Kepada Para Sahabat

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 September 2016
Kepada Para Sahabat

 

Bandung, 2016 


Kepada para sahabat yang membuat saya merasa kehilangan,

Maafkan saya karena telah mengabaikan kalian selama ini. Maafkan hati saya yang selalu mati total sehingga saya tidak lebih dari sebongkah robot kalengan. Padahal  kalianlah yang telah menghidupkan robot tersebut—diri saya ini.

Apakah sekarang bahasa saya masih terlalu melangit?

Dulu, saat bersama kalian, saya menikmati masa-masa di saat saya begitu dekat dengan kalian, tertawa bersama kalian, menangis bersama kalian. Bahkan saya sempat mencatat satu persatu nama kalian dalam buku memori saya (yang waktu itu disebut binder). Saya senang menghafalkan tiap inci peta diri kalian dari kebiasaan aneh sampai letak gingsul di gigi. Di hari perpisahan sekolah, setiap orang yang bersalaman dengan saya mengatakan, “Kamu pasti jadi orang besar!”

Saya selalu terharu mendengar doa yang terburu-buru dipanjatkan itu. Capaian menjadi orang besar tidak akan pernah selesai bagi siapa pun. Tidak akan pernah ada kepuasaan bahkan bagi mereka yang mengaku sudah besar.

Menjadi orang besar, kata orang besar, merepotkan. Antrean panjang orang-orang kecil di belakang podium itu memohon-mohon apresiasi orang besar. Tingkah mereka seperti kutu rambut yang membuat gatal kulit kepala. Orang besar juga akan melihat siapa pun sebagai saingan sehingga dia menjadi tokoh utama dan yang lain figuran. 

Saat saya merasa sudah semakin dekat dengan kebesaran, saya malah menjadi alien di dunia. Bertahun-tahun saya memang mengasingkan diri dari keramaian tapi saya tidak menolak ketika ada celah untuk mencari posisi terbaik dan diakui. Saya bangga dikira pemikir, pelopor, penggebrak, pembangkit listrik tenaga air, atau sebutan-sebutan semacamnya.

Sahabat, orang besar dengan jas harum tidak lebih terhormat daripada orang kecil dengan istana lipat di jalanan. Karena mereka tidak punya apa pun untuk dibagikan. Saya mulai berpikir bahwa orang besar sesungguhnya bukan orang dengan nama dan gelar yang besar, namun orang yang mampu membesarkan.

Maka, izinkan saya membesarkan kalian. Menulis untuk mewakili perasaan kalian sekaligus perasaan saya. Jadikan saya robot kalian lagi, Sahabat, yang kalian putar mesinnya untuk menemani kalian bermain. Saya malas menjadi robot bagi diri saya sendiri yang bekerja tanpa perasaan hanya untuk melengkapi seluruh daftar keinginan menjadi The Legend.

Sebenarnya saya sedang meruntuhkan kerajaan Fir’aun dalam diri saya.

Beberapa orang mungkin tidak suka dengan ungkapan seperti itu dan lebih memahami ketika saya katakan bahwa saya sedang berusaha menjadi sahabat yang baik. Tentu bagi kalian. Menghadapi diri saya yang absurd, kalian mungkin kebingungan seperti halnya orang-orang yang lebih mampu mencerna kata Semesta daripada Tuhan. Tapi itu bukan salah kalian. Itu salah saya yang belum pandai menyederhanakan ekspresi meski tujuannya sama saja.

Kalau boleh jujur, saya jarang menyebutkan nama kalian dalam doa-doa dan ide-ide. Tapi belakangan saya merasa kehilangan banyak sendi untuk bergerak. Saya kangen mendengar obrolan kalian. Saat salah seorang dari kalian begitu histeris membaca sapaan saya di personal message tapi kenyataannya susah buat ketemu, saya bertanya-tanya, apakah selama ini saya tampak agung seperti Tuhan—dikagumi sekaligus disegani?

Barangkali adakalanya saya akan bercerita tentang jatuh cinta, pernikahan, hutang, migrain, dan sembelit semata-mata untuk turun ke bumi. Semata-mata untuk menanyakan kabar kalian dan menjadi manusia kembali.

Kepada para sahabat yang membuat saya merasa terhormat, jangan sungkan kirim alamat. Siapa tahu saya bisa berkunjung kapan-kapan dan mengirimkan beberapa ingatan saya tentang kalian. Tidak. Tidak. Ini bukan untuk mengharapkan kalian bisa membangun kesetiaan. Tapi bagaimana saya bisa mencuri lagi inspirasi dari kalian, menghidupkan lagi robot usang ini.

Mengenai kesetiaan, Sahabat, orang-orang zaman sekarang sering tanding jumlah followers. Sibuk menyamai artis-artis atau orang besar yang punya pengikut setia. Ada yang memanfaatkan popularitas dan kedudukan untuk tujuan mulia. Ada juga yang tidak. Kebanyakan terjebak di lingkaran itu. Merasa takut untuk jatuh. Sementara saya sering merasa mendapatkan ‘pelecehan sosial’ jika disebut ngartis oleh orang-orang yang sinis. Serba salah memang.

Padahal kita tidak akan terjebak ke dalam kekosongan seandainya kita mau membungkuk, merendahkan hati kita di hadapan orang-orang yang membuat kita tumbuh. Padi yang membungkuk isinya bergizi. Ilalang yang tegak kan tidak.

Ketika ada orang asing yang mensyen, “I’m one of your followers!” dengan santai saya balas, “It’s ok. But let me following you in real life, yeah?” Kebiasaan seperti itu membuat saya jadi lebih menghargai pertemanan, bukan benefit oriented. Dan akhirnya, ketika siapa pun mengatakan, “Kamu idolaku!” dengan gembira saya akan merangkulnya sambil berkata, “Kamu sahabatku!”

Muhammad bahkan menyebut orang-orang di sekitarnya sebagai Para Sahabat.

Maafkan saya yang takut kehilangan ini, Sahabat. Karena bagaimana pun saya hanyalah manusia. Bukan pencipta.

 

Salam kangen padamu selalu,
Kartini Fuji Astuti