Sagarmatha

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Puisi
dipublikasikan 27 November 2016
Sagarmatha

[1]

Katakan mengapa mesti kususui hutan cemara

dan rhododendron dan semak alpin yang berjejer

jika kau menjadikannya pengantin bara, padahal kayu bakar

hanya menumpuk duka. Katakan bagaimana seharusnya

 

kuasuh beruang hitam dan rusa dan burung bangkai

dalam ayun mesra sehelai angin saat kaupersembahkan mereka

pada Gadhimai di lambungmu. Katakan apakah sebaiknya

 

aku murka mendapati wajah kauludahi sungai limbah

sampai gletser mencongkel sebelah bola mataku

sampai sampah menggeser letak bibirku

yang menciummu setiap dakian. Dan keningku...

 

Di mana pula keningku, retak rengkah dan tercecer.

 

[2] 

Kau menyeret langkah, jauh, dari kamp perbatasan barat

dan timur. Dengan mantel cokelat berlapis-lapis

seperti bongkahan batu-batu Himalaya dan usianya,

kau menantang kebekuan senja yang datang tiba-tiba.

 

Merasa belum punya, kau harus segera punya.

 

Begitulah caramu menggapai jari-jariku yang jatuh

satu persatu, merayu dan sampai, menyingkap rahasia purba.

 

Lima jam kau terus berjalan, gontai, ke utara, mencetak baret

di kedua kaki. Lima belas ribu tahun aku masih berdiri di tempat

dengan satu kaki, namun liang luka sudah di sana-sini.

 

Igaumu sambil terpejam, “Ingin aku melukis tubuhmu

dengan saripati bunga melati serta mengemasmu

ke dalam potongan kain sari ini.”

 

Di matamu, aku bukan lagi Sagarmatha berjanin magma

dan hendak aborsi, tapi gadis Kumari bermata api.

Mestikah aku diarak dalam diam, dalam upacara Indrajatra

duduk di singgasana emas, mengobati setiap umat pencari berkat

yang bertamu, meski harus terlukai tangis dan ragu.

 

Ah, aku memang secantik perawan titisan Dewi Taleju!

 

[3]

Sebelum mabuk kata-katamu, dosa semesta

harus lebih dulu kureguk dan kumuntahkan cuaca buruk,

bangun dan terjaga demi menata ulang panorama.

 

Berpasang tapak terkubur bayang-bayang, jangkar bersitahan

dalam cengkeraman tebing, tidak lama, lepas.

Dahan-dahan pohon juniper patah serentak ditebas cahaya.

Tangga-tangga dilucuti badai, retakan salju mengular

di bawah sepatu, tentu hendak memburu dan menangkapmu.

 

Dan langit mengungsi. Bumi dirasai mengamuk

bergetar berulangkali, barangkali sebentar lagi jungkir balik

melipat dan meremas segala yang ditimang.

 

Lalu longsor menghantam batok kepalamu. Ada debam

disusul teriakan panjang, kau terperosok ke jurang.

Dan ada yang pelan-pelan mengucur

dari tubuhmu. Dan salju memerah.

 

Kau terus menyingkirkan rasa takut. Tanganmu terlampau keram

tapi kauhancurkan juga kepingan es. Dari timbunan,

merangkak, kausaksikan tubuh-tubuh yang lain

mirip tanda jeda pada prasasti. Tidak kaumengerti.

 

[4]

Dari punggung ringkihku, kausaksikan juga kabut kusut.

Dan mega-mega kumal dikibarkan, sedang matahari rabun,

lensa matamu buram dan Kathmandu tampak hanya semburat.

 

Kau berkitaran di pusarku dengan kepala berbalut perban

dan darah menjelma jejak. Kaudapati tenda-tenda kepalang hancur,

kuil-kuil runtuh, dewa-dewa terbanting dan pecah,

rangka-rangka yang masih berjaket daging pontang-panting.

 

Dan kau berangkat ke kota memintas semburan air

di antara tanah berlubang. Sungai-sungai luber

dan puing-puing gedung tidak lebih dari adonan ladoo.

           

[5]

Di Kathmandu, profesor menduga ini ulahku.

“Sebab antar lempeng dalam dadanya bersitegang.”

Katakan pada profesor, aku tidak pernah menyimpan dendam.

 

Kata biksu Buddha di biara Rongbuk, “Dewa sedang murka!”

Tanyakan pada biksu itu, lalu kenapa? Tapi kau

tidak ingin dikambinghitamkan, tanganmu terlalu mungil

untuk merekayasa guntur serta menyutradarai malaikat.

 

Lalu mereka, para pendaki dan penduduk itu

melakoni fragmen kehilangan: protes kepada Shiwa, biara-biara

Kabah di atas sajadah, salib Yesus dan patung-patung

yang mereka puja. Amnesia hakikat kepunyaan.

 

2015

 

*Sagarmatha: (bhs Sanskerta) Ibu dari alam semesta, puncak termegah gunung Everest yang diselimuti salju


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    11 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Puisi karya Kartini ini sungguh kuat. Dibuat dengan pilihan kata yang pas, pelan demi pelan mencapai klimaks. Puisi ini menarik sebab mengandung pandangan baik dari Sagharmatha sendiri tentang dirinya sendiri serta pendapatnya mengenai pendaki yang mencoba menaklukkannya. Ada isu lingkungan, mistis dan perjuangan diri mendaki yang terkait dengan eksistensi diri dalam puisi. Sungguh kaya dan megah. Terima kasih telah berbagi di sini, Kartini.