#KurinduITD - Emansipasi Waria

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Renungan
dipublikasikan 20 November 2016
#KurinduITD - Emansipasi Waria

Setangguh-tangguhnya Anda, saya kira Anda tidak akan terima jika diteriaki, “Banci lo!” Kata banci yang diasosiasikan dengan tidak perempuan juga tidak laki-laki berarti lemah fisik maupun mental atau lebih parah dari penyandang cacat dan penderita gangguan jiwa. Padahal banci hanyalah individu yang memiliki abnormalitas seksual. Kita juga mengenal sifat itu sebagai waria (wanita pria) atau wadam (hawa adam) atau bencong. Sementara di era informasi ini, kita lebih akrab dengan istilah transgender.

Barangkali banyak yang tidak tahu bahwa tanggal 20 November adalah Hari Transgender Sedunia atau Transgender Day of Remembrance (TDOR), diperingati sejak tewasnya seorang transgender Amerika bernama Rita Hester tahun 1998 yang terjadi akibat kekerasan. Dan pada tahun 2013 silam, ada pula transgender asal Indonesia, Mayang Prasetyo, yang dimutilasi dan dimasak tubuhnya oleh suaminya sendiri sesaat sebelum pelakunya itu bunuh diri. Februari lalu, telah berdiri Pondok Pesantren Waria Al-Fattah di Yogyakarta yang digeruduk massa atas nama Front Jihad Islam (FJI).

Ingatan kita kemudian diseret pada perbudakan kulit hitam abad 19, pertikaian bersenjata karena konflik keyakinan abad pertengahan, dan emansipasi wanita abad 20 yang semula amat sangat ditentang. Pelopor Indonesia Tanpa Diskriminasi, Denny JA, beropini soal proyeksinya terhadap Indonesia pada 50 tahun mendatang bahwa, “Sejarah menunjukkan yang akhirnya memenangkan pertarungan budaya adalah gerakan yang memuliakan manusia, yang membuat manusia itu dinilai berdasarkan prilakunya, bukan identitas sosialnya.”

Lebih lanjut, kita ketahui bahwa identitas sosial itu telah mengkotak-kotakkan kita, manusia, ke dalam cangkir plastik yang berbeda-beda seperti ras, agama, etnis, dan belakangan ini merembet pada bias gender.

 

Gender Ketiga sebagai Entitas Tersisihkan

Pada tahun 2010, Kementerian Kesehatan sempat mencatat penderita HIV/AIDS yang berasal dari kalangan waria adalah sebanyak 30.348 jiwa. Di tahun yang sama, Yulianus Rettoblaut (Ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia) mengklaim populasi waria mencapai 3,9 juta jiwa atau 1,6% dari penduduk Indonesia. Sedangkan pada sebuah seminar yang diadakan Januari 2013 di Mahkamah Konstitusi, Widodo Budidarmo (Koordinator Arus Pelangi) menyebut jumlah waria adalah sekitar 7 juta jiwa. Fantastis. Lalu bagaimana nasib para waria tersebut?

Waria menjadi sekelompok warga negara yang jarang terjangkau pelayanan publik. Padahal dalam Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 5 ayat 3 telah disebutkan, “Setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya.” Di Komnas HAM, waria kemudian menempati subkomisi Perlindungan Kelompok Khusus.

Kontradiksi dengan hal tersebut, Komisi Penyiaran Indonesia justru menerbitkan surat edaran larangan tayangan televisi yang menampilkan “pria kewanita-wanitaan”. Surat edaran KPI jelas dimaksudkan untuk melindungi anak-anak agar tidak meniru apa yang mereka lihat di televisi. Tapi di saat yang sama justru mendorong orang untuk menyebarkan virus kebencian pada kaum minoritas waria. Mereka yang mengekspresikan diri sebagai waria kemudian putus sekolah dan tidak sedikit yang diusir keluarganya. Tempat-tempat waria untuk bersosial pun selalu dianggap sebagai tempat maksiat.

Beberapa komunitas non-pemerintah memang ada yang memperlakukan waria sebagaimana manusia pada umumnya. Mereka yang memperjuangkan hak-hak kaum waria kemudian mendirikan panti jompo, membuka lapangan pekerjaan dan pendidikan khusus bagi waria seperti tata rias dan pembuatan kue. Namun, terhitung hingga saat ini, prospek kerja waria seperti tidak punya pilihan lain kecuali turun ke jalan, menjadi pengamen sekaligus pekerja seks komersial. Bahkan salah seorang pengamen waria mengaku pernah dilempari botol berisi air kencing oleh pengendara mobil.

Publik pun dibuat penasaran dengan pertanyaan, “Kenapa mau jadi waria?” Social Learning Theory menjelaskan ada beberapa penyebab kecenderungan seorang laki-laki berperilaku layaknya wanita yakni faktor biogenik yang berarti kelainan kromosom sehingga hormon seksualnya lebih dominan wanita. Ada juga faktor psikogenik yang berarti frustasi akibat permasalahan psikologis seperti iklim keluarga yang tidak harmonis. Dan, sosiogenik yaitu pengaruh stigma masyarakat serta lingkungan yang kurang kondusif seperti sulitnya mencari pekerjaan bagi laki-laki di kota-kota besar.

Prioritas utama kita memang bukan terletak pada membaca alasan akan tetapi membaca solusi. Maka, konsep pembangunan manusia, saya kira layak direnungkan.

 

Konsep Pembangunan Manusia Tak Terkecuali

Membangun Monumen Nasional di Jakarta agaknya tidak lebih sulit daripada membangun menara gagasan dalam kepala manusia. Ajaran-ajaran yang sampai sekarang bertahan pun tidak lain adalah tentang pembangunan manusia. Begitulah soft power. Sayangnya, prinsip sama ratanya seluruh manusia seumpama gigi seri, tidak lagi tersentuh oleh para pengikut ajaran itu. Di negeri yang serba konservatif, konflik kesetaraan gender tiada habisnya mengecualikan waria dari konsep pembangunan yang amat bombastis ini.

Pertama, untuk menjauhkan Anda terlebih dulu dari prasangka dan stereotip dan dogma, saya akan menarik “bentuk luar” Anda terhadap “bentuk dalam” sebagai seni penguasaan diri. Goethe, seorang sutradara sekaligus penyair, berkenaan dengan filosofi Plato[1], pernah mengungkapkan bahwa keutuhan profesi aktor profesional menuntut penyangkalan diri secara terus menerus. Penguasaan diri seperti itu tentu bukan hanya bagi aktor di panggung, tetapi juga bagi setiap manusia yang ingin mengembangkan karakter.

Jika Anda terpaksa berada pada posisi bukan wanita, bukan pula pria, apa yang Anda lakukan? Jenis kelamin Anda tidak diakui bahkan dalam Kartu Tanda Penduduk. Anda juga kebingungan membaca sistem tanda “pria” dan “wanita” di pintu toilet umum. Semua orang menganggap Anda bukan manusia dan bukan setan. Anda hidup teralienasi di planet sendiri seakan-akan apa yang menimpa Anda adalah kutukan Tuhan. Lalu Anda akan mengadopsi orang-orang yang sama dengan Anda sebagai saudara. Baiklah, di tahap ini, Anda sudah memiliki bekal empati terhadap kelompok waria.

Langkah berikutnya adalah memulai dengan dialog. Sebuah capaian dialog yang bagus adalah dengan membiarkan diri terbentur pada pertentangan yang akan mendewasakan kita melalui komunikasi dua arah. Jika kita terobsesi untuk tampil sebagai the one and only, kita tidak akan pernah mendengar dan tidak akan pernah memperbaiki diri. Betapa pun hebatnya perkataan kita, jika kita tidak mendengar, tentu hanya berupa monolog.

Kemudian, memahami standar baru prestasi. Semangat “memangsa dan dimangsa” adalah semangat zaman purba. Ini sudah bukan zamannya kompetisi, melainkan kolaborasi di mana setiap orang saling bergantung, bukan meremehkan. Dalam Sutra Bunga Teratai, ada seorang bodhisatva yang digelari Yang Tidak Pernah Meremehkan. Setiap orang, menurutnya, memiliki God Spot atau sifat Budha. Tidak seorang pun dapat diremehkan. Dan ketika mereka meremehkan orang lain, sesungguhnya mereka itu sedang meremehkan Tuhan.

Sebagaimana wanita, waria pun pasti membutuhkan emansipasi untuk tidak dipandang sebelah mata. Kurang dari 50 tahun lagi, bukan tidak mungkin, akan ada banyak waria yang sarjana, akan ada juga yang sukses menjadi pengusaha tanpa menjajakan tubuh. Meminjam kata-kata yang dipakai Denny JA, kita tinggal menerapkan culture agree to disagree[2], tidak melihat botol tanpa isi atau label tanpa substansi. Disitulah pentingnya toleransi. Kita berhak tidak setuju dengan suatu paham tapi kita boleh saja menerimanya sebagai konsekuensi dunia modern. Saya mempermudah urusan ini menjadi bencilah dosanya, tetapi jangan sampai manusianya.

Sebab kemerdekaan sudah diproklamirkan dalam pikiran setiap manusia Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika pun harus dibangun di sana.

--- 

[1] Daisaku Ikeda (2001). For The Shake of Peace. Japan: Soka Gakkai.

[2] Denny JA’s World. Culture Agree to Disagree (Ciputat School) diakses pada 10 November 2016.

 

Penulis adalah mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung.

  • view 300