Jika Saya Jadi Diplomat Cantik Republik Indonesia di Sidang PBB

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Jika Saya Jadi Diplomat Cantik Republik Indonesia di Sidang PBB

Bapak Presiden,

Indonesia hendak menggunakan hak jawab kami terhadap pandangan seluruh masyarakat dunia pada waktu ini. Di era globalisasi—di mana cabe-cabean bisa mejeng di pasar global—memang tidak ada alasan untuk mengatakan bagimu urusanmu, bagiku urusanku.

Indonesia tidak terkejut mendengar bahwa para pemimpin yang hadir sekarang bukannya membahas goal berkesinambungan dalam rangka menyongsong masa depan sementara pekerjaan hari ini tidak terselesaikan dan trauma masa lalu tidak pernah berakhir. Dan apa pula yang mau kami banggakan jika kami berani menjatuhkan negara-negara tetangga yang mungil seperti Vanuatu, Solomon, dan Tonga? Kita hidup berdampingan, maka kita harus mengangkat satu sama lain, bukan saling sikut. Kita hidup beriringan, maka kita harus bersedia mendengarkan, bukan hanya mau didengar.

Yang Mulia, transformasi dari tindakan kolektif kita dan tantangan global lainnya seperti perubahan cuaca hati, melebarnya lubang ozon dan lubang hidung di saat mantan lewat, dan teori konspirasi Yahudi, biarlah Menteri Pengangguran masing-masing yang mengurus.

Para pemimpin di sini memilih untuk berkasihsayang dengan mencoba menyelesaikan apa yang sebenarnya sulit kami selesaikan tanpa kami harus curhat terlebih dahulu. Jangan sampai, ketika mereka peduli dengan kami, malah kami kira intervensi. Ketika mereka perhatian kepada kami, malah kami kira kepo. Cemen banget kan kalau kami seperti itu?

Kami menerima dengan lapang dada dan lapang jidat tentang pernyataan mereka yang menyebutkan bahwa kami satu-satunya negara besar di dunia yang punya banyak kekayaan tapi tidak pernah menguasai kekayaan tersebut, yang punya banyak kepala tapi tidak ada isinya. Kami bangga toh dibilang bodoh biar bisa menghibur sesama. Para pemimpin itu lalu berdatangan kemari untuk memberikan tepuk tangan. Maklum, Tuan Presiden, warga negara di sini hanya bisa bertepuk sebelah tangan, bahkan pada badut sekali pun.

Tepuk tangan itu jelas mencerminkan sikap ‘we are what we share’ seperti halnya kami yang peduli dengan Palestina karena merasa bersaudara dengan mengirimkan satu truk mi instan untuk mencegah mereka dari bahaya kelaparan di saat peperangan.

Pernyataan bernuansa curhat mereka itu dirancang untuk mendukung kami yang konsisten memberikan hiburan segar tanpa dibayar. Rahasianya, kami harus melakukan serangan viral terhadap muslimah berjilbab yang masih sedekah aurat, lelaki tulang lunak yang laris di televisi, ustad kondang yang menjual madu, motivator yang buang anak, masyarakat sipil dan aparat keamanan yang nilang di jalanan, dan tentu saja pemimpin kafir.

Pernyataan dan sikap negara-negara itu benar-benar membuat kami merasa terhormat dan dianggap. Berkat prinsip tepuk tangan sebelum mengerti yang jadi semboyan mereka, kami ingin terus menertawakan kebodohan. Kami terlalu sering berbaring dan jarang berdiri apalagi berjalan-jalan. Karena itulah kami ingin piknik sebentar bersama mereka ke tempat-tempat pinggiran di mana telah berlaku kebijakan yang jenaka. Untuk menyamakan persepsi semua golongan tanpa pandang bulu dan tinggi badan, pemimpin kami meluncurkan undang-undang mengenai hak alaskaki kepada seluruh rakyat Indonesia. Para pemimpin dari beberapa negara yang berdatangan harus siap-siap sakit perut menghadapi kekocakan pemimpin kami. Itu sudah mencerminkan kuatnya tali persaudaraan masyarakat dunia.

Saya ulangi, itu sudah mencerminkan kuatnya tali persaudaraan masyarakat dunia.

Hal demikian akan membuat kita kembali mengukuhkan arti penting Persaudaraan Bangsa-Bangsa, termasuk pada sidang jamaah rohimakumullah yang berbahagia ini.

Negara-negara itu sudah kadung curhat colongan, di sela-sela piknik kita, untuk mengajukan agenda domestik seperti membuka cabang pelatihan Tepuk Pramuka di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Juga membuka toko sepatu dan warung kopi untuk mengalihkan mengalihkan perhatian sebuah negara dari percekcokan jaksa dalam sidang kasus Sianida.

Negara-negara itu juga menggunakan informasi yang lengkap sebagai landasan mereka seperti saksi ahli dan uji laboratorium. Sikap negara-negara tersebut sungguh layak mendapat acungan jempol dan subscribe dari seluruh penduduk bumi pertiwi.

Tuan Presiden,

Komitmen Indonesia terhadap Hak Alaskaki Manusia memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Indonesia adalah penggagas ‘sepatu tanpa hak’ alias selop. Oleh karena itu derajat setiap warga negara adalah sama rata.

Indonesia sudah menjadi pemakai selop sejak zaman kerajaan sampai musim kawinan. Itu menjadi kebiasaan yang kami sebut adat istiadat atau budaya. Selama tujuh periode, pemimpin kami bahkan sering menerima undangan-undangan pesta pernikahan dari warga negara mereka yang merayakan hari bahagia. Selain memakai batik celup di badannya, pemimpin kami juga memakai selop sebagai alas kaki.

Indonesia adalah penggagas Komisi Perlindungan Alaskaki Indonesia supaya setiap warga negara aman dari tindak pidana kecurian sandal sewaktu solat jumat di masjid. Anak terlantar juga diberikan alas kaki bermutu dan permanen supaya mereka independen ketika mengamen, tidak meminjam alas kaki temannya.

Indonesia sudah menceklis sembilan puluh sembilan dari seratus instrumen alat musik tradisional untuk kami mainkan setahun sekali setiap tanggal 17 Agustus dan beberapa warga negara yang kami sebut budayawan menggunakannya secara sah di lampu merah. Mereka berdiri untuk mengingatkan kami terhadap warisan leluhur serta tidak lupa memakai alas kaki supaya tidak kepanasan.

Indonesia ada di antara sedikit sekali negara yang memiliki rencana aksi gotong royong dari sejak nenek moyang kita seorang pelaut hingga nenek moyang kita menggandakan uang. Aksi gotong royong itu dibuktikan dengan beramai-ramainya masyarakat turun ke jalan di atas alas kaki masing-masing untuk mendukung pemimpin mereka mengumpulkan satu juta kartu identitas.

Indonesia memiliki Komisi Nasional Hak Alaskaki Manusia yang aktif sejak diberlakukannya high-hill di seluruh dunia. Tapi banyak di antara kami yang masih tidak tahu caranya berlari menyusul gerobak pedagang bakso dengan memakai hak sepatu.

Indonesia juga merupakan negara demokrasi yang dewasa di dalam tugasnya menjual diri untuk membeli alas kaki dan legging. Dengan demokrasi yang begitu dinamis bersama komitmen yang sangat tinggi terhadap promosi hak sepatu di semua level dengan diskon 90%, hampir-hampir mustahil masyarakat Indonesia nyeker. Kami sering memberikan aspirasi terhadap Tuhan alias mengeluh kalau jalanan becek. Itu tandanya kami lebih sering berdoa daripada bekerja.

Bapak Presiden,

Kami tegaskan kembali ada mekanisme domestik di tingkat pedagang kaki lima sampai tingkat anggota dewan terkait perlengkapan busana manusia normal. Indonesia akan terus memberi fokus pada provinsi-provinsi tertentu yang masyarakatnya masih nyeker. Kami juga menyediakan beberapa pak sarung tangan untuk mereka yang alergi terhadap sengatan matahari. Radiasi sinar ultraviolet itu kan berbahaya. Kulit mereka bisa gosong dan rambut mereka bisa keriting. Warga negara Indonesia tidak ingin dianggap sebagai kera yang ber-evolusi. Itu pengaruh iklan produk kecantikan saya rasa karena tidak pernah ada orang kulit hitam di Indonesia yang jadi duta iklan sabun whitening dan anti aging. Ups.

Sebagai kesimpulan, Tuan Presiden, ada pepatah di kawasan Asia Pasifik yang mengatakan, "Ketika seseorang menggunakan tangan kirinya buat cebok, tangan yang lain otomatis memegang gayung. Terima kasih."

---
Kartini Fuji Astuti - 2016

  • view 284