SURAT LAPORAN KEGIATAN UNTUK TUHAN

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 21 September 2017
SURAT LAPORAN KEGIATAN UNTUK TUHAN

Bandung, 1 Muharram 1439 H

Kepada Yang Maha Esa,

di Tempat

 

Sehubungan dengan datangnya tahun baru, saya bermaksud melapor pada-Mu. Ini tentang kegiatan selama setahun yang mungkin saja tercermin dari dua puluh empat jam kemarin.

 

Saya akui, Tuhan, saya memang manusia paling malas yang pernah ada. Betapa susah bangun pagi seperti matahari. Selesai menunaikan shalat subuh yang lebih mirip jurus mabuk, saya terkapar lagi. Di bawah selimut, saya mereka-reka mimpi sampai alarm terakhir bunyi.

 

Antrean di depan toilet memaksa saya tidak jadi mandi dan bayangan Surat Peringatan dari bos membuat saya segera memesan ojek online. Sialnya, Tuhan, saya baru sadar dompet saya kosong. Teman saya memberikan dua puluh ribu sebagai pinjaman. Saya hampir meledak karena abang-abang dan motornya yang ditunggu tidak juga datang. Jam berangkat kerja memang jam menyebalkan.

 

Saya tiba di kantor dengan wajah murung dan perasaan kacau. Saya melihat jam dinding: terlambat sepuluh menit. Saya duduk di depan meja, bersiap menaruh perhatian saya pada komputer. Tetapi, teman di sebelah meminta saya membetulkan keyboard. Dia seorang akuntan yang berpengaruh di kantor yang mau tak mau harus saya bantu.

 

Saat itu, Tuhan, supervisor saya sedang ke Jogja. Supervisor saya itu meninggalkan saya dan menitipkan banyak sekali tugas. Saya mulai bekerja merancang konsep sosial media dan beberapa kali gagal fokus memantau para selebgram yang mesra-mesraan habis menikah. Saya tidak cemburu. Cuma sedikit menggerutu. Seru sekali menggosipkan mereka bersama teman.

 

Belum juga siang, perut saya sudah keroncongan. Tuhan, alangkah bingungnya saya. Apakah uang kembalian ojek saya pakai untuk beli nasi goreng atau saya sisakan buat nanti ongkos pulang? Dan saya tidak mungkin merobeknya jadi dua.

 

Saya lalu memeriksa ponsel. Siapa tahu ada jawaban SMS dari Bapak. Saya sudah meminta kiriman bekal seminggu yang lalu. Sebetulnya saya malu memintanya apalagi menagihnya setiap hari. Tidak pantas rasanya seorang anak yang telah bekerja masih meminta? Apa bedanya dengan pengemis? Iya sih, Tuhan. Tapi pengemis kan tidak punya hutang buat modal bisnis.

 

Di whatsapp, muncul pesan dari Adik yang bertanya tentang kapan saya gajian. Sungguh bahagia saya waktu itu. Si bungsu mau saya belikan tas sekolah, Tuhan. Saya jadi merasa sedikit lebih berguna sebagai Kakak—setidaknya memberinya harapan. Dia tidak pernah minta sesuatu pun dari saya. Saya betul-betul terharu. Tapi kemudian, saya teringat lagi kalau tabungan saya tinggal nol rupiah.

 

Saya memotret tas saya dan mengirimkan potret itu padanya. Saya bilang, “Pakai yang ini dulu gimana? Masih bagus kok.” Dia balas, “Enggak ah, Teh. Aku enggak mau tas gendong. Maunya tas selempang.” Saya tersenyum. Adik saya ini berbakat jadi selebgram. Bagus sekali seleranya. Tuhan, semoga dia bisa bersabar sampai bulan depan. Aamiin.

 

Saya hampir membencimu, Tuhan. Dan saya melampiaskannya dengan mengirimkan SMS tagihan berkali-kali pada Bapak. Bapak menjawab singkat, “Iya.” Sampai siang saya mengantuk berat, menunggu. Ternyata, kata Mama, Bapak sudah pergi memotret dan tidak sempat menitipkan uang untuk dikirim hari ini.

 

Saya mengepalkan tangan, erat. Sapaan bos saya balas dengan menggeliat. Saya pesan nasi goreng dan tidak peduli apakah pulang harus jalan kaki atau pakai elang. Beberapa menit setelah istirahat, Mama bilang lewat telepon, “Mama cuma kirim sedikit. Maaf, ya, Teh. Bapakmu belum pulang sih. Takut bank tutup, jadi Mama pinjam ke tetangga.” Antara lega dan sedih, saya tidak berkata apa-apa lagi.

 

Dalam perjalanan pulang, saya mampir ke ATM bersama teman, istirahat, dan melanjutkan misi saya yang lain, Tuhan. Ialah mengajar, tugas mulia dari-Mu. Saya tidak tahu apakah ini akan meredakan kepenatan saya. Tapi saya tahu kalau Kau suka pekerjaan ini lebih dari apa pun. Setidaknya saya ingin mengurangi angka depresi di ITB dengan menjadi teman bagi mahasiswa baru yang kesepian.

 

Jam sebelas malam, Mama menelepon untuk mencurahkan hatinya dan mengabarkan betapa kangennya dia dengan Bapak. “Mama enggak kangen Teteh?” Saya mendadak jadi pelawak di sela-sela obrolan. Mendengar gelak tawanya, seketika saya merasa kaya. Kaya karena telah cukup menularkan kebahagiaan. Mama tidak butuh uang maupun prestasi saya. Mama butuh didengar.

 

Tuhan, saya ini memang miskin tanpa pertolonganmu. Saya juga lemah tanpa kekuatanmu. Saya pelupa dan mudah mengantuk. Banyak sarana dari-Mu yang tinggal rongsokan di tangan saya. Banyak amanah yang saya tinggalkan. Banyak janji yang tidak saya tepati. Hafalan saya payah. Bahasa saya masih belepotan. Karya saya tidak bisa dibilang bagus. Pendapatan saya tidak seberapa. Saya manusia yang gagap saat bicara. Saya manusia bodoh yang setiap hari menyiksa diri dengan rasa kecewa dan putus asa.

 

Saya hina dan penuh dosa dan tidak ada yang tahu akan hal itu kecuali Engkau, Tuhan.

 

Di sisi lain, saya merasa menjadi manusia jahat yang sering menjatuhkan sesama jika sedang terluka. Saya kadang-kadang pelit ilmu karena takut tersaingi. Saya penuh dengki jika melihat kesuksesan orang lain. Saya manusia sombong yang jarang sekali minta tolong. Saya manusia tak tahu diuntung. Sudah diberikan banyak sekali potensi, tapi masih saja protes pada-Mu.

 

Di sepertiga malam yang panjang, Tuhan, pipi saya kuyup air mata. Saya sendiri terkejut mendengar tangis saya yang kencang. Apakah ini pertanda betapa hamba merindukan-Mu dan betapa Engkau juga merindukan hamba?

 

Betapa besar kasih sayang-Mu, Tuhan. Terima kasih atas udara gratis yang Kaulimpahkan pada saya dan keluarga sehingga kami masih bisa menyebut nama-Mu. Terima kasih telah membantu saya merasa lapang dan sehat senantiasa. Terima kasih telah menghadirkan orang-orang terbaik di hidup saya yang membuat saya terus belajar.

 

Tuhan, terima kasih atas peristiwa-peristiwa yang tak saya duga. Tentang keterlambatan ojek online. Tentang kemacetan kota. Tentang tugas kantor. Tentang teman-teman saya. Tentang adik-adik saya. Tentang perjuangan Bapak. Tentang kejujuran Mama. Dan tentang bagaimana saya bisa menengadah pada-Mu dengan mengatakan, “Beri saya ketabahan!”

 

Kalau bukan berkat Engkau yang bimbing, saya tidak mungkin jadi saya yang baru. Saya menyesal karena dulu seringsekali mengirimkan Surat Izin Sakit setiap Kau memerintahkan saya belajar.

 

Tuhan Yang Maha Kuasa atas Segala Sesuatu, saya mohon ampuni dosa saya yang telah lalu. Ampuni juga dosa kedua orangtua dan saudara-saudara saya dan teman-teman saya dan pemimpin-pemimpin saya. Saya ingin mati dalam keadaan menyerahkan diri. Saya mohon dikumpulkan di tempat yang sama, Tuhan, tempat terbaik bersama para manusia terbaik di sisi-Mu.

 

Tuhan, di tahun baru ini, orang-orang sedang membicarakan tentang perubahan, tentang hijrah. Kau tahu, Tuhan, orang-orang zaman dulu hijrah karena bagi mereka rumah adalah kenyamanan sehingga mereka berpindah ke tempat yang jauh. Sekarang orang-orang hijrah karena bagi mereka rumah sama dengan sumber kesedihan. Banyak orang minggat atas nama hijrah. Banyak orang berubah dengan membungkus dirinya karena ingin menyesuaikan dengan tren zaman sekarang.

 

Saya memang tidak suka pakaian ini, Tuhan. Ini kampungan sekali. Saya ingin berbelanja dan mengenakan busana terbaik untuk memikat calon imam. Tapi jika tujuan saya hanya sampai pada ketertarikan seseorang, saya telah kalah, Tuhan. Saya telah kalah oleh cinta manusia. Padahal cinta-Mu jauh lebih besar.

 

Saya memang bosan berada di kota tempat saya tumbuh, Tuhan. Berbagai tawaran datang dari luar pulau. Tapi jika saya pindah dalam keadaan masih seperti itu, apa bedanya dengan orang-orang yang berhijrah untuk menuntaskan hawa nafsunya? Dan jika saya berkorban untuk itu, apa bedanya saya dengan orang-orang berilmu tapi tidak mau tunduk pada-Mu?

 

Saya ingin sekali memberangkatkan orangtua untuk pergi haji, Tuhan, untuk mencium bau pasir tapak para nabi. Tapi saya percaya bahwa jika pun belum diberi kesempatan, pasir di Taman Surga jauh lebih lembut. Saya juga ingin mempelajari bahasa asing, Tuhan, mengobrol dengan orang-orang asing untuk mengetahui pikiran mereka. Tapi jika waktunya memang tidak sempat, saya percaya bahwa mengobrol dengan-Mu bisa dengan bahasa kalbu sekali pun.

 

Saya pun ingin menyebarluaskan karya saya, Tuhan, seluas-luasnya ke seluruh penduduk bumi. Tapi jika Kau belum mengizinkan sampai saya mati, saya percaya bahwa karya saya akan viral di langit. Dan saya tidak butuh dikenang sebagai pahlawan di negeri ini. Saya butuh Kauingat sebagai pemenang. Pemenang atas diri saya sendiri.

 

Saya sempat merasa kehilangan teman-teman sepergaulan, Tuhan, tapi ternyata kau punya rencana untuk mengganti mereka dengan yang lebih baik, kadang Kau mengembalikan mereka kepada saya dalam keadaan yang lebih baik, kadang Kau juga mengubah saya menjadi lebih baik yang dapat diterima oleh mereka.

 

Maka, izinkan saya membawa tali pengikat-Mu, Tuhan, untuk mempersatukan orang-orang yang sering berseteru hanya karena perbedaan. Izinkan saya merangkul mereka satu persatu. Izinkan saya berubah menjadi seperti yang Kau mau.

 

Tuhan, jadikan saya seseorang yang mengemban tugas hijrah yang sebenar-benarnya hijrah. Sebab tidak ada yang lebih saya cintai selain Engkau. Tidak ada yang lebih saya harapkan selain Engkau. Dan tidak ada sesuatu pun yang saya takuti karena Engkau, Tuhan, ada di samping saya.

 

Tuhan Yang Maha Baik, maafkan diri saya yang kemarin! Beri kekuatan kepada diri saya mulai hari ini sampai besok dan besoknya lagi, jadi lebih baik lagi dan lebih baik lagi.

 

Demikian surat laporan kegiatan saya hari ini. Atas perhatian cinta dan kasih-Mu saya ucapkan terima kasih sekali lagi. Terima kasih telah meresmikan saya sebagai bagian dari alam semesta.

 

 

Kangen selalu,

Hamba-Mu, Kartini F. Astuti


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Membaca tulisan menyambut Tahun Baru Islam 1429 H yang menghadirkan sensasi komplit. Terlebih ini diambil dari pengalaman pribadi Kartini sendiri. Tak heran kita mereka akrab dengan apa yang Kartini alami. Sensasi dekat dengan tulisan ini pun kita dapat. Rasa mengasihani diri sendiri juga ada di sini, saat si narator kekurangan uang. Curahan hati Kartini ini bak menikmati ‘dark comedy’, senang dan sedih di saat yang bersamaan. Kondisi ini juga menjadi level tinggi bagi siapa pun dimana dia bisa menertawakan kebodohannya sendiri tanpa menyalahkan orang lain.

    Paling berkesan pada bagian sang mama yang curhat bahwa ia merindukan sang bapak lalu oleh si narator malah dibercandai dengan apakah mama tidak merindukannya. Bagian yang bikin terharu. Surat ini pun diakhiri dengan rasa penyesalan seorang hamba dan rasa terima kasih kepada Alloh swt. Teriring harapan menjadi pribadi yang lebih baik di tahun baru ini. Kartini memulai awal baru di tahun baru ini dengan cara yang sangat berkesan. Semoga menjadi penyemangat bagi kita semua, amiiiin. Terima kasih Kartini.

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 bulan yang lalu.
    Surat ini membuat saya kembali menengok kebelakang. Melihat kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan.
    Teringat, dulu sering curhat sama Tuhan di tengah malam. Namun, kini sudah jarang sekali.

  • Syaima Ressa
    Syaima Ressa
    1 bulan yang lalu.
    Aku suka suratnya hehe