Jangan-jangan Kitalah Kafir itu

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Agama
dipublikasikan 28 Oktober 2017
Jangan-jangan Kitalah Kafir itu

“Kafir! Kafir!” teriak seorang pemuda setelah menusukkan pisau pada anggota Brimob yang melakukan shalat di Masjid Fatahelah dekat Mabes Polri. Satu perwira dan satu bintara luka-luka. Sigap, anggota yang bertugas di Lapangan Bhayangkara melakukan pengejaran. Peluru dilepaskan ke udara. Pemuda itu terus berlari. Tembakan melesat. Pemuda itu tumbang dan tewas di tempat.

Sementara di waktu lain, seorang alim berdiri di atas mobil bak terbuka yang dilengkapi dengan sound system. “Tolak pemimpin kafir! Allahuakbar!” teriaknya. Ribuan massa memadati bundaran Patung Kuda. Ada anak-anak, remaja, sampai dewasa, beriring mengibarkan bendera dan spanduk besar-besar. Mereka datang memakai bus-bus yang diparkir di sekitar Monas.

---

Belakangan kata kafir menjadi marak di media, di mural jalanan, di poster, di mana-mana. Bahkan seorang anak presiden sempat terjerat kasus hukum dan dilaporkan ke kepolisian karena mengunggah vlog yang menyinggung isu kafir.

---

Pada hari libur panjang, kamu terbang dari Negeri Jiran membawa satu pertanyaan. Sepertinya kamu syok mendengar berita-berita heboh di televisi tentang perselisihan atas nama agama.

“Kar, what the meaning of kafir?” tanyamu.

Jika saya menjawabnya, apakah kamu akan mencermati atau kamu justru menguji saya? Banyak orang bertanya tentang sesuatu yang terdengar hebat hanya untuk membuktikan bahwa dia lebih hebat dari orang lain. Saya sering temui orang-orang seperti itu.

“I’m totally asking.”

Baiklah. Hanya saja, perlu diingat bahwa saya bukan ahli tafsir. Saya satu dari segundukan manusia di bumi yang dibekali mata untuk melihat dengan saksama, telinga untuk mendengar bisikan tiap kata, akal untuk berpikir jernih tanpa jumawa, dan hati supaya peka. Saya percaya kamu pun dibekali fasilitas yang sama.

“And then what?”

Banyak orang bilang, kita ini manusia biasa, tidak berhak menyatakan pendapat. Kita bukan ulama. Tapi untuk apa bekal itu semua kalau tidak kita gunakan? Dari bekal itu jugalah, pelajaran pertama Tuhan kepada Adam adalah mengenal nama benda-benda yang lalu jadi bahasa. Dari bekal itu, Tuhan kemudian memerintahkan salah satu rasul-Nya untuk iqra, iqra, iqra. Baca, baca, baca. Baca!

Perintah baca itu turun justru pada orang yang tidak bisa membaca. How can You do that, Allah? Di gua tak ada buku! Apalagi zaman sekarang, buku itu harganya selangit, buka gugel habis kuota. Maka, mestilah kita membaca tanda sebelum membaca teks. Membaca tanda-tanda yang ada pada diri. Pada diri yang penuh dengan tanda tanya.

“So.. what the meaning of kafir?” tanyamu tak sabar.

Saya membayangkan bahwa Tuhan mengatakan kafir bukan pada seseorang atau kelompok tertentu tapi pada sifat atau karakter orang-orang, siapa pun itu. Dan karakter itu seperti kutu, bisa nempel dan bisa loncat. Kita sering bilang, orang itu baik tapi kita juga tahu bahwa tidak selamanya dia baik. Kita kerap bilang, orang itu jahat tapi, hei, kadang dia romantis juga kok.

Kitalah yang membuat sebuah kata menjadi disfungsional. Misalkan, di antara kita mungkin pernah menyebut ‘babi’ tidak hanya pada hewan merah muda tapi pada manusia yang bersifat seperti babi. Apakah kamu suka dibilang babi? Saya rasa tidak. Itulah kenapa kata ‘kafir’ yang artinya sederhana terdengar seakan tuduhan yang keji.

Kamu mengernyit, “Who is called kafir?”

Kafir berasal dari kata kufur yang artinya menutup atau mengubur. Pada zaman dahulu, di Arab, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang dan menguburnya dengan tanah. Kafir bisa diimplikasikan menjadi seseorang yang menutup diri atau menyelundupkan atau menyembunyikan sesuatu.

Bisa jadi sesuatu itu uang dua puluh tiga ribu lima ratus di dompet kita. Tapi ketika kita didatangi pengamen, kita mengibaskan tangan seolah berkata, “Saya tidak punya uang sama sekali!” Coba saja uang yang disembunyikan itu berkali-kali lipat jumlahnya. Misalkan dua puluh tiga koma lima milyar—kamu bisa bayangkan uang sebanyak itu di rekening kita? Dan kita katakan, “Saya tidak ambil bagian sama sekali!” Oh, God. Kita senyata-nyatanya kafir. Kafir yang membanggakan.

“That’s corruptor! Not kafir!”

Come on, dude! Kafir is just the keyword of a media buzzer to separate us. Kafir yang dimaksudkan dalam kitab kita adalah dia yang menyembunyikan pesan kebenaran. Sekarang bagaimana seseorang bisa menyembunyikan pesan lalu dibilang kafir sementara dia tidak pernah mendapat pesan apa-apa dari kita? Sebelum kita lihat orang lain lihatlah diri kita. Apakah kita sering bersembunyi ketika seharusnya kita keluar dari zona nyaman dan bergerak?

“Why can’t you tell me that kafir is disbeliever or non-muslim?”

Yep. Non-muslim. But, who is muslim and who is non-muslim? Who knows? Muslim hanya persoalan bahasa—seandainya kitab pegangan kita turun di Indonesia mungkin bukan kafir isitlahnya, tapi keparat.

Muslim adalah orang-orang yang tunduk pada Tuhan. Apakah kita bisa lihat kemusliman seseorang dengan mata telanjang? Belum tentu. Misalnya, ada yang berjanggut. Apakah dia lantas muslim? Siapa yang menjamin? Sebab Abu Jahal pun berjanggut. Apakah kita bisa lihat dari rutinitas kehidupannya? Misalkan, ada yang rajin ke masjid. Adakah dengan begitu dia ibadah? Belum tentu. Siapa tahu cuma numpang nge-cas henpon.

Nah, i want to ask you, dude. Do you consider me as a muslim?

“Yes, you are, for now.”

That’s point. Just for now. Bisa jadi sepersekian detik yang lalu saya bukan muslim karena lupa membawa nama Tuhan. Menjadi muslim bukan seperti menjadi orang Sunda, atau Jawa, atau Batak, atau Cina, atau Arab, atau Inggris. Menjadi muslim adalah seperti kita bekerja di sebuah perusahaan tertentu, bisa keluar, bisa pindah. Makanya, saya sering berdoa, tetapkan dan matikanlah saya dalam keadaan “muslim” yang berarti dalam keadaan tunduk, patuh, berserah diri, hanya kepada Tuhan.

Mungkin kepadamu saya harus menceritakan kisah suatu kota yang terkenal dengan ritual ibadahnya pada 15 abad yang lalu. Kota itu bernama Mekah. Ada hamba-hamba Allah yang menunaikan tawaf mengitari Kabah di waktu-waktu tertentu untuk meniru cara peribadatan Ibrahim. Mereka mengaku muslim? Muslim. Buktinya banyak pemuda bernama Abdullah, hamba Allah. Tapi, kenapa Allah menyebut mereka kafir Quraisy?

Ketika Muhammad diutus ke tengah-tengah kaum itu, berbagai tuduhan dilemparkan kepadanya. Tukang sihir, gila, sesat fikir, harus dibunuh! Memangnya apa yang Muhammad siarkan? Sebuah agama yang kita pahami sekarang? Mustahil! Jika hal itu yang dikhawatirkan penyebarannya, kenapa pendeta dan rahib-rahib Yahudi tidak diusir? Padahal mereka sama-sama menyeru, sama-sama dakwah.

“Make sense,” kamu tampak berpikir.

Sebetulnya yang terjadi pun bukan perang antar agama. Sama sekali bukan. Yang berperang adalah sekelompok orang yang terorganisir oleh ketundukan dan sekelompok orang yang belum sanggup menundukkan dirinya. Dan agama yang sesungguhnya bukan sebuah ajaran penaklukkan atas orang lain. Agama yang sesungguhnya adalah sebuah ajaran pembebasan atas diri sendiri.

Saudaraku sebangsa dan setanah air, bahkan dalam tubuh kita sebagai orang-orang muslim sendiri pun masih ada sifat-sifat kafir, sifat pura-pura tidak tahu apa yang Tuhan mau. Jika kita sering mendengar ayat tentang perangilah orang-orang kafir, jangan dulu ge-er. Sejatinya, medan perang itu ada di kepala kita.

Pernah saya mengobrol dengan seorang muslimah yang tampaknya baru berhijrah. Kami bertemu di sebuah pameran buku di Pusdai. Saya tanya, “Apa saya harus tampil seperti kamu ketika saya melihat kamu justru jauh dari orang lain?” Dia jawab, “Rasulullah mengatakan Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Jadi kita tidak perlu takut kesepian, apalagi cemoohan.”

Saya penasaran dan bertanya lagi, “Bukankah asing dan mengasingkan diri itu berbeda? Apa yang kamu pakai sudah tidak asing, jadi trend, dipromosikan artis-artis, semua orang ikut-ikutan. Apa hebatnya?” Dia agak lama terdiam. Dan saya buru-buru meralat pertanyaan saya. “Maksud saya, itu bagus. Paling tidak, kita bisa memberitakan pada semua orang bahwa Islam bukan teroris. Tapi kalau sudah tidak asing, di mana bukti keasingan itu?” Sejak itu, saya tidak bertemu dia lagi.

Saya tiba-tiba terpikir untuk merintis usaha sebagaimana Khadijah. Mungkin dengan cara itu, saya bisa berkontribusi untuk agama saya, untuk ummat. Saya sempat iri dengan teman saya yang bisa mengelola online shop hijab di akun instagramnya. Di timeline, saya tak sengaja membaca caption hadits lewat salah satu fotonya, “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam BARA API. – HR. Tirmidzi.”

Seketika saya terenyak dan diam-diam bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah merasakan panas bara api itu? Di dunia, jika Tuhan ingin mengambil seluruh apa yang saya miliki saat ini, waktu saya, orang-orang terdekat saya, bisnis saya, tenaga saya, pikiran saya, perasaan saya, apakah saya rela? Saya betul-betul ragu.

Alangkah malu saya dengan Khadijah, pengusaha kaya di Mekah yang ikhlas mengorbankan harta dan jiwanya demi menjalankan kesetiaannya pada Tuhan. Tidak jarang Khadijah menahan lapar sambil menyusui Fatimah sehingga yang diminum anaknya itu bukan lagi air susu melainkan darah! Rasulullah pun terbiasa tidur di pangkuan Khadijah. Suatu ketika, tak terasa air mata Khadijah menetes, mengenai pipi Rasulullah sehingga membuatnya terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku? Dulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan, tetapi hari ini engkau telah dihina orang, semua orang telah menjauh darimu, seluruh harta bendamu habis. Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?”

“Wahai suamiku, bukan itu yang aku tangiskan. Dulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dulu aku memiliki kebangsawanan, kebangsawanan itupun aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dulu aku memiliki harta kekayaan, seluruh harta kekayaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Wahai Rasulullah, sekarang ini aku tidak memiliki apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini...

Wahai Rasulullah, sandainya aku telah mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, kemudian engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, engkau hendak menyebrangi sebuah sungai dan engkau tidak menemukan satu perahu pun ataupun jambatan, maka engkau gali lubang kuburku, engkau gali kuburku, kemudian amambillah tulang-belulangku, engkau jadikan jembatan sebagai jalan menyeberangi sungai itu untuk menemui umatmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah, ingatkan mereka tentang kebenaran Allah, dan ajarkan kepada mereka tentang kebaikan agama ini.”

---

Mungkin memang benar bahwa kita, muslim zaman now ini, bukan sedang menggenggam bara api, tapi bermain-main dengan pasir yang kita anggap bara api.

Jangan-jangan kita hanya merasa pintar tapi tidak pintar merasa.

Jangan-jangan kita hanya merasa cukup tapi tidak cukup merasa.

Jangan-jangan kita sedang kafir ketika Tuhan menyambut kita.

Jangan-jangan kita para fakir cinta yang tak mau berkasihsayang.

 

Kartini F. Astuti  | Bandung, 28 Oktober 2017

  • view 500