Buat Kamu yang Punya Sedikit Waktu Hari Ini

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 April 2017
Buat Kamu yang Punya Sedikit Waktu Hari Ini

Dik, Kakak tahu kamu pasti sibuk hari ini. Agendamu mestinya memang tidak pernah kosong. Laporan praktikum. Forum unit. Himpunan. Kongres. Kabinet mahasiswa. Tutor bahasa inggris. Bisnis. Proyek dari senior. Lomba karya tulis. Delegasi luar negeri. Revisi skripsi. Bimbingan ke dosen. Akh! Waktu dua puluh empat jam itu bagi kamu sangat kurang cukup.

Kakak juga sempat merasakan hal yang sama. Impian kakak dulu, menjadi orang yang berpengaruh dan diingat seantero kampus dan mengukir jejak. Kakak cuma punya waktu empat setengah tahun waktu itu. Kakak nyaris kehilangan diri Kakak karena bergerilya dalam perjuangan sekolompok orang yang katanya adalah barisan aktivis. Kakak kehilangan waktu, tenaga, pikiran, tabungan, kesadaran. Kakak hanya bisa menghela nafas di hari libur yang agak panjang.

Apa yang mendorong Kakak untuk melakukan hal segila itu? Kakak bisa membuat alasan yang sekiranya tampak keren. Relasi. Pengalaman. Agen perubahan. Kaderisasi. Padahal jika dicari-cari apa yang tersembunyi di balik hati Kakak, tiada lain adalah untuk diri sendiri, untuk mendapatkan pengakuan teman-teman, untuk menyombongkan keahlian, untuk jadi legendaris.

Saat itu Kakak mengidolakan seorang senior yang nyentrik dan tidak taat aturan dan berhasil membuat seluruh masyarakat kampus terkagum-kagum dengan aksinya yang berani lalu kemudian dia di-dropout. Kakak coba tanyakan pada mahasiswa semester dua, apakah mereka mengenali sosok yang Kakak puja-puja? Tidak. Kakak juga menanyakan siapa saja alumni yang mereka ingat? Paling-paling generasi tua seperti Pak Habibi dan Ir. Soekarno. Lalu Kakak tanyakan juga siapa Ketua Kabinet lima tahun ke belakang? Sedikit sekali yang tahu.

Memang apa saja sih perubahan yang dihasilkan oleh mahasiswa? Kita semua mengenal peristiwa 98. Sehabis itu? Nihil perjuangan. Ayolah! Ini bukan saatnya memperjuangkan hal-hal semacam gerakan hebat dengan cara-cara yang dipaksakan dengan menggulingkan pemerintah. Ini saatnya membangun bangsa kita dari apa yang tersusun di dalamnya.

Kalau tujuannya mau jadi terkenal, sudah, jadi artis saja, tidak perlu kuliah kan? Kalau tujuannya mau cari jabatan, sudah, masuk anggota partai saja biar nanti jadi anggota dewan. Kalau tujuannya cari relasi maupun kerjaan, kenapa tidak memulainya dengan berdagang? Kalau tujuannya mencari teman sebanyak-banyaknya, kenapa tidak memulainya dengan berkenalan? Kalau tujuannya mencari jodoh, aih sempit sekali dunia ini: lulus, nikah, punya anak, mendapatkan rasa nyaman, apa bedanya dengan seekor kucing?

Ah, tapi memang jika kita bertujuan mulia, semua jalur sutra untuk mendapatkan kedudukan tersebut harus kita tempuh. Tinggal luruskan niat. Periksa lagi, apakah itu untuk diri sendiri atau untuk kebaikan semua orang? Semestinya kita melakukan berbagai kesibukan dalam rangka mendengarkan sampai kemudian didengarkan. Itulah prestasi sesungguhnya. Bukan cumlaude. Bukan juara internasional. Bukan juga nikah secepatnya.

Mendengar, Sayangku, berbeda dengan mendengarkan. Mendengarkan adalah proses input yang bisa kita respon dengan karya, dengan cita-cita jauh ke depan. Jika kita belum mau mendengarkan apa-apa tapi malah kepengen didengarkan, wah apa kata dunia?

Kebanyakan orang tidak mau mendengarkan seseorang sebelum melihat trek apa yang sudah seseorang itu raih. Kebanyakan orang tidak mau mendengarkan seseorang yang punya aib meski seseorang itu sudah memperbaiki diri. Kakak akui Kakak pun terkadang termasuk orang seperti ini dengan berpikir, “Loh? Emang dia lulusan mana? IPKnya berapa? Aktif apa aja? Ngajinya udah bener belum? Kenapa dia sok-sok nasehatin saya? Emang saya penuh dosa?”

Dengarkan saja dulu. Dengarkan. Barangkali di situlah letak petunjuk. Petunjuk itu tidak datang sekali seumur hidup lalu kita aman dengan petunjuk itu. Petunjuk itu datang terus menerus, ada yang kita terima ada juga yang tidak. Ada saja orang yang baik tapi kebaikannya berbuah buruk. Ada saja orang yang saleh tapi riya. Orang-orang seperti itu akan terus seperti itu jika tidak mau mendengarkan, jika enggan mengikuti petunjuk. Ingat-ingatlah bahwa telur terlahir dari pantat ayam yang kotor. Petunjuk juga bisa saja datang dari orang yang sama sekali tidak kita sangka, yang belum bersih sekali pun.

“Iqra” atau “bacalah” memang apa maknanya? Muhammad yang ummi (buta aksara) ketika diminta membaca kan belum ada kitab di situ. Muhammad diminta mendengarkan sebelum diminta menyeru (berbicara). Muhammad diminta Tuhan untuk mendengarkan Jibril sekalipun beliau takut dengan sosok malaikat itu.

Buat kamu yang punya sedikit waktu hari ini, dengarkan saja dulu orang-orang di sekitarmu baru mulai bicara. Jangan hanya karena takut lalu kemudian kita lari. Jangan hanya karena benci lalu kemudian kita mencaci. Mudah sekali menerka apakah seseorang mendengarkan kita atau tidak. Lihat bagaimana dia merespon. Apakah masih pamer-pamer kehabatannya sampai di pengujung obrolan? Ataukah kehebatannya itu dia hubungkan kepada Yang Maha Hebat?

Satu semester menjelang kelulusan, Kakak merasakan manfaat yang besar setelah berupaya mendengarkan. Mendengarkan dosen. Mendengarkan satpam. Mendengarkan teman yang baru jadian. Mendengarkan orang yang paling mengesalkan di hidup Kakak. Mendengarkan bisikan kecil di hati Kakak. Mendengarkan sambil membutakan mata dari hal-hal yang terlihat dan membuka mata pada apa yang tidak kelihatan.

“Jangan pandang usianya. Jangan pandang jenggot lebatnya. Jangan pandang pangkatnya. Jangan pandang riwayat hidupnya. Cermatilah apa yang dia katakan,” bisik ruh dalam hati Kakak.

Menjadi mahasiswa, Adikku, memang menyenangkan. Dengan jadwal padat, kamu bisa mencoba mengulur-ngulur waktu dari ajakan kebaikan. Kamu punya daftar impian yang banyak sekali yang harus kamu tempuh segera sebelum lulus. Kamu bisa mencari alasan jika tiba-tiba ada telepon dari Mama, “Sebentar atuh, lagi rapat.”

Seorang adik tingkat pernah bertanya, “Kak, gimana ya banyak amanah nih. Aku disuruh jadi Ketua Divisi. Aku gak enak nolak. Tapi ini mau ujian. Belum sempat belajar.” Kakak hanya bisa menjawab, “Melakukan sesuatu yang besar itu tidak dengan menjadi orang yang besar, Dik. Lakukan saja yang terbaik.”

Kakak jadi teringat dulu sempat ada seorang Menko yang menawarkan Kakak jadi Menteri Sosial Politik di kabinet kampus. Setelah mengukur kapasitas Kakak, dengan berat hati Kakak mencari pengganti untuk mewakilkan gagasan Kakak. Kakak beranggapan bahwa Kakak bisa berkontribusi untuk siapa saja tanpa harus menjadi bagian dari mereka.

Adikku yang baik, banyak mahasiswa yang meninggal justru sesaat sebelum lulus. Kemarin Kakak dengar anak UPI terlindas truk elpiji saat hendak menyeberang menggunakan motornya ke kampus. Ada anak ITB yang meninggal setelah tiga hari begadang mengerjakan jurnal. Ada yang terkena kanker, hipoksomia, infeksi saluran pernafasan, mag akut, ada pula yang bunuh diri.

Jangan kemudian kita over-activity tapi sia-sia nilainya di hadapan Tuhan. Bumi ini adalah tempat kita lahir, tempat kita mati, dan tempat kita dibangkitkan. Salah satu kekhawatiran Kakak adalah kita terlalu percaya diri bahwa kita telah lahir dalam keadaan suci dan akan meninggal dunia dalam keadaan suci pula. Tidak. Tidak ada yang bisa menjaminnya. Oleh karena itu, dengarkanlah. Lupakan jika selama ini orang yang kamu dengarkan adalah orang yang pernah mengecewakanmu.

Buat kamu yang punya sedikit waktu hari ini, terima kasih sudah “mendengarkan” catatan Kakak. Semoga kesibukan kita adalah kesibukan yang murni karena Tuhan.


Kartini F. Astuti | Bandung, 2017