Tentang Takut, Harap, dan Cinta

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Agama
dipublikasikan 26 Januari 2017
Tentang Takut, Harap, dan Cinta

Meneruskan postingan tentang menjadi hamba, saya ingin menjelaskan terkait dorongan seseorang beribadah dan mungkin ini akan membantumu memahami kasus-kasus belakangan yang terjadi di negeri ini. Semoga pertarungan atas nama keyakinan tidak terjadi lagi.

Beribadah bukan saja aktivitas orang beragama. Sebab beribadah adalah mengabdi, menjadi hamba. Kita bisa menjadi hamba apa saja. Tuhan kita bisa siapa saja. Saya bisa menyebut diri saya menghamba pada sosok laki-laki yang saya puja, pada kekayaan yang saya impikan, pada tempat saya bekerja. Saya bisa bilang bahwa tuhan itu sesuatu. Sesuatu yang merajai hati kita, yang mendominasi pikiran kita, yang menjadi sumber kebahagiaan kita.

Pernahkah kamu mendengar orang yang habis kecelakaan parah bukannya menyebut asma Allah tapi malah memanggil-manggil mantan kekasihnya? Romantis ya? Tapi sayang, keromantisan tersebut bukan demi Allah, melainkan demi tuhannya yang lain. Konon katanya memang selalu begitu menjelang seseorang dijemput maut, akan datang padanya tuhannya itu dalam sekelebat mimpi. Entah itu tuhan Allah atau tuhan selain Allah.

Saya membayangkan seandainya di hari akhir nanti, naudzubillah, saya justru menyebut-nyebut tuhan selain Allah dan saya berlari kepadanya sedangkan tuhan saya itu tidak bisa berbuat apa-apa, alangkah sialnya. Muhammad, sebagai seorang rasul saja, tidak ingin dikultuskan. Muhammad takut umatnya malah mencintainya daripada Allah. Pernah sewaktu meninggalnya beliau, Umar menghunuskan pedang, saking tidak percayanya. Abu Bakar justru mengatakan, “Apa yang disisimu akan lenyap, dan apa yang disisi Allah adalah kekal.”

Kembali pada ibadah. Bentuk-bentuknya bisa saja sama. Landasannya bisa berbeda.

Ada orang yang beribadah karena takut. Takut azab dunia dan akhirat. Takut siksa kubur. Takut jatuh ke dalam neraka jahanam. Orang yang dilingkupi ketakutan ini sangat pesimistis. Sekalinya berdosa akan menyesal sehingga harus diobati dengan perkataan, “Tenang, Allah Maha Pengampun kok.” Menghadapi orang seperti ini harus hati-hati. Mungkin kamu akan ditolak kalau saja sikap atau cara berpakaianmu tidak sesuai syariat. Didorong oleh ketakutan, orang ini bisa dengan berani menentang orang lain yang menghina agamanya, kadang bersikap anarkis. Maklumi saja. Tidak perlu sakit hati atau pasang badan. Pada dasarnya orang ini ingin kita benar di hadapan Allah, takut akan murka-Nya.

Ada orang yang beribadah karena harap. Berharap bertambah rezeki usai bersedekah. Berharap bisa lulus kuliah usai shalat sunnah. Berharap dapat jodoh begitu tamat mengaji. Yang paling orang ini sukai adalah ayat berikut, “Jika engkau menolong agama Allah, maka Allah akan meneguhkan kedudukanmu di muka bumi.” Saat menggapai mimpinya, orang ini akan sangat optimis tapi mudah sekali kecewa begitu jatuh. Saat melakukan kemaksiatan, segera ditutupi aibnya. Di benaknya, “Allah Maha Penyayang. Tidak masalah berdosa sedikit-sedikit." Nah. Ingatkan pada orang ini bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik dari dunia dan seisinya. Ingatkan juga bahwa azab Allah sangat pedih.

Ada orang yang beribadah karena cinta. Tidak berharap surga. Tidak takut pada neraka. Berpahala ya syukur, berdosa ya tidak apa-apa. Lantas buat apa surga dan neraka diciptakan? Sebetulnya orang ini paling rendah hati sekaligus paling tenang di antara yang lain. Melakukan segala sesuatu hampir dengan ikhlas. Dia mencintai proses, tidak peduli pada tujuan. Sedangkan ikhlas yang sesungguhnya kan memurnikan niat. Tidak jarang sang pecinta ini malah merendahkan diri. Dan itu sama saja dengan binatang. Binatang memiliki insting, menghampiri lawan jenis karena suka, makan saat lapar, tidur begitu ngantuk. Bilang padanya, “Kamu manusia. Dan kamu lebih mulia daripada binatang.”

Tentang takut, harap, dan cinta, mana yang lebih baik? Saya bilang sih tiga-tiganya. Tiga hal ini harus jadi komponen seimbang. Kita beribadah karena takut akan murka-Nya, karena mengharap kasih sayang-Nya, karena cinta dengan peribadahan itu sendiri. Lalu bagaimana caranya kita menasehati kawan atau mengajak mereka pada kebaikan? Lihat dulu apakah dia sedang ketakutan, berharap, atau tenang-tenang saja. Sudah begitu, sampaikan kalimat Tuhan dengan dosis yang pas.

Kita percaya bahwa Tuhan itu gofururrohiim, Maha Pengampun sekaligus Maha Penyayang. Kita juga ingat bahwa Muhammad diutus sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan. Bukan pembawa kabar gembira saja atau pembawa peringatan saja. Dan kita berkewajiban mencontohnya.

Demikianlah.