Jadilah Pengemis

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Mei 2017
Jadilah Pengemis

Sewaktu kecil, kamu merasa kamu ditakdirkan jadi orang baik. Bakat itu muncul ketika kamu sering menangis melihat orang lain terluka. Kamu menemukan orang-orang menadahkan tangan di trotoar sudut kota. Kamu seringkali memberikan sisa uang jajan kepada mereka. Ada seorang pengemis penyakitan yang kamu ajak makan bakso di akhir pekan. Hari-hari berikutnya, pengemis itu rajin menunggu kamu di gerbang sekolah untuk meminta uang buat berobat jalan.

Sewaktu awal masuk kampus, kamu merasa kamu masih ditakdirkan jadi orang baik tapi mungkin sedikit tulalit. Pernah sekali waktu ada seorang perempuan mengenakan masker mendorong motornya dan menghampiri kamu. Dia ingin pulang ke Garut, cuma kehabisan bensin dan berniat pinjam uang. Kamu bilang kamu tidak pegang uang, adanya di ATM. Perempuan itu mengantar kamu ke ATM. Kamu lalu memberikan uang senilai tiga ratus ribu. Saat dia menghilang di tikungan, kamu baru sadar kamu belum punya kontak perempuan itu. Lah gimana mau nagih hutang?

Kuliah di tingkat dua, kamu merasa kamu masih ditakdirkan jadi orang baik tapi mungkin terlalu baik. Sepulang dari kampus, kamu mendapati ibu-ibu berwajah sembab yang sedang menuntun anaknya. Ibu-ibu itu menangis sesenggukan di saat bercerita, “Anak saya baru divonis kena tumor testis.” Anaknya yang masih kecil itu memang agak ngangkang jalannya seperti habis disunat. Dia sampai mau dibukakan celananya tapi kamu tidak berani lihat tit*t. Sebagai seorang manusia tak berdaya tapi mewarisi kasih putih Tuhan, kamu menyerahkan ponsel kesayangan kamu tanpa pikir panjang.

Kuliah di tingkat tiga, kamu masih ditakdirkan jadi orang baik tapi mungkin kebaikanmu dimanfaatkan oleh orang yang tidak baik. Kamu menyambut gembira orang asing yang mampir ke kosan padahal dia sedang modus mau maling. Kamu menyelipkan selembar uang di buku seseorang yang kamu tahu dia sedang butuh. Kamu memberikan seluruh isi dompet kepada polisi yang menilang kamu di jalan. Kamu memberikan sisa gaji proyek buat orang yang menyodorkan brosur bibir sumbing dan kanker lupus.

“Apa yang mendorong kamu begitu baik kepada mereka?” tanyamu kepada bayangan di cermin. Kamu perhatikan mata yang cekung dan kulit tipis wajahmu itu. Kamu merasa kamu pun tidak jauh berbeda dengan para pengemis. Kamu mengemis kepada gurumu untuk mendapatkan beasiswa selama sekolah. Kamu mengemis kepada orangtuamu untuk dibelikan seragam sekolah yang baru. Kamu mengemis sambil merengek-rengek kepada Tuhanmu untuk meminta keberkahan sebanyak-banyaknya.

Kamu belum merasa ada yang salah dengan itu sampai kemudian kamu menemukan buku tentang budaya di Jepang yang semua orang di sana malu mengaku sebagai orang miskin. Kamu baca juga artikel di surat kabar tentang tingkat pengangguran, kemiskinan, kebodohan, dan semacamnya di negerimu. Kamu merasa kena tipu banyak orang, kamu bosan melihat orang-orang yang menggelosor di pinggir jalan, yang menawarkan tisu, yang genjreng-genjreng di warung kopi, yang ngetok-ngetok pintu kosan.

Kuliah di tingkat empat, kamu mulai agak pelit. Kamu mengabaikan orang-orang yang manggil dan menggigil. Berusaha sesopan mungkin, kamu berucap “punten” sambil mengatupkan kedua telapak tangan kepada pengamen yang mengganggu tidur singkatmu. Kamu lelah berbuat baik dan mempertanyakan kebaikan itu sendiri. Kamu mulai menyalahkan Tuhan yang tidak adil mengurus makhluk-Nya. Kamu juga menyalahkan orang-orang dengan kemalasan mereka, dengan kecurangan mereka, dengan perilaku mereka yang tidak terpuji, sementara kamu harus berbuat baik.

Kamu risih dengan orang-orang yang berbuat baik sekadar untuk diakui sebagai orang baik, sekadar untuk mendapatkan imbalan. Kamu benci dengan perkataan harus berlomba-lomba dalam kebaikan. Kebaikan kok dikompetisikan? Di mana letak ketulusan kalau begitu? Kamu muak dengan pembacaan ayat tentang surga dan neraka. Seandainya surga dan neraka tidak ada, masihkah orang berbuat baik? Kamu ingin jadi orang tulus, tepatnya jadi pengemis yang tulus. Kamu tidak ingin meminta apa-apa kepada Tuhan selain cinta. Ah, bagus sekali pernyataanmu. Kamu ingin berbuat baik atas dasar kesadaran kamu sendiri, bukan karena mengharap surga atau takut pada neraka.

Saya, teman masa kecilmu, bertemu dengan kamu suatu waktu dan tiba-tiba saya menyerupai pemuka agama. “Surga dan neraka itu diciptakan buat ngelatih imajinasi kita,"  saya bilang sambil menatap bola matamu. "Tanpa penggambaran surga dan neraka, kebayang gitu, baik dan buruk itu kayak apa? Itu pertama. Kedua, buat membuktikan janji. Tuhan ingin mengetes sejauh mana kita yakin kan. Tuhan itu guru, pembimbing, dosen, pengajar. Kita diberikan ujian-ujian buat bikin kita lebih pinter. Ujiannya ya janji itu. Tuhan kan pernah berjanji bagi yang mau menjual dirinya, hartanya, hatinya... bakal ditukar dengan surga dan dijauhkan dari api neraka. ”

“Seandainya...”

“Kita tidak bicara sesuatu yang mungkin terjadi. Kita bicara tentang yang sudah terjadi dan pasti akan terjadi.”

“Aku jadi pengen ngebakar surga dan memadamkan api neraka tahu!”

“Kalau kamu berbuat baik terus Tuhan ngasih surga, kamu bakal nerima enggak?”

“Aku bakal bilang, ‘Enggak usah repot-repot!’ terus aku kembaliin deh apa yang Dia kasih.”

“Itu tandanya kamu tinggi hati, ngerasa lebih tinggi dibanding Tuhan.”

Kamu termenung.

Sepertinya saya sedikit mencerahkanmu siang itu. Kamu orang yang tulus, saya tahu. Tapi ketulusan itu kadang disalahtafsirkan menjadi tidak butuh apa-apa. Padahal kita harus senantiasa membutuhkan pertolongan Tuhan.

Hatimu membesar. Dan kepalamu mengecil—tidak bengkak seperti sesaat lalu. Kamu mulai kembali memberi dan memberi. Hanya saja semua pemberianmu sekarang bukan untuk memanjakan orang lain, bukan juga untuk kepentingan dirimu. Sesuatu yang “tampak” selalu mudah menjerumuskanmu kepada “mengemis” pengakuan orang lain, bukan “mengemis” pengakuan Tuhanmu.

Kamu memang tidak memberikan benda-benda dengan sembarangan lagi. Tapi sesuatu yang lebih keren daripada itu. Kamu mulai mengajarkan anak-anak untuk menggapai ketulusan dengan menjadi pengemis. Sepanjang siang dan malam, kamu dan anak-anakmu berdoa sebagaimana doa Ibrahim, untuk diberikan hikmah, tutur kata yang baik, dan pusaka surga.

“Kenapa Ibrahim meminta hikmah, bukan rezeki yang berlimpah, Ayah?” tanya anak-anakmu.

Kamu tersenyum dengan pertanyaan itu lalu menjawab, "Hikmah itu pelajaran. Pelajaran lebih berharga daripada bumi dan seisinya. Pelajaran Tuhan membuatmu semakin besar."

“Kenapa Ibrahim meminta tutur kata yang baik, bukan dihindarkan dari tutur kata yang buruk orang lain, Ayah?”

"Karena dia tidak peduli perkataan buruk orang-orang tentang dirinya, yang dia pedulikan adalah perkataan baik yang Tuhan titipkan untuk mengajak orang ke jalan yang baik."

“Kenapa Ibrahim tidak meminta surga, malah kuncinya saja, Ayah?”

"Karena dia tahu surga itu milik Tuhan.”

 

Bandung, 2017


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    6 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang khas Kartini banget. Bahasa lugas, kalimat sederhana tetapi mengena sekaligus menyampaikan pesan yang banyak kita alami. Seolah banyak tulisannya yang mewakili perasaan dan perjalanan hidup manusia. Siapa pun bisa melihat ada dirinya sendiri dalam tulisan yang satu ini.

    Kali ini Kartini mengajak berbicara tentang makna keikhlasan. Ia mengupas fase ikhlas yang sesuai dengan pengalaman seiring dengan bertambahnya umur manusia. Ia menyentuh esensi mendalam tentang konsep ikhlas. Belum lagi konsep surga dan neraka serta aspek spiritualitas manusia. Menarik, dekat dengan pertanyaan kita sehari-hari dan religius. Mantap!

  • Faizah Kun
    Faizah Kun
    5 bulan yang lalu.
    insyaallah mencerahkan dunia akhirat