Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 9 Oktober 2016   00:38 WIB
Ahok dan Al-Maidah, Penghinaan atau Pertanyaan Keimanan?

Di negeri yang bahkan kulit bergesekan saja bisa jadi api, kita tidak sanggup mengelak bahwa di mana ada perbedaan di situ akan ada perpecahan, bahwa di mana ada perbedaan di situ adalah tempat berantemnya Batman dan Superman.

Kenapa Batman dan Superman berantem? Saya kira karena mereka punya dua misi yang berbeda. Dan dua-duanya sering serang. Yang satu pake otak. Yang satu pake otot. Padahal bisa saja mereka kompromi buat main uler tangga bareng.

Seandainya semboyan berbeda-beda tapi tetap satu jua masih kita pakai, perpecahan tidak akan pernah terjadi. Begitukah? Atau Pancasila hanya disakralkan sebagai simbol persatuan padahal sebenarnya kita tidak pernah bisa pancasilais.

Ahok sering banget pakai senjata “Bhineka Tunggal Ika” buat mengukuhkan dirinya bahwa warga minoritas juga berhak jadi pemimpin. Bahkan dia menyertakan “habluminannas dan habluminalloh” di saat kampanye yang kedengerannya kayak keselek kerak telor.

Ahok mungkin dendam dibilang kafir Cina melulu oleh muslim fanatik negeri ini. Kenapa harus kafir padahal ada kata nonmuslim? Bahasa Yunaninya ethnikos. Bahasa Ibraninya, gowy. Dan dalam bahasa inggris, infidel, a person who does not believe in a religion that someone regards as the true religion. Sesimpel itu.

Sampai kemudian Ahok melempar ledekan khasnya, “Tidak apa-apa Bapak-Bapak tidak memilih saya, dibodohi pake surat Al-Maidah, dibodohi masuk neraka.”

Ledekan ini sebenarnya ditujukan buat siapa? Bagaimana kita sebagai mayoritas muslim di Indonesia menanggapinya?

Setidaknya muncul tiga golongan yang terpecah-pecah berkat pernyataan Ahok yang somplak tersebut. Berikut ini akan saya kupas setajam lidah Anda.

 

1.   Yang Bodo Amat

Dalam video viral Ahok dan Surat Al-Maidah, bapak-bapak di sekelilingnya cuma cengengesan. Saya yakin mereka-mereka mah menganut prinsip bodo amat. Ahok mau jadi pemimpin kek, mau enggak kek, kan yang penting mereka bisa melipatgandakan uang yang Ahok janjikan di forum tersebut dengan bisnis-bisnis menggiurkan dan mereka bisa pakai fasilitas negara dengan murah.

Telah ada firman yang menegur kalbu mereka, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi awliya kalian.” (Al-Maidah: 51)

“Awliya itu pemimpin atau bukan ya, Tuhanku? Kenapa Yahudi dan Nasrani bukannya Yahudi atau Nasrani? Ah bodo amat deh. Kalau bahasa quraninya, bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Emang agama itu apa sih? Masak manusia dikasih akal dan mulut tidak dipakai buat mikir dan bertanya pada yang hak, malah bilang bodo amat? Sia-sia dong elu hidup sebagai manusia. Udah gitu, pake ayat Quran buat ngeles lagi. Boa edan.

Ya Akhi, makhluk Tuhan yang baik, kita berhak bilang bagimu agamamu, bagiku agamaku kalau sudah berdakwah. Apa itu berdakwah? Dakwah itu bukan cuma jualan madu, bukan cuma menyampaikan terus minggat. Dakwah itu mengajak. Kalau orang sudah tidak mau, mangga bilang sesuka hati, “Bagimu kekasihmu, bagiku kekasihku.”

Tuhan itu Maha Puitis. Dia memakai kata dan bukan atau. Dan adalah kata hubung yang paling dekat. Kaum Yahudi itu dipercaya kaum Nasrani sebagai pembunuh Yesus, jadi kan enggak mungkin mereka bersekutu dalam sebuah hubungan romantis kecuali kalau di situ udah ada satu kepentingan yang betul-betul penting sekaligus berbahaya, tentu di luar agama. Nah, kita tidak disarankan menjadikan Yahudi dan Nasrani itu awliya di saat mereka adalah sekutu (sebagian dari mereka menjai wali bagi sebagian yang lain). Sudah mikir sekarang?

Golongan bodo amat biasanya tidak suka ditanya, mereka ngadu sama saya dengan muka ketekuk, “Masak mudah banget orang-orang ngajuin pertanyaan sama gue, mending milih pemimpin kafir tapi adil atau pemimpin muslim tapi tidak adil? Kan pusing pala berbi!”

Saya nyoba iseng-iseng bijak siapa tahu berhadiah. Kata saya, “Pemimpin memang adalah cerminan rakyatnya. Kalau rata-rata rakyat mengatai pemimpinnya kafir, berarti mereka sendiri kafir. Kalau rata-rata rakyat mengatai pemimpinnya tidak adil, berarti mereka sendiri tidak adil.”

“Nah! Berarti jadi rakyat yang bodo amat pilihan bagus dong?”

“Kalau rata-rata rakyat bodo amat sama pemimpinnya, berarti pemimpinnya juga bodo amat sama rakyatnya.”

Dia mingkem.

 

2.   Yang Marah-Marah

Ahok ke luar pintu dengan setelannya yang prima, tiba-tiba seorang advokat mencak-mencak seperti orang gila dan ditahan petugas keamanan. Dia mengumpat, “Anjing! Gila apa ngolok-ngolok surat Al-Maidah!”

Sudahkah advokat yang menganjingkan Ahok tersebut memaknai surat Al-Maidah? Mungkin yang dia pahami hanyalah arti dan definisi. Dalam banyak surat Al-Quran terutama surat Al-Maidah seringkali disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman ...”

Al-Qur’an diturunkan 22 tahun 2 bulan 22 hari. Umat muslim kebanyakan terlalu bernafsu buat bikin kaffah seisi dunia beserta seluruh isinya tanpa memaknai satu persatu ayat quran yang turun berangsur-angsur itu. Semua butuh waktu, ya Akhi. Hijrah itu berproses, bukan tiba-tiba.

Surat Madaniyah (surat yang diturunkan di kota Madani yang semula bernama Yatsrib) biasanya ditandai dengan kalimat awal, yaa ayyuhalladziina aamanuu. Beda dengan surat Makiyah, yaa ayyuhannas (hai manusia).

Apakah Tuhan menyeru kita? Apakah kita memang sudah beriman? Atau, apakah kita masih bertitel manusia dan belum beriman sehingga bukan kita yang diseru? Semua orang punya jawaban yang berbeda-beda. Makanya ada yang milih Ahok ada yang enggak. Kalau sudah pemimpin nonmuslim yang kepilih, wah berarti mayoritas kita masih berupa manusia. Enggak apa-apa.

Saya teringat sama Mas-Mas Jaket Kuning yang mengacungkan tinju di depan sebuah universitas sambil teriak kenceng sampe urat malunya keputus, “Tolak Pemimpin Kafir!” Saya khawatir kita menjadi seperti mas-mas tersebut sampai membakar gedung-gedung, bahkan sampai membakar surga.

Ikhwan, kata kafir kalau diucapkan seperti itu terdengar lebih hina daripada makian kepada seorang pacarnya mantan yang selingkuh. Lalu apa sih kata kafir? Mungkin tidak ada waktu bagi antum untuk berpikir karena terlalu sibuk marah-marah.

Kafir atau kufur artinya menolak, mengingkari, melepaskan diri, menyembunyikan, mengubur sesuatu. Apa yang sudah didapatkan “orang-orang kufur” dari kita? Apakah kita pernah memberi sesuatu? Orang kafir memang hanyalah orang yang menolak ketika diajak. Sekarang, kita mengatai mereka kafir, apakah pernah kita mengajak mereka pada jalan keridhoan?

Jangan-jangan kitalah kafir itu, wahai kaum pemarah yang berlindung di balik baju zirahnya Jonru. Kitalah yang ingkar. Kapan kita memutuskan bahwa Allah satu-satunya Tuhan dan Muhammad utusan Tuhan?

Kalau sudah, kenapa kita tidak mencontoh Muhammad dan malah menganjing-anjingkan orang lain, malah mengkafir-kafirkan orang lain?

Kalau sudah, kenapa kita tidak taat kepada Allah dengan mengajak orang lain dengan cara yang disukai Allah?

 

3.   Yang Sok Intelek

Muncul banyak banget postingan di media sosial dari kaum intelek yang doyan nyari-nyari alasan buat ngebela Ahok sampai mendatangkan arwah Cheng Ho dan biasanya dikira tidak beragama, “Ah elu mah bisanya nyangkal doang sama ayat-ayat Allah.”

Saya cukup tersenyum dengan orang yang mengatakan, “Beda arti dong antara kalimat ‘jangan mau dibodohi pake Al-Maidah’ dan ‘jangan mau dibodohi oleh Al-Maidah’, kok goblok dipelihara?"

Memang sih yang dibilang Ahok itu ditujukan buat kaum yang memelihara kegoblokan. Bahkan Al-Quran sendiri punya julukan buat kaum tersebut: yang menjual ayat Allah dengan harga murah.

Memang sih kata menggunakan atau dengan atau pake itu hanyalah alat, sedangkan oleh merujuk pada pelaku.

Memang sih Ahok tidak mengatakan kita dibodohi ayat Allah. Ahok mengatakan kita dibodohi oleh orang yang pake ayat Allah. Jadi si penjual ayat ini bisanya cuma pake ayat buat ngebodohi orang lain.

Tapi, sampai berbusa-busa elu ngomong, percuma. Tidak semua warga Jakarta itu ahli bahasa.

Sekali lagi, tidak semua warga Jakarta itu ahli bahasa. Dan tidak semua warga negara Indonesia itu mau mikir seribet elu-elu pada.

Kalau toh kalian begitu peduli, kenapa malah menunggu asap ngebul dulu sampai kebakaran jenggot begini bukannya mematikan kompor sejak dulu? Kenapa enggak bikin semua orang pinter pelan-pelan malah bisanya ngehina orang yang elu-elu anggap bodoh?

Lagipula kan enggak pantes, siapa pun pemimpinnya, menyinggung-nyinggung keyakinan orang lain yang bahkan belum dia ketahui dengan nada provokatif dan penuh benci. Dan elu-elu berdiri tegak buat memantaskan perilaku seperti itu? Kan blunder.

Saya teringat sahabat saya pernah bilang, "Kalau di dunia ini kita masih berantem buat hal-hal yang sifatnya berbeda, tandanya kita tidak sedang satu misi, tidak universe."

Komponen alam semesta (universe) juga berbeda-beda tapi tetap berada pada lintasannya. Uni artinya satu dan verse itu perkataan. Perkataan yang bersatu artinya kesepakatan. Seperti aku padamu. Tsah!

Apakah kita termasuk bagian dari universe? Jangan-jangan kita sudah mengubah alam semesta menjadi multiverse.

Boa edan.

 

Kartini Fuji Astuti - 2016

Karya : Kartini F. Astuti