Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 25 Mei 2017   01:47 WIB
Jika Kau Jadi Presiden

Jika kau jadi presiden, kau akan mengatakan kepada duta-duta asing bahwa negeri kita sudah sejahtera. Tapi diam-diam kau mencari pinjaman kepada negara tetangga untuk menutupi anggaran belanja di masa kepemimpinanmu. Hanya di masa kepemimpinanmu. Selebihnya biarlah jadi tanggungan dari generasi ke generasi.

Melalui pidato, seperti juga para pendahulumu, dengan gagahnya kau pun akan mengatakan kepada rakyat Indonesia bahwa kita sudah saatnya maju. Setiap kebijakanmu dipastikan akan menuntaskan masalah kemiskinan, kemelaratan, kebodohan. Tapi kau tak tahu bagaimana caranya. Mungkin dengan gerakan bersama-sama menyanyikan mars partaimu yang aduhai itu.

Jika kau jadi presiden, kau telah jadi orang nomor satu di negeri ini. Nomor dua, nomor tiga, nomor empat, itu tidak penting. Nomor satulah yang memegang kendali. Kekuasaan ada di tanganmu. Bahkan terhadap orang-orang yang mengisi kursi anggota dewan dengan tidur panjang, kau kerap berkata, “Kerja! Kerja! Kerja!” Padahal kau sendiri ingin lebih banyak istirahat daripada bekerja.

Orang-orang di sekitarmu seringkali protes terhadap kebijakan-kebijakan yang kaukemukakan. Ada yang mengatasnamakan agama. Ada juga mengatasnamakan hak asasi manusia. Jika kau mengabaikan mereka karena kepalang pusing, orang-orang itu malah membuat kebijakan baru di dalam kebijakanmu. Asem! Kau harus memecat orang-orang kelewat bijak itu dengan taktik Reshufle.

Kau dipaksa menjadi siluman: yang punya jiwa setengah-setengah. Reporter berita menyebutnya sikap netral. Kau dilarang berpihak kepada kelompok mana pun kecuali kepada orang-orang yang tak boleh sembarangan disebutkan namanya. Merekalah yang memberimu jalan pintas meraih jabatan mulia ini. Merekalah yang berhak kautaati. Sekalipun mereka menyuruhmu memperbolehkan korupsi atau memerdekakan para gembong narkoba atau mengesahkan tempat pesta seks, tetap harus kausanggupi.

Namun adakalanya kau tidak taat. Adakalanya kau berontak. Ketika ada demonstrasi rakyat menuntutmu berbicara di depan istana, kau terpaksa melarikan diri karena muak dengan situasi. Kau lalu ditegur oleh sekelompok orang yang dulu sempat mengusungmu.

“Itu tidak baik di mata rakyat. Kau ketahuan goblok,” kata mereka.

“Loh, bukankah orang-orang beda haluan itu tidak berguna bagi kelangsungan cita-cita partai kita? Mengapa pula harus ditanggapi?” kau membela diri.

Jika kau jadi presiden, kau selalu merasa tak aman, setiap hari dijadikan bahan lelucon oleh rakyat-rakyatmu yang kurang ajar dan kurang kerjaan. Kau lalu memberikan mereka sedikit pelajaran, yaitu kurikulum pendidikan padat dan anjuran menikah cepat-cepat agar kau lepas dari perhatian mereka, agar mereka terselamatkan dari doktrin-doktrin agama di luar sekolah, agar mereka hanya menyelesaikan persoalan-persoalan rumah tangga.

Jika kau jadi presiden, kau akan meminta pengawalan yang ketat kepada balatentara di negaramu. Kau tidak ingin mati tertembak oleh peluru nyasar para bedebah, oleh bom rakitan para teroris. Kau pun akan memberantas virus radikalisasi. Sebab teroris lebih biadab daripada artis film porno. Kau kutip juga kelakar seorang kiai yang akan kaujadikan fatwa sebentar lagi.

Kau tahu kelemahan para ulama, para misionaris, para aktivis yang bernafsu untuk segera menggulingkan pemerintahanmu. Kelemahan orang-orang yang punya nafsu luar biasa besar itu ada pada selangkangan. Kau akan membebaskan perempuan-perempuan cantik dari tahanan untuk menaklukkan siapa pun yang berniat makar. Kau akan melarang berdirinya ormas-ormas yang berani-beraninya ingin menggeser kepemimpinanmu lalu kaulabeli “produk menyesatkan”.

Meski begitu, kau penasaran pula kapan kau akan jatuh dari kursi kekuasaan. Kau lebih takut jatuh karena disikut lawan politik daripada kena karma karena berbuat dosa. Setidaknya dosa merugikan diri sendiri sedangkan kegagalan dalam politik merugikan anak cucu tujuh turunan. Karenanya, kau sibuk mengamankan diri dari kemungkinan untuk jatuh, bukannya sibuk mensucikan diri untuk memajukan peradaban.

Jika kau jadi presiden, kau berhak memakai atribut berbagai agama untuk mengumpulkan decak kagum rakyatmu. Sesungguhnya kagum itu pangkal patuh, batinmu. Dan rakyatmu telah menjadikan agama sebagai candu. Kau lalu menggunakan kata kebhinekaan untuk sebuah situasi di mana rakyat sebangsa dan setanah air berkumpul. Kau ingin jadi pemersatu dengan menerima perbedaan pendapat. Bukankah itu adil?

Kau terbuka pada semua hal kecuali jika itu berkenaan dengan kejatuhan takhtamu. Kau menolak pendapat masing-masing pemeluk agama yang mengusulkan kitab sucinya sebagai sumber hukum. Yang kau tahu agama adalah sumber perpecahan, merendahkan sisi kemanusiaan, haus kekuasaan. Yang kau tahu agama akan merontokkan harga dirimu. Raja bisa jadi pembantu. Pembantu bisa jadi raja. Oh, tidak.

Jika kau jadi presiden, kau akan diamkan saja ormas-ormas beraliran tertentu yang tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap kepemimpinanmu. Kau hanya cukup memenuhi undangan hajatan dan selametan. Kau pun akan memberikan tunjangan besar kepada para pemuka agama untuk menidurkan umatnya masing-masing sehingga mereka lebih heboh menolak pemimpin yang tidak seiman dengan mereka daripada menerima kepemimpinan yang berlandaskan agama mereka.

Namun, jika kau jadi presiden, kau tahu agama yang diwahyukan para nabi bukanlah sebuah ormas kemarin sore. Agama yang betul-betul agama datang jauh, jauh, bahkan sebelum manusia pertama diciptakan. Agama ibarat keteraturan galaksi. Agama bukanlah perwujudan nafsu untuk menguasai, melainkan penyerahan diri untuk dikuasai Yang Maha Kuasa. Agamalah yang membuat seluruh bangsa di suatu negeri diampuni dan diberkahi ‘hujan kemajuan’.

“Omong kosong!” serumu. “Negara yang mayoritas penduduknya tidak beragama pun bisa maju!”

Barangkali mereka lebih mendekati agama daripada kita. Kita jauh dari agama, hanya mampu mengaku-ngaku sudah beragama. Buktinya apa? Mereka sudah mengamalkan apa yang tertulis dalam kitab suci kita, setidaknya dengan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, dengan tidak melontarkan perkataan menyakitkan kepada teman. Sedangkan kita terus-terusan membaca kitab suci tanpa mengamalkan apa-apa. Kita jauh dari keteraturan. Kita hanya bisa mengatakan, "Kamu hina. Kami suci."

Jika kau lengser dari jabatan sebagai presiden, perlu saya ingatkan, kau akan jadi ketua partai yang akan mengusung pemimpin baru. Pemimpin baru itu adalah anakmu. Dan anakmu harus mengalahkan ‘anak’ ketua partai yang lain. Begitu seterusnya. Demikian indahnya demokrasi kita ini. Apalagi tanpa agama. Bukankah kau dan rakyatmu sama-sama tidak suka diatur? Bukankah undang-undangmu lebih keren daripada ayat-ayat Tuhan?

Kau telah bermaksud baik dengan menjadi presiden. Namun, setelah dihitung-hitung, maksud baik itu ternyata lebih banyak menguntungkan dirimu sendiri dan keluargamu. Kecuali jika kau jadi presiden bukan karena keingananmu, bukan juga karena keinginan rakyatmu, melainkan karena keinginan Tuhanmu. Bagaimana cara mengetahuinya? Sederhana. Pilihan Tuhan selalu menyakitkan di awal namun menyenangkan di akhir. Berat di bumi namun enteng di langit, bukan sebaliknya.

Jika kau tidak jadi orang nomor satu di negeri ini, tidak perlu kecewa. Setidaknya kau sudah jadi orang nomor satu bagi dirimu sendiri. Dan, jika kau jadi presiden, jika kau jadi orang nomor satu di negeri ini, kau tidak mungkin sanggup mengalahkan kharisma seorang nabi. Nabi itu dibenci sekaligus dicintai di masa kepemimpinannya. Dibenci karena berbahaya bagi orang-orang yang merasa punya  kuasa. Dicintai oleh orang-orang yang merasa tidak punya kuasa.

Jelas tidak kautemukan pengikut para Nabi kecuali orang-orang yang tidak menebar sensasi, terus membaca sejarah, dan pandai berstrategi demi perdamaian abadi. Itulah seberat-beratnya tugas manusia. Kau sendiri ogah jadi manusia yang seperti itu.

Kau hanya ingin jadi presiden.

 

Bandung, 2017

Gambar dari sini.

Karya : Kartini F. Astuti