#KurinduITD - Surga Sejuta Versi

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Budaya
dipublikasikan 21 November 2016
#KurinduITD - Surga Sejuta Versi

Agaknya fakta dalam video-puisi “Kisah Kitab Petunjuk” karya Denny JA adalah benar adanya. Bahwa yang tercetak telah mengalahkan yang hidup. Perilaku genosida terjadi karena sebuah gagasan yang terabadikan dalam buku, yang bahkan seorang pemikirnya pun sudah mati. Ketika kamu tampil beda dari pemeluk ajaran tertentu di sekitarmu, di situlah kamu divonis masuk neraka dalam kultur sosial. Jika tidak pandai beradaptasi, kamu akan disiksa penduduk bumi yang sudah memiliki seragam sendiri-sendiri dan mengibarkan benderanya masing-masing.

Kawan saya baru lepas jilbab. Saya pikir, mungkin dia pindah agama. Rupanya agama yang selama ini dia yakini telah tercoreng sekelompok orang yang tidak manusiawi. Mereka memandangnya bagai najis di pantat penggorengan. Dia ditawari terapi ruqiyah hanya karena tidak konsisten dalam menutup aurat. “Apakah aku kerasukan setan?” tanyanya bingung. Di belahan dunia yang lain, seorang perempuan bercadar dianggap sebagai teroris padahal pegang senjata saja dia tak mampu. Sementara di hadapan saya, telah terpuruk seonggok daging yang dikatakan halal darahnya karena dituduh kafir lantas dibayangi anggapan pantas terkena azab. Astaga. Manusia memang makhluk begundal yang serba salah.

Cobalah main-main ke toko buku, ambil beberapa buku dari rak yang berbeda, maka kamu akan menemukan kontrasnya berbagai pemikiran. Dan, untuk memahami manusia berikut bagaimana mereka melihat sekitar, saya akan menghadirkan beberapa perspektif dan gradasinya yang saya pinjam dari teori psikologi Myers Brigg Type Indicators.

 

Sudut Pandang Peraturan (Judging)

Sebagai bagian dari nuansa ketimuran, fantasi orang Indonesia terhadap roh sangat tinggi. Begitulah dunia mistik atau spiritual. Tidak heran kenapa kaum mayoritas memercayai surga yang tidak tersentuh, mematuhi nabi-nabi yang belum pernah sekali pun bertemu, senang berada di atas dan merendahkan alam semesta berikut manusia lainnya serendah-rendahnya.

Dunia, bagi orang-orang tanpa cela, seumpama kotak televisi hitam-putih. Hanya satu yang benar. Kembali ke zaman peperangan di mana banyak manusia terbunuh. Perkataan “Kamu salah!” dan “Jangan begitu!” keluar dengan gampang seperti telur pecah, tanpa sadar melukai hati orang lain. Orang-orang suci ini lupa bahwa diri mereka pun rendah, tidak lebih tinggi dari tanah, sama baunya dengan liang lahat. Karenanya mereka mendapat tugas untuk bersujud dan memohon ampun kepada Zat Imajiner yang mereka sebut Tuhan. Mereka mengabaikan apa yang selama ini dikatakan sama rata oleh nabi mereka: manusia, dan melupakan bahwa dunia bisa dipakai sebagai fasilitas menuju surga.

Hanya Tuhan yang berhak mendiskriminasikan manusia. Dia hakim sesungguhnya. Tuhan bisa saja menciptakan semesta dalam sekejap tapi ia membaginya ke dalam beberapa tahap. Karena itu, kita mengenal waktu maupun proses. Nabi pun sebetulnya mengajak pada keluhuran budi dengan membentangkan tangga-tangga para nabi sebelumnya, mengubah setapak demi setapak orang-orang salah menjadi orang-orang soleh. Tidak tiba-tiba. Tidak fobia terhadap sesama. Tidak juga anti kemajuan zaman.

 

Sudut Pandang Kemungkinan (Prospecting)

Begitu banyak klaim benar sehingga ragu apakah semua itu memang benar atau khayalan orang-orang saja. Seperti mimpi agung Marx tentang tidak adanya kelas, para pencari kebenaran dan jajarannya ini memiliki prinsip egaliter (sederajat). Mereka diberkahi cinta kasih dengan kadar yang luar biasa, kecerdasan di atas rata-rata, dan ilmu maklum yang tidak ada tandingannya. Kerap sinis terhadap hal-hal yang dianggap positif oleh banyak orang sehingga menolak kemapanan dan mendukung yang tersisihkan (minoritas).

Sering mereka menyiksa diri demi mengolah kebijaksanaan, memberontak di sana-sini untuk menyuarakan bahwa surga milik semua orang, bahkan kaum proletar harus dipersenjatai untuk melawan kediktatoran, bahwa kaum gay seperti juga fakir miskin berhak dilindungi. Namun orang-orang bijak ini skeptis terhadap kegaiban. Bagi mereka, nabi cuma mitos orang-orang purba dan Tuhan sudah mati. Mereka sibuk menyesatkan diri dalam kegelisahan, bangga dibilang gila, mencari-cari kebenaran tapi enggan meraba jalan yang sudah dilalui oleh pendahulu mereka. Tidak jarang berselisih paham dengan orang-orang relijius yang mereka anggap idiot dan orang-orang kapitalis yang mereka anggap rakus.

Tiap-tiap manusia akan dipertimbangkan apakah layak masuk surga atau tidak. Tentu surga versi Tuhan, bukan versi manusia. Kalau mau, mereka bisa jadi Tuhan dan menciptakan surga versi terbaru bagi diri mereka sendiri. Saya tidak akan melarangnya. Tapi saya tantang mereka untuk bunuh diri jika menganggap kebenaran telah musnah—bahkan memproklamirkan bahwa dunia hanya setumpuk kesalahan.

 

Sudut Pandang Penyamaran (Disguising)

Sudut pandang ini tidak ada dalam teori psikologi mana pun. Namun saya rasa di antara kecenderungan judging dan prospecting seringkali ada irisan.

Salah tapi usahakan terlihat benar. Seperti itulah ciri-ciri mereka yang hidup menyamar. Memiliki prinsip “balance” karena kepentingan mencari aman. Bertahan cukup lama di industri, panggung politik, maupun perdagangan bebas, dan ditolong oleh tangan-tangan tidak terlihat untuk meraih benda. Dicintai banyak sekali orang sebagai pahlawan sehingga takut mengecewakan dan takut dilupakan.

Para penyamar memiliki indeks kebahagiaan yang signifikan meskipun itu di atas penderitaan orang lain. Amat mendambakan popularitas, jadi figur dengan mendukung semua orang. Sebagian orang intelektual menganggap mereka punya standar ganda. Sebagian orang suci menganggap mereka munafik. Tahu ke mana seharusnya mereka melangkah tapi enggan memperjuangkan sesuatu yang kosong, yang tidak ada dalam daftar riwayat hidup mereka seperti halnya jumlah ‘pahala’ maupun kata ‘terima kasih’ dari saudara mereka. Sebetulnya mereka tidak berpegangan pada apa pun, tidak mau mendengar siapa pun, kecuali yang menawarkan kemakmuran.

Tidak ada yang salah jika kita berpikir sebagaimana Smith, bahwa kita harus menyumbang proporsi pendapatan kita pada negara. Yang keliru adalah menyalahgunakannya hanya sebagai upaya porak poranda. Kita memang membutuhkan sosok pemersatu, bukan pemecah belah. Tapi kita tidak membutuhkan penipu atau pengkhianat yang hanya puas diberi tepuk tangan dan dielu-elukan untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya bagi dirinya. Pemersatu adalah orang yang mengorbankan diri untuk keyakinan semerdeka-merdekanya, persaudaraan seerat-eratnya, fasilitas selapang-lapangnya, demi jalan keselamatan.

 

Indonesia, Surga dan Para Penghuninya yang Memantaskan Diri

Bicara surga dunia, negeri atlantis kitalah yang paling pantas. Namun, kita tidak memiliki aura penghuni surga yang cinta damai.

Di masa kepemimpinannya, Soekarno memiliki label Nasakom demi mempersatukan semua golongan yang nyatanya tidak pernah bersatu. Di buku-buku sejarah kita, telah disebutkan adanya provokasi Ganyang Tujuh Setan Desa terhadap kaum agamawan tahun 1960. Ada pula pembantaian Gerakan 30 September terhadap kaum komunis tahun 1965 yang menjadi trauma tak berkesudahan. Belakangan muncul huru-hara isu pemberedelan buku kiri disusul kasus penistaan agama. Antara yang alim dan dicintai ulama, yang normatif dan dicintai aparat, yang pemberontak dan dicintai media, tidak pernah mereka akur. Hanya karena kitab petunjuk, para bajingan menyerang satu sama lain.

Kamu adalah apa yang kamu baca, kata Emerson. Lalu bagaimana dengan mereka yang malas membaca dan buta aksara? Ironisnya, negeri kita mengalami Tragedi Nol Buku seperti yang dikatakan Taufik Ismail dalam audiensi dengan Komisi X DPR RI. Tapi ini lain persoalan. Saran saya, lihatlah orang buta, siapa yang menuntun orang itu, siapa tongkatnya. Logikanya, mustahil orang buta berjalan-jalan tanpa bantuan. Mereka yang buta pun berhak menggambarkan surga versi mereka selama mereka bukan binatang (masih berpikir).

Maka, untuk apa lagi kita menutup mata dari kitab petunjuk yang mungkin bertentangan jika itu bisa membantu kita memahami mana jurang dan mana jalan lurus?

Pada akhirnya, memang sebuah kata tidak akan bermakna jika terdiri dari huruf yang sama, sebuah lukisan tidak akan berharga jika terdiri dari warna yang sama. Adalah benar bahwa berbeda itu indah. Di negeri yang menghadirkan begitu banyak versi, kita tidak boleh malas memaknai. Kita mesti menerima cacat orang lain untuk kita perbaiki dan memperoleh kelebihan orang lain untuk memperbaiki cacat kita. Karena ketika kita menjadi sempurna sendirian, di surga, kita akan kesepian.

 

 

Penulis adalah Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung. Aktif di Lingkar Sastra.

  • view 351