Baca Ini, Dijamin 100% Kamu Pasti ke Luar Negeri

Kartini F. Astuti
Karya Kartini F. Astuti Kategori Motivasi
dipublikasikan 20 September 2016
Baca Ini, Dijamin 100% Kamu Pasti ke Luar Negeri

Begitulah, tanpa sadar kamu sedang diperdaya oleh papan iklan saat tergila-gila dengan kata ‘luar negeri’. Segala cara kamu lakoni demi sempat ke luar negeri. Buku dan situs tentang ‘trik mujarab terbang ke luar negeri’ sudah khatam kamu baca.

Kursus bahasa asing juga laku keras, promosinya mengalahkan iklan rokok. Poster lomba dengan latar mancanegara berjejer di mana-mana. Begitu pun di kampus. Tidak bisa disangkal bahwa teman-teman yang baru pulang dari luar negeri lebih prestisius di matamu. Mereka yang sudah pernah ke luar negeri bisa kamu simak berjam-jam meskipun ocehannya jauh panggang dari api.

Segera kamu ingin seperti mereka. Dianggap ada, minimal. Kamu lelah berpura-pura bangga terhadap mereka. Dan kamu tidak mungkin puas hanya menerima oleh-oleh yang itu-itu melulu: gantungan kunci yang lucu. Jelas kamu cemburu. “Mengapa saya tidak mampu?” jerit hatimu.

Sebesar apa keinginanmu untuk sampai ke luar negeri? O, tentu besar sekali.

Kamu memajang potret-potret landmark negara kebanggaanmu di kamar, besar-besar. Kamu bisa mengintipnya sesaat sebelum tidur, berharap kamu singgah di sana selepas bangun. Tengah malam, selalu, kamu mengigau dalam bahasa cas-cis-cus. Dan di atas kamus seratus milyar yang sedang kamu jadikan bantal, kepalamu terkulai. Berat. Kepalamu penuh daftar kosakata yang sulit dimengerti. Berangkat dari rumah, kamu mengincar turis tersesat. Kamu lantas melatih diri membuka percakapan dengan tiang listrik di jalan. Tiang listrik itu mirip sekali dengan bule di program televisi. 

Kamu akan ke luar negeri. Sebentar lagi.

Kata ‘akan’ hanya ‘angan’. Itulah rencana. Memang kamu memandang rencana bagaikan dua sisi mata uang: harapan dan khayalan. Jika kamu siap diketawai banyak orang, maka mengumbar mimpi tidak masalah, bisa jadi itu cambuk bagi harapanmu. Sebab itu, silakan mengumumkan azzam atau cita-citamu lewat speaker masjid. Insyaallah diamini warga satu kampung. Jika kamu tidak mau menghadapi kecewa dan putus asa dan menangis di depan tembok ratapan, maka sudahlah, beraksi saja layaknya patriot.

Bisa jadi berkhayal seperti tadi hanya akan memperburuk hari-hari heroikmu. Kamu pun semakin paham, sesuatu yang patut bangsamu banggakan adalah apa yang kamu bawa untuknya, tidak peduli kamu sukses di belahan muka bumi mana pun.

Namun kamu tidak menampik, cap ‘luar negeri’ di jidat menjadi magnet tersendiri bagi orang-orang besar yang ingin kamu taklukkan, menjadi umpan bagi perusahaan yang sedang kamu kejar untuk memancing pekerjaan layak, dan tentu saja untuk memperteguh kedudukan di antara yang lain.

Kamu tahu, ada temanmu yang nekat pergi ke luar negeri dengan modal pas-pasan, bahasa pun pas-pasan. Hasilnya dia hidup dan tinggal beralaskan lantai emperan toko selama empat puluh hari. Menjelma gelandangan imigran. Mengenaskan. Lebih tepatnya, betapa memalukan. Bagaimana dia bisa mempertaruhkan citra bangsa dan negara jika ditanya, “Dari mana kamu berasal, Anak Muda?”

Ada pula yang malah membuat kerusuhan di tempat club sehingga dikira teroris atau tentara ISIS. Tidak sedikit memang yang tinggal di rumah gedongan. Namun tetap saja mereka bagai cucian—dikucek, dijemur, disetrika majikan—dan dengan gembira mendapat predikat Tenaga Kerja Indonesia. Mereka, dalam profesi dan status apa saja, sudah sama-sama ke luar negeri, bukan?

Dengar, sebentar lagi kamu pasti ke luar negeri dengan cerdik dan santun.

Kamu semakin bersikukuh hendak ke luar negeri dan ingin sekali menyaingi menteri-menteri yang sering pelesiran ke sana dengan jurus studi banding yang jitu. Mereka harus bersusah-payah mendapat kursi jabatan terlebih dulu, kamu tahu. Sementara kamu hanya membaca satu halaman teks di media online.

Khawatir percuma? Ini justru terbilang singkat dibanding sinetron Cinta Fitri. Jadi duduklah dengan santai. Lepaskan beban pikiranmu. Berpikirlah sebagaimana orang berhasil bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini. Fokus pada cita-cita terbesarmu, lalu jujurlah pada diri sendiri saat menjawab rentetan pertanyaan berikut ini:

1. Apa yang harus kamu bawa ke sana?

2. Pikirkan apa dampaknya sepulang dari sana!

3. Tuliskan perkiraan tanggal, bulan, tahun kamu akan ke mana!

4. Siapa yang paling mendukung cita-citamu ini?

 

Sudah menjawab? Sekarang mari kita bahas satu persatu.

1. Bekal

Salah seorang mahasiswa yang terhitung aktif di kampus menjawab lama sekali pertanyaan ini sampai otaknya mencret. Tidak ada titik terang di kepala selain jawaban instan ‘modal uang’. Itu memang betul. Sebab tanpa uang, dia tidak bisa meraih paspor, visa, tiket keberangkatan, tagihan restoran, atau oleh-oleh gantungan kunci yang lucu.

Namun dia belum seratus persen yakin. Bukankah belakangan ini beasiswa sudah banyak ditawarkan perusahaan, pikirnya. Dia lalu bertanya kembali pada teman-temannya yang pernah mengikuti pertukaran pelajar Asia-Eropa. “Apa yang harus kubawa ke luar negeri?”

Mengherankan, jawaban mereka bukan esei panjang bagai hasil ujian yang diolah dengan redaksi yang rumit. Tapi satu kata yang mewakili dan disepakati. Istilah yang luar biasa keren dan mendunia. Barangkali kamu sering mendengarnya. Kata ini pernah dijadikan alat oleh Miss Universe dan Calon Walikota untuk merebut hati para simpatisan.

“Apa yang harus kubawa ke luar negeri?” kamu bertanya lagi.

Kompak dan serentak teman-temannya mengatakan, “Culture.

Ya. Budaya. Sesudah itu, berhenti di situ. Rata-rata memang begitu. Bahkan tidak ada jawaban diplomatis selain budaya. Paling tidak di luar negeri kamu bisa nembang, main angklung atau ngigel jaipongan, begitu katanya.

Pamer budaya.

Geez! Anak-anak yang ngamen di jalanan juga bisa pamer budaya Indonesia dengan menenteng karinding ke Italia.

Apakah ada jawaban yang lebih hebat dari culture?

Jawaban yang penting, kata seorang anak kecil, tentu harus bawa celana dalam.

 

2. Manfaat

Sekarang kita tidak sedang membahas khasiat tanaman herbal atau pil obat kuat. Sekarang adalah kajian soal manfaat. Saat kamu berniat melakukan sesuatu, kamu harus tahu efek dari sesuatu itu, apakah efek samping atau efek depan. Saat kamu berniat berangkat, kamu harus tahu tujuan suatu tempat. Seringkali kamu bergerak tidak di alam sadar. Kamu bergerak begitu saja dituntun arus. Padahal kesadaran itu penting.

Kamu kini mesti sadar betul dan menganalisis seberapa pantas kamu menyabet secelah kesempatan. Begitu pun jika kamu berkesempatan menjenguk negeri Paman Sam, kamu harus tahu untuk apa kamu berada di sana.

Eksperience,” kamu bilang dengan percaya diri.

But that is for you. For us?” tanya teman-temanmu secara bergilir.

“Hmm...” kamu berpikir setengah mati sampai kepalamu nyaris menggelinding.

Inspiring,” lirih kamu berucap.

Nah, itu dia! Beberapa temanmu sepakat dengan kata tersebut.

Inspiring. Tentu saja.

“Siapa sih yang tidak terinspirasi oleh orang yang melarikan diri ke luar negeri? Ya. Melarikan diri. Sebab siapa pula yang tidak ingin jauh berlari di tengah carut marut problematika negeri ini?” sungut mantan pacarmu penuh dengki.

Tapi, tunggu dulu, bukankah kamu singgah ke negara tetangga juga karena termotivasi ingin memperbaiki negara sendiri? Semoga saja iya. Tunggu sekali lagi, nilai apa yang hendak kamuwariskan? Apa yang istimewa dari perjalananmu ke luar itu, bagaimana dampaknya?

Kamu, juga aku, harus jeli memahami, bahwa dengan bolak-balik ke luar negeri kita hanya bisa menginspirasi (memaksa) orang lain untuk sama-sama ke luar negeri atau gigit jari. Ini menjadi semacam lingkaran dendam. Maka kita akan melihat di bandara banyak rombongan orang berduyun-duyun ingin mencicipi objek wisata luar negeri. Tidak masalah jadi gembel. Toh gembel pun tampak intelek jika jejaknya bukan lagi di tanah air.

Kok bisa mereka tergiur? Salahmu sendiri. Terlampau semangat berfoto selfie dan mengunggahnya di berbagai akun media sosial. Barangkali memang benar kamu bisa menginspirasi banyak orang dengan berpose di hadapan menara Eiffel. Tapi apakah dengan begitu, perkataanmu bisa sebaik sabda nabi? Langkahmu menjadi tarikan benang untuk sejuta umat?

Bicara mengenai inspirasi, sekarang, apa yang kamu dapatkan dari foto selfie itu?

Kebanggaan.

Kebanggaan terhadap siapa?

Tentu kebanggaan terhadap negara orang.

Siapa yang paling bangga dan diuntungkan?

Penduduk asli di negara orang.

Baiklah, kamu mungkin perlu mengingat turis-turis asing yang mondar-mandir di trotoar kita. Bagaimana sikap mereka? Tentu tidaklah norak. Mereka sebagian besar jatuh cinta dengan pesona indah Nusantara. Dan dengan berfoto selfie, mereka takut akan menghancurkan keindahan itu. Mereka memotret. Bukan dipotret. Mereka tulus ingin berbagi. Sedangkan baru pertama kali makan Kimchi saja kamu harus segera update status, ganti foto profil, dan sebagainya.

Mereka yang cinta Indonesia akan menunjukkan keindahan Indonesia.

Bagaimana dengan turis asing yang tidak sengaja melihat kecacatan Indonesia di sudut-sudut kota dan memotretnya dan menampilkannya di situs internasional?

Lihat saja di sekelilingmu. Sampah berserakan. Kepulan asap pabrik di udara. Ruas-ruas jalan mampet kendaraan pribadi. Tidak ada lagi yang sudi mengurus. Apa kamu tidak takut hal-hal demikian itu tersebar ke luar negeri sementara kamu harus minggat?

Kamu berdalih, “Sebab para insinyur kebersihan juga banyak yang melarikan diri ke luar negeri. Di sini kerja capek, upah sedikit. Di sana kerja leluasa, upah luar biasa.”

Lantas, apa manfaatnya kamu ke luar negeri? Pikirkan ulang. Luar negeri bukan pelarian. Luar negeri juga bukan soal foto selfie.

 

3. Target

Mari kita berandai-andai.

Seandainya suatu saat nanti kamu bisa ke luar negeri, kapan waktu terbaik menurutmu? Tahun ini? Tahun depan? Atau sebulan kemudian?

Ke mana? Amrik, Jepang, Jerman, Belanda, Turki, Aussie?

Ingat, kamu menuliskan target berdasarkan kesiapan matang. Kamu harus bisa mengukur. Kamu tahu semua orang tanpa terkecuali bisa ke luar negeri. Tapi, jadilah realistis. Jangan jadi Iccarus. Menjadi realistis bukan berarti pesimis.

Sekarang bayangkan kamu seorang atlet hendak giliran lompat jauh. Di hadapanmu banyak timeline kesuksesan. Selain ke luar negeri yang kamu tuju, tentu kamu punya banyak rencana. Kamu tahu apa saja yang mesti kamu lakukan untuk mendukung tiap-tiap rencanamu, cita-citamu.

Kapan pun, anggaplah itu angka di garis terjauh. Kamu harus melompat pada angka yang pas. Kalau tidak, ingat, meleset sedikit bukan berarti kiamat. Kalau gagal, ya paling tidak kamu sudah pernah melompat dengan kakimu sendiri. Dan kekecewaan seringkali datang saat kamu hanya membidik arena lompatan tanpa memeriksa diri sendiri.

Kamu terlalu berorientasi ke depan tanpa melihat sesuatu yang paling dekat denganmu.

Apa yang akan terjadi terdekat, detik berikutnya dari sekarang, jam berikutnya dari sekarang, besok? Mampukah kamu membayangkannya? Padahal cita-cita setahun ke depan dan apa yang terjadi besok sama-sama belum terjadi.

Mana cita-cita jangka pendekmu?

Kamu kini kesulitan menjawab.

Mana cita-cita jangka pendekmu?

Pada akhirnya kamu menjawab, punya skor TOEFL yang baik.

Kapan kamu akan tes TOEFL?

Bulan depan.

Sebelum tes TOEFL?

Kursus bahasa Inggris.

Sebelum kursus?

Makan yang banyak.

Sebelum makan?

Berdoa.

Sebelum berdoa?

Mandi yang bersih.

Sebelum mandi?

Bangun tidur.

Sebelum bangun?

Tidur.

Sebelum tidur?

Hmm.

Begitulah, Sayang, bahkan tidur pun belum.

Bahkan tidur pun belum. Kamu mungkin tidak tahu ada yang menghalangimu pergi ke kamar.

Bahkan makan pun belum. Kamu mungkin tidak tahu apa yang membikin kamu tersedak kemudian ruang makan pindah ke ICU. Kamu mungkin tidak tahu ada yang tidak beres dalam tubuhmu, dalam rongga dadamu. Ialah jantung. Jantung yang bisa berhenti berdetak kapan saja.

Kata orang, bercita-cita harus setinggi langit. Tapi Tuhan menginginkan kamu bercita-cita sependek mungkin. Bercita-cita untuk mati. Siap kapan pun. Jangan hanya mau bercita-cita ke luar negeri. Bercita-citalah terlebih dulu untuk sampai ke luar dunia dengan selamat. Sebab otomatis jika kita siap ke luar dunia, Tuhan akan menempatkanmu di muka bumi mana yang kamu suka. Jika ternyata sampai mati kamu belum juga ke luar negeri, yakinlah bahwa negeri-negeri di surga jauh lebih indah.

 

4. Sponsor

Kamu sudah ke sana-ke mari mencari-cari informasi. Lembaga mana yang kiranya akan memberangkatkanmu ke luar negeri? Siapa yang akan menjadi sponsor atau supporter? Bola matamu adalah teror. Telingamu selebar gawang. kamu harus dapat jawaban tentang ke mana kamu harus apply. Ah, apa yang kamu baca sekarang adalah sampah serupa koran-koran sepakbola yang kadaluwarsa.

Kamu sudah tidak sabar buat terbang.

Teman-temanmu rata-rata pernah ke luar negeri. Sebab mereka sudah selesai dengan dirinya, tanggungjawabnya. Sudah ada perwakilan dirinya di daerah. Sudah ada salinan dirinya yang tersebar di berbagai pelosok negeri. Betul, untuk menyelesaikan segala yang perlu dibenahi. Seperti itulah senyata-nyatanya inspirasi. Menjadi King Maker, pencetak generasi. Dan yang menjadi pewaris tangan-tangan mereka kemudian adalah generasi pencetak.

Sekarang, jika kamu memang sudah selesai dengan dirimu, berkemaslah. Buka koper besarmu. Siapkan perbekalan dari nomor satu sampai tiga tadi. Di dalamnya sudah kamu bungkus cita-cita dua ratus juta rakyat.

Jangan lupa bawa juga cita-cita jangka pendekmu. Mintailah restu pada siapa-siapa yang mendukungmu untuk sampai ke luar negeri. Ayah, Bunda, Om, Tante, Nenek, Kakek. Pada akhirnya semua orang mendukungmu, menjadi sponsormu.

Hanya saja bagaimana jika pemilik bumi ini tidak mendukung? Tentu kamu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengatakan padanya tentang maksud baikmu ke luar negeri. “Tuntun aku, Tuhan, supaya selamat di jalan-Mu.”

Sudah begitu, sertakan “Aamiin" setulus-tulusnya. Mudah-mudahan Sang Sutradara mengabulkan.

 

Modifikasi dari postingan blog pribadi, Agustus 2015 | Kartini Fuji Astuti

Gambar dari sini.