Jika Aku Dilahirkan Kembali

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Mei 2017
Jika Aku Dilahirkan Kembali

Jika aku dilahirkan kembali, aku ingin punya kulit putih, mata biru, hidung mancung dengan bintik merah, dua lesung pipit di pipi, rambut pirang sepinggang, bulu mata lentik, bulu hidung pendek, tubuh semampai setinggi pagar rumah bangsawan.

Jika aku tidak secantik itu, setidaknya ketika lahir kembali, aku ingin bisa bernyanyi sampai suaraku dinanti-nanti seperti bunyi telolet klakson bis Damri yang gendut itu. Aku ingin bisa berdansa memakai sepatu ski di atas danau beku musim dingin. Aku ingin bisa memasak bubur merah dengan buah ceri ditaruh di atasnya. Aku ingin bisa melukis gajah di atas kanvas seukuran semut. Aku ingin bisa memainkan biola seperti memilin-milin kumis kecoa.

Ketika aku lahir kembali nanti, aku ingin orangtuaku memberiku sebuah nama yang tidak mudah disebutkan orang lain, yang hanya ada satu-satunya di dunia. Aku ingin mereka mewariskan kepadaku kekuatan untuk merobohkan tembok ratapan di Yerusalem. Aku ingin mereka membangun untukku rumah kayu di Kyoto, dengan sebuah bak besar di kamar mandi yang menyerupai kolam ikan. Aku ingin mereka membangun juga sebuah ayunan yang terbuat dari ban mobil di halaman. Aku ingin... sesuatu seperti...

Baiklah, aku akan berhenti sejenak dari pengandaian-pengandaian yang melelahkan dan kembali pada diriku yang seakan baru saja lahir. Aku, dengan nama yang tak pernah punya asuransi jiwa, dengan paras dan kecerdasan di batas rata-rata, dengan talenta yang biasa, dengan kemampuan berlari yang hanya sanggup menjauhkan diri dari duri, kini, sedang membebani bumi dan mencuri udara dari daun-daun, diam-diam.

Ketika aku, sudah dua puluh empat tahun mengelilingi matahari, segala sesuatunya mulai tampak aneh. Bedak yang kutabur-tabur untuk menutupi wajah berminyak ini pelan-pelan terhapuskan air mata. Punggung dan kata-kataku juga sudah tak punya sayap. Perhiasanku lenyap. Dinding rumah dimakan rayap. Tangan dan kaki kehilangan sendi. Sisa makanan dimakan bakteri. Kertas ujian robek. Stopwatch pecah. Pensil gambar dan pensil alis patah. Jadilah. Aku. Terlunta-lunta.

Aku melihat orang-orang masih bisa bernyanyi, bisa berdansa, bisa melukis, bisa memasak, berkeluarga, dan membayar segalanya dengan kartu kredit maupun kerlingan mata, tapi mereka belum pernah merasa gagah. Aku sempat menginap di kandang gajah satu hari dan hari berikutnya di sarang semut. Gajah bercerita tentang cita-citanya yang ingin rebahan di kaleng biskuit bekas lebaran. Sedang semut bercerita tentang angan-angannya yang ingin punya hidung panjang.

Sudah aku katakan kepada mereka, “Jika tembok perbatasan menghalangimu, mungkin, untuk merobohkannya, ada cara lain yang kamu miliki yang orang lain tidak miliki.”

Besoknya dan besoknya lagi, sambil bergandengan tangan, gajah dan semut berpatroli di jalanan: memburu hantu. Hantu itu bernama kebahagiaan, tidak tampak wujudnya seperti apa.

Jika aku dilahirkan kembali, aku ingin tetap menjadi seperti ini, mengenal orang-orang yang kadang aku cemburui tapi ternyata selalu memperhatikan aku, menghitung hantu demi hantu yang bergentayangan. Dibimbing langit.

 

Bandung, 2017

Gambar dari sini.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    8 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Semacam surat untuk diri sendiri ditulis secara jujur dan sastrawi sehingga dapat menjadi tulisan layak baca dengan cara khasnya tersendiri. Kartini menuliskan pengandaiannya menjadi manusia yang dilahirkan kembali lengkap dengan angan-angan, yang uniknya tulisan ini, mewakili keinginan beberapa orang.

    Tiap pembaca dapat menempatkan posisinya masing-masing di bagian tertentu dalam coretan ini. Paling mengena bagian akhir tulisan ini yang simbolis dan filosofis. Sukses membuat siapa pun untuk merenung dan merefleksikan diri sendiri. Bagus, Kartini!