Di Sekitar Jarum Jam dan Jurus Seribu Bayangan

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 22 September 2016
Di Sekitar Jarum Jam dan Jurus Seribu Bayangan

“Mungkin ini sudah saatnya untuk mempelajari jurus 1000 bayangannya Naruto atau menguasai ilmu memperlambat waktu.”

Fahd Pahdepie

 

Tentu saja status Fahd yang setengah bercanda mewakili perasaan berjuta-juta umat manusia super sibuk abad 20 ini, yang bahkan menyapa orang saja tak mampu. Entah karena waktu terasa begitu cepat atau karena waktu memang begitu cepat adanya, kamu mungkin kaget menyadari hal ini. Rasanya baru kemarin kamu mengacak-acak kamarmu untuk mencari gunting kuku dan sekarang kamu harus mencarinya lagi? God, please!

Kuku tangan kamu terus memanjang seperti halnya usia yang tumbuh dan tumpukan pekerjaan yang belum selesai atau bahkan belum sempat kamu kerjakan. Sekarang, coba biarkan kuku kamu hidup tanpa perawatan sama sekali. Biarkan terus dan terus dan terus memanjang. Lihat, mungkin nanti panjangnya bisa dipakai untuk mencongkel rasi bintang atau mengukur keliling bumi.

Ingin rasanya kamu jadi sejenis mikroba yang membelah diri karena banyak orang membutuhkan bantuanmu di tempat-tempat berbeda, dan sialnya, di waktu yang sama.

Bahwa waktu adalah bagian dari ruang, kamu percaya itu. Tiktok jarum jam tidak bisa kamu ganggu gugat sekalipun baterai jam dinding kamu habis. Sesungguhnya, kata Einstein, waktu itu variabel dan selalu berubah. Waktu juga memiliki bentuk loh. Tapi kamu tidak perlu susah payah memikirkan bentuknya apalagi sampai merumuskan teori relativitas. Itu pekerjaan para ilmuwan. Mari singkirkan kerumitan yang bisa membuat otakmu meledak sedahsyat bom hidrogen.

Yang harus kamu pikirkan, sederhananya, adalah apa dan bagaimana ruang dan waktu senggang kamu bisa terisi. Kamu katakan bahwa dalam sejengkal jadwal, kamu hanya mampu mengurus pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan kampus yang kamu bawa ke rumah dan akan kamu bawa juga ke penginapan di planet lain. Itu terdengar merepotkan tapi silakan saja, guys, silakan. Kamu toh sudah lebih tahu prioritas hidupmu dibanding siapa pun yang ada di jagat raya.

Terkadang kamu harus menghapus beberapa agenda menyenangkan dan mengatakan pada teman-temanmu bahwa kamu sedang fokus kuliah. Atau sebaliknya, kamu harus pura-pura sakit di depan dosen biar bisa bolos kuliah. Apa yang bisa kamu kerjakan di luar kampus? Banyak. Memberi makan bebek sambil mengenang mantan misalnya. Atau menjadi bebek dan berenang santai di empang, siapa tahu dapat jodoh. Atau mungkin lebih baik jadi motivator. Semua itu tergantung seleramu.

Lucu sekali mengingat ruang dan waktu ada di tangan masing-masing orang untuk dibentuk. Kamu tercengang bahwa ternyata ada orang yang bisa bersenang-senang dengan dosen dan teman-temannya dan dia tidak pernah terlambat datang ke kampus sambil membawa produk herbal untuk dijual, dan kamu mungkin tidak percaya, dia juga membawa beberapa ekor bebek yang tentu saja selalu dia beri makan dan pulangnya, kamu mungkin tidak berdaya, dia dijemput mobil tunangan! Di dalam mobil, dia update kata-kata motivasi, di-like, di-love, di-share, di-subscribe, di-double tap ratusan ribu orang. Dia amat sangat sibuk dan dia bahagia.

How can? What’s your food anyway?

Kamu sering bertanya seperti itu saat betapa menjengkelkannya mengetahui bahwa kamu belum cukup sukses dibanding orang lain. Bahwa kamu belum cukup sibuk dibanding orang lain. Bahwa mungkin gizimu kurang sehingga kamu jadi pemalas sehingga nilai kamu absulutely nol sehingga kamu tidak pernah tampil cantik sehingga kamu tidak lebih terkenal daripada seonggok batu nisan. Bahwa Tuhan tidak adil. Tuhan, dengan skenarionya yang buruk, memberikan anugerah lebih baik pada manusia yang bukan dirimu. God, are you kidding me?

Kamu sudah terlalu banyak disibukkan dengan jurus seribu pandangan terhadap orang lain beserta capaian-capaian mereka yang meroket jauh meninggalkanmu. Buktinya kamu jarang menengok ke dalam diri kamu untuk melihat ada misteri apa di sana.

Diri kamu adalah kantor super sibuk. Kamu ingat bahwa, setidaknya, ada seratus ribu triliun sel yang menjadi karyawan kamu, beroperasi di setiap sentimeter persegi kulit kamu. Itu baru kulit, belum di rambut, lambung, mulut, dan sebagainya. Mereka karyawan yang patuh dan setia, membentuk diri kamu. Kalau kamu memecat mereka, mencungkilnya dengan ujung kuku, mereka tidak akan memiliki kehidupan baru meskipun pernah hidup dalam diri kamu.

Di luar diri kamu, ada 250 planet yang sudah diketahui dari triliunan planet yang mungkin tersebar di 100 milyar galaksi. Dan, tentu saja, sulit untuk menemukan sesuatu yang lebih sempurna daripada planet dengan lapisan atmosfer, sumber daya melimpah, dan lintasan strategis. Kalau planet ini 5 persen bergeser lebih mendekati matahari, niscaya kamu bakal gosong. Di bawah matahari, ada banyak makhluk hidup. Tapi kok ya sulit menemukan yang lebih sempurna daripada manusia. Katakanlah, thanks to God, I’m human and I’m in the earth.

Sebagai penduduk paling sempurna di planet yang juga paling sempurna, kamu patut bersyukur sebab untungnya kamu bukan ganggang, bukan fosil dinosaurus, bukan butiran debu atomis yang menempel di pesawat luar angkasa. Bumi ini juga bekerja buat kamu loh. Kamu bosnya. Kamu tidak akan berkeringat saat mengambil balpoin yang jatuh. Padahal kamu yakin gravitasi bumi sangat kuat sampai-sampai kamu mampu berpijak, tidak terlempar ke luar galaksi.

Kenapa pulpen jatuh bisa diangkat dengan enteng? Semuanya berkat kerja tangan Tuhan. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan kekuatan Tuhan, begitu jawaban orang-orang yang kamu anggap sibuk. Padahal mereka sudah lebih dulu percaya bahwa yang bekerja itu Tuhan, bukan diri mereka.

Hidup bukan tentang memilih. Karena sejatinya kita dan pekerjaan-pekerjaan kita telah terpilihkan: sebagai manusia yang memimpin bumi. Waktu pun tidak perlu dihitung dengan rinci untuk dibagi. Tapi tingkatkan kapasitas diri. Kerjakan sesuatu dalam waktu seringkas-ringkasnya dengan usaha semaksimal-maksimalnya. Lalu kerjakan sesuatu yang lain.

Itu.

 

Bandung, 2016 | Kartini Fuji Astuti

Gambar dari sini.


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Itu!
    Sambil nunjuk ke penonton.
    Hehehe...

  • Ariyanisa AZ
    Ariyanisa AZ
    1 tahun yang lalu.
    Selalu berapi baca tulisanmu, Fuji
    Btw, pasca kuliah saya baru tau bahwa ternyata waktu bisa melambat otomatis dengan sendirinya tanpa perlu kita menguasai ilmu apapun. Dan kabarnya, itu adalah tanggal di mana gajian masih jauh..
    Salaam, Fuji