SELEBGRAM

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 17 September 2017
SELEBGRAM

Rasanya saya tidak pantas menuliskan tentang ini karena saya bukan selebgram. Tapi saya cukup mengenal dunia itu sejak saya bekerja sebagai marketing komunikator.

 

Lalu apa itu selebgram? Selebgram adalah bahasa kekinian dari selebriti instagram, orang yang mengenakan produk endors bermerek “jazakallah khairan katsiran”, diunggah dan dipromosikan lewat akun pribadinya. Nah, kalau kamu mau produk gratisan, jadilah selebgram!

 

Saya juga punya teman yang ingin jadi selebgram setelah cita-citanya menjadi kontestan dangdut di Indosiar kandas di tengah jalan. Sepertinya dia dendam pada dunia. Saya sudah berusaha menghiburnya dengan mengatakan, “Kalau nanti followers kamu udah di atas satu juta umat dan belum ada perusahaan yang nitip produk, aku mau deh kamu promoin buat dicariin jodoh.” Terus dia ketawa dan malah nanya, “Emang bakalan laku?”

 

Baiklah, lupakan. Lagian cuma wanita murahan yang menganggap dirinya barang dagangan.

 

Saya pernah nonton film “Selebgram” di bioskop rame-rame bareng teman. Saya nggak ngerti kenapa semua orang di situ terpingkal-pingkal, apalagi waktu Ria Ricis digombalin. Mungkin selera humor saya payah. Atau mungkin saya terlalu serius menyikapi hidup. Daripada dibilang aneh, saya pura-pura ketawa sampai lupa caranya berhenti ketawa. Ada satu pelajaran yang saya dapati dari film itu: bahwa ketenaran tidak menjamin hidupmu tenang.

 

Ketenaran itu seperti heroin yang tidak akan puas-puasnya dihirup.

 

Apa yang membuat orang begitu tenar? Bisa jadi karena rupanya bagus, suaranya bagus, kata-katanya bagus, bisnisnya bagus, atau gayanya bikin orang sakit perut. Kebanyakan orang tenar adalah para pelaku seni yang muncul di depan layar. Mereka sebetulnya adalah orang-orang melankolik, terbiasa dengan drama dan tepuk tangan, tetapi antikritik dan mudah depresi.

 

Jika ketenaran sama dengan menuju kedamaian, kenapa justru vokalis band setenar Chester Bennington meninggal bunuh diri? Kenapa penulis sebeken Hemingway menembak kepalanya sendiri? Kenapa penyanyi selegandaris Whitney Houston menyengaja overdosis narkoba sampai tertelungkup di kamar mandi? Dan kenapa komedian sedahsyat Robin Williams bahkan kesulitan membahagiakan dirinya dan malah menenggak kokain?

 

Deretan publik figur telah mengorbankan segalanya demi karya mereka, demi karier. Hanya saja, sayangnya, karya mereka tidak bisa menolong hati mereka di saat krisis. Mereka lupa bahwa ketenaran tidak akan langgeng selamanya. Dan mereka tidak siap menghadapi hal itu.

 

.

 

Beberapa tahun setelah memenangkan hadiah Nobel dan Pulitzer, Hemingway jatuh dari pesawat dan mempersalahkan perawatan ECT yang membuat daya ingatnya hancur sehingga tidak sanggup lagi dia menulis dengan bagus. “Gara-gara itu, aku kehilangan bisnisku,” katanya.

 

Robin Williams begitu kesal dan malu saat film yang dibintanginya berhenti tayang sehingga ia memutuskan mengakhiri hidupnya.

 

Whitney depresi ketika suaranya tidak sejernih dulu, terutama setelah melahirkan puterinya.

 

Bahkan Kurt Cobain yang merasa kehilangan penonton, dalam surat terakhirnya menyebut, “Lebih baik terbakar habis daripada meredup.”

 

Saya percaya di dalam diri setiap manusia ada jiwa seni yang tertidur. Dan ketika jiwa seni itu bangun, manusia menjelma bajingan yang haus pengakuan. Dan saya, sialnya, juga manusia. Terkadang ada saja perasaan ingin menunjukkan hasil keringat saya pada orang lain. Sekalinya diakui, saya kok malah menagihnya berkali-kali.

 

Saya ingat teman saya mengatakan, “Keberhasilan kita, jerih payah kita, apresiasi orang lain terhadap kita berapa pun jumlahnya, tidak boleh ditabung untuk memuaskan diri kita, tapi dipakai untuk membeli cinta dan kasih Tuhan.”

 

.

 

Tentang instagram…

 

Instagram saya juluki sebagai arena kecemburuan sosial. Gimana enggak? Setiap makanan enak dipamerkan. Setiap habis menjejaki tempat keren ditampilkan. Setiap kemesraan dipertontonkan. Setiap dapat penghargaan diberitakan. Tapi setiap kehabisan uang, bisik-bisik sama teman.

 

Bukannya anti kemapanan, saya justru kasihan dengan para pemilik akun yang notabene tidak punya bahan buat pameran. Biasanya mereka uring-uringan di jalan sampai garuk-garuk aspal terus ditabrak kontainer. Tuh kan, bahaya.

 

Kabar buruknya, kita sering tertipu dengan karakter seseorang. Pernah ada orang bilang begini, “Di instagram dia kalem tapi kok aslinya jalannya miring?”

 

Kabar baiknya, linimasa instagram juga ramai dengan nasehat-nasehat singkat atau tebakan berhadiah. Lumayan, yang beruntung bisa dapat jodoh.

 

Begitulah instagram. Bagi kebanyakan orang, media tersebut adalah hiburan. Jadi, jangan sampai kita posting rumus matematika. Enggak akan ada yang love!

 

.

 

Kembali ke topik selebgram…

 

Barangkali kekhawatiran saya terhadap mental para selebgram dewasa ini sama seperti kekhawatiran saya terhadap mewabahnya fenomena bullying. Akan ada satu masa di mana para selebgram mengeluhkan banjirnya komentar negatif, di mana mereka dituntut untuk tampil sesempurna yang didambakan fans.

 

Memang siapa sih yang tahan dengan tekanan? Gerak para selebgram jadi terbatas karenanya. Betapa galaunya mereka sampai tutup buka akun seakan-akan instagram adalah rumah kosan. Betapa tidak merdekanya mereka. Akhirnya mereka menjalani hidup sesuai dengan keinginan lovers, bukan sesuai dengan keinginan Tuhan yang senyata-nyatanya Lover.

 

.

 

Izinkan saya berandai-andai dengan para selebriti dalam kisah nabi…

 

Saya bayangkan, jika mereka hidup di zaman milenia ini, mereka punya akun dengan karakteristik masing-masing.

 

Ada seorang pemuda hebat dengan username @abuhakam. Dia adalah selebgram dengan jumlah followers 925K dan following 10. Sosok yang sangat dihormati oleh hampir seluruh warganet tapi dia sendiri terlalu sibuk untuk mengomentari postingan orang lain. Setiap ada direct message dari mereka yang memohon follback, jarang sekali dia gubris. Apalagi jika ada yang menawarkan produk pelangsing, dia pasti bilang, “Antum ngehina saya?”

 

@abuhakam hanya respect kepada para pemegang kunci Kabah yang akan membuatnya viral di bumi. Abu Hakam itu kemudian dijuluki Abu Jahal dan namanya diabadikan dalam linimasa sepanjang zaman sebagai Bapak Kebodohan.

 

Beda lagi dengan @mushab yang jumlah followersnya 1.2m dan followingnya 543K. Memang jarang sekali ada selebgram dengan following sebanyak itu, kecuali akun jualan online. Mushaib itu selebgram yang tampan, humoris, serta cerdas. Awalnya @mushab gengsi follback-follback. Hampir semua followersnya ukhtifillah plus ibu-ibu yang mengincar menantu idaman.

 

Tapi Mushab, seorang artis Makkah itu, berubah pandangan ketika bersahabat dengan Muhammad. Dia rela mengikuti dan memasang badan di belakang para selebgram yang lain. Dia ikhlas akunnya dibajak, dibully habis-habisan oleh para haters. Dia lalu kehilangan kedua tangannya setelah memasang quote dari Tuhan sampai akhirnya dia wafat tanpa punya selembar kain yang cukup untuk menutup tubuhnya.

 

Ada pula sosok @julaybib. Saya bayangkan dia seorang pemilik akun instagram dengan jumlah followers 1 dan jumlah following 3541. Dia pemuda yang minder dan merasa jelek jadi tidak pernah selfie-selfie. Dia juga terlalu gaptek untuk memposting sesuatu. Julaybib merasa membutuhkan orang lain, tidak masalah apakah orang lain menganggapnya atau tidak.

 

Lalu siapa followersnya @julaybib yang satu? Muhammad. Hanya Muhammad. Bahkan Muhammad sendiri bilang, “Diri saya adalah bagian dari Julaybib. Dan Julaybib adalah bagian dari diri saya.” Tiba-tiba jumlah followers Julaybib melejit sewaktu beliau wafat. Para sahabat bertanya, “Siapa mereka?” Muhammad menjawab, “Mereka itu para penduduk langit. Julaybib terkenal di atas sana.”

 

.

 

Lihat lagi ke dalam isi kepala kita, siapa sebenarnya yang kita follow, siapa yang kita tonton storynya setiap hari? Apakah dia layak jadi panutan?

 

Teman-teman yang baik,

 

Selebgram ibarat Peniup Seruling dari Hamelin. Selama seruling itu bunyi, sekelompok tikus akan setia diajak kemana pun. Kebayang kan kalau seorang selebgram ngajak followersnya masuk jurang?

 

Kita yang bukan selebgram saja akan dimintai pertanggungjawaban ke mana kita melangkah dan ke mana orang-orang di sekitar kita menuju. Sanggupkah kita jadi anugerah di hidup mereka? Bersediakah kita jadi influencer bagi orang-orang terdekat kita?

 

Nah! Itu kan challenge dari Tuhan.

 

Saya ingin mengatakan bahwa kita semua berbakat jadi selebgram. Tuhan menitipkan kita produk berharga, yaitu kalimat-Nya, yang akan menyembuhkan siapa saja. Dengan cara dan kreativitas kita masing-masing, kita harus berlomba-lomba menyebarkannya. Bisa melalui bisnis, lagu, desain, film, lukisan, kampanye politik, fotografi, dan sebagainya. Jangan lupa bubuhkan caption yang nendang!

 

Menjangkau lebih banyak followers di bumi seperti @mushab juga adalah salah satu caranya tapi bukan itu tujuannya. Tujuannya adalah menjadikan followers dan following kita sebagai sekolompok sahabat yang bergandengan tangan dengan kita sampai ke depan pintu surga.

 

Dan untuk menuju tujuan itu kita memang harus berkorban. Bukan berkorban demi memanjakan hasrat kita, keinginan kita. Tapi sekali lagi, keinginan Tuhan. Kebayang kan kalau kita dimention Tuhan dan difollow malaikat, tapi kita malah cuek dan enggak ngapa-ngapain?

 

Tuhanlah yang berkuasa menjadikan kita selebgram—makhluk pilihan-Nya. Kalau Tuhan sebagai Manajer saja sudah dislove kita, niscaya mudah bagi-Nya untuk mencabut segala sesuatu dari kita, bahkan kita bisa diblokir dari status sebagai hamba.

 

Oh, no!

 

.

 

Bandung, 2017 | Kartini F. Astuti


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    3 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Selalu memberikan kesan tersendiri membaca opini dari Kartini F. Astuti, termasuk si ‘Selebgram’ ini. Mengangkat tema yang segar sudah pasti. Bahasanya nyinyir mengigit itu juga sudah jadi jaminan. Bahasa Kartini lugas, tidak berbelit dan pastinya kritis. Poin plus di hampir setiap tulisannya adalah Kartini memasukkan elemen relijius. Tak banyak penulis yang bisa memberi dakwah secara tepat sasaran, menggelitik plus kekinian seperti Kartini ini.

    Banyak yang akan tertohok membaca tulisan ini, bahkan yang merasa bukan selebgram sekali pun. Sebab tak hanya menyinggung fenomena Instagram yang memunculkan selebgram dengan segala jualan mereka tetapi juga efek ketenaran yang ternyata tidak menjamin ketenangan hati seorang selebgram. Pengandaian selebriti dalam kisah nabi menjadi aspek tulisannya yang paling beda dari kebanyakan opini tentang selebgram yang mungkin biasa kita baca sebelumnya. Di sini, salut buat Kartini yang selalu mengajak pada kebaikan, tanggung jawab yang ia tuntaskan sebagai penulis yang amanah.

    Jika boleh memberi saran, pemilihan contoh Ernest Hemingway, Robin Williams dan Kurt Cobain sebaiknya bisa diganti dengan selebgram yang bermasalah walau memang ke-3 nama tersebut orang yang sangat tenar. Tetapi mereka sudah lebih lama populer sebelum Instagram lahir. Anyway, keren sekali ini , Kartini..


  • Syaima Ressa
    Syaima Ressa
    2 bulan yang lalu.
    Mush'ab bin Umair favoritku :') , kisah julaibib jg aku suka.