Jatuhnya Sehelai Rambut Habib

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Politik
dipublikasikan 26 Januari 2017
Jatuhnya Sehelai Rambut Habib

Ketika saya masih berseragam putih abu, bacaan yang paling saya banggakan adalah “Hancurkan Liberalisme Tegakkan Syariat Islam” karya Habib Rizieq. Direkomendasikan pedagang surat kabar, buku bersampul hijau itu membantu saya memahami korelasi antara ideologi dan negara.

Baru sampai sepertiga halaman, saya sudah diketawai oleh guru saya. Guru saya mengambil buku itu lalu melemparkannya ke atas meja. Dia tidak berhenti ngakak dengan mata terpicing-picing. Lalu seisi kelas ikutan ketawa. Katanya, saya bisa kena virus radikal bebas.

Waktu itu saya betul-betul tidak mengerti. Apa yang salah? Saya mengerutkan kening dan menyimpan kembali buku tersebut ke dalam tas. Orang-orang di sekolah lebih menyukai saya membaca buku-buku cabul sepertinya. Dan ya, saya pamerkan puisi-puisi saya yang tidak senonoh untuk membungkam mereka.

Di samping sekolah dasar, saya sempat mengenyam pendidikan “sekolah agama” selama 5 tahun dan yang diajarkan di madrasah tersebut terbatas pada soal tata cara beribadah, tata cara baca Qur’an, membuat kaligrafi, dan hafalan nama-nama keluarga nabi. Banyak sekali pertanyaan di kepala saya yang tidak mungkin dijawab oleh guru-guru, misalnya kenapa saya harus beragama? Ah, saya tahan pertanyaan saya karena takut ditampar.

Rasa penasaran saya terhadap Islam belum pupus sampai saya kuliah di perguruan tinggi. Saya ingin mempelajari Islam lebih dalam. Saya lalu mengikuti berbagai kajian rohis dan saya dipertemukan dengan orang-orang berbaju kurung. Mereka memandang saya dengan aneh dan menyarankan saya untuk tidak lagi memakai celana jins. Dan ya, saya beli baju gamis untuk menyenangkan mereka. (Sebetulnya saya lebih menyukai isi daripada bungkus. Tapi saya tidak boleh ingin menang sendiri. Yang terpenting saya bisa mengikuti kajian tersebut.)

Hampir saban minggu, saya diajak untuk berdemonstrasi. Tapi entah kenapa Tuhan belum mengizinkan saya untuk jadi seorang demonstran. Saya membayangkan saya berdiri dengan gagahnya mengibarkan bendera berlafadz Allah dan Muhammad, sebuah kesaksian bahwa saya seorang muslim. Sebetulnya saya tidak suka pamer-pamer maka saya katakan pada mereka bahwa saya lagi capek. Ternyata kawan-kawan saya itu adalah para pengikut Habib Rizieq—orang yang pernah mengundang rasa “kepo” saya terhadap Islam.

Suatu ketika salah seorang dari mereka memberikan saya sepucuk kartu undangan untuk mengikuti tabligh akbar. Pembicaranya Habib. Saya bersiap-siap untuk pergi ke Jakarta dan mengajak kawan saya yang lain. Tapi kemudian kawan saya itu mencegah saya dengan siasatnya yang halus. Saya diajak berdiskusi semalam suntuk tentang perjuangan para sahabat nabi sehingga saya lupa harus bertemu dengan Habib.

Saya belum mau menghapus pertanyaan-pertanyaan saya sebelum terjawab dengan alasan yang jelas dan masuk akal. Kenapa orang ini begitu ditakuti? Saya lalu menonton video-video ceramah Habib Rizieq yang durasinya berjam-jam di youtube. Ya Tuhan. Saya terbakar! Habib membangunkan raksasa yang tertidur dalam diri saya.

Wawasan ilmu sosial Habib begitu luas. Habib membantu saya memahami perjuangan Islam dari perspektif yang lain. Selama ini saya tidak mendapatkan apa pun dari buku-buku sejarah selain tanggal-tanggal pra dan pasca-kemerdekaan serta nama-nama tokoh nasional. Saya tidak memahami prosesnya. Saya tidak memahami bagaimana Islam terlibat di dalamnya. Sampai kemudian Habib mengguncang dengan alur memikat dan sindiran-sindirannya yang pedas.

Habib Rizieq adalah imam garis keras. Semua orang kini mengetahuinya. Bolehlah para habib yang lain menanam padi tapi habib yang satu ini tidak pernah lepas untuk menjaga tikusnya. Di samping perangainya yang berani dan tegas, dialah yang akhirnya mempersatukan umat Islam lewat jalan aksi damai kemarin.

Beberapa dari kita mengecapnya sebagai “anak mami” karena seringnya Habib melapor seakan-akan berlindung di bawah ketiak petugas kepolisian. Dia melaporkan uang kertas yang disinyalir terdapat gambar palu arit. Dia melaporkan pengelola twitter yang memblokir akunnya. Dia melaporkan Wiranto. Dia melaporkan Ahok. Dia berdebat dengan Gus Dur. Dia tak segan menyuruh pejabat lengser. Aih. Pasti melelahkan lapor ini, lapor itu.

Dia melaporkan semua pihak yang mengancamnya. Undang-undang tentang penodaan agama jadi senjata. Dia sudah pasang badan untuk menghadapi bangkitnya hantu PKI. Dia tidak toleransi dengan misi kristenisasi. Dia sudah ancang-ancang di garda depan saat liberalisasi sudah kita anggap mati. Pandang matanya penuh dengan kecurigaan. Negeri kita menjadi semakin gaduh dengan cuitan-cuitan yang meneror, yang pro maupun kontra.

Apakah sebegitu cintanya Habib dengan agama Islam sampai-sampai rela dihujat sana-sini? Apakah sebegitu bencinya umat Islam sampai-sampai menuduh Habib sebagai biang kerok provokasi? Dia balik dilaporkan atas tuduhan penghinaan Pancasila. Beberapa dari kita bersorak, “Kena batunya tuh!” atau ada yang beranggapan, “Dia sendiri tengah mengusik citra Islam.” Ada juga yang menduga bahwa gerakan FPI dibiayai oleh para calon pemangku jabatan atas dasar kepentingan. “Rizieq hanyalah semacam wayang.”

Tapi tunggu dulu, saya tidak ingin termakan oleh hasutan media untuk membenci atau menaruh curiga pada orang ini. Apa yang mungkin terjadi di negara ini tanpa Habib Rizieq?

Saya bayangkan tidak ada pengawalan di dalam kemaksiatan. Polisi toh diam saja kecuali jika disorot program acara 86. Mungkin orang seperti Ahok juga tidak pernah mau belajar untuk berbicara sopan, terutama jika menyinggung isu SARA. Mungkin Jokowi tidak akan sewaspada itu dalam mengambil kebijakan. Mungkin kita akan anteng-anteng saja beribadah sementara para pemuda kita memutuskan jadi ateis, gerakan-gerakan menyimpang kita anggap lumrah  di dunia modern.

Saya memang bukan penggemar Habib tapi saya miris melihat saudara seiman kita yang digadang-gadang sebagai pemecah belah.

“Sehelai rambut Habib Rizieq jatuh bukan urusan FPI! Tapi dengan umat Islam.” Sebuah spanduk berbunyi demikian. Entah kutipan dari mana.

Tampaknya ini agak berlebihan. Fanatisme seperti ini tidak jauh berbeda dengan penggila drama korea atau penderita demam klub sepak bola yang berakhir anarkis. Atau jika ditarik pada kisah terdahulu, mungkin mereka akan temukan tangan-tangan mereka terpotong saking takjubnya dengan Habib. Ingat kisah para perempuan yang melihat keelokan Nabi Yusuf?

Tapi kan Habib keturunan Muhammad, katamu. Panggilan Habib memang adalah untuk keturunan Muhammad. Jika kita mendengar Habib, kita langsung ingat siapa kakeknya: Muhammad. Tapi nabi kita sendiri kan mengajarkan untuk tidak memandang garis keturunan. Paman Nabi Muhammad adalah Abu Jahal, penentang paling keras. Istri Nabi Nuh adalah pengingkar. Anak Nabi Yaqub hampir semuanya pendengki kecuali Nabi Yusuf dan Benyamin. Tidak boleh sekali-kali kita memandang keturunan.

Sudahlah. Jika kita ingin memuliakan seseorang, pandanglah akhlaknya. Mungkin dengan dilaporkannya Habib, ulama bersorban hijau itu akan mengingat bagaimana Umar bin Khattab menjadi halus perangainya saat menjadi pemimpin.

Pada akhirnya saya menyikapi ini sebagai sebuah skenario Allah. Kenapa Allah membiarkan dua kubu bertengkar seperti sepasang saudara berebut mainan? Jawabannya sederhana. Allah ingin melihat siapa yang menang. Dan kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika seorang muslim menahan amarahnya.

Izinkan saya mengingatkan tentang bagaimana Musa bersikap. Dia tidak melaporkan kepada Allah bahwa Fir’aun itu bejat. Dia hanya berdo’a untuk dirinya sendiri sehabis mendapatkan hinaan, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku."

Kartini F. Astuti, 2017


  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    9 bulan yang lalu.
    Alhamdulillah saya belajar dengan seorang guru yg lemah lembut dalam berbicara dan lebih memberikan pelajaran ahlak diri dan cinta perdamaian...

  • Mr Izuaf
    Mr Izuaf
    9 bulan yang lalu.
    Boleh tidak kalau aku cetak untuk aku bagikan di jalan-jalan?

  • Rohmat Saputra
    Rohmat Saputra
    9 bulan yang lalu.
    tulisannya menginspirasi....meski sudah tau sosok habib Rizieq, tapi tulisan ini menguatkan saya, umat islam butuh sosok yang tegas di zaman yg penuh fitnah.