Jangan Menulis, Please!

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 26 September 2016
Jangan Menulis, Please!

“Jangan menulis, please!” perintah mulut saya kepada tangan saya. Itu pula yang saya anjurkan bagi kebanyakan orang yang mau menekuni dunia menulis.

Pekerjaan menulis jadi terdengar bukan main-main atau menjadi semacam bahaya. Saya sudah merasakan marabahayanya jadi seorang penulis sejak saya bisa menggerakkan tangan untuk menulis. Saya pernah hampir drop-out dari sekolah gara-gara sebuah tulisan dengan tuduhan pencemaran nama baik terhadap seorang kepala sekolah. Tapi saya tidak kapokan. Saya lalu mendapat pencerahan. Berpikir sebelum menulis itu penting.

Saya juga pernah terkena azab moril karena berani-beraninya membela seorang penjahat. Hasilnya, saya mogok merenung dan kegiatan saya kemudian adalah meratap di sajadah. “Potong tanganku, Tuhan, potong tanganku!”

Seorang editor kelas wahid menganjurkan saya untuk berhati-hati menjadi penulis opini apalagi mengirimnya pada situs-situs tertentu yang dikenal sebagai serigala pemakan bangkai, dan sisanya vampir kultural sebab sering diserang lembaga survei.

Saya menghargai editor tersebut. Kekhawatirannya sangat beralasan. Kamu tidak perlu cari ribut, katanya. Barangkali editor saya takut saya jadi sesat pikir. Saya dapat pahami itu, paham sekali. Hati-hati dengan sastrawan sosialita, begitu lanjut beliau, mengingat saya pernah mejeng di antara tas mahal berkilauan bersama ibu-ibu pejabat yang mengaku penulis.

Sayangnya, saya bukan hamba Allah yang terganggu dengan anggapan sesat atau selintingan kata hati-hati. Saya ingin membuktikan mazhab—apa pun itu. Saya akan taat jika sudah mengetahui sebab akibat. Mungkin memang benar saya lebih rasional-realistis-fundamentalis sekarang. Saya menjaga pandangan dengan sebuah alasan. Jatuh cinta pun dengan alasan.

Ketika diintervensi, yang saya tangkap bukanlah teks, melainkan subteks—sebuah pesan bawah sadar. Seakan-akan sang editor berkata, “Jangan pikirkan gajah berwarna pink!” Saya kira itu rayuan paling romantis dan saya tentu akan merekam gajah berwarna pink seketika.

Kata imperealis, eh imperatif, semacam ‘jangan’ sudah sangat langka dan tidak lagi digunakan oleh mamah-mamah muda dalam mengurus buah hatinya yang unyu. Konon katanya, kata ‘jangan’ terbukti malah bikin anak-anak bandel dan keukeuh.

Ingat dengan pengekangan-pengekangan pemerintah zaman Orde Baru? Generasi dalam tekanan seperti itu membentuk era kritis bukan main di mana mahasiswa akhirnya jadi pembangkang, dan seniman sekelas Rendra malah mengibarkan kutang-kutang untuk mempersatukan para pelacur kota Jakarta.

Kalau pun kata ‘jangan’ adalah sesat, pertanyaannya, bagaimana jika saya menyesatkan seluruh umat manusia ke jalan yang benar?

Maka, jangan menulis, please!

Larangan ini, tentu, hanya berlaku untuk orang yang beriman dan berilmu. Iman dan ilmu itu satu paket karena iman tempatnya di hati dan ilmu tempatnya di otak. Kan tidak mungkin toh hati dan otak dijual terpisah.

Saya mengenal teman-teman yang kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di kampus yang berbeda. Kami biasa mengadakan pertemuan rahasia semacam Dead Poet Society. Mereka bilang, “Kamu enak ya bisa makan tahu atau susu kedelai di pabrik tempe. Sedangkan kami setiap hari makan tahu melulu. Bosan.”

Saya tersedak. Adakah kalimat yang lebih metaforis daripada adonan kacang kedelai?

“Kami mengolah banyak banget teori sastra dan kami harus memakannya sampai mau muntah. Lain sama kamu. Mengolah seni tapi masih bisa ngemil kata-kata.”

“Kalian bisa minggat buat belajar seni,” canda saya. “Kenapa mahasiswa jurusan sastra kebanyakan mandek saat menulis? Saya pikir itu hanya stereotip bagi mereka yang sibuk mengasah alat tapi malas mencari bahan.”

Sepertinya kalimat saya terlalu metaforis.

Saya memberikan kuliah singkat, “Teori kan cuma alat. Bahannya referensi dan inspirasi. Bisa dari seni, teknik, antropologi, bisnis, cuaca, atau dari karya sastra itu sendiri. Buku atau diskusi. Sementara kalian setiap hari dikuliahi dosen yang saya kagumi, saya harus mendatangi dosen kalian untuk tahu sebuah teori. Saya sering menteorikan praktek yang tidak jelas juntrungannya. Kalian bisa dengan gampang mendobrak teori. Aturan juga ada untuk dilanggar, kan?”

“Menulis mah menulis saja atuh,” celetuk yang lain.

“Jika menulis mah menulis saja, tanpa batasan, lalu apa yang mau didobrak? Jika menulis mah menulis saja, tanpa pertanggungjawaban, bisa jadi semua penulis adalah pembunuh. Ibarat mata pisau, tulisan kamu bisa dipakai untuk menakut-nakuti, bisa untuk menyakiti, tetapi bisa juga untuk mengupas kulit mangga. Itu tergantung otak dan tanganmu, mana yang lebih dulu bergerak. Jadi pikirkanlah.”

Dulu, saya mengkonsumsi tulisan saya sendiri. Tidak ada yang tahu perasaan saya kecuali buku diari, dan saya tidak pernah melakukan pertimbangan apa-apa sebelum menulis. Belakangan saya jadi agak takut untuk menulis ketika semua orang berlomba-lomba jadi penulis. Alasannya, saya jadi bagian dari orang-orang yang terkurung dalam kotak ajaib. Karena seperti kata Minerva, menulis itu sikap pengecut. Saya malas berbicara, maka saya menulis. Orang-orang sekarang juga lebih malas berbicara daripada update status.

Menulis jadi sebuah jalan alternatif untuk berekspresi. Sayangnya, tidak ada keabadian lagi di sana, namun lebih banyak kebahagiaan semu ketika tulisan kita jadi hits lalu dilupakan. Menjadikan nama kita sendiri sebagai sebuah gagasan? Mungkin bisa, lewat keyakinan, konsistensi dan tentu saja ketulusan. Dan bukan tidak mungkin ketika ada yang menyebut nama kita nanti, sepuluh atau lima puluh tahun kemudian, mereka bukan mengingat seorang penghancur tetapi pencetak sejarah. Berpikir sebelum menulis itu penting. Dan meluruskan niat adalah buah dari pikiran yang baik.

“Jangan menulis, please, bahaya!” Saya peringatkan sekali lagi, kali ini kepada diri saya. “Menulis bisa jadi ancaman, kecuali kalau kamu tidak sedang berurusan dengan pembaca.”

Mendengar bisikan itu, sekarang, saya jadi bersemangat menulis sekaligus bersemangat menilai tulisan saya sendiri, apakah layak dibaca atau tidak, tendensius atau tidak.

Dari beberapa media yang sudah saya stalking setiap malam minggu ditemani semilir angin, saya menyerap energi positif sambil menebak-nebak kira-kira hadiah apa yang akan saya bawakan untuk mereka: bunga, cokelat, atau susu kedelai? Apakah saya sudah cukup tebar pesona dengan mensyen adminnya di twitter?

Dengan keberanian penuh, saya menembaknya satu persatu. Kebanyakan media itu seperti hati tak berpenghuni. Ada juga yang menghargai perasaanmu tanpa harapan palsu. Cocok ya diterima, tidak ya ditolak. Bunyi penolakannya seperti ini. “Maaf, kamu terlalu baik bagiku.” Atau jika diterima, lebih misterius lagi, tahu-tahu diajak kencan, dapat honor pula.

Menghadapi media yang misterius, saya tidak mau mati, semata-mata demi ekspansi keterjangkauan para pembaca. Muhammad tidak akan pernah jadi gagasan yang sampai pada kita 1500 tahun kemudian kalau dia tidak pernah mengekspansikan namanya untuk menjangkau seluruh dunia. Marx pun begitu. Maka, menjaring pembaca setia itu penting seakan-akan kita sedang mencetak kader. Melalui merekalah, kita akan melanggengkan ide.

Yang saya heran itu kenapa di era informasi, sesama penulis atau katakanlah pembaca, minim sekali apresiasi, tetapi murah hati untuk membagi-bagikan tulisan provokatif yang mewakili perasaan kebenciannya pada sesuatu. Sekalinya muncul apresiasi, terkesan mencari kesalahan dengan serangan, kadang main keroyokan. Maaf, curhat. Tapi, lagi-lagi, saya tidak kapokan. Maka saya katakan, khususon buat diri saya yang hina, “Jangan menulis, please, kalau cuma mau dapat pujian. Itu sikap murahan.”

Seseorang berkomentar, “Aku pikir kamu bisa menyuruh atau meminta atau mengajak orang lain dengan cara atau kalimat lebih bijak ...”

Saya menahan nafas. Padahal saya sedang memberikan motivasi dengan kemasan kantong kresek: tidak kreatif sama sekali. Jadi, jangan dianggap serius.

“Aku menganggap tulisanmu ini serius. Pertama, aku tidak menganggap itu lucu. Kedua, tidak ada kata atau frasa macam hehe atau apa pun itu yang menandakan bahwa yang kamu tulis itu becanda belaka. Atau mungkin jika memang ini tidak serius, sungguh sebagai nasehat, mohon benahi selera humormu.”

Saya ketawa. Betul-betul ketawa. Padahal salah satu dewan penasihat saya itu tidak sedang melucu karena tidak ada kosakata hehe di belakangnya. Mungkin memang benar selera humor saya buruk dan saya tidak akan pernah jadi komedian.

Barangkali apresiasi yang demikian itu adalah contoh kebijaksanaan. Apresiasi yang ‘sopan tapi menyakitkan’ dalam rangka menanggapi sebuah propaganda yang ‘jahat tapi memorable’. Saya jadi merasa gagal di tahap branding sebelum meluncurkan produk. Tapi saya tidak kapokan. Kritik itu saya terima dengan baik untuk diolah jadi tulisan ini. Lagipula mereka yang bertanya soal tips menulis lebih banyak menyerang inbox daripada kritik para penasehat yang menginginkan saya menulis anggur dan rembulan di jidat penyair salon.

Saya kira orang bijak akan menganggap larangan sebagai sebuah tantangan.

Tapi mungkin cara saya agak keliru dalam menghadapi para pembaca yang merasa cukup dengan perspektif tertentu dan pengetahuan yang sepotong-sepotong. Ini barangkali bisa jadi pelajaran bagi teman-teman untuk tidak menulis sembarangan seperti saya.

Pendek kata, berpikir sebelum menulis itu penting.

Dan meluruskan niat adalah buah dari pikiran yang baik.

Mudah-mudahan saya menjadi orang baik dengan belajar jadi penulis sekaligus penulis yang terus belajar menjadi orang baik.

So, please, jangan anggap ini serius. Karena ini memang serius.

 

Bandung, 2016


  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    @Kartini F. Astuti, Sudah lama saya gak "menulis"......
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    Tapi cuma => "Mengetik"..........

  • u h
    u h
    1 tahun yang lalu.
    Benar, akupun gitu baru berani menulis opini secara jujur di buku 'sakti' (sebutan utk buku diari). Belum berani karena dirasa opiniku yang terlalu liar tak beraturan. Karena bagiku menulis adalah proses kedalam diri, memahami diri. Ga berani me'publish' jg dikarenakan penulisan yg blum layak baca tentunya .
    Dan karena baca tulisan ini jadi dilema antara semakin ingin ng'publish' ato bertahan menyimpannya.

    Vitamin bagiku dari tulisan ini adalah "Berpikir sebelum menulis itu penting. Dan meluruskan niat adalah buah dari pikiran yang baik."

    Juga jadi teringat pesan singkat dari seorang penulis yaitu Haruki Murakami. Beliau bilang, "Aku tidak menuliskan apa yang kupikirkan, tetapi hanya memikirkan banyak hal sambil menulis."

  • Harmawati 
    Harmawati 
    1 tahun yang lalu.
    sy benar2nganggap serius dan jadi mikir keras. kyknya serius bnget .. jdi takut nulis

    • Lihat 5 Respon

  • dee dee
    dee dee
    1 tahun yang lalu.
    Nice bgt....!

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    *_*