Dokter yang Romantis

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 18 Januari 2018
Dokter yang Romantis

“Kalau sudah besar nanti mau jadi apa?”

 

Akh. Orang dewasa memang sering bertanya soal-soal menyebalkan pada anak kecil.

 

Jawaban “Jadi dokter!” adalah jawaban buntu setiap kali saya mentok mau jawab apa. Jadi pilot? Kan gak mungkin. Nerbangin pesawat kertas aja mules. Jadi astronaut? Gak mungkin juga. Jangankan ke luar angkasa, ke luar rumah aja gemeteran.

 

Kata orang, yang pinter itu cocoknya jadi dokter. Saya yang baru masuk SD udah ranking satu, langsung nyombong, “Aku mau jadi dokter!”

 

Saat itu saya tahunya dokter adalah tukang suntik.

 

Jadi dokter itu keren. Bisa mendengarkan keluhan banyak orang. Jadi dokter itu keren. Saking kerennya, saya tidak sanggup menggapainya. Cita-cita itu saya kubur dalam-dalam saat saya tahu bahwa dokter harus kuat berhadapan dengan darah!

 

Saya ingat pertama kali menstruasi malah nangis. “Darah! Darah! Tolong aku, Mama!”

 

Mama cuma cengengesan.

 

Saya kira ada orang jahat yang pengen ngebunuh diam-diam lewat peluru kendali.

 

Saya membayangkan saya akan muntah-muntah dan bergidik ngeri saat melakukan operasi transplantasi jantung. Sejak saat itulah, saya memutuskan untuk berhenti menghayal jadi dokter. Tapi kekaguman saya terhadap profesi itu belum juga pudar.

 

Seperti kebanyakan anak seusianya, ada seorang anak menjawab dengan dada yang lapang dan kepala yang ringan ketika ditanya mau jadi apa.

 

“Jadi dokter.”

 

“Jadi dokter itu mahal,” kata orang dewasa itu sambil mengamati penampilan lusuh sang anak. Ada hal-hal yang mungkin belum dipahami anak kecil. Bahwa di zaman serba transaksional, kepintaran saja tidak cukup.

 

“Bapakmu kerja apa?”

 

“Kuli bangunan.”

 

“Ibumu?”

 

“Tukang bubur.”

 

“Kalau begitu, kamu harus berdoa lebih kencang daripada yang lain,” ejek orang dewasa itu saat dilihatnya anak kecil itu masih asyik main dokter-dokteran.

 

Anak itu serius memanjatkan doanya setiap hari dan mengaminkannya di tiap ayunan langkah. Bahkan dia senantiasa menanyakan pada teman-temannya, “Apa kamu sakit?” atau “Sebelah mana sakitnya?” dan dia langsung mendiagnosa bagian yang sakit, memijit-mijitnya.

 

Di jalan-jalan yang dia lewati, selalu, dia mengkhawatirkan kesehatan banyak orang. Paling tidak, dia cukup lega dengan menemani orang-orang itu, mengobati kesepian orang-orang itu.

 

Saat bapaknya sakit berbulan-bulan lamanya, dia menjadi anak yang demikian panik. Bagaimana Bapak bisa sembuh? Dari mana bisa makan, pikirnya.

 

Dia lantas berjualan adonan tepung kanji setiap pagi di sekolah. Karenanya, dia bisa membawa satu kilo beras dan satu liter minyak tanah setiap pulang ke rumah. Dia masak apa saja untuk adik-adiknya, memberikan obat untuk bapaknya yang terbaring lemah, lalu memeluk ibunya erat.

 

Kalau tidak habis adonan itu, dia bawa lagi ke rumah. Pulang-pulang, buku dan mukena yang dia bawa sudah basah oleh minyak.

 

Bapaknya tersenyum lebar. Barangkali Bapak sudah lumayan sehat. Dan itu sudah cukup membuatnya bahagia.

 

Sebagian hasil jualan adonan kanji itu dia tabung untuk biaya les bahasa Inggris. Dia ingin sekali menguasai bahasa asing seperti teman-temannya. Dua puluh lima ribu setiap awal bulan dia sisihkan untuk les. Itu pun sudah memohon-mohon supaya dapat kortingan.

 

Dia diterima masuk SMA unggulan dengan sumbangsih dari mana-mana, dengan buku-buku LKS pemberian orang, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajah, dan dia belum menggeser cita-citanya. Sedikit pun.

 

“Aku mau jadi dokter,” ucapnya yakin.

 

Saat itu pulalah dia mendapatkan amanah jadi Ketua PMR. Dia sendiri tidak menyangka. Tapi bumi memercayainya. Tidak ada sesuatu pun yang dia takutkan kecuali: melihat orang lain terluka. Sudah. Itu saja.

 

Sepertinya ketakutannya ini adalah bakat yang diwariskan sang bapak.

 

“Bapak takut kamu tidak makan hari ini.”

 

Begitulah kira-kira yang tergambar saat melihat ekspresi sang bapak dalam memandangi anaknya. Kedua bola matanya teduh dan sedikit berair, menandakan sebuah ketulusan yang penuh.

 

Saat sampai pertama kali di gerbang SMA, bapak menepuk pelan pundak anak itu. Dadanya naik turun. Dan dia berbisik, “Nanti tolong tanyain masih butuh kuli gak?”

 

Anak kecil yang sudah agak besar itu mengangguk. Rupanya gedung sekolah sedang direnovasi. Ada kelas-kelas baru yang belum selesai dibangun.

 

Sang bapak mau bekerja sebagai kuli bangunan di sekolahnya sendiri? Yang benar saja!

 

Tapi anak itu tidak takut dengan anggapan teman-teman. Sering dia bergandengan tangan dengan bapaknya. Di angkot, dia mengenakan seragam putih abu yang rapi. Bapaknya duduk di sebelah, memamerkan kaos merek Dulux di badan, celana levis yang sudah robek, dan sepatu boots. Kadang sampai bawa-bawa pacul segala.

 

Mereka berangkat beriringan ke sekolah. Anak itu mencium tangan bapaknya sebelum masuk ke kelas dan masih sempat dadah-dadah di pintu masuk. Bapaknya melambaikan tangan. Di jam pelajaran, sesekali dari jendela terlihat, bapaknya masih mengaduk semen.

 

Bekerja di bawah terik matahari pasti bikin haus, pikir anak itu.

 

Setiap bel istirahat berbunyi, anak itu bergegas membeli minuman segar. Kadang dia menaruhnya di dalam ember yang diderek sampai ke atas gedung. Dari bawah, anak itu bertanya, “Udah makan belum, Pak?”

 

Bunyi derik katrol itu selalu terdengar dan mengusik keheningan.

 

Ada temannya yang penasaran. “Itu siapa sih? Kok kamu perhatian banget?”

 

“Bapak saya,” seru anak itu bangga seakan-akan menyebutkan nama seorang pahlawan.


Keterkejutan temannya membuat pintu keberkahan pelan-pelan terbuka. Semua temannya akhirnya tahu ada sosok menakjubkan di dekat mereka. Pada saat tour ke Jogja, seluruh sekolah mengadakan patungan untuk mengajak anak itu ikut serta. Menjelang Ujian Nasional, biaya les anak itu ditanggung guru-guru. Dan…

 

Saat sweet seventeen, teman-temannya memberikan kejutan yang heboh dengan sebuah keributan kecil. Sebuah pesta yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Anak itu terharu. Bapaknya sampai cepat-cepat turun dari genteng saking paniknya. Dia mengira anaknya celaka. Rupanya sang bapak pun dijebak mereka untuk masuk ke kelas mengucapkan doa.

 

“Aku mau jadi dokter.”

 

Anak itu belum putus berharap.

 

Dan dia hampir mewujudkannya, sekarang, ketika usianya menginjak 22. Dialah Rikeu Novia. Mahasiswi Fakultas Kedokteran Unpad 2013. Asal Mangkurayat Garut. Seorang gadis kecil yang bisa kaulihat setiap hari hilir mudik di RSHS dengan jas dokter muda.

 

Ada seribu cerita di Rumah Sakit yang bisa dia sampaikan untuk saya. Tentang seorang ayah yang setia mengantarkan anaknya berobat jalan. Tentang bayi baru lahir yang sedang diinkubasi. Tentang pasien-pasien yang terpaksa menginap di selasar masjid atau koridor Rumah Sakit untuk menunggu hasil medis.

 

Tentang Infeksi. Penyakit genetik. Kanker stadium 4. Tentang tipisnya jurang antara hidup dan mati. Tentang lirih takbir dan kalimat tauhid yang diucapkan dengan terbata-bata saat menghadapi sakit yang tak terperi, juga menjelang sakaratul maut. Tentang kepulangan yang sesungguhnya. Dan dia sendiri hanya bisa berlalu-lalang mengambil obat atau infusan.

 

Saya bisa bayangkan betapa sakitnya orang yang sangat takut melihat orang lain kesakitan. Karena itulah, anak ini mulai mempertanyakan, “Pantaskah saya jadi dokter?”

 

Dia memang tidak pernah bosan mendengarkan keluhan orang-orang terdekatnya. Yang orang-orang tidak tahu adalah bahwa seorang calon dokter pun juga manusia biasa yang bisa mempunyai keluhan.

 

Minggu lalu, saya bertemu lagi dengan anak itu. Entah kenapa anak itu selalu membuat saya kangen. Ingin sekali rasanya saya jatuh sakit setiap hari. Biar saya bisa setiap hari jadi pasiennya.

 

Dia mengajak ngobrol anak-anak kecil penjual bunga yang lewat. Ngobrol tentang rezeki. Beberapa batang mawar merah dia beli sebagai kejutan bagi teman-temannya pulang nanti.

 

Yang paling menggemaskan adalah dia tidak mau merepotkan orang lain. Padahal ada orang-orang seperti saya yang sungguh sangat senang direpotkan.

 

Seperti malam itu. Gelap dan hampir hujan. Jam 9 malam. Dan dia masih di rumah saya.

 

“Kamu Teteh anter ya!” usul saya.

 

“Nggak usah, Teh. Teteh kan lagi banyak kerjaan.”

 

Saya cemberut, “Kamu enggak mau ngasih kesempatan orang buat berbuat baik?”

 

Ada hal-hal yang saya cemburui dari gadis kecil itu. Mungkin bidadari surga pun cemburu. Betapa semangatnya dia dalam memperbaiki diri. Betapa cintanya dia pada Allah. Betapa sayangnya dia pada keluarga. Betapa lapang hatinya dalam menuntut ilmu. Betapa terbuka tangannya untuk merangkul.

 

Dia tidak takut kematian. Yang dia takutkan adalah matinya ketakutan terhadap Allah di saat dia masih hidup.

 

Tidak lama berselang, dia menerima telepon. Dari bapaknya.

 

“Lagi di mana?”

 

“Di rumah temen, Pak.”

 

“Bapak tanya, pikiran dan hati kamu lagi di mana?”

 

Tangisnya tumpah seketika. Bapaknya tahu, sangat tahu, dan selalu tahu. Detik ini sang calon dokter sedang tidak baik-baik saja. Ketika keyakinannya terhadap masa depan nyaris rubuh karena beratnya menanggung harapan banyak orang terhadapnya. Harapan bahwa sebentar lagi dia harus jadi dokter.

 

“Pak, bisa enggak, ya, Rikeu jadi dokter, Pak?” isaknya.

 

“Titipkan diri kamu sama Allah,” bapaknya berpesan dengan aksen bahasa Sunda yang lembut.

 

Pesan bapaknya itulah yang selalu menguatkannya sampai sekarang.

 

Dia lantas teringat akan DOKTER yang selalu menjadi PENYEMBUH bagi kekhawatirannya, yang senantiasa membersamai langkahnya, yang tak putus memberikan kejutan. Ialah Allah.

 

Dan dia harus berhenti mengeluh. Karena mengeluh sama saja dengan memanjatkan seburuk-buruknya doa.

 

Dia tegap seketika. Bersiap pulang.

 

“Ya udah, Teteh nganterin Rikeu sampe DU. Soalnya Rikeu mau beli sate padang dulu buat temen-temen.” Dia mengatakan itu di motor. “Eh, Teteh aku pesenin sate padang juga ya!”

 

“Nggak usah, nggak usah,” saya ngotot menolak.

 

“Teteh enggak mau ngasih kesempatan orang buat berbuat baik?”

 

“Ya Rabb!” saya ketawa sambil mendelik. Anak ini betul-betul pintar! Dan romantis.

 

Betul. Allah tidak akan memberikan beban tanpa pundak. Dan Allah tidak akan mempertemukan orang-orang yang tidak sanggup saling berbagi dan saling menyempurnakan. Bahwa di setiap tangan bertaut pasti ada maksud baik.

 

Juga mimpi besar.

 

 

Bandung, 2018 | Kartini F. Astuti | Dedicated to My Little Doctor

  • view 159