Lanjut Kuliah atau Kerja?  

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 April 2017
Lanjut Kuliah atau Kerja?   

Sehabis ngobrol dengan seorang inspirator Trias Abdullah di telegram, terketuk hati saya untuk menuliskan postingan ini. Trias memberikan challenge buat menjawab apa yang dibimbangkan orang selama ini, tentang lanjut kuliah atau kerja.

Baiklah saya mulai saja dengan format wawancara. Ini akan panjang. Silakan, kalau mau minum dulu.

 

Bisa diceritakan sedikit tentang perjalanan hidup?

Saya adalah orang yang tidak menyukai sekolah. Sekolah memaksa kita semua untuk berseragam, secara penampilan maupun secara pola pikir. Saya adalah orang yang sempat tidak naik kelas waktu TK hanya karena saya berbeda. Guru-guru ingin saya seperti anak-anak pada umumnya, banyak bicara. Sementara saya asyik menghitung kancing sendirian di pojok kelas, bermain dengan imajinasi, sampai pipis di celana.

Di jenjang berikutnya saya mulai paham bahwa dunia bukan untuk orang-orang seperti saya. Saya kemudian membenahi diri. Berteman dan mengikuti aturan. Mengukir prestasi. Tapi itu tidak lama. Saya menjadi pemberontak yang nyaris dikeluarkan sewaktu SMA. Saya sering tidur di kelas. Saya pun remedial berkali-kali. Di Ujian Nasional, saya dapat ranking terbawah satu sekolah. Saya bangga jadi orang terbelakang. Entah kenapa.

 

Bagaimana dengan kehidupan kuliah?

Perguruan tinggi, agaknya tidak terlalu memaksa saya menjadi orang lain, tidak memaksa seluruh mahasiswa untuk menjadi lembar fotokopian. Kampus masih toleran untuk orang-orang yang tidur di jam kuliah, masih bisa terlambat masuk kelas. Mahasiswa juga masih bisa berpenampilan sesuka hati, kecuali pakai sendal jepit ke kampus. Tapi bukan itu poinnya. Jangan tiru kenakalan saya.

Mahasiswa diberikan kebebasan sebagai seorang manusia. Mahasiswa bebas memilih mau jadi siapa saja. Mau yang getol ke masjid, mau yang gemar berdagang, mau yang aktif organisasi, atau mau jadi anti sosial tapi banyak karya ya mangga. Saya kebutulan mencoba semuanya dan berhenti sebagai seseorang yang bermain-main dengan imajinasi, seperti dulu.

 

Ngomong-ngomong soal dulu, gimana ceritanya bisa masuk kuliah?

Awalnya saya berniat membantu ayah saya bekerja mengurus rental komputer sambil sesekali menulis. Tapi Tuhan, melalui perantara bimbingan konseling di sekolah, menggiring saya untuk memilih perguruan tinggi di hari terakhir pendaftaran SNMPTN. Alhamdulillah masuk. Tapi lama-lama, kok aneh, ternyata kuliah bikin saya ambisius dan rasa percaya diri saya meningkat drastis. Hehe. Saya lulus Januari kemarin dan tiba-tiba kangen pengen kuliah lagi.

 

Kok mau sih kuliah lagi? Pusing tauk!

Saya juga heran kenapa saya pengen lanjut kuliah. Padahal skripsi saja saya mau muntah. Rasanya ada hutang besar kepada seluruh sivitas akademik yang mesti saya bayar.

 

Keputusan apa yang diambil saat seseorang mau lanjut kuliah?

Ada yang ingin kenaikan gaji. Ada yang ingin cari gelar buat bikin orang-orang segan. Ada yang haus ilmu. Sebagian besar yang mereka inginkan adalah paling tidak karena ingin jadi dosen.

R.A. Kartini jika hidup di zaman sekarang, apa ya keputusannya? Jadi bos atau jadi guru? Dian Sastro yang jadi pemeran utama di film Kartini juga pernah mengatakan, “Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.”

 

Kalau sebagai laki-laki pengaruhnya apa buat anak-anak, butuh gitu pendidikan tinggi?

Tergantung kapasitas laki-laki itu. Kalau dia mau dan sempat mendidik anak-anak ya dia juga harus terdidik. Tapi kalau tidak memungkinkan ya tidak perlu. Ayah itu semacam kompetitor anak. Anak selalu melihat setinggi apa pendidikan ayahnya supaya dia terpacu untuk menjadi lebih tinggi lagi pendidikannya dan lebih giat lagi belajarnya.

Ada seorang ayah yang tidak berpendidikan tinggi dan dia menyarankan anak-anaknya untuk berhenti kuliah. Setiap malam, kegiatan makan diselingi dengan kegiatan membaca. Anak-anaknya tidak malu jadi office boy di perusahaan besar sampai kemudian mereka jadi direktur perusahaan-perusahaan ternama. Bisa. Nah berarti ini kapasitas seorang ayah sudah lebih dari dosen.

 

Tapi kan enggak harus dengan dapat titel terus jadi dosen buat jadi orangtua yang cerdas, ngajar ya ngajar saja? Kuliah kan mahal.

Itu zaman dulu, yang orang sulit untuk sekolah. Sekarang kan gampang. Jalurnya ya daftar ke perguruan tinggi. Bisa dapet beasiswa juga. Kalau ada yang ngasih kursi buat dengerin dosen ngoceh sampai kita paham tanpa harus daftar kuliah sih saya mau banget.

 

Bukannya emang berguru mah sama siapa saja, bahkan dari orang gila sekali pun bisa, tidak perlu dari dosen?

Kita ini dibekali bahasa. Tuhan mengajarkan kita untuk itu. Bahasa, bagi saya, adalah potensi komunikasi untuk saling mengingatkan satu sama lain. Orang Cina ngobrol sama orang Jepang kan enggak nyambung. Itu bahasa secara formal.

Bahasa secara batiniah itu misalnya akademisi dengan akademisi, pebisnis dengan pebisnis, penulis dengan penulis, dan sebagainya. Kebetulan saya ngerasa cocoknya diingatkan sama dosen. Mungkin saya pun cocok jadi dosen untuk mengingatkan mahasiswa saya nantinya. Mahasiswa kan katanya aset bangsa. Jadi jelas dong, dosen itu berpengaruh banget.

 

Emang pernah diingetin dosen, dosen kan biasanya ngajar keilmuan tok?

Saya pernah tanya kepada Bapak Oki Hamka—dosen pembimbing skripsi, “Bapak kenapa ngajar?”

Dia jawab, “Kalau saya pengen punya banyak duit mah, sudah saja saya kerja di perusahaan iklan kayak dulu. Tapi kan bukan itu yang saya mau.”

Saya lalu berpikir bahwa materi memang bukan segalanya. Tapi segalanya membutuhkan materi. Bahkan buat ngajar pun butuh materi, bukannya buat materi butuh ngajar. Makanya jadi orang yang qanaah alias berkecukupan saja. Cukup buat makan. Cukup buat beli kendaraan. Cukup buat sedekah tiga milyar. Hehehe.

Btw, Pak Oki enggak cuma ngajar, dia juga punya studio desain grafis sendiri. Dia punya banyak karyawan. Artinya, kalau bagi saya sih, dosen pekerjaan strategis buat mencetak kader, di kampus maupun di luar. Dosen itu sebagai panutan kekinian.

 

Ah, panutan, panutan. Kepikiran cari gelar enggak tuh biar kerenan dikit?

Saya teringat kawan saya yang di-dropout dari kampus mengatakan menyesal sudah menyia-nyiakan kehidupan sebagai seorang mahasiswa. Dulu dia ngambil jurusan teknik elektro. Tapi karena keseringan baca buku-buku aneh, dia enggak peduli kuliah. Terus tahu-tahu insaf. Dia pengen kuliah lagi, tapi beralih ke jurusan psikologi. Orangnya super blak-blakan dan jenius banget. Tulisan-tulisannya kayak tulisan maestro pemenang nobel.

Dia sering curhat ke saya bahwa dia pengen jadi penulis yang berpengaruh. Sekali waktu saya bawa buku Tasawufnya Hamka. Di sana tercetak embel-embel besar di cover yang orang akan segera membeli buku itu: Prof. Dr. Hamka.

“Dia cuma lulusan SD loh. Tapi dapet gelar dari pemerintah Jepang,” celetuk saya.

“Bisa enggak ya saya kayak gitu? Bagaimana pun orang zaman sekarang itu melihat titel tanpa peduli sebagus apa pun karya kita. Saya pengen punya titel psikolog. Tapi saya enggak suka sekolah.”

“Bisa, kalau kamu hidup di zamannya Hamka. Kalau di zaman sekarang, Kakak enggak yakin. Mungkin kamu harus nunggu ubanan dulu, bikin mahakarya, baru diakui, terus mati.”

Dia cuma ketawa.

Di lembar biodata penulis nanti, di setiap bukunya, dia ingin mencantumkan titel sehingga orang mengenal dia sebagai psikolog yang menulis bukan penulis psikologi. Sesimpel itu.

Bagi saya, sangat mudah membuat orang beranggapan kita ini ingin dikenal sebagai apa. Tinggal update bio di profile facebook atau bikin status tentang ilmu yang kita sukai. Gampang banget. Saya enggak mau mikir rumit-rumit. Tapi titel, memang adalah syarat sah pengakuan masyarakat. Sebagaimana buku ber-ISBN dan tulisan di blog. Orang akan lebih menghargai yang mana?

 

Ada jawaban logis tentang milih lanjut kuliah atau kerja, jadi anak kuliahan atau karyawan?

Sampai sekarang saya masih tidak suka dengan sistem pendidikan kita. Oleh karena itulah, terpaksa maupun tidak, saya harus berada di sistem itu untuk kemudian mengubahnya. Mungkin itu jawaban yang naif menurut sebagian orang. Saya geser kepada yang lebih masuk akal. Bekerja itu mencari pengalaman lalu kemudian membentuk ilmu, sedangkan kuliah itu menyerap ilmu untuk kemudian dijadikan pengalaman. Saya geser kepada jawaban yang lebih realistis lagi. Ada gaji pensiun dosen meskipun kecil. Di masa tua, saya bisa leluasa jadi penulis tanpa harus memikirkan apakah karya saya laku atau tidak.

Mungkin pertanyaan itu mirip-mirip dengan pertanyaan sepupu saya yang bingung tentang milih SMK atau SMA. Anak SMK keunggulannya ada pada keterampilan. Sedangkan keunggulan anak SMA ada pada teori. Seorang anak SMK mampu menciptakan mobil. Kita semua tahu itu. Seorang anak SMA tidak, tapi mereka bisa merumuskan komponen-komponen yang ada di dalamnya melalui studi fisika. Seorang lulusan perguruan tinggi mungkin memang hanya bisa nyuruh-nyuruh tukang buat mengaplikasikan idenya. Seorang karyawan bisa mengerjakan sendiri, tapi toh mesti disuruh-suruh, mesti ada manajernya.

Begitu pun anak kuliahan yang jadi dosen. Mereka memang tidak bisa jadi seorang ahli mesin misalnya, tapi mereka tidak akan khawatir jika kehilangan sebuah mesin percobaan. Mereka sudah punya resepnya, di kepala mereka. Tinggal mengajar anak didik supaya mau meraciknya. Nah, sekarang pertanyaannya, kamu lebih suka berpikir atau beraksi?

Karyawan bisa jadi bos, memang. Menanjaki karir di perusahaan tertentu sampai naik pangkat. Atau kalau mau lebih seksi, keluar dari perusahaan tertentu lalu bikin perusahaan yang baru, punya banyak anak buah berbakat. Sama toh dengan dosen, mengajar juga, mendidik juga. Tapi dengan hanya bekerja dan bekerja itu mentok-mentok jadi atasan yang membawahi dan mempertahankan para anak buah. Langka banget sih bos yang mencetak bos-bos baru supaya keluar dari perusahaan mereka, bikin perusahaan baru, bekerja sama dengan perusahaan miliknya. Kebanyakan bos justru menuntut kesetiaan para karyawannya untuk tetap menjadi karyawan.

Tapi dosen bisa mencetak bos yang mulia. Guru besar bisa jadi King Maker, jadi seorang pencetak raja. Ingat guru bangsa kita HOS Tjokroaminoto yang mencetak Soekarno dkk? Sangat mungkin dia juga akan jadi dosen jika hidup di masa sekarang.

 

Biar enggak bingung antara mau jadi bos atau guru besar, gimana kalau kuliah sambil kerja?

Nah itu jalan tengah saya juga. Biar jadi guru besar sekaligus bos nantinya, saya daftar kuliah dan melamar pekerjaan berbarengan. Hehehe.

 

Enggak ada waktu dong buat nulis kalau gitu?

Bagaimana pun saya adalah tukang ketik. Banyak ide bermunculan dari teman-teman saya yang sulit mengekspresikannya. Jika mengamati pola membuka restoran, tulisan saya adalah masakan dan saya adalah koki sekaligus pelayan, saya akan cari tempat yang sesuai dengan apa yang akan saya masak dan yang akan saya sajikan. Menu-intinya sama: konten yang mengingatkan. Cuma bumbunya harus sesuai dengan lidah masyarakat di sekitar saya. Makanya saya harus cari kolam ikan yang gede dan paling dekat dengan bahasa saya, dengan kultur berpikir yang tidak jauh berbeda.

Jawabannya balik lagi ke kampus dulu. Bukan perihal kenyamanan. Bukan juga perihal paksaan. Tapi perihal menundukkan perasaan. Dosen-dosen di jurusan saya baik sekali. Teman-teman saya juga. Saya sempat kepikiran buat menghindari orang-orang baik biar tidak menumpuk rasa bersalah. Tapi nyatanya saya harus menghadapi itu semua semata karena Allah. Saya ingin orang-orang baik itu mengingat Allah.

Ini panggilan hati. Semoga dilancarkan.

 

Bandung, 2017

*) Fotonya dipinjam dulu ya Mbak Dian. Ternyata Anda lebih cantik dari saya.