Proklamasi yang Cacat

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 17 Agustus 2017
Proklamasi yang Cacat

 

Saya pernah disetrap guru PPKn dan diminta mengulang teks proklamasi di depan kelas. Sial sekali. Saya tergagap-gagap saat itu. Sebagai orang Indonesia yang mengaku sudah merdeka, saya malu sendiri karena tak hafal proklamasi.

Sejak saat itu, saya mulai haus buku sejarah dan berulangkali mendengar rekaman pidato para pahlawan. Setiap pulang sekolah, saya mampir ke Dewan Kesenian dan ikut latihan baca puisi untuk melancarkan lidah saya dalam berorasi dan meniru-niru mereka—pahlawan kebanggaan bangsa. Saya kemudian merasa gagah disebut sebagai pembaca puisi.

Di kampus, banyak orang yang terkesima dengan suara saya meskipun saya tidak yakin dengan apa yang saya bacakan. Saya merasa suara saya tidak ubahnya suara badut. Barangkali kampus saya itu sangat butuh hiburan. Kadang saya juga menerima bayaran untuk itu. Lambat laun teman-teman saya kemudian minta dilatih baca puisi untuk sekadar memenangkan ajang atau memikat para lajang. Saya bahagia bisa jadi trendsetter.

Saya melihat kondisi yang sama, sekarang, di mana para pembaca Quran mulai digandrungi karena suaranya, bahkan diperlombakan. Lalu orang berbondong-bondong melagukan pesan Allah tanpa tahu maknanya.

Saya justru takut, ketika hanya mendengar merdunya suara mereka bukan apa yang Allah katakan melalui mereka, hati saya malah terpenjara dan tidak lagi merdeka. Hati kita tunduk pada figur manusia, bukan lagi pada Sang Pencipta. Hati kita terseret dan hanyut mengikuti arus tren, bukan pada muara Yang Maha Esa.

Allah tak adil jika kriteria salih bagi-Nya adalah makhluk yang bersuara bagus. Bagaimana makhluk yang tunawicara? Bagaimana makhluk yang fals seperti kita?

Allah itu majikan kita. Dan kita hanyalah pembantu atau hamba atau abdi. Bagaimana hidup akan kita pertanggungjawabkan sementara kita hanya sibuk melagukan perintah Allah, bukan melaksanakannya? Dan bukankah jalan yang ditunjuki Allah adalah sebuah pembebasan, adalah sebuah kemerdekaan yang sesungguh-sungguhnya?

Lama-lama saya mencurigai diri sendiri, apa benar saya telah merdeka? Sejak kapan? Saya tidak ingin merdeka jika makna kemerdekaan itu hanyalah lepas dari tangan penjajah. Saya ingin merdeka dari diri sendiri, tentu sejak dalam pikiran. Saya ingin menang tapi bukan dengan cara memberengseki orang.  Saya ingin setia tapi bukan malah membabibuta.

Saya tidak ingin memuaskan diri saya lagi maupun orang lain, saya ingin memuaskan Allah. Saya tidak ingin bangga diri ketika berkarya, tapi saya ingin membanggakan Allah. Saya tidak ingin baper melihat seseorang begitu baik pada saya, saya ingin baper karena Allah begitu baik telah mengirimkan seseorang itu untuk saya.

Jika kita rajin memproklamirkan diri sebagai Muslim setiap salat tapi kita masih bergantung pada makhluk, berarti ada yang cacat dalam proklamasi kita.

Muslim itu menyerah, bukan membantah. Lalu bagaimana kita akan menyerahkan diri sementara kita tidak tahu apa sebetulnya yang Allah inginkan dari kita?

Allah ingin sepanjang hidup kita bernilai ibadah di mana saja kita berada. Sudah, itu saja.

Allah tidak berada di tempat jauh. Allah ada di mana-mana sekaligus dalam satu waktu. Allah tentu bisa kita temukan dalam wajah pemimpin yang mencintai rakyatnya, dalam secangkir kopi seorang istri kepada suaminya, dalam pelukan seorang ibu kepada anaknya, dalam keringat seorang ayah, dalam setetes asi yang diteguk seorang bayi.

Kita butuh melihat itu semua untuk membuktikan cinta dan kasih Allah. Demikianlah konektivitas atau pengiriman pesan dari langit. Ada yang ingin Allah katakan di situ. Allah telah mengutus mereka untuk mengingatkan agar kita kembali pulang pada-Nya, bukan malah berpaling dari-Nya.

Allah juga ingin membuktikan cinta dan kasih kita. Iya kan? Ujian Allah tidaklah berhenti sampai pada rasa lapang. Betapa mudah hidup kita jika hanya seperti itu. Betapa murah surga jika begitu.

Dari sini, kita tidak harus mengerti di mana posisi Allah, tapi kita harus memposisikan Allah di dalam diri kita.

Allah seringkali menghadapkan kita pada dua pilihan yang amat sangat sulit. Pilih Allah atau bukan, Allah atau bukan, Allah atau bukan?

Ini sulit. Kalau mudah, sekali lagi, surga tidaklah berharga.

Ingatkah kamu dengan kemarahan Umar bin Khattab saat Rasulullah wafat? Abu Bakar mengatakan, “Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa di antara kalian yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah hidup dan takkan pernah mati.”

Umar, ksatria kaum muslim yang terkenal karena ketaatannya, pernah lupa diri karena telah mencintai penyampai pesan daripada Allah sebagai Pengirim Pesan itu sendiri.

Maka, kematian, kehilangan, penderitaan, bahkan ketakutan hidup membujang yang menyerang kita hari ini bukan untuk ditangisi. Jika kita mampu berpikir dengan hati, itu semua merupakan bukti rasa cemburu Allah terhadap kita.

Sekarang, katakan padaku, sahabat-sahabatku...

Katakan padaku, jika kau hidup sebagai Ibrahim, masihkah kau bernegosiasi saat Allah memerintahkanmu untuk masuk ke perapian yang menyala-nyala, untuk menyembelih Ismail, untuk membiarkan Hajar terlunta-lunta di tengah gurun pasir? Ibrahim, juga kita, diperintah untuk mengorbankan diri dan semua yang kita cintai.

Kau berargumen bahwa itu kan Nabi, level keimanannya pasti berbeda. Sahabatku, bukankah Nabi diutus untuk kita contoh? Kita memang tidak perlu bakar-bakaran atau sembelih-sembelihan. Itu mengerikan. Tapi mulailah dengan menghanguskan sesuatu selain Allah di hati, membunuh yang bukan Allah di hati.

Demikian halnya jika kau hidup sebagai Sarah, maukah kau merelakan suamimu berbagi cinta dengan wanita lain? Bukan. Ini bukan karena keegoisan Ibrahim sebagai suami. Ini perintah Allah dengan satu alasan yang pasti: kemerdekaan atas hak seorang budak. Sarah, perempuan yang rela mengorbankan perasaannya itu, sama seperti kita, diuji.

Katakan padaku, jika kau hidup sebagai Abdullah bin Abu Bakar sudikah kau menceraikan istrimu? Ini bukan semata-mata ulah sang ayah yang pilih-pilih menantu. Bukan juga karena kasus kekerasan dalam rumah tangga. Justru Abu Bakar saat itu melihat Atikah dan Abdullah sering bermesraan sehingga dia takut cinta mereka akan berubah jadi diktator, angkuh, dan menjajah.

Katakan padaku, jika kau hidup sebagai Abu Ubaidah, maukah kau mengayunkan pedang dan memerangi ayahmu di medan perang? Padahal ayahmu itu telah memberikan separuh hidupnya padamu. Tidak ada lagi balas budi di sini. Tidak ada lagi sesuatu pun yang bisa jadi penghalang antara seorang hamba dengan Allah.

Demikian halnya jika kau hidup sebagai Abdurrahman bin Auf saudagar terkaya Mekah atau Mush’aib bin Umair sang artis Mekah, maukah kau menyerahkan apa-apa yang kaumiliki untuk bersungguh-sungguh di jalan Allah? Bahwa potensi kemuliaan itu semua akan memberatkan punggung seorang hamba jika tidak dia gunakan karena Allah.

Kita sepantasnya memerdekakan diri dari keinginan untuk menang sendiri, dari nafsu berkelahi, dari ambisi untuk dicintai, dan dari rasa benci. Ali bin Abi Thalib boleh jadi menusukkan pedangnya pada seorang musuh begitu wajahnya diludahi. Tapi dia menunggu sampai emosinya mereda. Dia takut dia berperang karena kemarahannya diludahi, bukan karena Allah.

Dengan alasan apalagi kau ingin menggapai segala sesuatu di hidupmu?

Katamu, Allah senang melihat hamba-Nya mencerminkan orang-orang hebat, orang-orang yang tak terkalahkan—yang membuat segenap musuh gentar. Sebenarnya kau ini ingin mencerminkan dan sedang mewakili Allah atau malah menyaingi-Nya?

Kau lupa untuk terlebih dulu mengalahkan dirimu, perasaanmu. Kau menolak mengikuti orang-orang yang tak membuatmu merasa nyaman, orang-orang yang kauanggap bodoh dan sesat. Kau penuh curiga dan tak sedikit pun menyenangkan Allah. Padahal kesombongan adalah selendang Allah yang tak pantas kamu curi.

Sahabatku, hidup ini adalah tentang menggapai dan merelakan. Ada hamba yang harus mengorbankan kemalasannya untuk menggapai sesuatu karena Allah. Ada hamba yang setelah menggapai sesuatu itu harus dia lepaskan karena Allah.

Saya memilih merelakan segala sesuatu yang saya punya daripada menggapai segala sesuatu yang tak saya punya. Mereka yang menggapai-gapai berarti miskin, merasa tak cukup dengan apa yang mereka miliki. Mereka yang sanggup merelakan berarti telah kaya. Dan cukuplah Allah bagi mereka.

Maka, kemerdekaan bagi saya bukan sekadar euforia atas pencapaian mimpi-mimpi tapi pengorbanan yang terus menerus kita lakoni sampai mati.

 

Bandung, 17 Agustus 2017

Kartini F. Astuti

  • view 79