Dear Afi Nihaya Faradisa

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Juni 2017
Dear Afi Nihaya Faradisa

Bandung, 5 Juni 2017

 

In the name of God, the Most Beneficent, the Most Merciful.

Atas nama Tuhan yang berbelas kasih dan sayang.

 

Dear, Afi.

Apa kabar? Apa kamu baik-baik saja? Jujur, waktu itu aku kangen sama kamu. Selama sehari penuh aku tidak menemukan lagi akunmu yang sering diteror itu, Fi. Aku takut kamu dibunuh. Bagaimana dengan pasukan Banser yang siap mengawalmu? Apakah mereka masih pasang badan?

Afi, kukirim paket ini buatmu. Anggap saja ini tanda persahabatan kita meskipun baru sebatas obrolan singkat dan selalu berakhir dengan bertukar stiker. Aku hanya satu di antara berjuta pasang mata yang memperhatikanmu, apalagi sejak kamu memutuskan berlepastangan 10 hari dari gadget. Tidak lama berselang, nama kamu muncul di On The Spot seakan-akan kamu termasuk 7 keajaiban dunia. Lalu aku meminta tanggapanmu tentang media sosial tapi tampaknya kamu masih sibuk menghadapi ujian sekolah saat itu.

Memang kamu ajaib, Fi. Kata-katamu menyihir kami. Apa kamu pernah tersihir oleh kata-katamu sendiri? Apa kamu sering membaca hati dan pikiran orang lain selain hati dan pikiranmu? Apa kamu selalu merasa dimata-matai? Ada banyak para pembenci yang mungkin ingin meludahimu. Ada banyak para pencemburu yang lebih dulu lahir daripada kamu dan mungkin ingin memusnahkanmu.

Afi yang manis, aku pernah berada di posisi geram dengan kata-kata penghakiman orang lain terhadapku. Kenapa orang-orang ini? Apa mereka menganggap diri mereka adalah Tuhan? Tapi di saat bersamaan aku malah menyaingi Tuhan dengan membuat kata-kata tandingan hanya untuk mengunci dan membungkam mulut semua orang. Aku harap kamu tidak seperti aku.

Aku lantas berkata pada diriku sendiri bahwa suatu saat nanti, akan aku peluk siapa pun yang mampu mengendalikan kata-kata.

Dan salah satu pengendali itu kamu.

Dan rupanya pemikiranmu melebihi deret angka usiamu.

Afi sayang, aku ingin menjadikanmu “sahabat”, bukan sekadar “teman” yang mengisi daftar semu pertemanan di facebook. Aku ingin menjadi tongkat untuk menjagamu dari kemungkinan terjatuh. Tapi aku pun masih rapuh. Aku ingin memberimu amunisi untuk terus dan terus dan terus menulis. Tapi tidak dengan cara-cara menekan bertubi-tubi seperti kebanyakan orang.

Betapa pun sanjungan di depan umum memang kadang membebani kita, manusia, untuk jadi robot yang harus terus memuaskan tuannya. Karena kesadaran itulah aku mulai menghubungimu secara personal. Cita-citaku sederhana, Fi, aku ingin tumbuh bersama orang yang tidak bosan memetik pelajaran, aku ingin tumbuh bersama kamu.

Aku bekerja di sebuah penerbit kitab suci umat yang juga memiliki belas kasih. Namun, aku terbilang jarang membaca kitab itu. Maksudku, aku jarang betul-betul membacanya, bukan terbatas pada menghafal apalagi mengutip untuk tujuan-tujuan menyerang.

Aku pun bertekad untuk memberikanmu satu supaya nanti, saat ketemu, kita bisa membacanya bersama-sama. Aku juga memilihkanmu jilid yang paling bagus supaya kamu bisa tetap menjadikannya pegangan meskipun hujan dan badai menerpa.

Tuhan suka sekali memberi kita teka-teki, Afi. Kalimat pembuka di surat cinta-Nya, seperti juga kalimat pembuka di suratku ini, sampai sekarang masih membuatku bertanya-tanya.

“Atas nama Tuhan yang berbelas kasih dan sayang.”

Apa benar aku sedang mewakili Tuhan untuk bersuara, untuk bertindak? Apa benar aku sedang mengatasnamakan Tuhan? Kenapa orang-orang begitu enteng mengucapkannya tanpa berpikir, tanpa merasa? Kenapa orang-orang itu mengaku diberi mandat oleh Tuhan untuk menjadikan damai bumi ini sedangkan mereka tidak memiliki belas kasih dan sayang?

Kamu tahu, setiap hari aku dituntut membuat konten iklan seakan-akan menasehati orang lain, Fi, padahal aku sedang menasehati diri sendiri. Aku sering menangis jika ternyata merah darah kehidupanku tidak sebaik tinta hitam tulisanku. Memang lebih nyaman jika kita menderita disleksia atau buta huruf atau tuna netra daripada kita terus membaca dan menulis tetapi orang-orang malah menganggap kita sedang menodongkan senjata.

Tulisanmu tentang warisan lebih dari sekadar bom atom, Afi. Sebagai orang yang akhir-akhir ini jarang berpikir, aku sempat terperanjat sebentar lalu tersenyum.

Apa yang salah? Tidak ada. Kamu hanya mengangkat fenomena. Kata-katamu menyeretku jauh ke zaman purba pada saat manusia pertama diciptakan, lalu ke zaman pada saat seorang utusan menyerahkan diri untuk dibakar, lalu ke zaman pada saat seorang utusan disebut sebagai tukang sihir, lalu ke zaman di mana orangtuaku membesarkanku.

Apa yang menjadikan mereka, para tukang pos atau utusan atau juru selamat itu, sama-sama dinobatkan sebagai hamba Tuhan? Karena “ibadah tak tampak”, bukan? Karena mereka menyerahkan diri kepada Tuhan dan membebaskan diri dari keangkuhan, dari nafsu. Bukan karena rutinitas tertentu. Bukan karena di kartu penduduk mereka tercantum nama agama tertentu. Sementara “ibadah yang tampak” berbeda-beda metode di setiap zamannya. Dan kita, suka maupun terpaksa, perlu mengikuti zaman. Kecuali jika kita ingin jadi manusia terbelakang.

Afi sayang, utusan Tuhan di setiap zaman memiliki dua tipe keluarga: keluarga sedarah dan keluarga seiman. Ini aneh. Tapi polanya memang selalu begitu. Tengoklah bagaimana agama kita dulunya dianggap sebagai pemecah belah. Bagaimana para pendahulu kita sampai berdarah-darah hanya untuk berkumpul dengan sang utusan dan menyemestakan diri mereka.

Kita memang tidak bisa memilih dilahirkan dari rahim siapa tapi kita bisa memilih keluarga baru sebagai tempat menimba ilmu. Apa kita hanya cukup dengan dibekali ilmu oleh keluarga sedarah? Hanya karena orangtua kita “berdarah” muslim misalnya, kita lantas merasa suci? Tidak. Kita perlu mencari kemurnian dari keluarga lain di luar rumah untuk kemudian memurnikan warisan di dalam rumah. Kusebut demikian karena sering rumah menjadi simbol kenyamanan yang dapat memenjarakan keimanan kita. Kamu sendiri memutuskan menjemput satu keluarga saja atau dua keluarga sekaligus, Afi? Bertahan atau bertumbuh? Survive atau hijrah?

Kamu mampu menerawang ini. Barangkali memang benar kita hanya puas dengan warisan. Padahal apa yang diwariskan bisa jadi sudah keruh. Lalu apa salahnya memurnikan warisan yang sudah kita terima dengan membaca sejarah, juga dengan membaca diri sendiri selaku manusia? Setiap utusan mendapatkan warisan yang sama murninya, tetapi para pengikutnyalah yang menjadikannya keruh.

Ah, agama yang kita peluk hari ini dan kita bangga-banggakan besok barangkali hanya sekadar persoalan bahasa, barangkali hanya sekadar persoalan kemasan. Agama di mata Tuhan kan lebih dari itu. Seingatku Tuhan juga sempat mengatakan kita harus berserah diri bukan karena kebanyakan orang telah memercayai suatu perkara, bukan karena nenek moyang kita seorang pelaut, bukan karena bapak kita, ibu kita, saudara kita, harta perniagaan, dan rumah yang kita cintai. Bukan. Bukan karena warisan yang mungkin keruh itu. Tetapi semata atas nama Tuhan.

Statusmu yang melulu viral memang mengundang banyak pemikiran baru. Aku menganggapnya sebagai salah satu langkah pemurnian terhadap warisan itu sendiri.

Terima kasih, Afi!

Apa yang lalu kamu khawatirkan sekarang? Penilaian dari segenap penjuru mata angin? Apa kamu sengaja menjatuhkan dirimu untuk tak dianggap wali seperti dulu?

Aku tidak menemukan niat jahat dalam dirimu. Kamu bukan penipu. Aku juga tahu bahwa sebanyak apa pun kata-kata yang kamu bagikan tidak akan mampu menggambarkan isi kepalamu. Jangan pernah membenci dirimu sendiri hanya karena kamu jauh dari harapan banyak orang. Aku pun tahu kamu tidak bisa bebas dari dosa dan memang tidak akan pernah bisa. Untungnya kamu bukan malaikat, ya, Fi? Sedikit ketersandungan barangkali bisa membuatmu lebih berhati-hati dan rehat sebentar dari keramaian sebagaimana utusan kita meneguk pesan Tuhan di gua.

Jangan lupakan mereka yang fanatik terhadap agamanya sendiri sekalipun banyak di antara mereka yang pernah mencacimu. Karena apa? Karena kamu bisa jadi tempat sampah yang baik buat segala amarah daripada membiarkan kemarahan itu bertebaran di mana-mana. Jangan biarkan mereka yang tidak berpikiran sama bertengkar satu sama lain di komentar. Karena apa? Karena kamu bisa jadi pemersatu bagi mereka.

Banyak yang mengira kalau kamu telah dijadikan bagian dari kepentingan orang-orang yang berkuasa, semacam skandal politik. Aku tak tahu. Tapi apa salahnya kamu berhati-hati terhadap ini lebih daripada pengawasanmu terhadap akun palsu. Tidak perlu silau dengan kamera. Jangan terlampau bergembira dengan wawancara media. Jangan pula abaikan mereka yang berkontribusi untuk kedewasaanmu. Sekolah tinggi-tinggi memang tidak menjamin orang akan berpikiran terbuka seperti kamu. Tapi di situlah letak etika yang sangat menyebalkan dibangun dan mereka mampu melaluinya dengan payah.

Aku tahu orang-orang seperti kita tidak peduli aturan, masa bodoh dengan formalitas. Aku pun begitu. Aku hanya sibuk mengurusi estetika diri. Sering aku terlihat ingin sekali dihargai tapi aku tak tahu caranya menghargai orang. Sekali lagi, kuharap kamu tidak seperti aku.

Afi, kamu makhluk kesayangan Tuhan yang kuat dan berani. Matamu elang di langit. Aku tahu kamu mampu memandang banyak hal sekaligus dalam satu waktu. Kamu pun punya kemampuan bertarung yang baik. Kata-kata kan lebih tajam dari pedang. Dan kamu berhasil menghunuskan pedang itu dengan heroik.

Aku jadi teringat Panglima Khalid yang menerima julukan sebagai Pedangnya Tuhan, Fi. Aku yakin kamu pernah juga membaca kisah tentangnya. Aku kagum sekali dengan sosok ini. Hanya saja, aku tidak ingin jadi seperti sebagian besar bala tentaranya yang bereuforia terhadap kehebatan seorang panglima tapi tidak pernah belajar darinya atau mengajaknya belajar tentang strategi perang.

Sikap bala tentaranya inilah yang membuat Khalid berdiri gagah sambil mengangkat dagu, bergerak sekehendaknya sendiri tanpa perintah. Khalid protes terhadap Umar bin Khattab setelah tugasnya sebagai panglima dicabut. Dia dipecat digantikan Abu Ubaidah. Khalid pun sempat jatuh sakit karenanya. Pedangnya Tuhan bisa dilumpuhkan oleh penyakit? Dia bercucuran air mata lalu berkata lirih saat masa kritis, “Tiada daya dan upaya melainkan dengan kekuatan Tuhan.” Khalid kemudian mengembuskan nafas terakhir di sebuah wilayah yang pernah dia taklukkan, di kamar, bukan di medan perang. Tuhan barangkali tidak ingin pedang-Nya patah.

Afi, maafkan aku. Aku sudah jarang mengutip kata-kata keren tokoh dunia yang dapat membuatku terlihat sedikit lebih pintar daripada orang lain. Tapi sedang kucoba. Kata-kata Albert Camus yang sempat menginspirasi lagu Banda Neira ini sepertinya cocok jadi bahan renungan kita: “Don’t walk behind me; I may not lead. Don’t walk in front of me; I may not follow. Just walk beside me and be my friend.

Sampaikan salamku untuk orangtuamu di Banyuwangi, Asa Firda Inayah, sahabatku. Sungguh itu nama yang cantik. Asa adalah harapan. Firda adalah surga. Dan inayah adalah perlindungan. Benar begitu? Kalau aku boleh maknai, akan selalu ada harapan bagi kita untuk mencari tempat berlindung dan mewarisi kunci surga.

Katakan juga pada orangtuamu bahwa puteri mereka sangat berpotensi menjadi pemimpin di dunia yang penuh kekacauan ini. Kamu tahu, Afi, kenapa presiden-presiden kita berasal dari Jawa? Karena orang Jawa tidak lemah dan mampu mempertemukan setiap golongan menjadi satu. Satu syaratnya: bersandar pada Yang Satu.

Semoga Tuhan selalu mengecup mesra keningmu. Semoga pemikiranmu dapat memurnikan polusi. Semoga kamu masih bisa menghirup udara segar sampai besok dan besoknya lagi. Kalau pun tidak, aku mungkin takkan bersedih. Karena kamu sudah melipatgandakan dirimu melalui kata-kata.

Kamu juga tidak perlu mencari pasukan yang punya kekuatan bulan dan dapat mendatangkan hujan, Afi. Cukuplah Tuhan yang melindungimu.

Dan jangan pernah merasa kata-kata itu milik kita.

 

Righteous God with all His word.

Maha Benar Tuhan dengan semua surat cinta-Nya.

 

Salam sayang,
Kartini F. Astuti


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Surat persahabatan yang sungguh menggugah kesadaran banyak orang tentang sikap menghakimi yang kini sedang marak terjadi. Bisa dibilang inilah salah satu yang dinanti dari Kartini F. Astuti yang banyak berbagi opini mengenai topik yang sedang hangat diperbincangkan oleh publik dunia maya.
    Tentu masih ingat bagi kita kasus Afi dimana tulisannya di media sosial sempat viral. Tulisannya yang sempat jadi polemik jadi pokok surat dari Kartini ini.

    Ditulis dalam bahasa yang kadang puitis, coretan ini mampu menghadirkan suasana akrab tak hanya sekadar goresan sesama orang yang mampu menulis karya berpengaruh di media sosial. Lewat tulisan ini Kartini mendukung sepenuhnya Afi sebab bagaimana pun tiap orang tak layak menghakimi manusia lain. Bahwa mempunyai pemikiran cerdas untuk anak seusianya bagi Kartini sudah menjadi prestasi yang layak dibanggakan dan bisa jadi bekal cerah di kemudian hari.

  • Faizah Kun
    Faizah Kun
    1 tahun yang lalu.
    nangis, terharu . .