Personal Branding of Tere Liye

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 30 Oktober 2017
Personal Branding of Tere Liye

Seorang adik tingkat menghubungi saya untuk membacakan puisi di acara Musical ITB yang diadakan program studi Sekolah Bisnis dan Manajemen. Honornya tiga puluh ribu, dia bilang. Saya berbinar. Terpujilah Tuhan. Akhirnya saya bisa makan di akhir bulan! Kapan, saya tanya. Dia jawab, sore ini jam empat.

 

Jam tiga lebih seperempat, saya langsung mencari kertas dan alat tulis. Dia, adik tingkat saya bilang, kalau bisa baca sampai tiga judul puisi honornya jadi dua ratus ribu. Alamak. Saya tidak sanggup menulis puisi sebanyak itu di waktu yang sesinggat ini dengan sebatang pulpen. Bagaimana kalau satu puisi panjang saja, saya menawar. Dia bilang, ok.

 

Lalu, Piku, sang ketua acara menelepon saya. Dia menyuruh saya cepat-cepat ke backstage. Saya tidak selesai menulis dan memilih membawa tab. Jam empat lebih lima menit, saya berlari menuju SBM bersama Nadya, teman saya.

 

Saya melihat panggungnya. Saya kira saya akan membacakan puisi di depan sepuluh orang. Ternyata penontonnya banyak. Banyak sekali. Saya dipanggil dari belakang. Kak Kartini, ya, tanyanya. Saya mengangguk. Kak Tere-nya udah dateng, Kak.

 

Saya celingak-celinguk. “Tere? Tere Liye?” Saya syok.

 

Panitia mondar-mandir, meributkan waktu yang molor. Salah satu dari mereka seperti hampir asam urat saat menyadari bahwa MC menghilang. Loading barang sudah selesai. Mereka panik. Tak lama, MC berbadan tambun itu datang dengan baju ketat.

 

“Kak Kartini sebentar kan baca puisinya?” tanya panitia.

 

“Sebentar,” saya nyengir, lega karena saya tidak akan terlalu lama gemetar memegang mikrofon.

 

Lalu saya naik panggung, memandang arus deras penonton di bawah. Rasanya saya jarang sekali berdiri di tempat setinggi itu. Saya lalu melihat wajah-wajah panitia yang cemas. Mereka tidak tahu kalau puisinya lebih dari sepuluh bait. Lima menit, lima menit, jangan lebih, batin saya dalam hati.

 

Saya merasa saya bukan seperti pembaca puisi. Malahan lebih mirip orang mabok yang nge-rap lagu Tahu Bulat. Saya turun, berjabat tangan dengan panitia yang menyerahkan ucapan selamat berikut amplop. Piku menggiring saya menghampiri Tere Liye.

 

“Di sana! Di sana, Kak. Siapa tahu mau ngobrol.”

 

“Ngobrol?” saya bingung. Kira-kira topik apa yang disukai Tere Liye? Pajak penulis?

 

Saya membungkuk-bungkuk. Tere Liye langsung berdiri dengan tiga orang panitia lain yang mungkin kebagian tugas mengawalnya.

 

“Boleh minta foto?” tanya saya kikuk, berusaha memberikan nada yang bukan basa-basi. Saya teringat dengan perkataan guru saya bahwa setiap penulis itu perlu dihargai.

 

“Enggak. Enggak. Enggak ada sesi foto,” kata Tere Liye sambil berlalu.

 

Saya sakit hati dan mengekor dengan langkah panjang-panjang. “Kenapa, Bang?”

 

“Enggak penting itu.”

 

Saya terpaku dan membatin, “Astaga! Ini penulis songong sekali!”

 

Tere Liye sudah duduk di sofa empuk panggung saat teman saya bertanya, “Ngobrol apa sama Tere?”

 

“Pulang yuk!” ajak saya, dendam.

 

Tepuk tangan penonton pecah. Tere Liye membuka talkshow itu seperti komedian. Penampilannya kontras jika disandingkan dengan sofa mewah berwarna marun itu. Dia hanya memakai kaos oblong, terusan jeans bolong, dan sandal jepit. Cara duduknya seperti orang terkena ambeien. Tangan kirinya tidak henti memelintir ujung celana jeans. Oh, man! Kami betul-betul penasaran lalu memutuskan untuk duduk di kursi paling depan.

 

Saya buru-buru membisiki adik tingkat saya, “Berapa bayar Tere Liye?”

 

“Lima belas juta.”

 

“Anjaaay!”

 

Saya tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertatap muka dengan penulis yang harganya satu tahun rumah kontrakan saya.

 

“Chandra, apakah saya penulis terkenal?” tanya Tere Liye dengan logat lokalnya yang kental.

 

MC yang disapa Chandra itu salah tingkah.

 

“Bukan! Saya bukan penulis terkenal,” Tere Liye mulai bercerita. Bahwa dirinya pernah satu pesawat di samping orang yang asyik membaca bukunya.

 

Tere Liye bahkan pernah disangka perempuan. Baru saja dia akan naik ke atas panggung, dia mengurungkan niatnya setelah MC mengumumkan, “Kepada MBAK Tere Liye, waktu dan tempat kami persilakan!”

 

Dia juga sempat membantu mendirikan panggung saat diundang ke sebuah acara bedah buku. “Mas, Mas, boleh tolong bantu?” Dia dikira emang-emang tukang gulung kabel! Orang-orang vendor kaget bukan main saat Tere Liye muncul jadi pembicara.

 

“Tuh! Enggak terkenal, kan?” kata Tere Liye serius. “Tadi ada mbak-mbak yang minta foto. Maaf, adik-adik. Saya enggak pernah sesi foto bareng pembaca. Saya enggak pasang juga tuh foto profil. Soalnya enggak penting. Paling nongol di sosmed terus wajah saya nyebar di mana-mana. Repot nanti. Nggak tenang hidup saya.”

 

Semua penonton ngakak. Ini orang aneh! Saya punya firasat bahwa dia tidak seperti yang saya pikir selama ini. Saya mulai menganalisa.

 

“Yang terkenal itu karya saya, bukan saya!” kata Tere Liye lantang. Lantas dia dengan santainya bertanya, “Siapa yang baca karya saya?”

 

Semua penonton riuh menjawab. Beberapa di antaranya siap minta tanda tangan. Buku-buku yang mereka pegang masih bagus sampai wanginya dapat tercium.

 

---

Tiga kata yang kuat yang bisa mewakili nama Tere Liye: feminin, misterius, dan mahal.

 

FEMININ.

 

Dalam artian bukan kemayu secara personal. Tere amat sangat jantan kok. Hanya saja, hampir semua karyanya itu mengarah pada segmentasi perempuan. Tulisan-tulisannya mewakili suara perempuan yang dominan perasaan.

 

Saya teringat Joanne Kathleen Rowling yang dengan cerdasnya memperkenalkan diri sebagai J.K. Rowling di cover bukunya sehingga terdengar maskulin. Tahu kenapa? Karena segmentasi setiap karyanya adalah laki-laki. Sihir. Aksi. Sihir. Aksi. Dulu siapa yang menyangka bahwa Harry Potter ditulis oleh seorang perempuan? Nenek-nenek pula.

 

MISTERIUS.

 

Tere tidak ingin terkenal. Begitukah? Bagi kebanyakan orang, tidak memasang foto diri dan identitas di halaman terakhir buku karangannya terlihat seperti sosok yang tidak suka ketenaran. Barangkali Tere ingin membuktikan kata-kata Roland Barthes dalam The Death of Author bahwa penulis mati setelah karya tercipta.

 

Tapi kalau kita cermati dengan sungguh, di sinilah triknya. Bikin buku supaya laku. Apa pun yang dia tulis harus laku. Tere menyamarkan wajah sama seperti Limbad The Master membungkam mulut. Pembaca akan penasaran, terlebih generasi milenial. Siapa yang tidak suka tokoh misterius? Biasanya drama-drama Korea dibintangi pemeran pria yang misterius loh.

 

MAHAL.

 

Dia anti ketenaran tapi kok ya suka kemapanan? Hei. Jangan dulu berkesimpulan. Bukan tanpa alasan Tere Liye memasang tarif tinggi setiap diundang. Jonah Berger mengatakan di buku Contagious bahwa, “People share things that will make them look good to others.” Salah satu formula promosi adalah nilai mata uang.

 

Dan sesuatu yang mahal biasanya membawa keistimewaan tersendiri. Alangkah bangganya kita ngopi di Starbucks dan tak lupa memberitakan semua orang kan? Kita ingin terlihat lebih. Itulah kenapa banyak anak muda merasa bangga telah bertemu Tere Liye. Mereka menganggap pertemuan itu berharga.

 

Saya sebetulnya menemukan sesuatu yang lain. Simpelnya, Tere Liye tahu dia harus memilih antara dua hal: mengorbankan waktu untuk berkarya atau waktu untuk bicara. Tidak bisa keduanya. Dan dia memilih jalan tengah.

 

Dia tidak akan merasa kehilangan banyak waktu jika dia memasang tarif tinggi dan melarikan diri dari popularitas dengan menolak difoto. Dengan tarif tinggi itulah, dia memangkas jumlah undangan. Dan dengan kesepiannya itulah, dia bahagia dan merdeka. Tidak heran dia produktif menulis.

 

---

Tibalah sesi tanya jawab.

 

“Kak Kartini, mau nanya apa?” tanya Piku.

 

Saya menggeleng. Bukan karena masih dendam. Saya pikir akan ada banyak pertanyaan dari penonton lain yang bisa mewakili. Mata saya masih disibukkan menatap sosok penulis itu.

Gayanya amat santai dan penuh canda. Saya takjub bagaimana dia mengapresiasi penonton. Dia membuat semua orang terlibat di acara itu. Dia juga menyebutkan nama semua orang yang bertanya seakan-akan teman lama yang baru ketemu. Dia menganggap semua orang setara. Tidak pernah menganggap bodoh sebuah pertanyaan. Dia jawab semuanya dengan antusias.

 

Saya lalu mendengar bagaimana motivasi seorang Tere Liye menulis. Sama seperti yang saya dengar dari para penulis kebanyakan: ingin dikenang abadi lintas generasi.

 

Sebetulnya saya menyayangkan orang-orang yang hanya ingin memperpanjang usianya lewat karya tapi karya itu tak dibawa kemana-mana seakan Kuda Troya yang kosong.

Dalam mitologi Yunani, patung yang menyerupai kuda raksasa ditinggalkan pasukan di depan benteng. Orang-orang Troya membawanya ke dalam kerajaan karena menyangka Yunani telah menyerah. Kuda Troya itu ternyata berisi para ksatria Yunani yang dapat menaklukkan seluruh kota pada malam hari. Bayangkan jika Kuda Troya itu kosong? Tak akan jadi cerita.

 

Hidup ini diwarnai dua hal saja: merah darah gerakan dan hitam tinta sejarah. Menulis adalah tentang strategi bagaimana gagasan kita tersampaikan dan berpengaruh bagi perubahan. Penulis yang membawa sebaik-baiknya gagasan tentu tidak akan bersembunyi. Sebab dengan kemunculannya, dia bisa membuat barisan, bukan saja kerumunan. Dia bisa mencetak sejarah dengan mudah!

 

DARWIS TERE LIYE.

 

Dialah seorang akuntan yang hobi menulis. Dan saya kira dia tidak hanya berbakat dalam persoalan pajak, tapi juga berbakat dalam dunia marketing. Ralat, dia sangat berbakat.

 

Sayangnya, saya terlalu sayang untuk membeli buku-bukunya dan lebih senang menyomot kamus lima belas milyar di toko buku sebagai koleksi. Entah kenapa.

 

 

Bandung, 2017 | Kartini F. Astuti, penulis sukarela, marketing komunikator, dan tukang ngoceh di malam hari.

  • view 82