Lupa Caranya Bahagia

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Januari 2017
Lupa Caranya Bahagia

Adik saya menulis, "Lupa caranya bahagia". Saya juga tengah lupa. Serius. Saya kira saya akan bahagia setelah dinyatakan lulus kuliah. Ternyata kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Sebentar sekali. Dan saya kembali mengizinkan diri saya menyusun sekeping demi sekeping rasa menuju.. katakanlah.. bahagia. Tapi kok rasanya sulit?

Saya membaca buku-buku semacam Tasawufnya Hamka, membaca juga diri saya. Apa yang salah? Bahagia bagi orang miskin adalah bekerja. Bahagia bagi orang kaya adalah berkumpul dengan keluarga. Bahagia bagi seniman adalah berkarya. Bahagia bagi pendemo adalah menyuarakan hati rakyat. Sangat berbeda. Apakah capaian kebahagiaan saya kurang jauh? Barangkali iya. I have no dream. Saya tidak punya cita-cita. Apa pun.

Teman saya, Cipta, menanyakan "Sudah bisa membayangkan menjadi apa kamu sepuluh atau dua puluh tahun lagi?" Terus terang, saya kikuk ditanya begitu. Saya benar-benar tidak memiliki cita-cita. Tapi barangkali saya masih memiliki satu keinginan naif: bahagia dalam mencari kebahagiaan.

Bahagia dalam mencari kebahagiaan bukanlah cita-cita egois. Itu adalah tentang menikmati proses, menyambut segala yang terlibat dalam cerita hidup. Sebelum sidang kemarin, saya sempat berpikir saya hanya akan bahagia ketika selesai sidang. Makanya saya kerjakan tugas akhir penuh dengan kesedihan, kebencian, kekhawatiran, karena sudah saya tanamkan di dalam hati tidak ada kebahagiaan di sini. Siapa pun yang saya temui saya saya pasang tampang bagai zombie dan saya katakan, "Don't disturb me!"

Orang-orang yang terkejut dengan bentakan saya mulai menjauh. Kebahagiaan terusir pelan-pelan. Dan saya lupa, jika kebahagiaan bisa menular, kesedihan apalagi. Saya gali lagi diri saya, adakah kebahagiaan di sana? Saya buka pintu kamar dan saya persilakan orang-orang masuk untuk merapikan kasur, diri, dan kepala saya. Saya sambut orang-orang di kampus. Seorang dosen memeluk saya. Seorang lagi menepuk pundak saya. Dan ternyata itulah kebahagiaan saya sekaligus mereka: bersama-sama bahagia.

Jika cita-cita saya cukup hanya jadi desainer atau penulis, tapi tiba-tiba tangan saya lumpuh, selesai sudah, saya tidak akan bahagia. Jika cita-cita saya cukup hanya dengan menjadi bahagia, barangkali saya tinggal jadi orang gila, tertawa sepanjang hari. Dan jika cita-cita saya cukup pada mencari kebahagiaan, saya bisa jadi pencuri, koruptor, atau apa pun, menumpuk kecemasan demi kecemasan orang lain yang kehilangan haknya untuk memuaskan diri saya. Sesimpel itu.

Bagi saya, kebahagiaan yang sesungguhnya terletak pada sumber segala kebahagiaan itu. Ialah cinta Tuhan saya. Itu jelas akan memperpanjang umur bahagia. Jika saya masih belum bertemu Tuhan, saya akan selalu bahagia.

Tapi bagaimana caranya?
Barangkali saya, melulu tidak menemui caranya, karena tidak sedang mencari sumber kebahagiaan itu. Barangkali saya sedang tidak ingin menemui Tuhan saya. Barangkali saya lupa siapa Tuhan saya. Oh, God.


  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    10 bulan yang lalu.
    Pursuit of Happiness memang kalimat yang aneh. Mengapa kita selalu disuruh mencari kebahagiaan? Coba pursuit diganti Discover...

  • agus geisha
    agus geisha
    10 bulan yang lalu.
    mungkin 10 tahun yang lalu, kurang atau lebih, di cigadung ada toko namanya bahagia.

    • Lihat 3 Respon