Menjadi Hamba Sejak Berniat

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Agama
dipublikasikan 25 Januari 2017
Menjadi Hamba Sejak Berniat

“Pak, saya ingin mengajukan beasiswa.”

“Sudah lewat masa tenggat.”

“Jadi tidak bisa Pak? Aduh bagaimana dong?”

“Salah Anda sendiri kenapa baru datang kemari?”

“Tapi kan Pak, dosen saya bilang—”

“Kalau tidak percaya, tanya sendiri sana sama Direktorat Keuangan!”

Lalu saya pulang sambil menangis.

Saya paling benci berurusan dengan birokrat, terutama di kampus. Orang-orang berseragam yang berada di balik meja itu biasanya saklek, tidak bersahabat. Mungkin karena mereka melakukan rutinitas yang itu-itu melulu, menghadapi pertanyaan yang itu-itu juga. Sebaliknya orang-orang yang menghadapi birokrat mau tidak mau harus berlama-lama karena kepala mereka penuh dengan ancaman dan kegelisahan.

Seminggu kemudian, saya kembali ke tempat yang sama. Ada dua orang yang mengantre. Saya berbalik sebentar ke mushala untuk melakukan shalat duha. Sebetulnya saya hanya ingin mengulur waktu karena ketidaksiapan saya menghadapi kemarahan birokrat tersebut. Mushala seakan-akan menjadi tempat pelarian saya ketika hati sedang gundah. Hei, bukankah belahan bumi mana pun adalah tempat ibadah? Kenapa saya hanya mencari ketentraman di tempat adem seperti ini? Dan kenapa pula saya beranggapan bahwa pergi ke tempat lain hanyalah buang-buang waktu?

Baiklah, apa salahnya saya niatkan pergi ke loket beasiswa itu untuk ibadah, untuk bersilaturahmi dengan sesama muslim, untuk menjadi pribadi teladan bagi non-muslim jika saya kebetulan bertemu mereka? Bukankah bumi Allah itu luas? Tidak masalah kalau saya mengalami penolakan oleh manusia. Toh Allah tidak akan pernah menolak saya. Tidak masalah mau itu nantinya saya dihujat di depan banyak orang, didrop-out dari kampus, yang terpenting adalah Allah ridho pada saya.

Lalu saya pergi ke loket. Antrean sudah semakin panjang sampai tiba giliran saya.

“Permisi, Pak!” kata saya sambil tersenyum. “Masih bisa daftar beasiswa?”

“Masih. Ada gelombang ke dua.”

“Saya mau lengkapi persyaratannya nih.” Saya berusaha untuk sedapat mungkin memelankan tempo bicara. “Tapi saya belum cetak rencana studi.”

“Oh, tidak apa-apa. Itu hanya formalitas. Tinggal tanda tangan.”

Saya tidak lepas tersenyum saat membubuhkan tanda tangan. “Nuhun, ya Pak. Selamat bekerja.”

“Sami-sami, Neng Geulis.”

Serius, saya agak kaget melihat ekspresi birokrat tersebut yang balik ramah kepada saya. Mungkin memang benar sikap kita adalah bumerang. Dan kamu tahu saya berada di nomor urut berapa? Belasan. Seharusnya saya berdiri dengan kesal. Orang-orang di belakang saya begitu ribut ingin mendapat giliran. Hanya karena berniat ibadah sebelum melangkah, saya anteng saja mempersilakan orang-orang itu masuk lebih dulu. Hanya karena berniat ibadah sebelum melangkah, kemarahan berubah menjadi kerendah-hatian.

Demikian sedikit ilustrasinya. Mari kita berangkat pada inti permasalahan.

Ini barangkali hanya tafsiran saya yang bodoh. Sebagian dari kita mungkin risih mendengar kata “ibadah”. Padahal itu hanya persoalan bahasa. Ibadah berasal dari kata “abd”, “ya’budu”. Dalam bahasa Sunda, kata “abdi” adalah bentuk kata paling sopan untuk menyatakan “saya”. Dalam bahasa Arab, kata “abdu” sering dipakai untuk menyatakan “hamba”. Abdullah berarti hamba Allah. Ibadah berarti menghamba.

Dalam bahasa Indonesia, saya juga curiga dengan asal kata “bodoh”. Menjadi bodoh berarti mengakui bahwa dirinya tidak memiliki pengetahuan apa-apa dibandingkan Tuhan. Orang bodoh biasanya patuh terhadap perintah. Itulah kenapa orang yang beribadah sering dianggap bodoh oleh syaitan, oleh para pembangkang. Sekali lagi, ini hanya tafsiran saya yang bodoh.

Untuk mendapatkan beasiswa saja diperlukan syarat yang saya penuhi dengan harap. Mungkinkah saya beribadah hanya alakadarnya? MasyaAllah. Padahal tidaklah Tuhan menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah. Ibadah seharusnya dilakukan dalam rentang waktu sepanjang hidup, bukan di sisa waktu. Seorang muslim lima kali sehari jungkir balik di atas sajadah, apa bedanya dengan atlet senam lantai? Seorang muslim bersedekah, apa bedanya dengan calon pejabat membagi-bagikan uang untuk mendulang suara?

Ibadah sebetulnya bukan ritualitas yang terlihat. Tapi ada pada niat. Coba periksa. Segala sesuatu yang berlandaskan ‘karena Allah’ akan jadi ibadah. Belajar karena Allah, jadi ibadah. Bekerja karena Allah, jadi ibadah. Tidur karena Allah, jadi ibadah. Mengaji karena Allah, jadi ibadah. Makan karena Allah, jadi ibadah.

Niat ‘karena Allah’ atau lillahita’ala itu misalnya begini, “Ya Allah, saya berniat makan supaya saya sehat, supaya saya kuat saat shalat. Betapa beruntung orang yang panjang usia karena banyak pahala yang dia dapat. Betapa beruntung orang yang banyak pahala karena dia akan bertemu dengan-Mu dalam keadaan mulia.”

Telah saya katakan hal yang sama pada teman-teman saya di sebuah forum diskusi, “Mari luruskan niat.”

Seseorang nyeletuk begitu selesai acara, “Kenapa kamu mengurusi niat orang lain? Biarkan saja itu menjadi urusan mereka dengan Tuhan. Kewajiban seorang nabi pun adalah mengajarkan tata cara beribadah, bersuci.”

“Tata cara beribadah setiap nabi berbeda. Lihat saja bentuk-bentuk ibadah umat terdahulu. Tapi semua nabi menyeru pada hal yang sama: bertauhid, tidak mempersekutukan Allah,” demikian saya menjawab. “Bagaimana jika di dalam hatimu ketika shalat ada perasaan ingin dinilai orang lain sebagai orang sholeh? Apakah itu disebut ibadah?”

Mari mengubah pasir menjadi emas. Mengubah suatu perbuatan yang diperbolehkan menjadi kebaikan. Niat tidak melelahkan. Pernah dengar orang yang sakit karena terlalu banyak berniat? Jika tidur kita tidak dilandasi niat ibadah, tidak semata karena Allah, ya sia-sia delapan jam kita. Jika ada yang bertanya kenapa saya tidur dan saya jawab, "Ya, karena ngantuk saja." Oh. Alangkah ruginya.

Ulama kita mengingatkan bahwa istirahatnya seorang muslim adalah ketaatan dan ketaatan seorang muslim adalah istirahat. Apa yang selama ini kita rasakan saat melakukan ketaatan seperti berpuasa? Lelah. Mengantuk. Bosan. Haus. Lapar. Kesal. Ingin cepat-cepat berbuka. Kenapa tidak menganggap itu sebagai masa istirahat? Ada apa dengan kita? Dimana lillahita’ala kita?

Jika makan kita, tidur kita, shalat kita, bukan karena Allah, tentu bukan ibadah lagi namanya. Kebalikan dari ibadah kan maksiat ya. Jangan sampai kita seakan-akan memetik pahala padahal sebetulnya menuai dosa. Perbedaan itu tipis sekali. Hanya karena niat.

“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Qs. Al Furqan: 23).