AKU INGIN POLIGAMI

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Agama
dipublikasikan 08 Oktober 2017
AKU INGIN POLIGAMI

“Ustadz, bagaimana hukumnya poligami?” kata seorang lelaki dengan senyum jahil di sebuah tabligh yang membuat semua jamaah serentak menengok. Tampaknya dia tidak betul-betul butuh jawaban. Sementara di telinga saya, pertanyaan itu lebih mirip pengumuman, “Ustadz, aku ingin poligami! Tapi aku tidak berani. Tolong sampaikan dalil kepada istriku!

Saya pikir tidak ada satu pun lelaki di dunia ini yang enggan punya istri lebih dari satu.

Di lain tempat, seorang perempuan paruh baya menanyakan hal yang sama. “Ustadz, bagaimana hukumnya poligami?” Berbeda dengan lelaki tadi, ternyata di mulut seorang perempuan, kalimat tersebut lebih mirip isak tangis. Perempuan itu seperti mohon dibela, “Ustaaaadz, aku tidak rela berbagi suami! Kalau sampai terjadi, aku lebih baik minta cerai!

Saya pikir tidak ada satu orang perempuan pun di dunia ini yang mau dimadu.

Poligami. Kata ini menakutkan bagi saya sendiri. Sampai-sampai saya keringetan menuliskan tentang ini. Di banyak pertemuan, di mana ada perempuan dan lelaki, saya seringkali iseng bertanya, “Menurut kalian, poligami itu...”

Yang lelaki model-model ikhwan langsung nyamber, “Itu sunnah. Daripada zinah. Syaratnya harus adil.” Yang perempuan ala-ala akhwat tak mau kalah, “Enak aja. Yang bisa adil cuma Rasulullah!” Lalu dibalas ikhwan, “Kan Rasulullah diutus buat dicontoh.” Dibalas lagi oleh akhwat, “Loh Rasulullah itu nikah laginya sama janda tua, tauk! Kamu mau gitu kawin sama nenek-nenek?”

“Ya Akhi.. Ya Ukhti...” Saya hanya bisa ketawa miris menyaksikan percekcokan itu. Kondisi tersebut tidak berbeda dengan riuhnya komentar netizen di media sosial saat menyikapi ustadz kondang yang menikah lagi.

Saya pun heran. Media belakangan membesar-besarkan praktik poligami dengan menyerempet agama. Padahal, sebelum Muhammad lahir pun, sejak zaman nabi-nabi sebelumnya, poligami sudah lumrah dilakukan. Padahal, di zaman sekarang, ada banyak cukong-cukong dari kalangan nonmuslim yang beristri lebih dari tujuh. Padahal, yang dipoligami sih biasa-biasa saja, kenapa jadi kita yang ribut?

Saya ingat, dulu, saya pernah ikut kajian Perempuan dalam Kuasa Patriarki. Di sana hadir belasan orang para aktivis-feminis yang memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Karena semuanya tahu kalau nama saya Kartini yang identik dengan 'Pejuang Emansipasi' dan kebetulan saya adalah satu-satunya perempuan berjilbab, narasumbernya tertarik buat nanya, “Nanti, kalau kamu jadi istri, kamu rela gak dipoligami?”

Jujur, saat itu saya cuma bisa tersenyum. Entah kenapa saya selalu bisa menangkap suara lain dari setiap kata-kata orang. Yang saya tangkap dari pertanyaan itu adalah pancingan untuk mendiskreditkan saya sebagai muslim, “Agama kamu menindas kaum wanita loh. Buktinya poligami alias selingkuh-syariah dibolehin. Sikap kamu gimana?

Pertanyaan tadi itu sukses pula membuat kepala saya berdenyut dan hampir-hampir saya terjebak untuk berpikir bahwa Muhammad, panutan saya, sama saja dengan lelaki lain yang telah dikuasai nafsu dan tidak peduli perasaan perempuan. Tapi berkat pertanyaan-pertanyaan itulah saya kembali membuka buku-buku sejarah dan kembali berdialog dengan Tuhan dan dipertemukan dengan orang-orang yang mencintai Muhammad Sang Utusan.

Lalu apakah polemik poligami adalah tentang bersitegangnya dua kubu—perempuan dan lelaki? Jika iya, kita semua bisa menebak arah keberpihakan saya ke mana. Jika tidak, lantas tentang apa?

Saya Kartini. Saya adalah seorang perempuan. Semua putra nenek saya telah berpoligami kecuali ayah saya. Mereka, paman-paman saya itu, kerepotan membagi waktu. Satu minggu kan hanya ada tujuh hari dan jatah makan harus dibagi rata. Saya kadang-kadang bersyukur ayah saya miskin. Sebab dengan begitu dia tidak punya alasan untuk mencari pelukan perempuan lain selain ibu saya.

“Boro-boro mau kawin lagi. Beli baju buat sendiri aja susah!” demikian curhat ayah saya.

Memang tidak ada data ilmiahnya. Tapi, kita semua tahu bahwa laki-laki, normalnya, menyukai lebih dari satu perempuan.. dan perempuan, normalnya, menyukai lebih banyak daftar belanja. Maka, waspadalah!

Laki-laki itu ujiannya mata. Sedangkan perempuan itu telinga.

Terlebih waspadalah ketika seorang suami mengatakan, “Sayang, kasian banget kamu. Pasti kesepian selama aku kerja. Boleh dong aku cariin perempuan lain buat teman hidup kamu?” Atau, “Mungkin kita memang belum bisa mendidik anak sebaik-baiknya, ya, Sayang. Tapi kita bisa kok punya anak-anak yang baik dari rahim yang lain.”

Kalau punya suami model begitu, akan saya suruh tidur di emperan. Kenapa?

Coba cerna kalimat ini, “Sayang, aku ingin poligami!”

Pantaskah jika yang mengajukan poligami adalah suami kita sendiri? Jika saya ditakdirkan sakit parah selama bertahun-tahun, dan suami saya takut berbuat zinah, maka siapa yang berhak mengajukan poligami? Itu istri, bukan suami. Yang siap merasakan kepahitannya kan istri, bukan suami. Karenanya, kalimat yang benar adalah, “Sayang, aku ingin dipoligami! Aku ingin kamu menikah lagi!”

Namun, teman-teman, kita mungkin lupa bahwa kehidupan rumah tangga tidak terbatas pada kebutuhan lahir dan batin. Lebih daripada itu, ikatan janji setia bermuara pada mendekatnya kita kepada Tuhan. Ketika Tuhan mempercayakan pasangan kepada kita, itu tandanya hanya kitalah yang mampu membuat pasangan kita menjadi lebih baik. Tidak ada yang lain. Dan, lebih daripada itu, ikrar yang hebat antara dua insan adalah ikrar yang jatuh tempo pada misi risalah.

Tengoklah kisah Ibrahim. Sarah, istrinya itu, cantik tidak ada bandingannya. Ibrahim dan Sarah datang pada raja yang lalim, yang akan merebut setiap perempuan yang sudah dipersunting. Ibrahim mengatakan kepada raja tersebut bahwa Sarah adalah saudara perempuannya. Raja tetap menginginkan Sarah. Lalu Sarah berdoa dan tercekiklah raja saat hendak menyentuhnya pada kali ketiga. “Kalian tidak membawakan manusia! Kalian membawa setan kemari!” raja geram. Karena itu, ia memberikan Hajar sebagai pengawal perjalanan mereka ke negeri Syam.

Sarah memperhatikan usianya yang sudah semakin tua dan tidak juga dikaruniai anak. Ia khawatir tidak ada yang melanjutkan estafet kepemimpinan dan dakwah Ibrahim. Maka, Sarah menyarankan agar Ibrahim memperistri Hajar. Bayangkan, istri mana yang mau-maunya mengajukan poligami atas suaminya? Dan Ibrahim melakukan itu bukan demi istrinya, bukan pula demi dirinya. Ada ridha Tuhan di sini. Ada misi yang luar biasa di sini.

Dari Hajar yang seorang budak itu, lahirlah Ismail. Tapi, Tuhan Maha Tahu hati perempuan yang mudah robek dan sikap lelaki yang tidak peka. Seberapa pun kuatnya Sarah, ia akan cemburu dengan kasih sayang Ibrahim terhadap istri keduanya. Dari sini turunlah perintah agar Ibrahim membawa Hajar menjauhi Sarah ke padang pasir. Hajar diasingkan ke tempat yang tidak ada sebatang pohon pun di sana. Tidak lama, sulit dipercaya, Sarah dikabarkan mengandung anak Ibrahim bernama Ishak!

Begitulah hebatnya seorang istri yang menjadikan poligami sebagai lahan bertumbuhnya cinta Allah.

Di zaman nabi terakhir pun seperti itu. Ada seorang anak yang enggan bermain dengan teman-temannya. Ditanya oleh Rasulullah, “Kamu kenapa tidak main?”

“Saya tidak punya baju yang bagus.”

“Mana bapakmu?”

“Dia syahid di jalan Allah.”

Rasulullah langsung menarik lengan anak itu dan berkata, “Maukah kau memakai baju-baju anakku sebagai bajumu? Menganggap Fatimah, Zainab, Qasim, dan Ruqoyah sebagai kakak-kakakmu? Menganggap Abu Thalib sebagai pamanmu? Menganggap Ali sebagai sepupumu? Menganggap Aisyah sebagai ibumu dan aku sebagai ayahmu?”

“Mau, ya Rasulullah!”

Seketika itu pula, Rasulullah memberikan anak itu baju yang bagus dan menikahi perempuan yang ditinggal syahid oleh suaminya. Rasulullah melakukan itu demi menolong anak yatim dan membantu janda yang lapar. Sama sekali bukan keinginannya.

Sempat saya temukan beberapa poster tentang Kursus Poligami Privat di tiang listrik. Saya lama bertanya-tanya, siapa yang akan menghadiri kursus ini? Orang yang berkeinginan poligami tentu saja! Bukan main. Poligami sebentar lagi jadi olimpiade. Padahal poligami itu amanah, seperti anak, yang lahir tanpa bisa diminta dan datang tanpa bisa ditolak. Kalau bukan amanah, tentulah akan merusak agama kita sendiri.

“Takutnya perempuan zaman sekarang terhadap poligami seperti takutnya seorang lelaki menerima panggilan jihad di masa Rasulullah,” ungkap seorang ustadz yang langsung membungkam jamaah perempuan. Ia menutupnya dengan cerita karangannya sendiri...

“Kamu kenapa tidak poligami?” tanya malaikat penjaga pintu surga.

“Saya takut istri saya ngambek.”

Sang Malaikat kemudian mengusir lelaki itu. “Surga ini tuh tempat bagi hamba-hamba yang takut sama Allah, bukan sama istri!”

Sekilas perkataan ini memang ada benarnya. Jangan sampai ketakutan kita lebih besar daripada kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Tapi bagi jamaah yang malas menelaah, seolah-olah terdengar bahwa poligami lebih baik daripada menikah itu sendiri. Tidak. Itu tergantung alasannya, niatnya.

Saya ingin kita kembali pada pernyataan saya di awal tulisan ini. Saya pikir tidak ada satu pun lelaki di dunia ini yang enggan punya istri lebih dari satu, kecuali seorang lelaki salih yang mempertahankan cintanya karena Allah. Saya pikir tidak ada satu orang perempuan pun di dunia ini yang mau dimadu, kecuali perempuan salihah yang ikhlas berbagi cinta karena Allah.

Dan Allah sampai kapan pun tidak pernah turun langsung mengawasi dan mengomando setiap langkah pergerakan kita, melainkan melalui utusan yang membawa kalimat-kalimat-Nya.

Bukankah sejarah selalu berulang? Rasulullah telah lama dituntun Jibril. Para sahabat dituntun Rasulullah. Ulil amri dituntun para sahabat. Dan sampai pada akhirnya, kita, dituntun ahli kitab. Hanya mereka yang angkuh yang tidak mau dituntun. Orang-orang angkuh itu kemudian hanya bisa pamer kejantanan dalam bungkus ibadah.

Apa yang hendak kita tunaikan menyangkut keraguan, berpoligami maupun tidak, menikah sekarang maupun nanti, mestilah keputusan penuntun kita, bukan keputusan kita. Keputusan yang dalam rangka lillaah. 


Bandung, 2017
Kartini F. Astuti, hamba yang berserah diri


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Meski mungkin sudah banyak membaca tulisan bertemakan poligami, coretan Kartini F. Astuti masih sangat layak dibaca. Ini bisa dibilang tulisan poligami yang tak cuma komplit dilihat dari banyak aspek tetapi juga menyoroti pergeseran penerapan poligami dari zaman Rosululloh Muhammad saw ke zaman sekarang ini. Opini Kartini juga mengambil hiruk pikuk yang sempat mengemuka di dunia maya tentang unggahan seorang ustadz dengan ketiga istrinya.

    Tulisan Kartini, seperti biasanya, nyinyir renyah, kocak namun jujur. Ia mengangkat kegelisahan kaum hawa tentang topik ini di kalangan anak muda saat ini dan di masyarakat pada umumnya. Lalu pada ujungnya Kartini mengajak kembali ke esensi poligami dan mengapa dulu Rosullulloh saw melakukannya.

  • Dinan 
    Dinan 
    1 bulan yang lalu.
    ... teman-teman, kita mungkin lupa bahwa kehidupan rumah tangga tidak terbatas pada kebutuhan lahir dan batin. Lebih daripada itu, ikatan janji setia bermuara pada mendekatnya kita kepada Tuhan. Ketika Tuhan mempercayakan pasangan kepada kita, itu tandanya hanya kitalah yang mampu membuat pasangan kita menjadi lebih baik. Tidak ada yang lain. Dan, lebih daripada itu, ikrar yang hebat antara dua insan adalah ikrar yang jatuh tempo pada misi risalah.

    Saya suka paragraf di atas, Mba Kartini... Keren!


    Tulisan yang menarik, Mba Kartini.