Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 24 Januari 2018   12:13 WIB
KISAH BATU SI MENDANG



KISAH BATU SIMENDANG
DI SULAMU
Pada zaman dahulu di pesisir pantai Desa Sulamu hampir seluruhnya di huni oleh masyarakat pendatang dari Suku Bajo, dengan mata pencaharian mereka adalah mencari ikan dan membudidayakan rumput laut. Hingga pada suatu hari, suasana pesisir di perkampungan Desa Sulamu yang ramah dan tenang serta di hiasi oleh cahaya keemasan dari matahari yang condong mendekati bukit Barate dan mewarnai lautan yang bergerak surut. Semua masyarakat perkampungan melakukan aktifitasnya masing-masing dalam mengisi waktu sore yang sejuk dan air laut yang bergerak akan surut itu, karena mengingat mata pencaharian mereka adalah melaut sehingga dengan air laut yang hampir surut adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk memanen dan melihat rumput laut. Semua orang berbondong-bondong mendatangi lahan masing-masing yang tak jauh dari bibir pantai.
Melihat warga perkampungan yang meluangkan waktu sore untuk melihat dan memanen rumput laut, seorang bapak yang biasanya disapa Mbo Summang dan istrinya Raminung bersama putri semata wayangnya Mendang yang masih balita itu pergi memanen rumput laut yang mereka ikat dari beberapa bulan yang lalu. Karena putri mereka yang bernama Mendang itu masih kecil dan tempat mereka mengikat rumput laut berada di kedalaman dan sedikit jauh dari lahan warga sehingga merekapun pergi menggunakan perahu kecil (sampan). Setelah mereka sampai di lahan rumput laut mereka yang juga terdapat sebuah batu besar yang menjulang tepat berada di antara pulau burung dan pulau tikus,merekapun melabuhkan perahu di samping batu tersebut. Setelah mereka melabuhkan perahu, Mbo Summang ingin segera melihat hasil rumput laut . Namun tempat rumput laut mereka yang sedikit berada di kedalaman sehingga tali rumput laut tetap tersembunyi dalam laut bersama rumput-rumput liar yang menemani rumput laut.Mbo Summang mengulurkan dayung yang di genggamnya itu ke laut lalu mengangkat salah satu tali rumput laut untuk melihat hasil dari benih yang mereka ikat pada beberapa bulan yang lalu. Dengan hati yang berbinar dan penuh penasaran dengan hasil rumput laut, Mbo Summang dengan terburu–buru mengangkat tali tersebut, dengan senyum yang mengukir di wajah Mbo Summang menunjukkan sebagian rumput laut yang masih berjejer rapi di tali yang nampaknya rumput laut itu mengisartakan bahwa mereka siap untuk di panen. Dengan nada yang penuh kasih sayang Mbo Summang meminta kepada istrinya untuk menyelam dan memanen rumput laut bersama.
” Ma, sepertinya benih yang kita ikat pada bulan lalu menampakkan hasil yang baik. Sehingga aku mohon kita menyelam bersama untuk panen karena lahan sebesar ini aku tak bisapanen sendirian.”
Dengan hati yang riang atas hasil mereka, Raminung pun langsung mengiyakan permintaan suaminya tanpa memikirkan nasib anaknya.
Hembusan angin laut diwaktu senja yang diiringi oleh suara brisik para pekerja rumput laut yang berada dekat di bibir pantai itu, menghibur Mbo Summang dan keluarganya yang lahan mereka sedikit jauh dari keramian lahan rumput laut yang bertebar di pesisir. Suara brisik para pekerja rumput laut yang berada di dekat bibir pantai itu, membuat Mbo Summang berpikir bahwa anakanya akan tetap terhibur meskipun ia bersama istrinya menyelam untuk panen rumput laut. Tanpa berpikir panjang, Mbo Summang pun terjun kelaut dan berenang mengelilingi lintasan tali pengikat rumputlaut yang membentang di sekitarnya. Dengan tangan kasih yang penuh iba, Ibu Raminung mengusap manja rambut Mendang dan mengatakan agar ia tidak rewel kala ditinggal Ibu dan Ayah untuk memanen.
“Nak..Ma ingin menyelam bersama Uwwa untuk panen rumput laut, jadi jangan nangis kalau sendirian diatas perahu.”
Pemahaman Mendang yang masih kecil itu hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda bahasa tubuh kepada ibunya. Ibu Raminung pun lalu terjun kelaut menyusul suaminya Mbo Summang yang telah panen terlebih dahulu dari beberapa menit yang lalu dan meninggalkan putri semata wayangnya Mendang sendirian diatas perahu kecil tersebut.
Lambat–laun matahari pun semakin bercondong di atas kepala bukit Barate dengan angin sore yang berhembus sedikit kencang menghantarkan perahu Mendang bersandar di batu besar yang tadi Mbo Summang melabuhkan perahu di dekatnya. Mendang pun tetap diam dan tenang meskipun hanya dihibur oleh brisikan dari kejauhan para pekerja rumput laut dari darat dan bunyian gelombang kecil yang menghampas di tepi perahunya.Waktu terus bergulir, cahaya matahari pun sudah hampir redup karena dihadang oleh bukit Barate yang menjulang dibagian barat perkampungan Sulamu, kedua orang tua Mendang tak kunjung naik keatas perahu.Dengan nada yang lirih dan menembus redupnya cahaya, Mendang memangil kedua orangtuanya untuk segera naik karena hari sudah mulai malam.
“Ma…Uwwa…hari sudah malam, ayo kita pulang, Mendang takut sendirian.”
Berulangkali mendang berseru kepada kedua orangtuanya, namun seruannya tak dihiraukan oleh kedua orang tuanya.
Waktu terus bergulir dan malam pun datang menyapa, rasa takut mulai menghantui Mendang yang ditinggal sendirian di atas perahu sehingga Mendang menangis sekuat- kuatnya. Namun kegembiraan dan kesenangan Mbo Summang dan Ibu Raminung dalam menuai hasil yang benihnya mereka tabur pada beberapa bulan yang lalu itu, mereka tak menghiraukan tangisan anaknya yang semakin menjadi.Mendang pun terus menangis dan meratap dalam kesendirian hingga air laut mulai kembali pasang. Hari semakin malam yang dihiasi oleh redup cahaya bulan, perlahan-lahan tali pengikat rumput laut pun semakin tenggelam dan menjolor kedasar sehingga Mbo Summang dan Ibu Raminung pun sudah sedikit kesulitan dalam menggapai rumput laut. Merekapun sepakat untuk kembali naik keatas perahu dengan membawa keranjang yang berisi hasil panen mereka.Kegembiraan yang menjiwai keduanya atas hasil hasil panen itu, mereka tak menghiraukan tangisan Mendang. Perlahan-lahan,mereka berdayung ketepian dengan membawa hasil panen mereka. Sesampainya didarat Mbo Summang memikul rumputlaut dan Ibu Raminung menggendong Mendang yang sedang menangis itu kerumah mereka.Setelah sampai dirumah, suara tangisan Mendang semakin lantang.Ibu Raminung merasa iba dan bersalah kepada Mendang sehingga dengan nada yang lembut ia meminta maaf dan mencoba untuk mengajak anaknya agar diam.
”Nak..Ma minta maaf, tadi Ma tinggalkan kau sendirian.Nanti besok Mendang minta apa pasti Ma akan berikan.”
Berbagai rayuan di katakan oleh Ibu Raminung dan Mbo Summang namun tangis Mendang semakin menggelagar.
Malam yang semakin sepi dan senyap suara tangis Si Mendang semakin melantang dan menggemahi gubuk mereka yang berada di sudut kampung Sulamu.Membuat kedua orang tua si Mendang pun semakin panik dan takut. Kesana kemari Mbo Summang melakukan berbagai rayuan namun tangis si Mendang tak kunjung reda. Dengan suara gemetar atas rasa takut yang melintasi di pikiran, Mbo Summang meminta kepada istrinya untuk memanggil dukun kampung yang rumahnya tak jauh dari rumah mereka.
“Ma…coba panggil Mbo Cippo untuk mengobati si Mendang, mungkin saja dia bisa mendiami si Mendang.”
Dengan langkah yang cepat, Ibu Raminung pun pergi memanggil Mbo Cippo (dukun kampung) untuk mendiami si Mendang karena Mbo Cippo merupakan satu-satunya dukun kampung yang dipercayai oleh warga sekampung bahwa ia bisa menyembuhkan anak kecil yang sakit atau menangis akibat gangguan mahluk halus. Tangisan si Mendang yang semakin menjadi itu membuat ayahnya berpikir bahwa tangisan anaknya itu merupakan gangguan dari mahluk halus. Melewati berbagai lorong gubuk kecil yang berjejer, Ibu Raminung pun sampai di rumah Mbo Cippo. Ibu Raminung memanggilnya dan meminta agar dia bisa datang kerumahnya untuk mengobati Mendang.
“O..o Cippo aku ingin meminta tolong kepadamu.” Pinta Ibu Raminung.
Mbo Cippo kembali bertanya dengan penuh kebingungan atas kedatangan Ibu Raminung di malam hari untuk meminta pertolongan.
“Ada apa Ibu Raminung sehingga kau datang malam begini untuk meminta pertolongan.”
Dengan nada yang gemetar Ibu Raminung pun mengatakan kepada Mbo Cippo.
“Aku mohon datang ke rumah untuk mengobati Mendang yang tangisnya tak kunjung reda dari tadi.”
Permintaan Ibu Raminung pun di setujui oleh Mbo Cippo. Tanpa berpikir panjang diapun mengikuti Ibu Raminung pergi ke rumah Mbo Summang untuk mengobati Mendang yang sedang menangis. Setelah sesampainya di rumah, Mbo Cippo terkejut ketika melihat keadaan si Mendang yang menangis seperti itu. Mbo Cippo menanyakan kepada kedua orang tua si Mendang tentang aktifitas seharian mereka.
“Apa yang kalian lakukan tadi sore? “ tanya Mbo Cippo kepada kepada ayahnya Mendang.
“Tadi sore aku bersama istri menyelam rumput laut dan meninggalkan Mendang sendirian di atas perahu.” jawab Mbo Summang .
Dengan nada yang marah Mbo Cippo langsung menegur kedua orang tua Mendang.
”Mengapa kalian meninggalkannya sendirian ? sementara kalian sudah tahu kalau menjelang malam para jin dan setan akan berkeliaran.” Kedua orang tua Mendang tak berkata apa-apa ketika ditegur oleh Mbo Cippo.
Melihat tangis Mendang yang semakin menjadi itu, Mbo Cippo tak tahan melihat kondisinya yang berlarut dalam tangisan yang seperti itu sehingga diapun langsung mengobati Mendang dengan membaca mantra-mantra untuk mengusir jin yang dalam penglihatan gaib Mbo Cippo bahwa si Mendang diikuti oleh setan yang menghuni batu pemali tempat mereka memanen rumput laut . Dengan mantra-mantra mengusir setan yang di lakukannya itu beberapa menit kemudian si Mendang pun diam.
Bintikan keringat-keringat kecil membasahi area muka Mbo Cippo yang sehabis mengobati si Mendang, Mbo Cippo pun lalu mengatakan kepada kedua orang tua bahwa si Mendang di ikuti oleh setan penghuni batu pemali yang berada di tempat mereka menanam rumput laut. Mbo Cippo hanya menjelaskan sepintas kepada kedua orang tuaMendang lalu pulang kembali kerumahnya.sepulangnya Mbo Cippo, si Mendang pun kembali menangis tak karuan. Melihat waktu yang semakin larut itu kedua orang tuanya tak ingin kembali memanggil Mbo Cippo.Si Mendang terus menangis dengan suara yang kian lama kian mengecil.kedua orang tuanya yang kala itu tak bisa berbuat apa-apa hanya pasrah kepada sang kuasa. Waktu malam terus terkikis hingga sang fajar terpancar diatas bukit Kota Kupang. Rahasia sang khalik yang tak diketahui oleh seorang makhluk Spun datang bertahta. Mendang pun akhirnya meninggal dunia pada subuh itu.
Sepeninggalannya Mendang membuat warga tak lagi pergi menanam rumput laut di dekat batu pemali tersebut, karena mereka takut hal yang menimpa Mendang akan terjadi lagi pada warga yang lain.
Atas kejadian itu masyarakat Suku Bajo yang berada di Sulamu mengakui bahawa batu itu adalah sebuah batu yang mistis dan warga berkeyakinan kalau meninggalnya Mendang akibat batu pemali tersebut sehingga mereka menamai batu itu adalah batu si Mendang.

Mbo* : Sebutan untuk orang yang tertua.
Ma * : Ibu
Uwwa* : Ayah






¬

Karya : kartini nazril