Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 8 April 2017   14:03 WIB
Rahasia Dakwah Zakir Naik

Bekerja di sebuah penerbitan Qur’an membuat saya tidak asing dengan percakapan-percakapan seputar dakwah. Pada jam istirahat, beberapa staf berkumpul di satu meja. Rupanya mereka sedang menonton video tokoh terkemuka Dr. Zakir Naik yang sempat datang ke Indonesia. Bahkan kawan saya ada yang meniru-niru gaya “aca-aca” beliau. Tidak habis sampai di situ, kawan saya lantas mengatakan ingin memelihara jenggot.

Saya jadi teringat, sekitar lima tahun lalu, bapak saya di rumah pernah menunjukkan video debat muslim versus non muslim. Adalah sebuah keajaiban bagi bapak saya untuk mendengar petikan ceramah karena biasanya untuk jumatan pun beliau ogah. Tapi saat itu, bapak saya ketawa-tawa melihat seorang pendeta kelabakan mencari berkas-berkas di podiumnya dan saat itulah saya pertama kali mengenal nama Zakir Naik (dulu jenggotnya belum lebat). Saya juga ikut menonton dan tercengang sewaktu beliau menyerang lawannya dengan ayat-ayat Qur’an dan Bibel yang dihafal di luar kepala. Kami, saya dan bapak saya, memang puas sekali sebagaimana para pecinta sepak bola melihat tim kesayangannya mencetak gol.

Zakir Naik adalah sosok yang tegas tapi santun. Seperti juga gurunya, Syekh Ahmad Deedat, penyampaiannya logis dan terarah. Dia kaya akan metafora untuk kita lebih mudah memahami maksud sebuah ayat. Dia menjadikan dakwah sebagai sebuah profesi tanpa upah. Pada generasi yang stay connected, melalui video ceramahnya, dia menjadi penyambung lidah para nabi. Dia memang seorang dokter sekaligus penyembuh spiritual. Secara mengejutkan beberapa peserta yang ateis maupun non muslim mengucapkan syahadat di bawah bimbingan Zakir Naik. Masya Allah.

Sosok Zakir Naik menjadi panutan baru di dunia dakwah internasional dan memiliki greget tersendiri. Kita pun menyadari tentang betapa pentingnya menguasai bahasa. Dalam hal ini Zakir Naik telah memahami, paling tidak, dua bahasa penting: bahasa Arab dan bahasa Inggris. Agak sedih saya sewaktu kehabisan tiket untuk menonton Zakir Naik secara langsung di kampus UPI. Dan lebih sedih lagi saat saya menonton sesi tanya jawab di youtube, bahwa waktu bertanya lebih panjang daripada waktu menjawab karena, lagi-lagi, terkendala bahasa.

Namun ada suatu pola yang saya cerna dari penyampaian Zakir Naik. Kata-katanya menyentak dari kesadaran paling dasar di kepala kita. Jika Islam ibarat sebuah pohon, pada setiap yang bertanya, Zakir Naik selalu menggiring memasuki akar terlebih dulu. Misalnya tentang alasan penciptaan. Kenapa Tuhan menciptakan kita kalau pada akhirnya akan menghancurkan kita, kalau pada akhirnya banyak pertikaian di mana-mana, kenapa Dia seolah-olah menjadikan kita mainan?

Jawaban rata-rata pendakwah mungkin tarikannya langsung pada ayat Az-Zariyat ayat 56. Zakir Naik tidak. Dia menempatkan dirinya sebagaimana penanya tersebut, sejak dia belum tahu apa-apa. Bahwa Tuhan seumpama seorang guru yang memberikan ujian untuk meluluskan atau menggagalkan muridnya. Namun, lulus atau tidak, itu terserah muridnya. Murid rajin, dia lulus. Murid malas, dia gagal. Seorang murid tidak pernah bisa menyalahkan guru jika gagal. Guru hanya memprediksi dengan melihat apa yang muridnya lakukan.

Begitu pun Tuhan sebagai Mahaguru. Manusia diberikan dua pilihan: taat atau tidak, mau lulus atau tidak. Pada saat ujian, jika guru memberikan jawaban kepada muridnya, guru tersebut curang. Jika Tuhan menghendaki kedamaian sejak semula, Tuhan curang, dan di mana letak ujian kalau begitu? Di kitab Qur’an, Tuhan sama sekali tidak memerintahkan pertikaian, salah siapa? Lojik, bukan?

Lalu Zakir Naik menyebutkan surat Al-Ahzaab ayat 72 yang berbunyi, "Sesungguhnya, Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu, dan mereka kuatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh." Kita pernah memilih untuk menerima amanat atau ujian itu. Namun Tuhan melepaskan memori itu sejak kita lahir ke dunia sebagaimana dikatakan juga dalam surat Al-A'raaf ayat 172.

Saya mengamini bahwa pria berkebangsaan Hindi tersebut memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang Qur’an. Susunan Qur’an memang kadang membingungkan. Ada seorang filosof Islam yang mengatakan bahwa membaca Qur’an itu ibarat tes buta warna. Orang yang buta warna, tentulah bingung memandang gugusan titik. Orang yang melek tidak, dia bisa menangkap visualisasi angka di setiap gugusan titik. Zakir Naik termasuk orang yang melek, saya rasa. Karena itu, sepatutnya kita berdoa kepada Tuhan untuk senantiasa tidak dibutakan dari ayat-ayat Qur’an atau setidak-tidaknya diberi jalan, dipertemukan dengan orang-orang beriman.

Jika target audiens dakwah Aa Gym adalah ibu-ibu, target Zakir Naik memang kalangan intelektual sehingga kita heran jika tiba-tiba ada yang mempertanyakan, kok dakwah tidak dengan cinta malah muter-muter? Di beberapa sudut pandang, Zakir Naik memang kontroversial. Seakan-akan Zakir Naik telah memecah kebhinekaan. Bahkan banyak situs-situs yang telah lama diblokir menampilkan kembali tentang isu Salafi Wahabi-nya Zakir Naik.

Lalu ada agenda apa di balik kemunculan Zakir Naik? Kenapa dia seenaknya mengesampingkan Imam Mazhab? Apa alasan Zakir Naik menganggap sesat sebagian ulama? Kenapa cara pelafalan Qur’annya tidak disertai dengan tajwid yang benar? Dan lebih miris lagi, di negeri majemuk seperti ini, kok dia tega mencecar non muslim di muka umum?

Saya sepakat betul dengan anjuran Zakir Naik untuk lebih memposisikan Qur’an lebih tinggi daripada yang lainnya, termasuk Hadits. Karena Hadits ada yang sahih dan ada pula yang tidak. Kita boleh memercayai sebuah Hadits jika itu tidak bertentangan dengan ayat Qur’an. Hadits berbeda dengan Sunnah. Hadits adalah Sunnah yang dicatat. Sementara Sunnah, yang juga tinggi kedudukannya, adalah perkataan dan perbuatan nabi, aplikasi pengamalan Qur’an. Hadits itu, seperti juga catatan orang-orang yang mendengar ceramah Zakir Naik. Setiap orang memiliki kesimpulan masing-masing, bisa sesuai bisa tidak. Jika catatan mereka diperiksa dan dikoreksi Zakir Naik, menjadi catatan sahih bukan?

Sebuah riwayat mengatakan bahwa Abu Bakar dulu pernah membakar catatannya sendiri dan memerintahkan para sahabat lain untuk memusnahkan semua catatan jamaah yang mendengar dakwah Rasulullah. Karena, ada suatu kekhawatiran bahwa jika tanpa pemeriksaan Rasulullah, itu tersebar dan menjadi pedoman seluruh umat. Rasulullah tidak sembarangan dalam menyampaikan kalimat Tuhan. Rasulullah pernah mengatakan, “Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya." (H.R. Malik)

Ada pun kepada non muslim yang merasa terhina dengan sebutan kafir, Zakir Naik pernah berpesan, “Nona, tidak perlu bersedih. Kata kafir sebetulnya hanya sebutan kepada non muslim maupun muslim yang membangkang dari ajaran Tuhannya seperti halnya sebutan domba kepada non kristiani maupun umat kristiani yang tidak taat.” Zakir Naik berkata dengan seulas senyum.

Perkara pelafalan Qur’an, Zakir Naik sepertinya lebih memilih menghafal semua ayat untuk kemudian disampaikan kepada sebanyak mungkin orang daripada membaca tartil sesuai makhorijul huruf tapi hanya didengar oleh sendiri. Dan bukan tidak mungkin ia juga mampu untuk itu. Dengan begitu, pekerjaannya sekarang bukan penyembuh spiritual melainkan menjadi guru madrasah di kampung-kampung yang mengajar tatitu babibu.

Melalui tulisan ini, saya juga tidak ingin mempersoalkan mayoritas dan minoritas maupun penganut aliran tertentu. Yang saya persoalkan adalah bagaimana Zakir Naik menularkan spirit dakwah. Jangan sampai kita keliru mengambil hikmah. Kita sepertinya lebih senang melihat orang lain kalah dan tertekan lalu kita mengelu-elukan Zakir Naik. Tapi kita enggan berserah diri untuk senyata-nyatanya memenangkan Tuhan.

Lihat saja. Kita dengan mudahnya tertawa melihat non muslim terpojokkan atau diusir dari tempat mikrofon karena pertanyaannya malah jadi pidato atau diusir karena malah jadi kampanye. Kita dengan mudahnya tertawa melihat orang terluka karena mereka baru menyadari telah banyak berbuat dosa daripada mengakui bahwa kita belumlah apa-apa untuk dikatakan pantas masuk surga. Kita, seakan-akan murid yang ragu dengan buku pelajaran yang sedang kita pegang dan terus diingatkan oleh guru kita untuk mengerjakan tugas-tugas. Kita, adalah sekumpulan umat yang hanya senang menjadi penonton pertandingan daripada tokoh yang mengantarkan agama Allah sedekat-dekatnya dengan manusia.

Di hari setelah Zakir Naik berceramah di UPI, saya mengajak teman saya—salah satu peserta ceramah tersebut—untuk bersama-sama mengaji dan mengkaji Qur’an. Tapi teman saya itu bilang dia lagi sibuk. Ya, memang sungguh berat jadi seseorang yang bukan sekaliber Zakir Naik untuk mempengaruhi teman-teman kita sampai berbondong-bondong mendekati Tuhan. Jika dilihat-lihat, memang ada yang luput dari pola dakwah Zakir Naik. Dakwah semestinya lebih daripada sekadar menyampaikan. Sebagaimana Rasulullah, dakwah semestinya sampai pada mengajak sehingga orang yang mendengar, bukan taat hanya pada saat itu dan pulangnya dia kembali maksiat. Apa bedanya dengan motivator kalau begitu—yang pesertanya sembuh saat berlangsungnya acara dan kembali sakit sepulang acara.

Lagi pula, jika kita melihat contoh yang diajarkan Rasulullah, musuh tidak pernah dilawan atau didebat atau dibinasakan melainkan dijadikan kawan. Caranya ialah dengan membuat mereka jadi simpatisan Islam. Konkretnya ialah dengan berbuat baik. Dan mengenai berpengaruhnya Zakir Naik, saya mendapatkan sebuah pencerahan tentang zikir. Zikir kita bukan buat Tuhan sebetulnya. Sebab Tuhan bukan sosok egois dan kesepian yang ingin dipuja-puja.

Zikir kita kepada Tuhan adalah untuk kita sendiri. Tuhan memahami betul psikologis manusia yang mudah terpedaya gelar dan nama yang baik. Kita akhirnya percaya kepada Tuhan karena setiap hari memuji-Nya dengan banyak gelar dan nama baik. Sebagaimana sekarang, kita lebih percaya resep dokter daripada obat warung karena di setiap waktu kita sering mengagungkan profesi dokter. Ini menjadi cambukan bagi kita untuk memperteguh kedudukan di muka bumi, memiliki gelar dan nama baik, tiada lain untuk menyampaikan ajaran Tuhan, tiada lain untuk berdakwah.

Bagaimana Islam sampai kepada kita dalam kurun waktu 1400 tahun? Ialah karena dakwahnya Rasulullah. Ah, kita, menyampaikan satu ayat saja sudah gemetaran. Dan apa lagi yang kita ragukan dari kitab Allah? Ketika kita sudah yakin bahwa Qur’an itu perkataan Allah, mengapa tidak kunjung dikerjakan apa yang Dia perintahkan? Ketika kita sudah yakin bahwa Muhammad utusan Allah, mengapa tidak juga mempelajari apa yang beliau contohkan? Atau jangan-jangan kita memang belum yakin dengan itu semua?

Bertanyalah pada diri sendiri: jangan-jangan kita memeluk Islam hanya karena kebanyakan dari kita sudah memeluk Islam, hanya karena orangtua kita sudah memeluk Islam, hanya karena pendahulu-pendahulu kita, hanya karena Zakir Naik, bukan atas dasar kemerdekaan kita sebagai manusia.


Bandung, 2017 | Kartini F. Asuti

Karya : Kartini F. Astuti