menanam rumput laut. Beberapa menit kemudian Mendang pun diam, lalu Mbo Cippo mengatakan sesuatu kepada orang tua Mendang).
Mbo Cippo : Mendang di ikuti oleh setan penghuni batu pemali yang berada di tempat kalian menanam rumput laut.
(kedua orang tua Mendang hanya terdiam mendengar perkataan Mbo Cippo. Setelah mengobati Mendang, Mbo Cippo pulang kembali kerumahnya. Sepulangnya Mbo Cippo, si Mendang pun kembali menangis tak karuan. Melihat waktu yang semakin larut itu kedua orang tuanya tak ingin kembali memanggil Mbo Cippo. Si Mendang terus menangis dengan suara yang kian lama kian mengecil dan akhirnya meninggal dunia pada subuh itu. Orang tuanya menangisi kepergiannya, semua orang berdatangan untuk menghibur dan mengucapkan belasungkawa, layar pun di tutup).

 

 

 

Karya : kartini nazril