Menghargai Cabai

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Budaya
dipublikasikan 14 Januari 2017
Menghargai Cabai

Ada kado pahit di awal tahun 2017, yaitu meroketnya harga cabai melebihi harga daging, satu kilonya hampir seperempat juta! Saya terenyak bukan main. Ibu saya di rumah, apalagi. Sebelum harga naik, beliau kerap membeli cabai hanya satu atau dua ons dari warung terdekat untuk meracik sambal goang kesukaan Bapak.

Ibu saya tidak pernah membeli bumbu dapur banyak-banyak. Belanja hanya untuk keperluan satu hari. Praktis, cepat, dan dadakan. Seperti juga cara membuat sambal goang. Untuk keperluan garam saja, sering ia minta satu sendok dari nenek yang kebetulan tinggal di sebelah rumah. Saya tidak melebih-lebihkan karena memang begitu keadaannya.

Urusan sambal, saya kira tidak ada yang bisa menandingi rasa sambal goang bikinan ibu saya. Bapak saya selalu ketagihan nambah nasi tiap ada sambal goang, dimeriahkan karedok leunca dan tutug oncom. Pun begitu setiap kali saya pulang kampung, menu andalannya tetap sambal goang. Jika sambal kepedasan, saya biasa dengan refleks mengibas-ngibaskan tangan di depan mulut. Seuhah sambiil menitikkan air mata, tapi mulut saya tidak akan kapok-kapoknya mengunyah. “Barangkali seperti itulah taubat sambal,” celetuk ibuku.

Saya membayangkan mungkin hari ini piring Bapak tidak begitu berwarna. Hanya nasi, ikan, dan lalapan. Tanpa sambal. Barangkali waktu itu Bapak menyesal kenapa tidak menanam pohon cabai di halaman rumah.

Di daerah Sinarlega, Cianjur Selatan, yang jauhnya menghabiskan waktu sekitar 7 jam dari rumah saya dan berangkat harus memakai truk atau kol buntung atau motor cross trail saking tracknya sulit ditempuh, cabai beragam warna bisa dengan mudah dipetik. Berhektar-hektar pohon cabai tumbuh di sana. Sewaktu KKN di tempat itu, kebetulan sedang paska panen, hampir setiap hari saya pergi ke kebun, memetik cabai bersama Umi Ohom (orang tua asuh saya), membuat olahan cabai menjadi sambal terasi, sambal kecap, sambal tomat, sambal bawang, sampai sambal goang.

Hari ini, jauh dari kampung, saya mencicipi sambal lebih nikmat dari biasanya. Saya “seuhah” sambil menitikkan air mata tapi bukan kepadasan, melainkan sibuk berpikir tentang nikmat Tuhan. Nikmat mana yang saya dustakan, ketika harga cabai membengkak, saya masih bisa merasakan pedas manis gurih seperti ini? Nikmat mana yang saya dustakan ketika saya mengingat setiap petikan cabai memiliki keringat petani yang datang dari tempat jauh, jauh sekali? Belum lagi garam yang pembuatannya masih belum saya mengerti. Dan saya dengan santainya mengecap itu setiap hari!

Ya, harga cabai memang naik. Penyebabnya cuaca buruk. Saya kira kita semua sudah tahu perkara menghebohkan tersebut dari televisi, dari desas-desus tetangga, dari timeline media sosial yang mengutip perkataan Menteri Pertanian maupun Menteri Perdagangan. Tapi saya tidak akan menggugat atau berkeluh kecewa terhadap kinerja pemerintah. Biarlah itu menjadi tugas mahasiswa.

Bagi saya, bahkan pemerintah pun tidak bisa mengubah cuaca buruk menjadi baik. Bagi saya, bahkan seribu orang sekelas profesor yang menempuh studi tentang tanaman pun tidak bisa mengubah warna cabai. Bagi saya, duduknya pemerintah di kursi parlemen pun adalah ridho dan suratan Tuhan. Bagi saya, Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum sebelum kaum itu mengubahnya. Tidak ada yang patut disalahkan selain diri kita sendiri yang tidak mau bersyukur terhadap hal remeh semacam cabai yang tingginya tidak lebih dari kelingking kita.

Jangankan cabai, harga diri manusia pun seringkali kita remehkan. Bagaimana Tuhan mau mencintai negeri ini?