Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 21 Maret 2017   14:11 WIB
Dear My Lecturer

Dear Bu Naomi,

Ada banyak kata-kata yang ingin saya sampaikan setiap kali saya bertemu dengan Ibu. Tapi suatu waktu saya merasa saya ini begitu kecil sampai-sampai tidak sanggup mendengar suara sendiri. Saya merasa semua orang begitu jauh. Saya menyangka saya hanya sebutir pasir di bawah gugusan bintang yang bersinar. Barangkali melalui surat inilah saya bisa menyapa Ibu seperti halnya R.A. Kartini kepada Nyonya Abendanon, seperti halnya seorang anak yang tergagap-gagap melihat keelokan ibunya sendiri.

Saya dengar Ibu memelihara tanaman keladi. Saya jadi teringat Nyi Ageng Serang, pejuang wanita yang gigih melawan penjajah di Kulon Progo. Konon, menurut catatan sejarah, daun keladi digunakan sebagai taktik kamuflase selama berperang. Nyi Ageng Serang memerintahkan pasukannya melindungi kepalanya sebagai penyamaran sehingga tampak seperti kebun tanaman keladi dari kejauhan. Saya pikir selama ini pun Ibu menyamar. Barangkali Ibu adalah Nyi Ageng Serang itu sendiri—seorang ratu penyayang dan lembut hatinya yang bersembunyi di balik kegagahan dan ketegasan untuk menempa mental seluruh pasukan.

Saya bersyukur Tuhan menciptakan Ibu. Saya juga harus berterimakasih kepada Ibu karena berkat kebaikan-kebaikan Ibu-lah saya semakin dekat dengan Pencipta saya setiap hari. Saya punya lebih banyak tekad dari pada kekhawatiran dan rasa malu. Saya ingin menjadi seperti Ibu. Saya ingin mewariskan ilmu, juga cerita, dari generasi ke generasi. Saya ingin berbuat baik sampai saya tinggal nama, sampai jasad saya tertanam bersama akar pohon keladi. Saya sudah putuskan di kemudian hari saya akan jadi dosen. Seperti Ibu. Namun saya masih merasa kecil, kecil sekali, kadang-kadang rapuh. Saya ingin menjadi orang besar yang sanggup menggeser gunung, juga hati.

Saya lalu asistensi kepada Tuhan—Dosen Seluruh Alam Semesta, berharap Tuhan akan setuju dan memberikan nilai terhadap impian saya itu. Tapi sekarang saya mulai menyadari bahwa saya bukan sekadar mahasiswa bagi-Nya yang titip absen seenaknya. Saya adalah pemimpin, mewakili Tuhan di bumi. Saya tergelitik dengan suatu pernyataan bahwa tidaklah hebat seorang pemimpin kalau ia tidak bisa menundukkan diri di hadapan Pencipta-nya. Saya ingin mengalahkan apa saja, termasuk diri saya sendiri. Saya mulai memeriksa apa sebetulnya kehendak Tuhan yang harus saya penuhi sampai deadline waktu saya tiba. Lalu saya belajar falsafah hidup bahwa tidak perlu menjadi orang besar untuk melakukan sesuatu yang besar. Pendidikan juga adalah sesuatu yang besar. Untuk itulah, dengan penuh keikhlasan, saya mulai mengajar anak-anak menggambar atau menulis.

Bu Naomi, maafkan jika sebagai anak didik saya masih saja nakal, maafkan jika saya sering bolos kuliah, mengganggu ketertiban, atau hal-hal semacamnya. Awalnya saya kira saya hanya alien yang sedang terbuang ke planet lain. Banyak yang tidak memahami bahasa saya. Padahal jurusan yang pernah Bu Naomi pimpin bukan tempat buangan, melainkan selalu jadi dermaga bagi orang-orang sukses. Terima kasih sudah dengan sabar memantaskan diri saya jadi mahasiswa, jadi lulusan DKV, jadi seperti yang Tuhan inginkan—bukan seperti yang saya impikan. Sebab apa-apa yang tidak baik menurut kita bisa jadi amat sangat baik di mata Tuhan. Demikianlah. Bu Naomi akan melihat saya tumbuh dan terus tumbuh sebagaimana tanaman keladi.

 

Bandung, 20 Maret 2017

Kartini F. Astuti

*surat untuk Dr. Naomi Haswanto, M.Sn., dosen Desain Komunikasi Visual ITB
**gambar dari Neezham Photography, tanaman asli (Keladi Papua) untuk Bu Naomi tidak sempat saya foto

Karya : Kartini F. Astuti