Perihal Baik dan Jahat

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Psikologi
dipublikasikan 09 April 2017
Perihal Baik dan Jahat

Sebuah kasus di lingkungan tempat saya tumbuh tiba-tiba menyeruak seperti badai tsunami. Tidak hanya menyeret nama seorang pengajar yang selama ini dikenal santun. Tetapi juga menyeret nama baik dewan kesenian yang melahirkan para seniman besar dan juga, kalau saya boleh ikut sertakan, melahirkan seniman mungil seperti saya.

Kasus tersebut diberitakan televisi, surat kabar, dan media online. Biasanya, karena saking seringnya, saya akan anteng-anteng saja mendengar berita kriminal yang dalam hal ini adalah kasus asusila. Namun untuk seseorang yang selama ini mengasuh saya, untuk sebuah tempat yang selama ini menampung saya, saya belum tenang jika tidak merenungi ada pelajaran apa yang bisa saya petik. Saya berusaha untuk tidak kaget. Saya percaya bahwa Tuhan kan tidak main-main menghendaki semuanya terjadi, membentangkan sebuah perkara sebagai ujian.

Dulu saya pernah beberapa kali menulis puisi yang menjurus pada keliaran saya sebagai anak muda. Dulu saya tidak punya alasan untuk menghindar jika ada lawan jenis yang merangkul atau memeluk saya atau berbicara berlama-lama dengannya di telepon. Dan sekarang, selain saya begitu malu jika puisi-puisi tersebut dibaca orang, saya juga begitu malu dengan masa lalu saya. Itu karena saya sudah mulai berbenah dan memilah standar baik dan buruk.

Sastra indah yang kita kenal adalah zona abu-abu, zona antara malaikat dan binatang. Pengantar itu pula yang saya berikan kepada adik-adik saya di kampus jika mereka serius ingin menekuni dunia sastra. Saya berikan contoh narasi tentang korupsi, pembunuhan, perampokan, perselingkuhan, sampai pelacuran. Saya ingin mendengar apa respon mereka. Semuanya berkata itu dilema yang indah karena mengharuskan mereka melihat dari banyak sudut pandang manusia.

Pernah seorang kawan di sebuah komunitas sastra bertanya, “Kamu punya pacar enggak?” Dengan culunnya, saya geleng-geleng saja. “Kalau kamu tidak pernah ciuman, kamu bakal kesulitan nulis puisi,” tambahnya sambil mengerlingkan mata. Beberapa komunitas sastra yang saya kenal memang melazimkan hal-hal seperti itu sebagai sebuah pencapaian ilham atau inspirasi. Padahal saya banyak menulis puisi justru ketika saya ingin selingkuh dari skripsi.

Cinta, mungkin, adalah agama yang dianut oleh kebanyakan sastrawan. Jika cinta ibarat matahari, pada akhirnya mereka yang berada dalam lintasan terdekat akan hangus. Lain halnya jika matahari itu berada pada jarak yang cukup dari mereka, tentu menghangatkan. Ingat Laila Majnun? Bayangkan bahwa cinta yang tidak pada batasnya itu membuat gila.

Semakin kita mendalami sastra, semakin kita tidak gampang menghakimi orang, itu poin plusnya. Namun, poin minusnya, kita juga akan sulit dihakimi oleh orang lain karena pandai beralasan, bahkan kita sulit menghakimi diri sendiri dan sangat mungkin mengelak dari penghakiman Tuhan. Rujukan saya adalah surat Asy-Syu’ara di beberapa ayat terakhir yang menceritakan tentang penyair. Betapa makhluk yang memiliki kemampuan dalam berkata-kata, Tuhan katakan, sangat mudah tergelincir.

Kawan saya yang lain, seorang artis teater, nekat berpura-pura menjadi orang gila di pasar hanya untuk menjiwai karakter yang akan diperankannya di panggung. Kawan saya yang lain lagi, mengubek-ubek tempat pelacuran sebagai upaya riset untuk bukunya yang baru. Memang tidak bisa dipungkiri mereka memiliki daya tarik yang unik, menganggap dunia sebagai laboratorium percobaan. Saya kagum dengan orang-orang seperti itu.

Dari sana, saya berpikir untuk melakukan kejahatan yang tidak pernah orang bayangkan sebelumnya. Saya hanya penasaran bagaimana jika saya di posisi orang yang sering dituduh bajingan, bagaimana jika saya tinggal di balik jeruji. Mungkin hal itu bisa jadi jalan mulus bagi saya untuk menulis buku bagus seperti Pram. Mungkin hal itu akan jadi cambukan bagi saya untuk bertaubat dan berlepas diri dari pandangan orang-orang tentang saya. Tapi itu, sekali lagi, hanya alasan yang saya buat-buat untuk membangkang perintah Tuhan.

Saya menyadari dengan sungguh sekarang bahwa sastra persis “bisa ular”, kadang menyembuhkan dan kadang meracuni. Saya juga menyadari bahwa membaca buku-buku sastra membuat saya mewajarkan setiap tindakan, dengan murni, sebagai kehidupan yang manusiawi. Saya memang gagal jika berhenti sampai di situ saja. Saya gagal jika tidak mencari buku sastra mana yang berhak saya tempatkan di atas segalanya.

Kebaikan dan kejahatan itu relatif, kawan saya bilang di sebuah forum diskusi. Iya, relatif. Saya sepakat. Relatif, jika itu menurut kita. Lalu bagaimana menurut Tuhan kita? Maukah kita mengenakan perspektif Tuhan hanya untuk menilai diri sendiri bukan untuk menilai orang lain? Saya khawatir jika atas semua kasus di negeri ini kemudian yang merasa baik jadi jumawa. Sebaliknya, yang merasa jahat jadi malu sehingga tidak mau introspeksi.

Lucu jika saya menemukan orang-orang yang kurang lebih berkata seperti ini, “Saya baik dan kamu jahat.” Berarti mereka belum betul-betul membaca apa yang sedang mereka hadapi. Manusia bisa berubah. Mereka hanya bertindak sebagai Tuhan untuk menghukum orang lain di kepalanya. Ada pula orang-orang yang sudah tenggelam dalam kekelaman, memberi pengakuan dan menjerumuskan orang lain dengan kalimat pesimistis, “Kita toh sama-sama jahat.”

Saya hanya bisa menahan nafas dan mengobati kekacauan hati saya dengan kata-kata, “Kita akan jadi lebih baik dari sebelum ini.” Semestinya, memang, kita menggunakan kemampuan berkata-kata sebagai potensi untuk menggiring derajat manusia lainnya menjadi lebih tinggi daripada malaikat dengan membuka hikmah seluas-luasnya, dengan mengajarkan karya sastra sesungguhnya dan menjadi teladan yang baik.

Betapa pun sastra sudah mengantarkan saya untuk mendekat kepada Yang Maha Sastrawan. Maka, saya tidak akan terpengaruh dengan isu apa pun untuk menjauhinya.

 

Bandung, 2017


Sumber gambar dari sini.